Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Jurus Api Abadi tingkat Sempurna


__ADS_3

"Ketua, dia sudah datang". Cakra menundukan kepalanya memberi hormat.


Astaguna menghela nafas panjang, dia tidak menyangka akan mengajarkan ilmu segel milik kelompoknya pada orang luar.


Segel bayangan adalah jurus ciptaan kelompok Lintang Gubuk yang sudah ratusan tahun diajarkan pada keturunanya. Sedikit berbeda dengan kitab segel bayangan yang ada ditangan Sabrang karena Astaguna telah menyempurnakan segel banyangannya.


"Bawa dia keruang latihan, aku akan segera menemuinya".


"Baik ketua".


Sepeninggal Cakra, Astaguna memejamkan matanya, pikirannya melayang entah kemana. Beberapa hari ini terasa berat baginya, berbagai masalah menghantam Sekte bintang langit.


Sejak Daniswara menggantikan Birawa semua kebijakan sekte berubah. Penggunaan Ilmu kanuragan diijinkan dengan beberapa syarat. Astaguna tidak dapat berbuat banyak karena selalu kalah dalam pengambilan keputusan.


Pengambilan keputusan sekte melibatkan tiga kelompok besar. Astaguna selalu kalah suara karena Daniswara didukung oleh Jagratara.


Harapan untuk berubah kembali hadir saat Lingga dan Mentari muncul di sekte Bintang langit. Ilmu kanuragan Lingga dirasa mampu menandingi Daniswara yang diam diam belajar ilmu kanuragan namun Lingga mengajukan syarat yang cukup berat padanya yaitu mengajarkan segel bayangan pada Mentari.


Ruang latihan kelompok Lintang gubuk berada tak jauh dari ruangan Astaguna, hanya membutuhkan waktu beberapa menit bagi Astaguna untuk sampai dengan berjalan kaki.


Saat memasuki ruangan dia melihat seorang gadis dengan aura hijau sedang bersila. Astaguna menajamkan matanya melihat aura hijau yang menyelimuti tubuh Mentari.


"Dia pengguna ajian Lembur sukma". Astaguna berjalan pelan mendekati Mentari.


"Anda.....?". Mentari membuka matanya saat merasakan kehadiran seseorang. Dia berdiri dan menundukan kepalanya.


"Namaku Astaguna, kau pendekar wanita yang diceritakan tuan Lingga?". Ucap Astaguna ramah.


Mentari mengangguk pelan sambil tersenyum ramah.


"Aku turut prihatin pada temanmu, jika ada yang bisa kubantu katakan saja". Ucap Astaguna.


"Terima kasih tuan atas perhatiannya namun aku yakin tuan muda masih hidup. Setelah aku mempelajari ilmu segel bayangan aku akan mencarinya". Ucap Mentari yakin.


Astaguna hanya mengangguk, dia mengerti apa yang dirasakan Mentari walaupun dia tidak yakin ada manusia yang berhasil selamat setelah jatuh dari lembah tak berdasar jika tidak menguasai segel pelindung.


"Segel bayangan membutuhkan tenaga dalam yang cukup besar. Kami sekte bintang langit dilarang mempelajari Ilmu kanuragan untuk itu kami menyiasatinya dengan menyerap energi alam. Sistem kerjanya hampir sama dengan ajian lebur sukma milikmu yang menyerap racun dan mengikatnya ditubuhmu".


Mentari sedikit terkejut mendengar ucapan Astaguna yang mengetahui dia pengguna ajian lebur sukma.


"Kami dilarang mempelajari Ilmu kanuragan namun cukup mengerti dengan ilmu yang berasal dari Dieng". Ucap Astaguna seolah tau pertanyaam di dalam hati Mentari.

__ADS_1


"Ikut denganku, akan kuberikan sesuatu padamu". Astaguna melangkah kesebuah kotak penyimpanan dan mengambil sebuah botol berwarna hitam.


