
Wardhana merebahkan tubuhnya di kamar yang sudah lama tidak ditempatinya. Kesibukan dan permasalahan yang muncul terus menerus membuatnya terpaksa tidur di ruangan kerjanya.
Wardhana mencabut pedang yang terselip di pinggangnya dan meletakkan di meja dekat tempat tidurnya.
"Tempat senyaman ini bisa membuatku terbuai dan lemah," gumamnya dalam hati.
Sabrang memang memberikan kamar terbaik untuk Wardhana atas jasa besarnya merebut Malwageni.
Wardhana sempat menolak karena dia tidak terbiasa dalam kemewahan, hal yang menurutnya bisa membuatnya terbuai dan lupa daratan.
Namun setelah semua masalah yang diakibatkan oleh Saung Galah, kali ini Wardhana ingin mengistirahatkan tubuhnya sesaat untuk memulihkan tubuhnya.
Masih belum ditemukannya Mentari dan siasat licik Saung Galah membuat kepalanya sakit.
Wardhana mulai memejamkan matanya sambil menarik nafas, dia seolah ingin melepaskan seluruh beban untuk sesaat dan memberikan hadiah pada tubuhnya untuk beristirahat.
Namun saat dia hampir terlelap, sebuah ketukan kembali membuatnya tersadar.
"Tuan, aku mohon menghadap," ucap Ciha dari balik pintu.
"Ciha?" ucap Wardhana dalam hati.
Wardhana hanya menatap pintu yang diketuk tanpa menjawab, dia sudah membulatkan tekadnya untuk tidur dan menemui Ciha esok hari.
Pandangan Wardhana teralih pada pedang yang ada di atas meja, posisinya yang sejajar dengan arah pintu membuatnya terlihat dari posisi Wardhana tidur.
"Pedang itu? apa aku salah liat?" Wardhana bangkit dari tidurnya.
"Tuan?" panggil Ciha kembali setelah mendengar suara dari dalam.
Wardhana tersenyum kecut karena Ciha menyadari jika dirinya belum tidur.
"Masuklah," jawab Wardhana sambil mencabut pedangnya dan menaruh pedang itu disebelah sarungnya.
"Benar dugaan ku, sarung ini lebih panjang dari pedangnya. Apa Yang mulia Arya Dwipa salah memberikan sarungnya atau...," Wardhana mengernyitkan dahinya saat melihat guratan halus diujung pedang.
"Tuan," Sapa Ciha kembali setelah berdiri dibelakangnya.
"Sebentar," jawab Wardhana sambil mencoba memutar sarung pedang itu perlahan. Wajahnya berubah saat ujung sarung pedang itu berputar.
Wardhana terus memutar ujung sarung pedang itu sampai terlihat sebuah gulungan kecil didalam celah sarung pedangnya.
"Jadi alasan sarung pedang ini lebih panjang adalah untuk menyimpan gulungan ini," Wardhana mengambil gulungan itu dan membacanya.
"Yang mulia?" Wardhana tersentak kaget saat mengenali tulisan tangan Arya Dwipa.
"Aku menulis pesan ini tanpa tau siapa penerimanya, siapapun yang menerima pesan ini berarti aku percaya padamu. Leluhurku tak bisa dihentikan dengan cara biasa, aku harus mencari cara untuk menghentikannya.
Pernikahan silang antar tiga trah Masalembo, sebuah nama yang ku ketahui saat menyelidiki masa lalu leluhurku sepertinya solusi untuk membangkitkan roh legenda terkuat Dewa Api. Sayang penyelidikan ku berakhir dengan kenyataan jika Ken Panca gagal membangkitkan nya.
Aku mungkin ayah yang jahat karena menggunakan anakku kelak sebagai senjata menghentikan leluhurku. Mungkin bayaran yang pantas jika kelak dia membenciku. Sekar pitaloka yang merupakan keturunan Tumerah akan kujadikan ratu.
Sejak saat itu aku mulai mengalihkan penelitianku pada legenda dewa api, perlahan namun pasti aku mengerti mengapa Panca tak ingin melanjutkan membuat pusaka itu. Roh Dewa api tak bisa dikendalikan dengan mudah.
Namun aku yakin alam selalu memiliki caranya sendiri untuk menunjukkan kebesarannya. Aku menemukan satu cara yang mungkin bisa menaklukkannya, gunakan jurus ruang dan waktu.
Dimensi ruang dan waktu dapat menahan kekuatan dewa api separuhnya, dengan demikian sedikit lebih mudah daripada bertarung dengannya di dunia nyata.
