Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kematian Empat Pemimpin Masalembo


__ADS_3

"Ketua, Darin mohon menghadap," ucap Darin sambil mengetuk pintu ruangan Ciha.


"Bukankah sudah aku katakan jika aku tidak ingin diganggu?" balas Ciha dari dalam.


"Apakah aku tidak lagi diterima di sekte Bintang Langit?" ucap Sabrang menimpali.


"Yang mulia?" ucap Ciha dalam hati.


Cukup lama Ciha terdiam dan tidak menjawab ucapan Sabrang.


"Sepertinya dia memang tidak ingin ditemui, sebaiknya kita pergi," ucap Sabrang pada Mentari.


Mentari mengangguk pelan sambil melangkah mengikuti Sabrang.


Darin tampak bingung dengan situasi yang dihadapinya, dia merasa tidak enak pada Sabrang karena bagaimanapun bukit Cetho masuk wilayah kekuasaan Malwageni.


"Yang mulia, mohon jangan pergi," ucap Ciha tiba tiba.


Sabrang tersenyum lega sambil menatap Mentari.


"Silahkan masuk Yang mulia," ucap Darin sambil membuka pintu ruangan Ciha.


"Terima kasih," balas Sabrang pelan, dia melangkah masuk bersama Mentari.


"Maafkan hamba Yang mulia," Ciha tiba tiba berlutut dihadapan Sabrang dengan wajah menunduk.


"Jangan terlalu sungkan paman, aku datang karena khawatir padamu. Aku menemukan kakek Rakiti tewas di gubuknya, aku datang kemari untuk memastikan Bintang Langit baik baik saja," ucap Sabrang pelan.


"Tetua Rakiti tewas?" wajah Ciha berubah seketika.


Sabrang mengernyitkan dahinya, dia merasa reaksi Ciha sedikit berlebihan setelah mendengar kematian Rakiti.


"Paman, aku datang kemari bukan sebagai seorang raja. Kau dan paman Wardhana sudah kuanggap sebagai orang tuaku sendiri. Tolong katakan padaku jika telah terjadi sesuatu pada paman.


Paman pergi tiba tiba dari keraton tanpa menemui ku terlebih dahulu, jika ada sikapku yang membuat pama marah tolong maafkan aku," ucap Sabrang lirih.


"Mohon jangan bicara seperti itu Yang mulia, bukan anda yang salah, hamba yang terlalu takut," jawab Ciha.


"Takut? apa ada yang ingin paman katakan padaku?" ucap Sabrang sambil menatap Ciha.


"Paman, Yang mulia adalah orang yang paling khawatir saat mendengar paman pergi, kita sudah berjuang bersama selama ini. Jika ada masalah tolong jangan dipikirkan sendiri," ucap Mentari.


Ciha terdiam sesaat, ada rasa haru saat melihat Sabrang begitu memperhatikan dirinya.


"Saat aku menyegel gerbang dimensi ruang dan waktu, aku melihat empat pemimpin dunia dibantai oleh seorang pendekar bertopeng. Kekuatannya begitu mengerikan sampai empat pemimpin dunia itu tak berdaya dihadapannya.


Hal yang membuatku sangat takut adalah ketika dia menatapku tajam, saat itu dia bisa saja membunuhku dengan kekuatannya namun entah kenapa dia hanya melukaiku. Dia seolah membiarkanku hidup untuk memberi peringatan bahwa suatu saat dia akan muncul. Itulah kenapa aku memutuskan mundur untuk menyempurnakan segel milik sekte Bintang Langit.


Aku masih mengingat dengan sangat jelas tatapan mata penuh percaya dirinya, dia seolah berkata jika ruang dan waktu tidak akan mampu mengurung dia selamanya," ucap Ciha pelan.


"Ada orang lain selain para pemimpin dunia?" tanya Sabrang tak percaya.


Ciha mengangguk pelan, tubuhnya bergetar hebat setiap kali mengingat tatapan tajam itu.


"Aku tidak menyangka jika apa yang paman lihat itu benar, bagaimana mungkin para pemimpin dunia yang mampu mendesak Rubah Putih bisa tidak berdaya dihadapan pendekar bertopeng itu.


Paman, jika hal ini membuat paman takut aku dapat mengerti karena mungkin aku pun belum tentu bisa mengalahkannya tapi masalah ini tak harus paman selesaikan sendiri.


Bukankah kita memiliki tim? tak ada yang menyangka kita mampu mengalahkan Lakeswara, pendekar terkuat saat ini yang bahkan mampu mengimbangi Dewa Api tapi kita mampu mengalahkannya bukan? paman Wardhana mengajarkanku jika kekuatan bukan segalanya, ada peluang peluang yang bisa kita ambil untuk mengalahkan kekuatan absolut dan paman Wardhana membuktikannya saat kerjasama tim kita mampu menyegel Lakeswara.


