
Sabrang bersama Wardhana terlihat memasuki sebuah penginapan untuk beristirahat. Setelah berpamitan dengan Bahadur dan Kumbara mereka bergerak cepat menuju pelabuhan untuk menyusup ke Pulau tengkorak.
Kumbara memutuskan tinggal sementara di Sekte Kelelawar hijau untuk menyelidiki keterlibatan Lembah Siluman sementara Brajamusti akan mengunjungi Sekte Rajawali emas untuk membicarakan kemungkinan bangkitnya Lembah Siluman.
"Setengah hari perjalanan kaki dari sini kita akan sampai di pelabuhan Joyo geni Pangeran. Dulu Joyo geni adalah salah satu Kadipaten yang paling setia pada Malwageni namun karena intrik politik pejabat saat itu Adipati Browo dihukum mati oleh Malwageni".
"Ayah menghukum mati pengikut setianya?" Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Lebih tepatnya Malwageni Pangeran, beberapa saat sebelum Malwageni runtuh banyak pejabat yang sudah terbeli oleh kekayaan Majasari. Mereka menyusun rencana untuk menyingkirkan orang kepercayaan Yang mulia raja.
Banyak orang orang yang setia pada Yang mulia Raja dihukum mati ataupun diasingkan ke pulau tengkorak".
"Lalu ayah hanya diam saja?".
"Kekuatan politik saat itu berhasil menekan Yang mulia raja dengan bukti bukti palsu bahwa mereka hendak memberontak. dengan berat hati Yang mulia raja harus menegakan hukum di atas segalanya". Wardhana berbicara pelan.
Sabrang mengelengkan kepala pelan, dia membayangkan bagaimana tertekan ayahnya saat itu saat hampir semua pejabat sudah berkhianat.
"Anda akan mengerti suatu saat bagaimana semua kepentingan menekan anda, sudah menjadi sifat manusia bergerak menurut kepentingan diri mereka sendiri, bahkan tindakan kotor dan tidak kesatria akan mereka lakukan demi tercapainya tujuan mereka".
Sabrang menghela nafasnya mendengar penjelasan Wardhana, dia membayangkan begitu rumitnya mengatur sebuah kerajaan diantara kepentingan banyak orang.
"Harap Pangeran jangan khawatir". Wardhana dapat melihat kegelisahan di hati Sabrang setelah mendengar ceritanya. Intrik politik dengan segala kepentingan memang menjadi awal kehancuran Malwageni saat itu.
"Hamba tidak akan melakukan kesalahan lagi Pangeran" Wardhana berkata dalam hati.
Wardhana kembali teringat sesaat sebelum Malwageni di serang.
"Hamba menghadap yang mulia Raja". Wardhana berlutut dihadapan Arya Dwipa yang sedang bersiap untuk berperang melawan Majasari.
"Kau masih belum pergi? apa kau berani melawan perintahku?" Suara Arya Dwipa meninggi.
"Hamba mohon ampun Yang mulia, izinkan hamba ikut berperang bersama pasukan Malwageni".
"Pergilah atau kubunuh kau" Aura biru menyelimuti tubuh Arya Dwipa menekan Wardhana.
"Hamba akan mengikuti kemanapun yang mulia pergi".
"Kau!!!" Arya Dwipa menatap tajam Wardhana. Beberapa saat kemudian wajah Arya Dwipa melunak.
"Kau bahkan sudah tidak menganggap aku rajamu" Arya Dwipa menggeleng pelan.
"Hamba tidak berani Yang mulia".
"Kau paling mengerti seberapa kecil kemungkinan kita memenangkan pertempuran ini, mereka menyuap hampir seluruh Pejabatku. Kau adalah salah satu ahli siasat terbaikku, Malwageni membutuhkanmu kelak".
"Tapi yang mulia.....".
"Cukup Wardhana! Pangeran telah diungsikan oleh kakang Patih ke tempat yang aman, kau harus selamat karena pangeran membutuhkanmu kelak".