__ADS_1
Ada satu hal yang belum bisa kupecahkan, kebangkitan Dewa api konon ditandai dengan ledakan gunung api diseluruh penjuru dunia. Kekuatannya yang begitu besar mampu menghancurkan suatu daratan hanya sekejap mata. Satu detik, hanya satu detik waktu yang kita miliki untuk menarik Dewa api masuk ke dimensi ruang dan waktu. Lebih dari satu detik maka dia akan lepas dan menghancurkan semuanya.
Dengan kekuatan besar Dewa api, menjadi mustahil menariknya hanya dalam waktu satu detik. Temukan caranya, hanya itu yang bisa menghentikan leluhurku."
"Jadi ini alasan Yang Mulia Arya Dwipa memberiku pedang ini," gumam Wardhana pelan.
"Ciha, saat Gusti ratu menarikku masuk kedalam ruang dan waktunya, apa kau memperhatikan berapa waktu yang diperlukan untuk menarik semua tubuhku?"
"Hamba tidak menghitungnya tuan namun ada jeda beberapa saat sebelum tubuh anda menghilang," jawab Ciha.
"Satu detik?" kejar Wardhana.
"Lebih tuan, hamba tidak terlalu memperhatikannya namun jika satu detik hamba pastikan lebih," jawan Ciha kembali.
"Begitu ya, jika tubuhku saja membutuhkan waktu lebih dari satu detik maka roh terkuat itu akan memakan waktu lebih lama," wajah Wardhana berubah masam.
"Waktu kebangkitan Dewa Api dan menggunakan jurus ruang dan waktu harus benar benar dihitung dengan matang, sepertinya kamar ini akan kosong lebih lama lagi," Wardhana tersenyum kecut.
Wardhana memejamkan matanya, kepalanya kembali berdenyut sakit.
"Lalu apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Wardhana pelan.
"Jaladara ada di aula utama, dia memaksa ingin bertemu dengan anda malam ini," jawab Ciha.
"Jaladara?" Wardhana mengernyitkan dahinya.
Ciha mengangguk pelan, "Apa aku harus meminta Arung mengusirnya?" tany Ciha pelan.
"Jangan, aku akan menemuinya, sudah saatnya aku memainkan peranku," Wardhana bangkit dan melangkah keluar menuju aula utama Malwageni.
Jarak yang tidak terlalu jauh antara kamar Wardhana dengan aula utama membuat Wardhana cepat sampai.
"Tuan patih, maaf mengganggumu malam malam begini," Jaladara menundukkan kepalanya memberi hormat.
"Tak perlu sungkan, apa yang membawamu kemari?" tanya Wardhana tanpa basa basi.
Jaladara tampak kikuk saat mendapat sambutan tidak bersahabat Wardhana.
"Situasi Saung Galah akhir akhir ini sedang kacau sejak kemunculan peramal misterius yang menyebarkan berita bohong tentang putri mahkota. Situasi diperparah karena terganggunya pasokan bahan makanan akibat Malwageni menutup akses utama di kadipaten Rogo geni.
Aku cukup terkejut setelah mendengar ini perintah ratu Malwageni, aku ingin meminta penjelasan anda mengenai masalah ini karena ditakutkan akan merenggangkan hubungan Saung Galah dengan Malwageni," ucap Jaladara sopan.
"Kau membuatku tertawa tuan, apa Malwageni harus menjelaskan semua kebijakan diwilayahnya pada Saung Galah? apa kau pikir Malwageni dibawah kekuasaan kalian?" ejek Wardhana.
"Tolong jangan salah paham, aku hanya ingin mengetahui apa kami memiliki salah pada kalian?" ucap Jaladara sambil menahan emosinya.
"Permasalahan yang terjadi di Saung Galah bukan urusanku, sama seperti kejadian hilangnya selir kesayangan Yang mulia beberapa waktu lalu, apa kalian peduli pada kami?" pancing Wardhana.
Wajah Jaladara berubah seketika saat Wardhana menyinggung hilangnya Mentari.
"Aku tidak mengerti maksud anda tuan," balas Jaladara.
"Malwageni akan menganggap kerajaan apapun sebagai sahabatnya selama mereka tidak mengusik kami, namun jika ada yang mencoba bermain api dengan kami maka aku tak akan diam," ucap Wardhana dingin.
"Apa maksudmu mengatakan ini padaku? kau menuduh Saung Galah bermain dibelakang hilangnya selir kalian?"
