Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Bakat Alami Sabrang


__ADS_3

Pertempuran di daratan Hujung tanah memasuki babak akhir, ada pemandangan yang jauh berbeda kali ini.


Disaat pasukan aliansi aliran putih yang dipimpin Lingga mulai bisa mengimbangi aliansi Masalembo, Sabrang justru terlihat terpojok dihadapan Umbara.


Walau kekuatan mereka terlihat berimbang namun Umbara mampu memaksimalkan jurus pedang pemusnah raga ciptaannya. Sebagai pencipta jurus pedang pemusnah raga tak sulit bagi Umbara mencipatakan variasi serangan ditengah pertarungan.


Sabrang bisa saja meregang nyawa saat itu andai dia tak memiliki Mata bulan dan menguasai jurus ruang dan waktu.


"Apa kau masih ingin terus menggunakan pedang pemusnah raga? pertarungan ini mulai membosankan", Umbara kembali menyambut serangan pedang pemusnah raga Sabrang dengan jurus yang sama.


Sabrang terus meningkatkan kecepatannya namun Umbara kembali unggul, dia menarik pedang Naga api sesaau sebelum pedangnya melesat dengan cepat.


Beruntung Mata bulannya kembali membaca gerakan Umbara sehingga Sabrang masih dapat menghindar.


Sabrang mencoba mengatur kembali nafasnya, beberapa luka ditubuhnya sedikit banyak membuat gerak tubuhnya terganggu.


"Dia bukan lawan yang bisa kau hadapi dengan mudah, jika dia adalah pencipta jurus pemusnah raga maka kau tak akan bisa menang jika terus menggunakan jurus yang dia gunakan," ucap Naga api tiba tiba.


"Lalu apa kau memiliki solusi lain," balas Sabrang.


"Bukankan disekitar mu adalah kitab ilmu kanuragan semua?".


"Di Sekitarku?", Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Apa kau lupa kelebihanmu meniru jurus orang lain? kau unggul dalam kecepatan dan mata bulan mu, selama kau menggunakan jurus yang tidak dikenalinya aku yakin kau akan sedikit unggul".


"Begitu ya, aku tersanjung kau menyebutnya sebagai kelebihan ku walau terdengar seperti mengejek tapi terima kasih untuk solusinya", Sabrang kembali menggunakan cakra Manggilingan untuk mengumpulkan energinya kembali sambil menatap sekitarnya.


Dia mengingat jurus milik sekte Api dan angin yang sedang diperagakan Candrakurama yang sedang bertarung. Sabrang bahkan mengingat jurus pedang khayangan milik Gendis.


"Kau tidak berniat melarikan diri bukan?", tanya Umbara mengejek setelah melihat Sabrang menoleh kesekelilingnya seperti berusaha melarikan diri.


"Tak ada kata melarikan diri bagi trah Dwipa, harusnya kau tau jika mengenal Naraya". Sabrang tiba tiba bergerak menyerang, dia terlihat memasang kuda pedang pemusnah raga.


"Kau melakukan hal yang sia sia, kali ini akan ku pastikan kau mati," Umbara menyambut serangan Sabrang dengan percaya diri, kali ini dia menggunakan hampir seluruh tenaga dalamnya untuk melumpuhkan Sabrang.


Candrakurama sesekali menoleh kearah pertarungan Sabrang, dia sedikit khawatir melihat Sabrang belum mampu menembus pertahanan Umbara.


Tungga dewi yang bertarung tak jauh darinya juga tampak khawatir, sangat jarang dia melihat Sabrang terlihat kesulitan dalam sebuah pertarungan.


Walau Tungga dewi merasa kekuatan mereka seimbang namun Umbara tampak bisa mematahkan jurus pedang pemusnah raga.


Sabrang semakin terdesak karena Umbara justru mampu memaksimalkan jurus yang sama dengan Sabrang.

__ADS_1


Pertarungan dua pendekar itu semakin sengit, saling serang menggunakan ilmu kanuragan terbaik masing masing terus terjadi dan tak ada yang berniat menghentikan serangannya.


Cakra manggilingan beradu dengan aura Umbara menimbulkan ledakan ledakan bedar membuat pendekar disekitarnya terpaksa kembali menjauh.


Sabrang memang terlihat masih kesulitan karena Umbara terus menggila menggunakan jurus pedang pemusnah raganya.


"Kau harus cepat merubah serangan mu atau nyawamu akan putus dimata pedangnya," Ucap Naga api memperingatkan.


"Kau pikir mudah meniru jurus mereka? jurus yang dimiliki api dan angin bukan jurus biasa, aku sedang berusaha mengingatnya," balas Sabrang kesal.


Apa yang dikatakan Sabrang benar, jurus pedang penghancur naga milik sekte Api dan angin terkenal rumit karena mengharuskan perubahan jurus setiap beberapa gerakan, dia harus mengingat setiap perubahan gerakan agar tidak salah dan menjadi senjata makan tuan karena membuka celah pertahanan.


Candrakurama yang dijuluki pendekar jenius dari Hujung tanah pun butuh waktu hampir lima tahun untuk menguasai jurus pedang penghancur naga.


Semangat juang pasukan aliansi Api dan angin sedikit turun karena pendekar yang menurut mereka paling kuat bahkan kesulitan mengalahkan Umbara. Jika Sabrang tak bisa menaklukkannya maka mereka yakin aliansi yang dipimpin Wardhana akan hancur.


Candrakurama dapat membaca situasi itu dan berniat membantu Sabrang namun dia tidak bisa bergerak karena dikepung beberapa ketua sekte dari aliansi Masalembo.


