
Suara orang-orang yang saling berbisik terdengar memenuhi setiap sudut keraton pagi itu, mereka membicarakan kejadian yang membuat semua orang menjadi panik.
Beberapa orang juga terlihat sibuk melaporkan keadaan terkini pada Gusti ratu. Pandita, orang yang diharapkan Wardhana bisa merubah arah pertemuan kali ini justru menghilang dan tidak menampakkan batang hidungnya.
Situasi yang sangat menguntungkan Adiwilaga ini diketahui saat keluarga Pandita melaporkan hilangnya Menteri Pakirakiran itu malam hari.
Wardhana kemudian meminta Lembu sora mengirim beberapa pasukan untuk mencari keberadaan Pandita.
Namun yang membuat Lembu Sora bingung adalah Wardhana seolah setengah hati mencari keberadaan Pandita, dia bahkan menyuruh Sora untuk mempersiapkan pasukan yang lebih banyak untuk berjaga di aula utama Malwageni.
"Serahkan saja masalah Pandita pada prajuritmu, ada tugas yang lebih penting untuk kau lakukan," ucap Wardhana pelan.
"Tapi tuan, bukankah Pandita adalah kunci semua masalah ini dan hilangnya dia tepat sebelum pertemuan menandakan ada yang tidak beres?" tanya Lembu Sora bingung.
"Apa aku pernah mengajarimu untuk mempertanyakan sebuah perintah? lakukan saja apa yang aku minta, dan gerakkan prajurit angin selatan untuk berjaga di sekitar aula utama tepat setelah pertemuan di mulai," balas Wardhana sedikit meninggi.
"Baik tuan," jawab Lembu Sora cepat.
"Kau sudah memulainya Adiwilaga, dan aku pastikan kau akan berakhir di tahanan," ucap Wardhana geram sambil melangkah keluar menuju aula utama.
Wajah Wardhana terlihat sedikit tegang, dia menyadari masalah yang dihadapinya kali ini jauh lebih rumit dari biasanya, sedikit saja salah melangkah akan terjadi perang saudara diantara mereka.
Wardhana harus memastikan jika Adiwilaga dan para pengikutnya tidak menghasut atau mempengaruhi para menteri lain yang tidak mengetahui masalah sebenarnya.
Saat langkah kaki Wardhana memasuki Aula pertemuan, puluhan menteri termasuk Adiwilaga yang sudah cukup lama menunggu menyambutnya dan memberi hormat.
"Maaf aku sedikit terlambat, Yang mulia mengutus orang untuk bicara padaku, semoga kalian mengerti," ucap Wardhana sambil melangkah masuk ruangan.
"Jangan terlalu sungkan tuan, tugas Yang mulia jauh lebih penting," jawab Adiwilaga pelan, dia sebenarnya ingin mempermalukan Wardhana yang datang terlambat namun alasan Wardhana tentang kedatangan utusan Sabrang jelas tidak mungkin ada yang berani pertanyakan.
Wardhana memang sengaja datang terlambat untuk mengulur waktu Arung bekerja, dia juga sudah menjelaskan semua rencananya pada Gusti ratu.
"Maaf Gusti ratu, aku datang terlambat," Wardhana menundukkan kepalanya sebelum duduk di kursinya.
"Tidak apa apa tuan Patih, Yang mulia jelas harus didahulukan, bukankah begitu para menteri yang agung?" ucap Sekar Pitaloka sambil menatap para menterinya.
Seluruh menteri yang hadir mengangguk bersamaan, tidak ada yang cukup gila untuk mempermasalahkan keterlambatan Wardhana jika itu berhubungan dengan Sabrang.
"Baik, hamba memohon izin untuk memulai pertemuan Gusti ratu," ucap Wardhana sambil menoleh kearah Pancaka yang sejak awal tidak berani menatapnya.
Setelah mendapat persetujuan Sekar Pitaloka, Wardhana kemudian membuka pertemuan, dia menjelaskan maksud pertemuan itu termasuk soal keputusan Sekar Pitaloka yang ingin memeriksa kembali keuangan kerajaan secara menyeluruh.
"Dalam situasi seperti ini, dan seperti yang kalian semua tau jika kita baru saja bertempur habis habisan dengan Saung Galah, Gusti ratu ingin memperbaiki semua sistem pemerintahan keraton agar Malwageni terus berjaya.
Hal ini dianggap Gusti ratu penting karena kita saat ini adalah satu satunya kerajaan di tanah Jawata. Selain itu Malwageni harus mempersiapkan semua kemungkinan untuk berperang kembali karena kerajaan Arkantara mulai bergerak. Gusti ratu ingin memastikan sistem pemerintahan berjalan baik," ucap Wardhana lantang.
Suasana aula pertemuan menjadi riuh oleh bisik bisik para menteri, beberapa secara terang terangan menolak namun sebagian lagi memilih tidak bicara sambil melihat situasi.