Ikutlah aku kembali ke keraton, kita pikirkan rencana selanjutnya sambil menyelidiki siapa dia sebenarnya. Paman Wardhana saat ini membutuhkan bantuan paman," ucap Sabrang lembut.


"Jika Lakeswara mampu kita kalahkan bersama sama bukan hal mustahil pendekar misterius itu juga bisa kita kalahkan paman," ucap Mentari menimpali.


"Maafkan hamba Yang mulia," Ciha kembali berlutut dihadapan Sabrang, dia baru menyadari jika sikapnya kali ini salah.


Ciha awalnya ingin menanggung semuanya sendiri dengan menciptakan segel baru untuk menutup gerbang dimensi ruang dan waktu selamanya. Namun beberapa hari ini dia bekerja sendiri membuatnya sadar jika tak ada masalah yang bisa ditanggung sendiri.

__ADS_1


"Kita kembali dan bicarakan ini dengan paman Wardhana?" tanya Sabrang pelan.


"Hamba menerima perintah Yang mulia," jawab Ciha cepat.


"Syukurlah," ucap Sabrang lega.


***


Wardhana terlihat memijat keningnya saat melihat kembali semua catatan mengenai Masalembo.


"Tidak ada," ucapnya pelan dengan wajah lesu.


Wardhana memang membuka kembali semua catatan mengenai Masalembo, bahkan sampai catatan mengenai Dieng namun tak satupun yang menyebut nama Gerbang suci.


"Tempat seperti apa sebenarnya Naga Siang Padang itu dan kenapa harus disembunyikan," gumam Wardhana sambil memejamkan matanya.


Wardhana kembali mengingat ucapan Sabrang beberapa waktu lalu mengenai pertemuannya dengan Arya Dwipa saat dia tak sadarkan diri.


Sabrang mengatakan jika ayahnya menitipkan pesan pada Wardhana untuk menghadapi situasi dunia persilatan.


"Pedangnya akan menjadi kunci perlawanan kali ini, dia hanya perlu mengikuti hati nurani. Ketika dimensi waktu terbuka, sarungkan pedang sesuai arah matahari terbit."


"Dimensi waktu terbuka? sarungkan pedang sesuai arah matahari terbit? apa sebenarnya yang ingin anda sampaikan Yang mulia," Wardhana mencabut pedangnya dan mengamati cukup lama sebelum menaruh kembali pedang itu di meja.


Ketika Wardhana hampir terlelap seseorang mengetuk pintu ruangannya.


"Tuan patih, hamba mohon menghadap bersama guru," ucap Candrakurama dari luar.


"Guru?" Wardhana membuka matanya bingung.


Candrakurama dan Indra masuk setelah Wardhana mempersilahkannya.


"Tetua Indra, kapan anda sampai di Jawata?" tanya Wardhana sambil memberi hormat.


"Tuan patih, lama tidak bertemu," balas Indra sambil tersenyum.


"Apa yang bisa ku bantu tetua? maaf jika aku tidak menyambut kedatangan anda, Malwageni akhir akhir ini banyak tertimpa masalah," ucap Wardhana.


"Tak perlu sungkan tuan, aku langsung datang saat mendengar kabar dari Candrakurama mengenai masalah yang kalian hadapi," jawab Indra pelan.


"Masalah yang aku hadapi?" Wardhana mengernyitkan dahinya.


Indra mengambil kitab kecil di sakunya dan menyerahkan pada Wardhana.


"Semoga ini bisa membantu sedikit masalah anda," jawab Indra.


Wardhana membuka kitab itu pelan sambil membacanya.


"Pagebluk Lampor mampu membunuh separuh daratan dalam seketika dengan kekuatan energinya. Segel itu akan mengurung Pagebluk Lampor selamanya.


Gerbang suci tidak boleh dibuka, Ksatria langit abadi akan menjaga tempat itu untuk memastikan kekuatan Pagebluk tidak keluar atau semua akan binasa," Wardhana terlihat berfikir sejenak sambil menatap Indra.


"Dari mana anda mendapatkan kitab ini tetua?" tanya Wardhana bingung.


Indra menggeleng pelan, "Aku tidak tau, kitab itu sudah menjadi simbol bagi ketua sekte Api dan angin terpilih. Awalnya aku mengira itu adalah kitab ilmu kanuragan namun sepertinya bukan. Itu seperti catatan mengenai sebuah tempat yang menyimpan pusaka mematikan bernama Pagebluk Lampor," jawab Indra.


"Simbol ketua sekte Api dan angin?" Wardhana terlihat berfikir sejenak sambil menatap kitab kecil itu.


"Tetua, anda pernah mengatakan jika sebelum sekte Api dan angin pindah ke Hujung tanah kalian berasal dari Jawata bukan? apakah anda ingat dimana kalian tinggal sebelumnya?" tanya Wardhana.