"Ini adalah racun terkuat milik kelompok Lintang gubuk, namanya Racun raja kalajengking. Aku telah mengekstraknya dengan beberapa racun yang ada di wilayah ini. Satu tetes racun ini dapat membunuh puluhan pendekar tingkat ahli.


Gunakan ini untuk meningkatkan tenaga dalammu, saat kau sudah menguasai segel bayangan kau bisa mengalirkan racun melalui bayanganmu".


"Tapi ini....". Mentari merasa tidak enak karena Astaguna memberikan racun terbaiknya.


"Aku tidak membutuhkannya lagi, lagipula kau sebagai pengguna ajian pelebur sukma lebih membutuhkannya. Namun aku ingin meminta sesuatu padamu sebelum aku mengajari segel bayanganku. Aku ingin kau membantuku mengembalikan lagi sekte bintang langit seperti semula. Aku tidak ingin perjanjian dengan tuan Panca dilanggar oleh orang seperti Daniswara".


"Tuan tidak usah khawatir, aku akan berusaha semampuku lagipula dia harus kuberi pelajaran". Mentari menumpahkan racun raja kalajengking di telapak tangannya.


Tak lama aura hitam pekat mulai menyelimuti tubuh Mentari. Dia merasakan sensasi berbeda pada tubuhnya, dia merasa tubuhnya benar benar ringan.


"Jika kau dapat menggabungkan racun itu dengan segel bayangan aku yakin suatu saat kau akan menjadi pendekar wanita terkuat". Astaguna berkata dalam hati.


***


Suara ledakan yang sangat besar mengagetkan Ciha yang sedang duduk diluar gua. Dia bahkan terpental beberapa meter terkena efek ledakan itu. Dia merasakan udara disekitarnya menjadi sangat panas.


"Apakah dia berhasil menguasai tahap selanjutnya". Ciha berlari masuk kedalam gua.


"Istirahatlah sebentar, tubuhmu bisa hancur jika terus kau paksakan". Ciha menatap Sabrang dari celah gua yang mereka masuki.


"Aku sampai lupa waktu karena terlalu bersemangat berlatih". Sabrang tersenyum canggung.


Ciha melangkah masuk kedalam celah gua itu setelah api di tubuh Sabrang menghilang. Ciha menatap beberapa dinding gua yang kini mulai hancur terkena efek pedang Nag api. Dia menggelengkan kepalanya berkali kali melihat dinding gua yang kini hancur dibeberapa sisi. Beberapa gambar jurus di dinding juga rusak parah dan tidak terlihat lagi, untungnya dia sudah mengingat semua gerakan jurus itu di kepalanya.


Kadang Ciha merasa geli dengan keadaan yang dialamainya saat ini. Dia seolah menjadi guru ilmu kanuragan Sabrang padahal tidak saupun ilmu yang dia kuasai namun karena dia yang mengerti tulisan tulisan aneh di dinding akhirnya dia memberi petunjuk petunjuk gerakan yang harus dilakukan Sabrang selama berlatih.


"Kau harus sedikit mengendalikan kekuatan jurus ini atau kita akan terkubur di gua ini". Ciha duduk dihadapan Sabrang


"Aku tidak menduka akan sedahsyat ini kekuatannya, aku hanya menggunakan sepertiga kekuatanku". Sabrang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Ciha menggeleng pelan, kadang dia merasa takut pada kekuatan anak dihadapannya itu. Ditambah dengan jurus yang khusus diciptakan untuk menyempurnakan jurus api abadi membuat Sabrang bisa menggunakan kekuatan Naga api dengan sempurna.


"Bagaimana kau tau jika jurus ini penyempurnaan dari jurus api abadi?". Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Aku mulai menyadari saat kau memperagakan jurus api abadimu. Ada beberapa kesamaan gerakan dengan gambar yang ada di dinding itu namun yang paling meyakinkanku adalah gambar dilangit gua itu". Ciha menunjuk gambar pedang dikelilingi api merah.