"Apa aku mengatakan kalian terlibat?" tanya Wardhana cepat.
__ADS_1
Jaladara terdiam, dia mengumpat dalam hati karena terpancing ucapan Wardhana.
"Maaf jika anda tersinggung dengan ucapanku, aku datang hanya ingin meminta anda sedikit mengendurkan penjagaan di perbatasan dan membiarkan para pedagang lewat," Jaladara merendahkan suaranya.
"Sepertinya untuk sementara waktu aku tak dapat mengabulkannya. Aku sudah mengetahui siapa yang merencanakan semua ini, namun aku terlambat menangkapnya karena dia lebih dulu melarikan diri. Sampai mereka tertangkap, aku tak akan mengendurkan penjagaan di seluruh perbatasan. Ku harap anda mengerti," jawab Wardhana.
"Dia belum tertangkap, berarti Wardhana belum mengetahui keterlibatan Saung Galah," ucap Jaladara dalam hati.
"Aki minta maaf atas ketidaktahuanku tuan, jika demikian aku akan menunggu sampai anda menangkap mereka. Semoga hubungan Saung Galah dan Malwageni tetap terjaga baik. Tolong beritahu aku jika mereka berhasil melarikan diri ke Saung Galah, aku akan menangkapnya untuk anda," Jaladara bangkit dari duduknya dan menundukkan kepalanya.
"Aku mohon diri, maaf mengganggu anda," sambung Jaladara.
"Terima kasih atas perhatian anda," Wardhana membalas hormat Jaladara.
"Masuklah terus dalam permainanku," gumam Wardhana dalam hati sambil menatap kepergian Jaladara.
"Tuan, anda memanggilku?" Sora melangkah masuk bersama Ciha.
"Longgarkan penjagaan ruang tahanan dan biarkan Aswarangga melarikan diri," perintah Wardhana tiba tiba.
Lembu Sora tersentak kaget, dia benar benar tidak percaya Wardhana memintanya melepaskan Aswarangga.
"Maaf tuan, anda ingin aku melonggarkan penjagaan dan membiarkan mereka melarikan diri?" tanya Lembu Sora bingung.
"Apa perintahku kurang jelas Sora?"
"Bukan begitu tuan, bagaimana anda membiarkan orang yang paling bertanggung jawab dalam hilangnya nyonya selir melarikan diri?"
"Untuk memancing ikan besar, kadang kau perlu melepaskan ikan kecil yang kau dapatkan lebih dulu. Jangan khawatir, Hibata akan mengurus mereka, sekarang lakukan saja perintahku," balas Wardhana sambil tersenyum.
"Baik tuan," jawab Lembu Sora pelan.
"Dan tolong perintahkan Kertapati untuk pergi kesebuah hutan di pinggiran wilayah Saung Galah, berikan gulungan ini pada orang yang bernama Adiwangsa, katakan jika dia adalah utusanku.
Sepertinya kita akan sibuk dalam beberapa hari ini, persiapkan dirimu untuk berperang," ucap Wardhana.
"Perang? jangan jangan anda?"
"Kita tinggal menunggu titah Yang mulia untuk menaklukkan Saung Galah, jadi bersiaplah," Wardhana bangkit dan melangkah keluar.
"Aku benar benar tak mengenalimu tuan, kau seolah berubah jadi orang lain jika itu berhubungan dengan Malwageni," sapa Wulan yang berdiri di luar.
"Tetua?" Wardhana sedikit terkejut saat melihat Wulan.
"Aku mendapat kabar dari Rubah Putih jika Sabrang akan kembali besok pagi, aku merasa harus menyampaikan kabar ini padamu," ucap Wulan pelan.
"Yang mulia kembali?" Wardhana menarik nafasnya panjang, kini dia harus berfikir bagaimana menyampaikan pada Sabrang jika Mentari belum ditemukan.
"Tak perlu khawatir, dia akan datang bersama selir kesayangannya," ujar Wulan seolah tau kegelisahan hati Wardhana.
"Nyonya selir? jadi Yang mulia menemukannya?" tanya Wardhana.
"Itulah kabar yang disampaikan Rubah Putih padaku. Beristirahatlah malam ini, jangan sampai wajah kusut itu menyambut rajamu," balas Wulan sambil melangkah pergi.
"Terima kasih tetua," Wardhana menundukkan kepalanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Sesuai janji... Chapter ke dua saya rilis walau sedikit terlambat... terima kasih semuanya....