
"Apakah anda yakin anak itu akan menguasai Kitab Energi Bumi tetua?" Wulan sari menatap Sabrang yang sedang berlatih tenaga dalam tak jauh dari mereka berbicara.
Suliwa tersenyum kecil "Kenapa aku harus bimbang saat Naga Api sudah mengambil keputusannya?". Wulan sari mengangguk pelan, dia mengingat kembali kejadian yang baru saja dia alami saat tubuh Sabrang diselimuti kobaran api. Dia pun hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya, bagaimana mungkin Naga Api memilih seorang pemuda yang bahkan belum memiliki tenaga dalam tinggi.
"Kau sudah menemukan dimana letak tanah para dewa nona?" Wulan sari menggeleng pelan. Tak ada informasi apapun yang dapat kami kumpulkan terkait Dataran tinggi Dieng".
Suliwa memejamkan matanya "Sepertinya memang tidak akan mudah mencari letak keberadaan Dieng".
"Aku ingin meminta bantuan sekali lagi pada anda nona. Ini terkait dengan Pil Bintang Emas".
Wajah Wulan sari berubah seketika, dia mengerti arah pembicaraan Suliwa. "Jika maksud tetua adalah Pil Pusaka milik Teratai Merah sebaiknya lupakan saja". Wulan sari sangat mengerti efek dari mengkonsumsi Pil Bintang Emas. Pil untuk meningkatkan tenaga dalam itu mempunyai efek samping yang sangat mengerikan jika tidak ditangani dengan benar.
"Nona, tenaga dalam anak itu masih rendah, aku takut saat kekuatan Segel kegelapan abadi sirna dia belum mampu mengendalikan Naga Api. Aku sudah mempertimbangkannya dengan sangat matang. Aku akan membimbingnya untuk mengatasi efek dari Pil Bintang Emas.
Wulan sari menatap Suliwa tak percaya, dia tidak mengerti jalan pikiran Suliwa. Bahkan bagi Teratai Merah Pil Bintang Emas adalah pil terlarang karena efek yang sangat mengerikan merusak tubuh.
"Jika efek samping Pil Bintang Emas dapat diatasi dengan mudah, kami sudah menggunakannya sejak dulu. Kita membutuhkan tenaga dalam yang sangat besar untuk dapat mengendalikan dan menekan efek samping pil itu". Wulan sari bersikeras bahwa Pil Bintang Emas akan sangat membahayakan Sabrang.
"Aku mempunyai sebuah rencana nona, percaya padaku" Suliwa tersenyum penuh makna.
............................................
__ADS_1
Wijaya menatap beberapa orang yang hadir dihadapannya. Sebagian dia mengenali wajah mereka. Wajahnya memancarkan kelegaan karena masih banyak yang tetap setia pada Yang mulia raja.
"Seperti yang telah kuceritakan bahwa Yang mulia Ratu dan Pangeran berhasil melarikan diri. Masih ada harapan untuk kita dapat menyusun kembali kekuatan bersama Pangeran. Besok aku akan pergi menemui Yang mulia ratu selama beberapa hari. Jangan ada yang membuat gerakan mencurigakan sementara waktu. Biarkan semua mengalir seperti biasa, nanti akan kuhubungi kembali melalui kakang Lembu sora".
"Kakang yakin diantara mereka tidak ada penghianat" Wijaya bertanya setelah pertemuan selesai. Lembu sora mengangguk penuh keyakinan.
"Selama ini mereka semua yang membantuku untuk tetap saling berhubungan dengan beberapa pendukung Yang mulia raja. Aku yakin dengan kesetiaan mereka tuan".
Wijaya mengangguk lega sambil memandang keatas langit langit rumah. "Besok aku akan menemui Yang mulia ratu kakang, entah apa yang harus aku katakan pada beliau. Aku memang pantas mati".
"Jika tuan patih merasa pantas mati dan sangat bersalah, ku harap tuan menebusnya dengan melindungi mereka dan merebut kembali Malwageni dari cengkraman Majasari. Aku akan membantu sekuat tenagaku".
