Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Malwageni Mengibarkan Perang


__ADS_3

Setelah Sabrang bersama Wulan dan Rubah Putih turun tangan memenangkan Sekar Pitaloka dan Wulan Sari, pertempuran berdarah dua wanita Arya Dwipa itu akhirnya berhasil dihindari.


Pertemuan yang sempat direncanakan pagi hari itu akhirnya bisa dilaksanakan walau harus memisahkan tempat duduk Sekar Pitaloka dan Wulan berjauhan.


Sekar Pitaloka tampak duduk diapit Mentari dan Tungga Dewi sedangkan Wulan sari bersama Emmy.


Sekar Pitaloka kemudian menceritakan semua detail rencana yang dibuat Arya Dwipa setelah emosinya mereda, semua terlihat kagum dengan pemikiran dan rencana Arya Dwipa yang sangat detail.


Ayah Sabrang Damar itu seolah bisa membaca semua pergerakan lawannya sampai beberapa puluh tahun ke depan dengan tepat, hanya beberapa hal yang melenceng dari prediksinya.


Suasana sempat hening sesaat, mereka tidak menyangka jika runtuhnya Malwageni adalah awal rencana Arya Dwipa berjalan. Pertemuan Naga Api dan Sabrang, kemunculan pendekar masa lalu bahkan Arya Dwipa menyebutkan jika kemungkinan Lakeswara tidak ikut membeku bersama empat pemimpin Masalembo.


Wardhana yang duduk bersama Paksi dan Ciha pun tampak terkejut melihat rencana Arya Dwipa walau di beberapa bagian ada yang sedikit melenceng karena kemunculan Lakeswara terlalu cepat.


"Hamba sangat kagum dengan semua rencana ini Ibu ratu tapi ada beberapa hal yang harus kita rubah karena saat ini dua organisasi itu telah bergerak hampir bersamaan. Dengan kekuatan kita saat ini mungkin tidak terlalu sulit menghadapi salah satu dari mereka tapi jika Cakra Tumapel dan Guntur api bergerak bersama akan menjadi masalah buat kita," ucap Wardhana pelan.


"Bergerak bersama? kemungkinan itu ada tapi sangat kecil, aku sudah memastikan jika Guntur Api belum ada pergerakan sama sekali," jawab Sekar Pitaloka.


"Maaf Ibu ratu tapi suasana dunia persilatan akhir akhir ini membuatku yakin mereka mulai bergerak," jawab Wardhana sopan.


"Suasana dunia persilatan?" Sekar Pitaloka mengernyitkan dahinya.


"Lembu sora, katakan bagaimana kau bisa terluka di hutan lali jiwo?" Wardhana meminta Lembu sora berbicara.


"Hamba dijebak oleh Masalembo tuan," jawab Lembu Sora.


"Dijebak Masalembo?" Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Saat hamba sedang berjaga di gerbang selatan keraton, seorang pendekar muncul dan mendekati hamba, dia memberikan pesan agar pergi ke hutan lali jiwo. Dia mengatakan seseorang ingin bertemu dengan hamba karena memiliki informasi tentang Masalembo.


Hamba tidak percaya begitu saja namun akhirnya hamba memutuskan untuk memeriksa tempat itu dari jauh, tapi tiba tiba sudah ada beberapa pendekar Masalembo yang menghadang," balas Lembu Sora.


"Apa kau melihat pendekar yang memberikanmu pesan?"


"Tidak tuan, tapi aku yakin mereka adalah Masalembo, diantara kesadaranku yang hampir hilang dan suara pertarungan, aku mendengar mereka menyebut Pagebluk Lampor adalah sebuah wabah untuk membuat tatanan dunia baru yang akan mereka ciptakan," jawab Lembu sora.


Wardhana menatap Rubah Putih yang terlihat gelisah sambil tersenyum.


"Apa ada yang ingin anda sampaikan tuan?" tanya Wardhana pelan.