"Izinkan hamba bicara Gusti ratu," ucap Adiwilaga tiba tiba.
__ADS_1
Wardhana menatap tajam Adiwilaga, dia kemudian menoleh kearah Sekar Pitaloka yang dijawab anggukan.
"Silahkan tuan menteri," ucap Wardhana pelan.
"Semoga Gusti ratu selalu diberikan kesehatan. Hamba sangat mengerti semua keputusan Gusti ratu untuk kebaikan Malwageni tapi izinkan hamba sedikit memberi pendapat.
Aturan keraton sudah dibuat sejak dulu dan masih berjalan sampai hari ini, hamba masih ingat bagaimana Yang mulia Arya Dwipa meminta kita semua tunduk pada aturan keraton. Hamba bukan tidak setuju dengan keputusan anda tapi hamba takut itu akan berbenturan dengan aturan keraton yang telah memberikan tugas pada semua menteri demi melayani raja.
Hamba takut dengan keluarnya keputusan ini bisa mengesampingkan peran pejabat pemeriksa kedepannya yang saat ini dipimpin oleh pangeran Pancaka, mohon gusti ratu memikirkan kembali," ucap Adiwilaga pelan.
Suara setuju dan anggukan beberapa menteri kembali terdengar, mereka merasa apa yang dikatakan Adiwilaga benar. Jika semua tugas yang sudah dikerjakan oleh pejabat pemeriksa dipertanyakan itu akan menimbulkan kekacauan dan membuat pejabat pemeriksa terlihat hanya sebuah simbol di keraton.
"Apakah menurutmu seperti itu pangeran?" Sekar Pitaloka tiba tiba bertanya pada Pancaka.
Saat Pancaka hendak menjawab, Wardhana lebih dulu bicara.
"Apa yang anda katakan sangat tidak berdasar tuan menteri, Gusti ratu hanya ingin memperbaiki sistem bukan melemahkan nya, itu mengapa beliau memutuskan untuk membuka kembali kasus percobaan pemberontakan yang dulu terjadi.
Gusti ratu bukan hanya ingin memperbaiki sistem kerajaan tapi juga meluruskan masa lalu dan itu akan membersihkan nama pangeran dan nyonya selir," Wardhana menekan suaranya saat menyebut nama Pancaka dan nyonya selir untuk memberi tanda pada Pancaka jika dia memiliki senjata terakhir andai Pancaka berubah pikiran.
Semua tersentak kaget saat mendengar ucapan Wardhana, termasuk Adiwilaga dan Pancaka.
Pancaka jelas orang yang paling terkejut, dia mengerti kemana arah ucapan Wardhana. Dengan semua bukti yang dimilikinya, Wardhana bisa membersihkan nama baiknya tapi juga bisa menjadi penghalang terbesarnya di keraton.
"Maaf tuan patih, mengenai masalah percobaan pemberontak itu..." belum selesai Adiwilaga menjawab, Wardhana sudah memotong ucapannya.
"Apa menurut anda masalah ini tidak penting untuk di buka kembali? anda lupa nyonya selir terseret masalah ini, gusti ratu hanya ingin membongkar masalah yang penuh dengan kejanggalan ini. Gusti ratu masih yakin nyonya selir tidak terlibat," ucap Wardhana tajam.
"Aku tidak bermaksud bicara seperti itu tuan, sama seperti anda, aku tidak berfikir nyonya selir terlibat. Ku harap kita tidak saling curiga karena gusti ratu memanggil kita semua untuk memecahkan masalah yang terjadi di Malwageni," balas Adiwilaga kesal.
Suasana menjadi tegang akibat ucapan Wardhana, mereka saling melemparkan pendapat untuk membela masing masing pihak.
Wardhana terlihat tersenyum sambil sesekali menatap ke arah pintu keluar, dia seperti sedang menunggu sesuatu.
"Apa yang dikatakan tuan patih benar, pejabat pemeriksa juga perlu diawasi agar bisa bekerja dengan baik, dan yang dilakukan Gusti ratu adalah bentuk pengawasan. Aku tidak mempermasalahkan semuanya selama demi kebaikan Malwageni," ucap Pancaka tiba tiba.
Semua yang mendengar ucapan Pancaka tersentak kaget, mereka tidak menyangka dia akan begitu cepat memihak Gusti ratu.
Adiwilaga terlihat yang paling terkejut diantara yang lainnya karena dia sangat yakin Pancaka akan mendukungnya.
"Pangeran, anda?" ucap Adiwilaga dalam hati.
"Sial," umpat Pancaka dalam hati, dia sebenarnya sudah memutuskan untuk mendukung Adiwilaga namun ucapan Wardhana tentang pemberontakan di masa lalu seolah mengancamnya.
Pancaka akhirnya memilih untuk tidak berhadapan dengan Wardhana dengan cara mendukungnya.