Wardhana terdiam mendengar perintah Arya Dwipa, air mata mengalir dari matanya melihat rajanya dalam keadaan terjepit namun dia diperintahkan melarikan diri.
"Jika kau merasa marah, Simpan amarahmu! jika kau merasa benci Simpan bencimu untuk saat ini. Keluarkan semua amarahmu saat kau berusaha merebut kembali Malwageni bersama Pangeran. Kutitipkan Pangeran padamu Wardhana". Arya Dwipa melangkah keluar tanpa menoleh ke arah Wardhana.
"Yang mulia" Wardhana masih berlutut setelah kepergian Arya Dwipa.
__ADS_1
"Paman?". Suara Sabrang membuyarkan lamunan Wardhana.
"Ah iya maaf pangeran".
"Apakah ayah saat itu tidak bisa bertindak terhadap para pejabat yang berkhianat?".
Wardhana menggeleng pelan "Semua tidak sesederhana itu Pangeran. Yang mulia bukan tidak menyadari para pejabat mulai meninggalkannya namun semua sudah terlambat saat dia sadar.
Kekuasaan seorang Raja memang absolut namun kekuatan politik, Pembisik yang selalu ikut campur dalam pengambilkeputusan seorang Raja sangat mempengaruhi semua kebijakan yang diambil.
Yang mulia adalah seorang Raja yang baik namun beberapa pembisiknya banyak yang berkhianat demi kepentingan mereka sendiri".
Sabrang mengangguk pelan, kini perlahan dia mengerti beban yang harus di tanggung ayahnya dulu.
"Ku dengar pasukan Majasari banyak yang ditarik dari kadipaten Rogo geni". Seorang Pendekar berbicara pada temannya.
"Sepertinya begitu, kabar yang kudengar semua atas permintaan tuan Paksi. Entah apa yang ada dalam pikiran yang mulia masih mempercayai orang itu". Pendekar satunya menimpali
"Paksi?" Wardhana mengernyitkan dahinya, "Pantas saja gerakan mereka kini sulit terbaca jadi ini siasat yang dibuat Paksi" Wardhana bergumam pelan.
"Paman mengenali orang itu?" Sabrang bertanya setengah berbisik.
"Bukan hanya kenal Pangeran, dulu dia adalah salah satu ahli siasat terbaik Malwageni, bisa dikatakan dia adalah guruku dalam ilmu perang namun ambisi dan sifat liciknya selalu merugikan Malwageni.
Setelah penghianatan yang dia lakukan terhadap Yang mulia raja saat berperang dengan kerajaan Kertajaya yang berujung kekalahan yang diterima Malwageni akhirnya Yang mulia mengusirnya.
Beberapa lama setelahnya aku mendengar dia bergabung dengan Majasari. Salah satu faktor yang memudahkan mereka menaklukan Malwageni adalah bocornya kekuatan tempur Malwageni. Namun kudengar setelah Malwageni jatuh dia kembali berkhianat terhadap Majasari dan diasingkan di pulau tengkorak.
Aku tidak menyangka Majasari menggunakan dia lagi untuk melawan kita".
"Tidak kusangka aku akan bertemu denganmu di tempat seperti ini Yudha".
"Lebih baik kau pergi sebelum aku membunuhmu senior" Yudha menatap tajam pendekar yang menggebrak mejanya
"Kau bermimpi? Bahkan aku bisa membunuhmu dengan satu tangan terikat" Pendekar itu tertawa mengejek.
"Mungkin dulu kau bisa sombong seperti itu namun sekarang aku jauh lebih kuat dari yang kau bayangkan senior" Yudha tersenyum sinis.
"Apa yang bisa dilakukan oleh seorang murid yang melarikan diri dari Sektenya? kau bahkan belum menguasai jurus dasar Sekte Angin Kegelapan ".
"Sekte kecil itu tak akan bisa membuatku menjadi pendekar hebat".
"Kau!!" Pendekar itu menghunuskan pedangnya "Atas nama Guru dan Angin kegelapan hari ini akan kucabut nyawamu".
