
"Kau seharusnya tidak pernah ikut campur urusan orang lain nak. Saat percobaan pembunuhan cucu Sudarta di sekte Rajawali emas (Chapter 11) jika kau tidak ikut campur saat ini mungkin aku sudah menguasai dunia persilatan namun kau malah menyelamatkannya. Saat itu aku masih memaafkanmu tapi saat ini kau benae benar harus ku singkirkan". Ajisaka menatap tajam Sabrang.
"Jadi saat itu rencanamu juga?". Sabrang terlihat geram.
"Dunia ini harus segera dimurnikan lagi nak, terlalu banyak kerusakan yang tidak bisa diperbaiki lagi dan satu satunya cara adalah dengan menciptakan pedang Megantara sesuai ramalan kitab paraton namun lagi lagi kau mengacaukannya". Ajisaka menggeleng pelan.
"Kau sudah gila, apa kau tidak tau seberapa bahayanya suku iblis petarung?".
"Aku sudah tau, bahkan sejak pertama masuk Dieng bersama Giri patih aku sudah menyadari jika ada sesuatu di Dieng. Tidak mungkin begitu banyak pusaka berterbaran di Dieng tanpa alasan. Saat aku menyadari jika mahluk bermata biru itu mendiami tempat ini dan fakta bahwa mereka sedang berusaha membuat pusaka yang bahkan jauh lebih kuat dari Naga api aku mulai menyusun rencana untuk memanfaatkan mereka. Tapi lagi lagi kau mengacaukan semuanya. Satu hal yang membuatku sangat membencimu adalah kau sangat mirip dengan Giri patih".
Ajisaka menghunuskan pedang kearah Sabrang, dia melepaskan aura yang sangat besar bahkan beberapa batu disekitarnya melayang akibat aura yang Ajisaka.
"Kitab keabadian Langit dan bumi, kau orang pertama yang akan merasakannya". Ajisaka langsung menyerang Sabrang bertubi tubi, dalam waktu sekejap Dua orang pengguna Naga api beda generasi ini sudah bertukar belasan jurus dan tidak ada satupun yang berniat berhenti menyerang.
"Kau tau nak, saat aku menggunakan pedangmu dulu aku ratusan kali lebih cepat darimu. Tak kusangka Naga api mulai melemah". Ajisaka bicara sambil mengayunkan pedang pusaran anginnya lebih cepat. Ajian panca geni yang digunakan Ajisaka membuat pedangnya diselimuti kobaran api walau lebih kecil dari Sabrang.
Sabrang menjaga jarak setelah merasakan tubuhnya seperti tersayat pedang. Dia mengernyitkan dahinya melihat beberapa sayatan ditubuhnya, dia yakin sekali bisa menghindari semua serangan Ajisaka.
"Bukankah terlalu cepat kau muncur nak". Ajisaka sudah berpindah tempat dan berada didekat Sabrang dengan pedang terayun. Sabrang kembali menghindar namun sama seperti sebelumnya walau dia bisa menghindarinya sayatan ditubuhnya kembali bertambah.
Belum sempat Sabrang mencerna situasinya, Ajisaka sudah kembali muncul dan menyerang cepat. Dia seolah tidak ingin memberi waktu apapun buat Sabrang. Saat konsentrasi Sabrang terfokus pada Ajisaka tiba tiba sebuah serangan dari arah berbeda menghantamnya.
Sabrang kembali terpental mundur namun belum sempat kakinya menapak tanah dia merasakan telapak tangan menyentuh punggungnya.
"Tapak Bumi memutar bintang". Raut wajah Sabrang berubah saat tubuhnya merasakan sakit yang sangat. Dia merasa seluruh tubuhnya seperti tersengat petir.
Sabrang mengayunan tangan kirinya sekuat tenaga saat keris terbentuk ditangannya, dia berusaha melepaskan diri dari cengkraman Ajisaka.
"Keris penguasa kegelapan?". Ajisaka melepaskan telapak tangannya dan melompat mundur.
Tubuh Sabrang terhuyung hampir jatuh ketanah, dia menancapkan pedangnya ketanah untuk menopang tubuhnya.
"Kalian?". Sabrang tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya saat Xiao hu membantu Ajisaka.
