
Lingga maheswara tiba tiba membuka matanya saat merasakan tenaga dalam yang sangat besar entah dari mana.
"Perasaan ini?". Lingga terlihat sedikit gelisah. Walaupun hanya beberapa detik namun Lingga jelas merasakan ada kekuatan besar yang menekannya. Dia pernah merasakan perasaan gelisah seperti ini saat melihat Kertasura berlatih pedang langit.
"Siapa yang memiliki kekuatan sebesar ini". Lingga menggeleng pelan.
"Semoga saja dia bukan musuh". Lingga kembali memejamkan matanya, dia masih berusaha mengeluarkan racun mawar hitam ditubuhnya.
***
Mentari kembali mengatur nafasnya setelah berlatih segel bayangan. Terlihat darah keluar dari hidungnya.
"Kau harus berkonsentrasi penuh nona". Astaguna melangkah mendekati Mentari. Setelah berlatih beberapa hari Astaguna merasa Mentari telah menguasai segel bayangan dan hanya perlu menyatukan dengan ajian lebur sukmanya.
"Tidak biasanya kau hilang konsentrasi, apa ada yang menggangu pikiranmu?". Astaguna menggeleng pelan, hampir saja racun raja kalajengking melukai tubuh Mentari.
Mentari menggeleng pelan, dia sudah berusaha berkonsentrasi namun ledakan tenaga dalam misterius yang dia rasakan tadi membuat konsentrasinya buyar. Untuk beberapa saat dia merasakan tubuhnya bereaksi bertahan sehingga konsentrasinya menjadi buyar.
"Apakah ini tenaga dalam milik tuan Lingga?". Mentari bergumam dalam hati.
"Nona?". Astaguna mengagetkan Mentari. Dia mengernyitkan dahinya "Kau baik baik saja?". Astaguna kembali bertanya setelah melihat Mentari berkeringat.
"Aku baik baik saja tuan namun sesaat tadi aku merasakan ada tenaga dalam yang menekan seluruh tubuhku".
"Tenaga dalam? maksudmu sesuatu yang membuat tubuhku lemas tadi?". Astaguna mengernyitkan dahinya.
"Anda juga merasakannya?". Tanya Mentari.
"Aku tidak yakin nona karena aku tidak menguasai ilmu kanuragan sepertimu namun untuk beberapa detik aku merasakan tubuhku seperti tertimpa beban yang sangat berat".
Mentari terlihat gelisah, dia khawatir jika tenaga dalam yang dia rasakan milik Daniswara.
"Sepertinya aku harus cepat". Mentari kembali berdiri dan merapal sebuah jurus.
***
Ciha berusaha membuka matanya, sekujur tubuhnya terasa sakit. Beberapa luka terlihat di tangan dan kakinya. Dia berusaha mengingat apa yang barusan terjadi padanya.
Butuh waktu baginya untuk mengingat kejadian yang dialaminya.
"Ah si bodoh itu". Ciha bangkit dan berjalan mendekati gua yang dimasukinya tadi. Langkahnya terhenti saat melihat mulut gua yang sudah tertutup reruntuhan batu.
Dia berusaha memindahkan bebatuan yang menutup gua itu namun batu itu tidak bergeser sedikitpun. Raut wajahnya berubah cemas setelah melihat bebatuan besar itmenutupi pintu gua.
"Hei, kau masih di dalam?". Ciha berteriak dari mulut gua.
"Jawab aku jika kau masih di dalam". Ciha kembali berteriak.
Ciha terlihat makin cemas ketika tidak ada jawaban dari dalam gua.
__ADS_1
"Sial, aku salah perhitungan ternyata kekuatan jurus itu lebih menakutkan dari yang kukira". Ciha berlari mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk memindahkan batu yang menutupi gua.
Saat dia menemukan sebuah kayu yang cukup besar tiba tiba dia menghentikan langkahnya. Dia merasakan suhu udara disekitarnya naik dengan cepat. Dia berlari dengan cepat menjauhi mulut gua karena instingnya mengatakan akan terjadi sesuatu.
Saat Ciha berlari untuk berlindung tiba tiba ledakan besar kembali terjadi dimulut gua. Tubuhnya kembali terhempas terkena efek ledakan itu. Bebatuan yang menutupi mulut gua berterbangan seperti dilemparkan oleh suatu kekuatan besar.
Tak lama muncul sesosok tubuh dari dalam gua, dia menggaruk kepalanya sambil tersenyum canggung.
"Sepertinya aku terlalu banyak menggunakan kekuatanku, hampir saja aku terkubur digua ini".
Ciha menelan ludahnya sambil menatap Sabrang, dia hampir tidak mengenalinya jika tidak melihat pedang yang digenggam Sabrang.
Tubuh Sabrang diselimuti api merah darah, matanya yang berwarna biru muda kontras dengan kobaran api ditubuhnya.
"Sepertinya aku ikut menciptakan pendekar terkuat dunia persilatan". Ciha menggeleng pelan, sampai saat ini dia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Perlahan kobaran api ditubuh Sabrang mulai menghilang.
"Kau terlalu berlebihan Naga api, hampir saja kita terkubur digua itu". Anom menatap Naga api kesal namun tiba tiba Anom menyadari reaksi Naga api tidak seperti biasanya. Naga api menatap lekat anom seperti meminta penjelasan padanya.
"Bukan aku!. Anak ini mengendalikan kekuatanku dengan mudah, dia menyerap kekuatanku dan menggunakannya sesuka hatinya".
"Bagaimana bisa? bukankah kau belum membuat perjanjian dengannya?". Anom mengernyitkan dahinya.