***
"Aku yakin diikuti seseorang, siapa mereka sebenarnya" Wijaya berkata dalam hati. Ketika akan melangkah kembali tiba tiba dia melompat mundur beberapa langkah. Tiba tiba beberapa jarum beracun mendarat tepat di hadapannya. Tak lama kemudian empat pendekar muncul dihadapannya.
"Tak kusangka ilmu pendekar lumayan tinggi hingga menyadari kehadiran kami" salah seorang Pendekar berkata pada Wijaya.
"Ada apa ini? Aku merasa tidak mempunyai masalah dengan kalian?" Wijaya menatap tajam.
"Ada keperluan apa tuan pendekar di ibukota? Ku dengar anda mengunjungi Lembu sora" pendekar itu mengeluarkan hawa membunuh yang kuat.
__ADS_1
"Apa aku harus melaporkan semua yang kutemui pada kalian" Wijaya tersenyum sinis.
"Ternyata tuan tidak bisa di ajak bicara baik baik ya" Pendekar itu memberi aba aba pada yang lainnya untuk menyerang. Tiba tiba mereka menyerang Wijaya secara bersamaan.
"Aku tidak boleh membuat masalah yang bisa menarik perhatian orang, lebih baik aku mencari kesempatan untuk melarikan diri". Wijaya maju menyambut serangan yang diarahkan padanya.
Wijaya mampu mengimbangi serangan mereka dengan mudah tetapi dia tidak berniat membunuh karena tidak ingin mencuri perhatian.
Raut wajah mereka berubah karena ternyata ilmu kanuragan Wijaya sangat tinggi. Tiba tiba Wijaya melesat cepat menyerang mereka dengan pedangnya. Dia ingin segera mengakhiri pertarungan dan melanjutkan perjalanannya. Salah satu pendekar terkena tebasan pedangnya. Mereka mundur beberapa langkah dengan wajah ketakutan.
"Aku tak ingin mencari masalah dengan kalian, pergilah maka aku akan melupakan yang terjadi hari ini". Wijaya menyarungkan kembali pedangnya.
"Kau akan menerima balasannya karena berani mempermalukan Lembah tengkorak! Tunggu pembalasan kami".
Raut wajah Wijaya berubah mendengar nama Sekte Lembah tengkorak. Masih jelas dalam ingatannya bagaimana Lembah tengkorak membantai seluruh pasukan angin selatan. Dia kembali memegang pedangnya dan mengeluarkan kembali dari sarungnya.
"Aku berubah pikiran, tidak ada yang boleh melangkah pergi dari sini". Tiba tiba tubuh Wijaya mengeluarkan aura membunuh yang sangat kuat. Terlihat ketakutan di wajah para pendekar yang menyerang Wijaya.
Tubuh Wijaya tiba tiba menghilang dari hadapan Pendekar Lembah Tengkorak "Jurus Pedang Elang Putih" belum sempat mereka menyadari apa yang terjadi tubuh mereka telah roboh di tanah tak bernyawa.
Wijaya menyarungkan kembali pedangnya. Dia menatap dingin tubuh para pendekar yang tergeletak ditanah. "Aku akan menuntut balas untuk setiap tetes darah rakyar Malwageni".
__ADS_1
Pandangan Wijaya tertuju pada sebuah gulungan yang terselip di baju salah satu pendekar. Dia mengambil gulungan tersebut dan membacanya. Raut wajah Wijaya berubah seketika setelah membaca gulungan ditangannya.
"Sekte Rajawali Emas dalam bahaya. Aku harus bergegas memberitahukan mereka sebelum terlambat, semoga masih sempat". Wijaya merubah arah tujuannya. Dia merasa perlu membantu Sekte Rajawali Emas sebelum menemui Yang mulia ratu dan Pangeran. Untuk dapat menggalang kekuatan kembali Wijaya membutuhkan bantuan Sekte Rajawali Emas.