"Seorang pendekar akan berdiri ditempat yang sama jika memiliki kepentingan yang sama. Kau masih terlalu hijau". Ajisaka tersenyum licik.
"Apa kau tidak bisa melakukan sesuatu Naga api? anak ini bisa terbunuh jika terus seperti ini". Ucap Anom khawatir.
"Aku sudah berusaha semampuku namun kemampuan Ajisaka berbeda dari saat dia menggunakanku, kekuatannya jauh meningkat".
"Sepertinya aku harus cepat melumpuhkanmu, akan merugikan diriku sendiri jika tubuh mu terluka terlalu parah". Ajisaka kembali melepaskan beberapa jurusnya, Sabrang hanya bisa menghindar tanpa bisa menyerang balik. Mata bulannya mulai mengeluarkan darah menandakan dia memaksa matanya terus aktif.
Kecepatan Ajisaka yang sangat tinggi, ditambah Xiao hu ikut menyerang membuat konstrasi Sabrang buyar. Pertempuran Sabrang dan dua pendekar masa lalu itu terlihat timpang, walau kobaran api hitam terus membesar dan melindungi tubuh Sabrang namun tak dapat benar benar melindunginya. Pusaka pedang pusaran angin mampu menembus tameng api Sabrang.
"Kau sangat keras kepala, aku terpaksa sedikit keras padamu". Aji saka merapatkan giginya setelah melihat perlawanan Sabrang yang tak pernah mundur.
Ajisaka meluruskan pedangnya dan mengarahkan pada Sabrang.
"Hembusan pedang langit dan bumi". Tubuhnya melesat dengan kecepatan tinggi, Sabrang yang menyadari serangan itu terus memaksa mata bulannya membaca gerakan Ajisaka. Saat Ajisaka berada didekat Sabrang, tubuhnya seolah menembus tubuh Sabrang dan Xiao hu sekaligus yang secara kebetulan berada dibelakang untuk menyerang Sabrang.
__ADS_1
Tubuh mereka roboh ketanah bersamaan dengan luka yang cukup parah.
"Kau menyerangku?". Xiao ho menahan amarahnya.
"Aku sudah mengetahui dimana kalian menyembunyikan kitab Paraton, tak ada lagi alasanku membiarkan kalian hidup. Kalian bisa membunuhku kapan saja, kau pikir aku bodoh?". Ajisaka tersenyum mengejek.
"Tubuhku tak bisa digerakan sama sekali". Sabrang terus berusaha bangkit.
***
Lingga baru akan melewati gerbang kedua untuk kembali ke gerbang awal ketika melihat rombongan Wardhana keluar dari lorong didekat sungai.
"Kau?". Wardhana terkejut melihat kehadiran Lingga.
"Bagaimana situasinya?". Lingga menatap sekelilingnya. Dia cukup takjub melihat Wardhana masih bisa bertahan dari serangan para pendekar Dieng.
"Aku sudah menyebar beberapa tim untuk membuat persiapan meledakan tempat ini namun aku belum mendapat laporan". Ucap Wardhana sedikit khawatir.
"Aku bertemu dengan mereka dalam perjalanan, sepertinya kau tak usah khawatir".
Tak lama Bahadur dan pasukannya berhasil menyusul Linga.
"Tuan adipati kami kembali". Ujar Bahadur sopan.
"Bagaimana?". Tanya Wardhana singkat.
Wardhana menganggukkan kepalanya. "Berarti dapur magma tak mampu lagi menampung tekanan panasnya. Sebaiknya kita harus cepat keluar dari sini. Apakah kau melihat Yang mulia?".
"Dia sedang bertarung dengan salah satu pendekar Iblis petarung". Jawab Lingga.
"Bagaimana kau meninggalkannya sendiri?". Suara Wardhana meninggi, dia sudah bersiap menyusul Sabrang namun Lingga menghentikannya.
"Rajamu kini telah menjadi pendekar terkuat didunia persilatan, Kita hanya akan menjadi bebannya. Sekarang yang harus kita lakukan adalah tidak membiarkan Iblis petarung keluar dari Dieng atau dunia persilatan akan hancur ". Ucap Lingga dingin.
"Sebaiknya kita tunggu disini dan pastikan tidak ada yang keluar dari tempat ini. Itu perintah Rajamu padaku". Lingga melanjutkan.