"Aku tidak tau, aku berusaha sekuat tenaga mengendalikan kekuatanku saat dia menggunakan jurus itu namun dia dengan mudah mengendalikannya dan menyalurkan keluar melalui jurus pedang itu".
"Apa itu mungkin saat dia belum membuat perjanjian di gua kabut?".
"Lalu gua mana yang akan kita masuki berikutnya?". Tanya Sabrang pada Ciha.
"Apa aku harus menjawab? Kau sudah menghancurkan dua gua dalam satu serangan, semoga gua itu adalah jalan keluarnya". Ciha terseyum kecut.
***
"Sedikit lagi". Mentari mendengus kesal. Dia hampir bisa menyalurkan racunya melalui segel bayangan.
"Tak apa, kau hanya perlu berlatih nona". Astaguna berkata pelan.
"Tuan Astaguna anda harus ikut aku". Tiba tiba Jagratata muncul bersama puluhan anggota Lintang wakulu.
"Apa kau sudah gila? kau masuk ketempatku dengan pedang terhunus Jagratara". Astaguna membentak Jagratara.
"Anda telah menyalahi aturan sekte dengan mengajarkan segel milik Bintang langit pada orang luar". Jagratara menatap Mentari tak bersahabat.
"Apa katamu? milik Sekte bintang langit? Aku yang menciptakan segel ini dan aku berhak memutuskan siapa yang akan kuajarkan segelku".
"Bukankah kita semua terikat pada bintang langit? Apapun keputusan kelompok harus melalui persetujuan ketua bintang langit".
Astaguna terkekeh mendengar ucapan Jagratara "Sejak kapan semua harus persetujuan Daniswara? Kalian benar benar sudah keterlaluan. Pergi dari sini dan katakan pada Daniswara untuk tidak berbuat kelewat batas!".
__ADS_1
"Anda benar benar sudah keterlaluan Astaguna. Bawa dia!". Jagratara memerintahkan muridnya untuk menangkap Astaguna.
"Kau!". Astaguna berusaha mendorong beberapa orang yang mencoba menangkapnya namun kekuatan murid lintang wakulu terlalu kuat.
"Kalian? bagaimana kalian bisa menguasai ilmu kanuragan?". Raut wajah Astaguna tiba tiba berubah.
"Lepaskan dia". Mentari berteriak pada Jagratara.
"Sebaiknya kau tidak ikut campur nona, ini urusan sekte kami". Jagratara terlihat tidak suka Mentari ikut campur.
"Aku tidak akan tinggal diam melihat kesewenang-wenangan kalian pada tuan Astaguna". Mentari menatap tajam Jagratara.
Jagratara menggeleng pelan sambil menahan amarahnya.
"Antarkan nona ini kekamarnya, yang lain bawa Astaguna keruang tahanan. Ketua akan mengintrogasinya untuk menentukan hukuman padanya". Jagratara memberi perintah pada murid muridnya.
"Mari ikut kami nona". Salah satu anak murid lintang Wakulu menarik tangan Mentari.
"Lepaskan aku!". Mentari mengeluarkan aura hitam dari tubuhnya. Tak lama raut wajah murid yang mencengram lengan Mentari berubah hitam dan dalam hitungan detik tubuhnya jatuh ketanah tak bergerak.
"Racun raja kalajengking?". Jagratara terlihat murka sambil menoleh kearah Astaguna.
"Kau bahkan memberikan racun terbaikmu pada nona ini, kau harus dihukum berat!". Jagratara berteriak pada Astaguna.
"Kau yang memaksaku nona. Serang dia". Setelah menerima perintah puluhan murid lintang wakulu mengepung Mentari membentuk formasi.
Puluhan murid Lintang wakulu mengeluarkan aura hitam untuk menekan Mentari.
"Kalian benar benar telah mengingkari perjanjian kita ratusam tahun lalu". Astaguna menggelengkan kepalanya setelah melihat murid Lintang wakulu menguasia ilmu kanuragan.
"Serang". Setelah selesai bicara mereka bergerak bersamaan menyerang Mentari.
Mereka melakukan serangan bertubi tubi namun Mentari terlihat bisa mengimbanginya. Racun raja kalajengking meningkatkan tenaga dalamnya berkali kali lipat.
Mentari melompat mundur sesaat setelah melepaskan tapak beracunnya. Saat berada diudara dia terlihat merapal sebuah jurus.
"Jangan beri dia waktu untuk berfikir, serang terus dengan formasi bintang". Saat mereka bergerak membentuk formasi tiba tiba dua orang terjatuh ketanah meregang nyawa dengan wajah menghitam.
"Mundur". Jagratara berteriak kencang pada murid muridnya, namun sudah terlambat. Mentari terus bergerak dengan kedua tangan diatas seperti mengendalikan sesuatu. Beberapa orang kembali tumbang dengan wajah menghitam padahal jarak mereka dengan Mentari cukup jauh.
"Bagaimana racun itu mengenai mereka". Jagratara menatap tajam Mentari.
Tubuh Jagratara tiba tiba melesat menyerang Mentari yang sedang bertarung dengan muridnya.
Mendapat serangan mendadak membuat Mentari terlambat bereaksi, tubuhnya terpukul mundur sebelum kembali menggerakan tangannya.
Jagratara melompat mundur sesaat sebelum sebuah bayangan hitam mengarah kebayangannya.
"Jadi begitu, kau memanfaatkan segel bayangan untuk mengantarkan racunmu". Jagratara tersenyum puas setelah mengetahui jurus Mentari.
__ADS_1
"Dia cepat sekali". Mentari berdecak kesal.