"Ah tidak, aku hanya merasa gerakan Masalembo kali ini aneh. Dengan kekuatan mereka, agak mustahil berfikir Lembu Sora dibiarkan hidup, mereka bahkan tega membunuh satu keluarga untuk memastikan rencana berhasil," jawab Rubah Putih.


"Tepat! Ada campur tangan orang lain yang ingin mengambil keuntungan dari permusuhan kita dengan Masalembo kali ini," balas Wardhana.


"Campur tangan orang lain?" Sekar Pitaloka bertanya bingung.


Wardhana menarik nafas panjang sebelum.melanjutkan ucapannya.


"Saat ini posisi Malwageni sedang terjepit Ibu ratu, Cakra Tumapel dan Guntur bumi sama sama mengincar Malwageni dengan cara mereka masing masing. Aku akan menjelaskan perlahan dan mengurai semua senjata yang saat ini diarahkan pada Mawageni.


Masalembo tak akan membiarkan lawannya hidup apalagi jika mereka berniat menyamar sebagai Lembu sora. Apa mungkin mereka melakukan kesalahan besar dengan membiarkan Lembu sora hidup?


Kau mengatakan tadi mendengar mereka bicara diantara pertarungan? bukankah hanya dirimu yang ada disana? lalu dengan siapa mereka bertarung?" tanya Wardhana.

__ADS_1


"Itu...," Lembu sora tampak bingung untuk menjawab, dia baru menyadari apa yang dikatakan Wardhana benar.


"Sejak awal kau mampu selamat dari penyerangan itu sudah membuatku curiga. Aku lalu meminta Arung untuk menyelidiki tempat itu diam diam sebelum pergi ke sekte Angin Biru bersama tetua Brajamusti dan tuan Ken Panca, dan dugaanku benar, Arung melaporkan jika ada bekas pertarungan besar di tempat itu.


Aku bukan mengecilkan kemampuan ilmu kanuraganmu sora, tapi kerusakan akibat pertarungan itu sangat besar dan tak mungkin dilakukan olehmu," balas Wardhana.


"Jadi?" Rubah Putih tampak mulai mengerti apa yang akan dikatakan Wardhana.


"Guntur Api memutuskan bergerak saat mengetahui Masalembo melemah, entah bagaimana caranya mereka mengetahui rencana Masalembo memancing Lembu sora. Mereka diam diam bersembunyi di hutan Lali jiwo, saat Lembu sora terluka mereka muncul dan bertarung dengan para pendekar Masalembo.


Jika lembu sora palsu berhasil kembali ke keraton berarti Masalembo lah pemenang pertarungan itu tapi bukan kemenangan yang mereka incar kali ini. Bisikan yang didengar oleh Lembu sora yang mereka rencanakan sejak awal.


Guntur api memanfaatkan Masalembo untuk menyulut permusuhan kita dengan Cakra Tumapel. Mereka sadar Cakra tumapel sudah mulai bergerak jadi mereka ingin mengirim pesan pada kita jika gerbang suci ada.


Apa yang akan kita lakukan jika menemukan petunjuk tempat pusaka terkuat di di dunia?" ucap Wardhana pelan.


"Mencarinya," jawab Wulan sari.


"Benar, kita akan mencari pusaka itu dan mau tidak mau kita akan berhadapan dengan Cakra Tumapel yang juga sedang mencari gerbang itu. Jika lembu sora mengatakan Masalembo memanfaatkan kita dan Cakra Tumapel itu salah, sejak awal Guntur Api lah yang ingin kita bertarung dan mengambil keuntungan," jawab Wardhana pelan.


"Jadi mereka ingin mengurangi musuh?" tanya Sekar Pitaloka.


"Benar ibu ratu karena hamba sudah memastikan catatan yang ditinggalkan Masalembo tidak pernah menyebut Gerbang suci itu artinya mereka tidak tau keberadaan Gerbang suci.