Wardhana menghentikan langkahnya setelah mendengar ucapan Lingga. "Anda berkembang sangat pesat Yang mulia, anda telah jauh melampaui Yang mulia raja terdahulu. Cepatlah kembali, hamba akan menunggu disini sampai anda kembali". Gumam Wardhana sambil menancapkan pedangnya di tanah.
Lingga cukup terkejut melihat Wardhana menancapkan pedangnya. Menancapkan pedang saat dimedan pertempuran menandakan area kekuasaan dan dia siap mati untuk mempertahankan area kekuasaannya tanpa bergeser sedikitpun.
"Tuan Kertapati, bentuk pertahanan disini. Kita akan menunggu Yang mulia muncul, Pastikan pasukanmu tidak bergeser sedikitpun sampai Yang mulia Raja memerintahkan kita mundur". Ucap Wardhana tegas.
"Baik Tuan Adipati".
Wardhana melangkah mendekati sungai dimana mereka pertama muncul. Dia duduk disebuah batu dipinggir sungai, Wardhana terlihat memperhatikan sekitarnya. Dia ingin membuat rencana dan memastikan mereka tidak terdesak seperti sebelumnya.
Membuat sebuah rencana ditempat yang asing tidaklah mudah. Membutuhkan Instiing dan ketepatan dalam mengambil keputusan. Wardhana ingin mempertaruhkan semua yang dimilikinya saat ini. Dia harus memastikan tempat mengerikan ini terkubur sambil memastikan keselamatan Sabrang.
Tak butuh waktu lama bagi Wardhana megetahui keanehan sungai dihadapannya. Kepalanya sudah terbiasa menghadapi teka teki rumit seperti ini.
__ADS_1
Kali ini dia melihat keanehan pada bebatuan didasar sungai. Batu itu berada tepat di dekat lubang yang terhubung dengan gerbang pertama. Batu batu itu seperti disusun untuk menutupi sesuatu.
Wajahnya makin berbinar saat melihat daun yang hanyut melewati batu itu seperti terhisap sesuatu.
Wardhana berlari mendekati batu itu, dia menyelam untuk melihat batu itu lebih dekat.
Nilam sari yang sejak tadi memperhatikan Wardhana terkejut melihat Wardhana tiba tiba menyelam.
"Apa yang dilakukan tuan Adipati?". Nilam mengernyitkan dahinya.
Lingga menoleh sebentar kemudian menunjuk pedang Wardhana yang tertancap tak jauh dari Nilam.
"Dia sedang menandai daerah buruannya". Ucap Lingga pelan.
"Daerah buruan?". Tanya Nilam bingung.
"Menancapkan senjata di area pertempuran sama saja dengan mengumumkan jika wilayah ini kini menjadi daerah kekuasaannya. Harimau akan menandai area buruannya dan siapa saja yang mendekat akan menjadi santapannya".
"Jadi tuan Adipati benar benar telah memutuskan jika tempat ini akan menjadi medan pertempuran selanjutnya?".
"Bisa dikatakan seperti itu, bersiaplah hidup mati kita saat ini ada di wilayah buruan Wardhana".
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Catatan Author :
Tepat hari ini adalah hari yang spesial buat PNA karena Novel alakadarnya yang terbit 2 bulan lalu ini telah dibaca lebih dari 1 Juta kali.
Pasti pada bales Crazy up 🤣
Sabar ya kak, beneran lagi sibuk sibuknya. 🙏
Terakhir sambil nunggu Update Naga api temen temen bisa coba beberapa novel rekomendasi...
My Heart is Only for You Karya Author Erggina Putri
Bos Come Here Please Karya Author Novi Wu
Seminggu dua kali (Selasa dan Sabtu) PNA akan mencoba merekomendasikan novel novel yang Author anggap cukup menarik...Semoga bisa menjadi inspirasi temen temen yg pengen baca novel lainnya sambil nunggu PNA Update.
Yang pengen direview atau direkomendasikan bisa bergabung di grup Author.
Thor lo rekomendasiin novel lain gak takut kesaing?
Jawabannya : Enggak sama sekali, Author percaya setiap Novel punya daya tarik masing masing.
Kalo bisa Sukses bersama kenapa harus takut?
Terakhir selamat hari Selasa, sehat selalu untuk kita semua.....
__ADS_1