***
"Sepertinya ini memang tempat mereka menyekapnya?" Arung menutup wajahnya sebelum melompat turun dari pohon dan bergerak kearah puluhan prajurit yang menjaga sebuah gubuk di tengah hutan.
__ADS_1
"Berhenti di sana atau kami akan membunuhmu! ini adalah wilayah keraton Malwageni yang tidak bisa didatangi oleh semua orang," teriak salah satu prajurit penjaga.
"Membunuhku? kalian terlalu sombong," Arung menarik pedangnya dan langsung bergerak menyerang.
"Prajurit Malwageni harusnya tunduk pada siapapun raja yang memimpin tapi kalian berani menentang gusti ratu? akan aku pastikan kalian mendapatkan balasannya," Arung mengalirkan tenaga dalam sebelum mengayunkan pedangnya. Dia bergerak sangat cepat untuk melumpuhkan lawan lawannya.
Belasan prajurit penjaga tumbang bersamaan saat punggung pedang Arung menghantam tubuh mereka. Para penjaga itu tersentak kaget saat melihat kecepatan Arung. Hanya dalam beberapa tarikan nafas, Arung berhasil melumpuhkan mereka semua.
"Kau beruntung tuan Patih memintaku untuk tidak membunuh kalian semua," ucap Arung sambil menyarungkan pedangnya.
Arung berjalan masuk kearah gubuk kecil itu dan membuka pintunya, terlihat Pandita terikat dalam posisi duduk.
"Anda baik baik saja tuan?" tanya Arung sambil membuka ikatan di tubuhnya.
"Tuan Arung?" Pandita mengernyitkan dahinya saat mengenali suara pendekar yang memakai penutup wajah itu.
"Kita harus cepat, anda ditunggu di aula utama oleh tuan Patih," ucap Arung sambil membuka penutup wajahnya.
"Bagaimana anda bisa ada di sini? bukankah kudengar tuan patih mencopot jabatan anda?" tanya Pandita bingung.
"Ceritanya panjang, semua sudah masuk dalam rencana tuan patih, sebaiknya kita cepat karena pertemuan mungkin segera berakhir," balas Arung pelan.
***
Sabrang tampak kesal karena secepat apapun dia berusaha, bak penampung air itu tidak pernah bisa penuh.
"Sial," umpat Sabrang sambil merebahkan tubuhnya di tanah.
"Kegagalan akan membuatmu jauh lebih kuat, jangan pernah jadikan sebuah kegagalan sebagai penghalang untuk kau menjadi lebih kuat," ucap Wahyu Tama pelan.
"Kakek," sapa Sabrang pelan, dia bangkit dari tidurnya dan duduk dihadapan Wahyu Tama.
"Ilmu kanuragan tidak hanya soal bakat tapi kau harus belajar dari kekalahan untuk membuatmu jauh lebih kuat. Jangan pernah takut untuk kalah karena pendekar sekuat apapun pasti pernah kalah," ucap Wahyu Tama pelan.
"Apa kakek pernah kalah?" tanya Sabrang.
"Tidak terhitung, apa kau pikir aku mendapatkan julukan dewa pedang timur begitu saja?" jawab Wahyu Tama.
Wahyu Tama tampak memperhatikan tubuh Sabrang, latihan selama beberapa hari membuatnya terlihat lebih kuat.
"Setiap kekalahan akan mengakibatkan luka ditubuhmu, jadikan setiap goresan luka itu sebagai alasan untukmu terus berkembang hingga tak ada satupun orang yang mampu melukaimu lagi," ucap Wahyu Tama melanjutkan.
Sabrang mengangguk pelan, baru kali ini ada yang mengajarinya begitu detail dan tidak hanya soal ilmu pedang. Prinsip prinsip yang dikatakan Wahyu Tama tentang kekalahan tak pernah didengarnya dari siapapun karena selama ini kemenangan adalah prinsip utama dalam mengajarkan ilmu kanuragan.
"Dengan ilmu kanuragan yang kakek miliki harusnya nama kakek bisa jauh lebih besar tapi kakek malah lebih memilih mundur dari dunia persilatan. Apa yang sebenarnya kakek pikirkan?" tanya Sabrang penasaran.
Wahyu Tama menarik nafasnya perlahan sebelum menjawab pertanyaan Sabrang.
"Kau tau nak, melindungi dunia persilatan tidak hanya memenangkan pertarungan tapi bagaimana kau menjadi berguna untuk sesama. Tidak semua orang yang perduli dengan dunia persilatan dianugerahi bakat besar sepertimu, semua memiliki cara sendiri untuk memperjuangkan apa yang menurutnya benar dan aku memilih jalan ini," jawab Wahyu Tama pelan.
__ADS_1
Wahyu Tama bangkit dari duduknya dan masuk kedalam gubuk sebelum keluar kembali membawa sebuah pedang yang terbungkus kain putih.
"Ikuti aku nak, sesuai janjiku kemarin, aku akan mulai mengajarimu ilmu pedang Sabdo Palon," ajak Wahyu Tama.