"Boleh kupinjam pedangmu?". Ciha menatap pedang di punggung Sabrang.

__ADS_1


Sabrang memberikan pedang Naga api pada Ciha. Terlihat Ciha sedikit ragu menerima pedang itu.


"Peganglah, asal kau tidak memegang gagangnya dia tidak akan bereaksi". Sabrang seolah tau ketakutan yang dirasakan Ciha.


"Jadi benar kabar yang kudengar jika Naga api memilih tuannya". Ciha memegang pedang itu dengan hati hati.


Dia menunjuk beberapa tulisan di sarung pedang Naga api.


"Tulisan di dinding itu sengaja dibuat tidak lengkap oleh penulisnya. Aku hampir putus asa karena tidak mengetahui arti tulisan terakhir itu. namun jika digabungkan dengan tulisan yang ada di sarung pedang ini maka akan berbunyi


(Gunakan Api abadi yang telah sempurna untuk Penggabungan dua energi akan menghasilkan kekuatan besar. Musnahkan raga lenyapkan panca geni)


Jika aku tidak salah mengartikan arti kalimat ini adalah Jurus yang ada di dinding ini adalah penyempurnaan jurus api abadi yang dia buat sebelumnya untuk menghadapi pengguna Panca geni. Mungkin dia merasa jika ilmu panca geni memiliki kekuatan yang sangat mengerikan dan dia menciptakan jurus ini untuk menghentikan Panca geni.


Inti dari jurus ini ada di tulisan yang dibuatnya di sarung pedang Naga api ini". Ciha menunjuk tulisan kecil di sarung pedang Naga api.


"(Kekuatan dua energi Abadi // Api merah // 17 tahap)". Sabrang membaca sambil mengernyitkan dahinya tiga tulisan berjajar kebawah di sarung pedangnya.


"Aku masih tidak mengerti". Sabrang menggeleng pelan.


"Bagaimana Naga api bisa memilihmu". Ciha menghela nafasnya, dia merasa daya tangkap Sabrang sangat lambat.


Ciha akhirnya menjekaskan secara ringkas maksud tulisan di dinding yang disatukan dengan tulisan di pedangnya.


"Jurus api abadimu memiliki berapa tingkatan jurus?". Ciha bertanya kesal.


"Kalau aku tidak salah ada 12 tingkatan jurus".


"Siapapun yang menulis di dinding gua ini telah menyempurnakan api abadi menjadi 17 tingkatan jurus. Kau harus menggabungkan kekuatan Naga api dengan 17 jurus ini sehingga menghasilkan kekuatan yang luar biasa. Bisa dikatakan jurus ini diciptakan untuk menghadapi pengguna Panca geni. Sampai sini kau paham?". Ciha menarik nafasnya panjang.


"Sedikit". Sabrang tersenyum canggung.


"Pembuat jurus ini sengaja memisahkan dua bagian penting petunjuk di dinding dan pedangmu untuk menghindari orang yang tidak dia inginkan menemukan gua ini. Itu artinya jurus ini khusus diciptakan untuk pedang Naga api.


Baiklah sekarang begini saja, aku ingin kau menggunakan separuh kekuatan Naga api untuk mencoba jurus tingkat 17 ini". Ciha menunjukan gerakan gerakan yang dia tulis di tanah.


"Tapi jika kugunakan separuh kekuatanku maka gua ini akan hancur".


"Hancurkan saja, kita tidak membutuhkan gua itu lagi". Ciha menjauh dari gua itu. Dia memang sengaja ingin menghancurkan gua itu karena takut jurus itu jatuh ketangan yang salah suatu saat.


"Lebih baik jurus itu terkubur selamanya". Ciha bergumam dalam hati.

__ADS_1


"Baiklah". Sabrang mulai menggunakan energi bumi untuk menumburkan energi naga api dan jurus api abadi.


__ADS_2