Saat ini rencana Guntur api sepertinya berhasil, kita menangkap dua pendekar Cakra Tumapel dan jika tidak cepat diluruskan maka dua kekuatan besar akan menyerang Malwageni bersamaan," jawab Wardhana.


"Lalu bagaimana kita mencari mereka? sampai saat ini aku tidak tau dimana mereka berada," balas Sekar Pitaloka.


"Kita tidak perlu mencari mereka, biarkan mereka yang mendatangi kita. Hamba dan guru Paksi akan mencoba bernegosiasi dengan Cakra Tumapel untuk menjebak Guntur Api," jawab Wardana.


"Ini akan sedikit beresiko Yang mulia tapi inilah satu satunya cara untuk menghindari keraton hancur, seperti yang hamba katakan di awal, dua kekuatan besar sedang mengarahkan pedang kearah Malwageni. Sedikit saja salah bergerak, kita akan hancur."


"Bagaimana jika paman gagal dan mereka tak ingin bernegosiasi dengan Malwageni?" tanya Sabrang khawatir.


"Hamba akan melakukan yang terbaik Yang mulia untuk meyakinkan mereka namun jika gagal maka kita harus siap bertarung kembali, dan kali ini akan jauh lebih sulit karena Guntur api juga mengincar kita," jawab Wardhana.


Sabrang terlihat berfikir sejenak, semua pilihan yang diberikan Wardhana mengandung resiko besar tapi dia harus mengambil resiko itu karena tak ada pilihan lain.


"Lakukan paman Wardhana, bukankan pesan Ayah sudah jelas jika paman harus memastikan rencananya berhasil?"


"Hamba menerima perintah Yang mulia, tapi kita butuh persiapan yang tidak mudah," balas Wardhana.


***


Seorang pria setengah baya tampak menatap pedang pusaka yang tergantung di dinding ruangannya. Aura yang meluap dari dalam pedang berwarna emas itu menandakan jika pusaka itu bukan sembarangan.


Dia memejamkan matanya tiba tiba saat merasakan sakit di mata kirinya, Mata berwarna biru yang hampir mirip dengan mata bulan itu mengeluarkan darah segar sebelum dia mengalirkan tenaga dalam untuk menghentikan pendarahan.


"Lakeswara sialan! akan kubuat kau dan seluruh dunia hancur atas apa yang kau lakukan pada penduduk desa Tengger," umpat pria itu kesal.


"Aku mohon menghadap tuan Kawanda," suara seorang wanita membuyarkan lamunan Kawanda.


"Masuklah," balas Kawanda pelan.

__ADS_1


"Bagaimana persiapannya?" tanya Kawanda.


"Rencana kita berhasil tuan, pagi ini aku mendengar kabar jika dua pendekar Cakra Tumapel akan di hukum mati malam nanti oleh Malwageni.


Cakra Tumapel tak akan tinggal diam tuan, pertempuran diantara mereka tak akan bisa dihindari lagi," jawab wanita itu.


"Baik sepertinya sudah saatnya Guntur Api bergerak, kirim sepuluh pendekar bayangan kegelapan untuk mengintai Malwageni dari jauh. Jika mereka benar benar bertarung dengan Cakra Tumapel, kita akan bergerak dengan kekuatan penuh untuk menghancurkan mereka semua.


Mereka telah termakan umpan yang kita pasang saat ini jadi aku yakin mereka pasti memiliki kunci membuka Nagara siang padang. Setelah membumihanguskan mereka, kita akan membuka segel ruang dimensi dan membunuh Lakeswara dengan wabah itu.


Dia mungkin memiliki ilmu kanuragan yang tak mungkin bisa ditandingi dan tubuhnya abadi tapi sehebat apapun seorang pendekar akan mati jika terkena penyakit Pagebluk Lampor. Kali ini Lakeswara harus merasakan akibat dari hasil percobaannya sendiri," ucap Kawanda.