Pendekar itu siap menyerang namun tiba tiba gerakan pedangnya terhenti.
"Kau sejak kapan?" terlihat Pedang yudha telah bersarang di tubuh pendekar tersebut. Kecepatan serangan Yudha membuat semua orang yang melihatnya takjub sekaligus merasa takut, bahkan Sabrang sedikit terkejut melihat kecepatan Yudha.
"Cepat sekali, dia bukan pendekar sembarangan" Sabrang menatap Yudha tajam.
"Pangeran harap menahan diri, aku takut jika kita terlibat akan menimbulkan kecurigaan Majasari". Sabrang mengangguk pelan.
"Aku sudah katakan padamu senior, aku jauh lebih kuat darimu" Yudha tersenyum sinis.
"Ilmu iblis apa yang kau pelajari?" Tubuh pendekar itu tumbang ke tanah.
__ADS_1
"Apapun yang kupelajari bukan urusanmu yang pasti kini aku bertambah kuat". Yudha menyarungkan pedangnya kembali.
Semua pengunjung penginapan berhamburan melarikan diri setelah melihat seorang pendekar terbunuh bahkan teman pendekar satunya ikut melarikan diri.
"Ilmu Lembah Siluman memang mengerikan, aku akan menjadi pendekar terkuat dengan ilmu ini" Yudha bergumam dalam hati.
Yudha kembali duduk dan melanjutkan makannya seperti tidak terjadi apa apa. namun tiba tiba tatapannya terarah pada Sabrang yang tidak terganggu dengan keributan yang dia buat.
Yudha kembali bangkit dan mendekati Sabrang dan Wardhana yang duduk tak jauh darinya
"Sepertinya kalian bukan orang sini?".
"Ah maaf tuan, aku dan tuanku ini memang bukan orang sini kami kebetulan singgah untuk melepas lelah" Wardhana menunduk memberi hormat.
"Aku tidak bicara denganmu, aku bicara dengan tuanmu!" Yudha menghardik Wardhana.
Sabrang masih melanjutkan makanannya namun tiba tiba Yudha mengambil makanan Sabrang.
"Aku bicara denganmu apa kau tuli?".
Wajah Wardhana berubah seketika, dia siap mencabut pedangnya namun gerakan tangan Sabrang memberi tanda untuk tidak melakukannya.
"Bolehkah aku melanjutkan makanku tuan?"Sabrang menoleh ke arah Yudha.
Yudha tersenyum kecil sebelum melempar makanan Sabrang ke tanah
"Makanlah, aku tak akan menghalangimu asalkan kau makan dibawah"
Wardhana tak dapat menahan emosinya, dia mencabut pedangnya kemudian menyerang Yudha dengan cepat.
"Cepat sekali" Wardhana terpental setelah menerima serangan cepat Yudha yang tiba tiba muncul di belakangnya.
"Sampah sepertimu tidak ada gunanya hidup di dunia ini".
Yudha kembali menyerang dengan cepat kearah Wardhana.
"Ilmu apa yang digunakannya? aku belum pernah melihatnya" Wardhana melompat mundur menghindari serangan Yudha namun tiba tiba Yudha telah muncul dibelakangnya.
"Mati kau" Yudha mengayunkan pedangnya dengan cepat.
"Gawat, dia cepat sekali" Wardhana tak sempat menghindar.
"Trangggg" Pedang Yudha tepat mengenai Pedang Sabrang yang sudah ada dihadapannya.
Yudha terpental mundur menerima efek serangannya sendiri.
"Dia? Sejak kapan?" Yudha terkejut melihat kecepatab Sabrang.
"Ternyata kau menyembunyikan kemampuanmu, menarik!!" Yudha menatap Tajam Sabrang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Bonus Chapter ini dipersembahkan oleh Su Parno, terima kasih atas dukungannya
Vote dan Like Novel Pedang Naga Api jika menurut teman teman novel ini menarik untuk dibaca
__ADS_1