"Jika terus begitu, aku takut cepat atau lambat dia akan kalah, aku harus mencari cara lepas dari kepungan mereka dan membantunya" gumam Candrakurama sambil terus meningkatkan kecepatannya, dia ingin segera mengalahkan lawannya dan segera membantu Sabrang.


Sabrang kembali terdorong mundur akibat efek menangkis serangan Umbara, dia kembali muntah darah saat menancapkan pedangnya di tanah untuk menopang tubuhnya.


Tungga dewi mencoba membantunya namun sebuah serangan menghantam tubuhnya, beruntung dia masih sempat merapal jurus ruang dan waktunya sehingga dapat meredam efek serangan.


"Hamba mengerti Yang mulia, " balas Tungga dewi pelan.


Sabrang kembali mempersiapkan kuda kudanya, dia kembali memaksa mata bulannya bekerja lebih keras dengan mengalirkan energi Banaspati dalam jumlah yang cukup besar ke matanya.


"Aku akan memulainya, sebaiknya kalian memberiku seluruh energi kalian karena aku membutuhkan banyak tenaga dalam kali ini," ucap Sabrang pada dua pusakanya sebelum bergerak maju.


Melihat aura besar meluap dari tubuh Sabrang, Umbara yakin ini akan menjadi puncak pertarungannya dengan Sabrang.


Dia menciptakan energi ruang dan waktu disekitarnya sambil mengalirkan tenaga dalam kepusaka andalannya.


Dia siap menyambut serangan Sabrang dengan jurus terhebat ciptaannya, Pedang pemusnah raga.


"Kali ini ku pastikan keturunan terakhir trah Dwipa musnah di tanganku," Energi besar meluap dari tubuh Umbara.


Mereka bergerak bersamaan kesatu titik, bebatuan disekitar mereka berterbangan dan hancur seketika.


Umbara tersenyum dingin saat melihat Sabrang merapal jurus pedang pemusnah raga, dia sangat yakin kali ini akan membunuh Sabrang damar.


Semua terasa mulus dan sesuai dengan rencana Umbara sampai saat Sabrang tiba tiba merubah gerakannya di detik terakhir.

__ADS_1


"Dia tidak menggunakan jurus pedang pemusnah raga?", Umbara tampak terkejut dan berusaha menarik pedangnya namun Sabrang mampu membaca gerakannya.


Sabrang memutar tubuhnya sedikit dan mengayunkan pedangnya sekuat tenaga.


"Jurus pedang Penghancur Naga", Umbara yang sangat yakin Sabrang akan menggunakan jurus andalannya tidak siap menerima serangan itu, dia berusaha masuk kedalam ruang dan waktunya namun sebuah energi keris menembus tubuhnya.


"Sejak kapan dia menciptakan energi ruang dan waktu didekat energi milikku?", gumam Umbara heran, dia seharusnya dapat merasakan jika muncul energi ruang dan waktu disekitarnya.


Pertanyaan Umbara akhirnya terjawab setelah melihat energi keris yang berputar disekitarnya sejak pertama bertarung. Energi keris itu sejak awal dimunculkan bukan hanya untuk menyerang namun mengaburkan energi ruang dan waktu.


"Sial aku terjebak," Umbara berusaha menjaga jarak namun mata bulan sudah dapat memperkirakan gerakannya.


Sabrang terus bergerak mendekat sambil menyerang dengan energi keris. Ketika Umbara kembali mencoba masuk energi ruang dan waktunya, Sabrang lebih dulu berpindah tempat didekatnya.


Dia menarik Umbara menggunakan cakra Manggilingan sambil merendahkan tubuhnya dan menjadikan lengan kiri sebagai tumpuan saat Umbara menyerangnya.


Ketika tebasan Umbara hanya membelah udara, Sabrang mengalirkan tenaga dalam ke pedang Naga.


"Jurus pedang Penghancur Naga tingkat II : Putaran angin Naga", serangan Sabrang tepat mengenai tubuh Umbara yang membuatnya tepental.


Saat Umbara berusaha menyeimbangkan tubuhnya diudara, puluhan energi keris muncul diudara dan melesat kearahnya.


"Energi keris penghancur", Sabrang menggerakkan lengan kirinya menarik energi keris itu.


Ledakan keris penghancur terdengar diseluruh penjuru Hujung tanah, beruntung didetik terakhir Umbara masuk ke dalam ruang dan waktunya.


Umbara muncul kembali tak jauh dari Sabrang berdiri, walau dia bisa menghindar tepat waktu namun tak semua energi keris bisa dia hindari. Beberapa energi keris tampak menancap ditubuhnya yang membuat Umbara terluka cukup dalam.


"Bagaimana dia bisa menguasai jurus milik sekte Api dan angin" umpat Umbara geram.


"Sial dia berhasil lolos disaat terakhir", gumam Sabrang sambil mengatur nafasnya.


Candrakurama yang sedang memperhatikannya tampak menahan nafas tak percaya melihat serangan Sabrang. Dia sangat mengenal jurus itu karena selama lima tahun dia mempelajarinya.


Candrakurama menatap takjub melihat Jurus pedang penghancur naga kebanggaan sekte api dan air digunakan oleh Sabrang dengan sangat baik bahkan mungkin daya hancurnya jauh lebih baik dari miliknya.


"Sepertinya dia tak memerlukan bantuan ku lagi, aku bisa berkonsentrasi menghabisi kalian" ucap Cadrakurama dingin.


"Menguasai jurus yang ku pelajari selama lima tahun dalam sekejap, dia benar benar menakutkan", umpatnya Sambil menyerang musuhnya.


Candrakurama melampiaskan rasa kesalnya dengan menyerang beberapa pendekar yang dari tadi mengepungnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Jika kalian merasa cerita PNA cukup menarik, bantu Sabrang dengan memberikan Vote.


__ADS_2