"Baik tuan, hamba akan meminta sepuluh bayangan kegelapan untuk mulai bergerak," Wanita itu menundukkan kepalanya sebelum melangkah pergi.


Kawanda kembali menatap pusaka nya setelah kepergian wanita itu.


"Pusaka Begu Ganjang, sepertinya sudah saatnya kau menunjukkan kekuatanmu pada dunia, kita akan hancurkan dunia ini dengan Pagebluk Lampor," ucap Kawanda pelan.


"Kau sudah gila Kawanda, wabah itu bukan hanya akan membunuh mereka tapi kau juga akan mati," balas Begu Ganjang dalam pikiran Kawanda.


"Aku tak pernah bertindak jika tidak memiliki rencana, dan mata ini kuncinya," ucap Kawanda sambil menunjuk mata kirinya sebelum melanjutkan ucapannya. "Setelah aku berhasil membuka segel dimensi, aku akan memancing Lakeswara keluar saat Pagebluk Lampor sudah menyebar.


Kita akan bersembunyi didalam ruang dimensi sampai Pagebluk Lampor benar benar hilang dari dunia ini," jawab Kawanda.


****


Sebuah kapal kecil terlihat mendekati pulau bunga saat matahari belum menampakkan sinarnya. Terlihat Kuncoro berdiri tegak dengan wajah kusut di atas kapal itu.


Setelah kapal bersandar, dia berlari kearah ruangan Biantara tanpa memperdulikan pendekar lain yang menyapa saat berpapasan denganya.


Kuncoro berhenti di depan sebuah pintu ruangan untuk mengambil nafas sebelum melangkah masuk.


"Ketua," ucap Kuncoro panik.


"Ada apa dengan wajahmu? apa terjadi sesuatu saat kau berada di Saung galah?" tanya Kuncoro penasaran.


"Tidak ketua, semua berjalan lancar namun saat aku kembali ke pulau bunga, aku mendengar kabar jika tuan Rakiti dan Rakirawa tertangkap, dan malam ini Malwageni akan menghukum mati mereka," jawab Kuncoro terbata bata.


"Apa kau bilang? mereka akan dihukum mati?" Biantara mengepalkan tangannya menahan amarah.


"Benar ketua, kabar ini sudah tersebar luas di dunia persilatan, ratusan prajurit kabarnya disiagakan di sekitar keraton untuk mengamankan jalannya hukuman mati," balas Kuncoro.


Biantara memejamkan matanya sesaat sebelum mengambil pedang pusaka yang sudah lama tersimpan di sebuah kotak di mejanya.


"Tidak ada pilihan lain, kita harus menyelamatkan Rakiti dan Rakirawa secepatnya. Kumpulkan para pendekar Cakra Tumapel, kita berangkat sekarang juga agar malam sudah sampai di Malwageni," perintah Biantara.


"Baik ketua," balas Kuncoro cepat.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Begu Ganjang adalah mahluk halus yang berasal dari Sumatera Utara. Begu Ganjang berasal dari bahasa, Begua yang berarti arwah atau roh, sedangkan Ganjang berarti panjang. Dari namanya sudah bisa ditebak, jika wujud dari hantu ini adalah sebuah arwah yang berbentuk panjang.


Begu Ganjang memiliki tubuh yang sangat tinggi, rambut yang panjang, mata merah, wajah yang menyeramkan dan lidah yang panjangnya hampir menyentuh tanah.

__ADS_1


Menurut beberapa orang yang pernah melihat Begu Ganjang, katanya, makhluk ini bisa berubah wujud jadi semakin besar dan tinggi ketika kita mendekatinya.


PNA meminjam Begu Ganjang dalam ceritanya. Bener tidaknya cerita ini gw juga gak paham, mungkin reader yang dari sumatra Utara bisa membantu menjelaskannya....


__ADS_2