"Aku tidak tau lokasi pastinya namun di halaman terakhir kitab ini ada gambar yang menunjukkan letak sekte api dan angin sebelumnya," balas Indra pelan.


Wardhana langsung membuka halaman terakhir kitab itu dan mencocokkan gambar Jawata yang ada di gulungannya.


Wajah Wardhana berubah seketika saat mencocokan kedua gambar itu.


"Benar dugaan ku, letak sekte api dan angin dulu berada di trowulan. Jadi dua sekte ini adalah kunci semua misteri Gerbang suci," ucap Wardhana mulai mengerti situasinya.

__ADS_1


"Kunci semua misteri?" tanya Indra bingung.


"Catatan yang ditemukan di sekte Angin biru mengatakan jika kunci semua ini ada di Glagah Wangi dan Trowulan, Glagah wangi adalah tempat berdirinya sekte angin biru dan kalian dulu berada di Trowulan sebelum terusir di Hujung tanah.


Kalian sama sama memiliki catatan mengenai gerbang suci, apa ini hanya kebetulan? aku yakin leluhur kalian mengetahui dan menulis catatan ini," ucap Wardhana.


"Jadi...," belum selesai Indra bicara terdengar suara teriakan dari luar.


"Yang mulia tiba," ucap salah satu prajurit memberi tanda.


"Yang Mulia?" Wardhana langsung melangkah keluar bersama Candrakurama untuk menyambut Sabrang.


"Kau?" Wardhana tampak tak percaya melihat Ciha datang bersama Sabrang.


"Maaf atas kebodohan sikapku kemarin tuan, jika diizinkan aku ingin kembali ke keraton," sapa Ciha sambil menundukkan kepalanya.


"Tak perlu berbasa basi, jika Yang mulia membawamu kembali apa aku akan menolak?" balas Wardhana sambil tersenyum.


Ciha hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, sikapnya masih sedikit kaku.


"Yang mulia, ketua sekte Api dan Angin ada di ruangan hamba, sepertinya benang merah dari semua misteri ini perlahan mulai terungkap," ucap Wardhana sopan.


"Kakek Indra?"


Sabrang langsung masuk dan memberi hormat pada Indra.


"Sabrang memberi hormat kek," sapa Sabrang pelan.


"Kau semakin gagah nak, aku yakin ilmu kanuraganmu meningkat pesat," balas Indra sambil memeluk Sabrang.


"Anda mengatakan misteri mulai terungkap?" tanya Ciha saat dia duduk disebelah Wardhana.


Wardhana kemudian menceritakan semuanya pada Ciha apa yang terjadi setelah kepergiannya termasuk ucapan Lembu Sora saat tak sadarkan diri.


"Kakek Rakiti telah tewas oleh orang tak dikenal dan aku menemukan ini saat memeriksa mayatnya," Sabrang mengambil lempengan di sakunya dan memberikan pada Wardhana.


"Cakra Tumapel?" Wardhana mengernyitkan dahinya.


"Yang mulia, orang yang hamba ceritakan membunuh semua para pemimpin dunia di dimensi ruang dan waktu juga memakai kalung seperti lempengan itu. Apakah mereka berhubungan?" ucap Ciha tiba tiba.


"Membunuh semua pemimpin dunia?" Wardhana bertanya bingung.


***


"Rakiti menghadap ketua," Rakiti menundukkan kepalanya dihadapan seorang pendekar yang mengenakan topeng.


"Rakiti? apa kau berganti tubuh kembali menggunakan rogo sukmo?" tanya pria itu bingung.


"Benar ketua, hamba terpaksa melakukan ini karena ada yang mulai curiga dengan pergerakan hamba," jawab Rakiti pelan.


Pria itu mengangguk pelan, dia terlihat memejamkan matanya sesaat.


"Kita harus mempercepat kebangkitan pusaka Pagebluk Lampor karena Lakeswara sudah bangkit. Walau mereka berhasil menyegelnya tapi dimensi itu tak akan mampu menahan Lakeswara selamanya," ucap pria itu tegas.


"Apakah anda akan memusnahkan anak itu juga?" tanya Rakiti.


"Kita harus memastikan tak ada keturunan Dwipa yang hidup atau akan muncul Lakeswara lainnya.


Tugas Cakra Tumapel adalah memastikan dunia bergerak sesuai kehendak alam apapun caranya walau harus membunuh ribuan orang," balas pria itu.


"Baik ketua," jawab Rakiti cepat.


"Aku telah mengirim orang untuk menyelidiki Glagah wangi dan mencari petunjuk tentang pusaka kuno itu, tugasmu adalah mencari petunjuk kedua di Trowulan.


Ramalan mengenai kemunculan cahaya putih tak akan mampu mengalahkan Lakeswara, hanya pusaka itu yang mampu menghentikannya," ucap pria itu.


"Baik ketua, aku akan segera pergi ke Trowulan untuk memastikannya."

__ADS_1


__ADS_2