
Teriakan Wardhana bagaikan panglima perang yang memompa semangat tempur prajuritnya, mereka semua berlari menyerang dengan penuh percaya diri. Berhasil membunuh tujuh dewa penjaga masalembo membuat aliansi dunia persilatan meningkat, mereka cukup yakin akan memenangkan pertempuran.
Pasukan Masalembo yang dipimpin Kuntala tak kalah optimis, kebangkitan sepuluh dewa Kumari kandam yang tinggal menunggu waktu membuat Kuntala yakin mampu menghentikan kekuatan Sabrang. Dia hanya perlu menahan Sabrang sebentar jika memang tak mampu mengalahkannya.
Sepuluh dewa Kumari kandam memang bukan pendekar sembarangan, berbeda dengan para penjaga Masalembo yang hebat karena hasil ujicoba, dewa Kumari kandam murni karena bakat alami seperti Sabrang.
Arjuna yang saat itu berhasil menyegel merekapun terlupa parah dan pusaka Megantara hancur.
Wardhana sadar jika sampai dewa Kumari kandam berhasil bangkit maka akan membuat masalah besar, ditambah pusaka Naga api milik Sabrang yang mulai retak akan menambah rumit situasi jika sampai hancur.
Wardhana kemudian meminta Lingga memimpin para tetua dan sebagian pendekar aliran putih untuk menerobos masuk ruang kehidupan dan menghancurkan tubuh dewa Kumari kanda sebelum mereka bangkit.
Lingga dan para tetua sekte mulai bergerak maju untuk menerobos masuk namun langkah mereka terhenti saat satu dewa penjaga muncul dan menghadang.
"Kalian tidak berfikir jika aku akan membiarkan masuk bukan?," ucap Jalapati.
"Aku tak pernah berfikir akan masuk begitu mudah namun kupastikan tak ada yang bisa menghalangi langkahku," Lingga mencabut pedang langitnya dan langsung menyerang, diikuti para tetua lainnya.
Saat para pasukannya sudah memulai pertempuran, Sabrang dan Kuntala masih belum bergerak sedikitpun. Mereka masih saling mengukur kemampuan masing masing.
"Leluhurmu adalah sahabat baikku, kami tumbuh bersama dan menjadi pendekar hebat namun dia mengambil langkah yang salah. Masalembo dibentuk agar tiga trah besar ini berkuasa, alam sudah menggariskan kita berkuasa dengan memberi kelebihan dari manusia lainnya. Kuharap kau tidak mengambil langkah yang salah, aku yakin Masalembo masih memaafkan keturunan Naraya," ucap Kuntala, dia mencoba membujuk Sabrang dan mengulur waktu.
Bukan tanpa alasan Kuntala mencoba membujuk Sabrang, Melayang menggunakan tenaga dalam bukan hal mudah bagi pendekar hebat sekalipun.
Kuntala pun tak yakin bisa melayang di udara jika tidak memiliki kelebihan trah Ampleng yang dapat mengendalikan apapun disekitarnya dengan tenaga dalam termasuk udara.
Saat ini dia memadatkan udara disekitar pijakan kakinya untuk membuatnya seperti melayang, berbeda dengan Sabrang yang murni menggunakan tenaga dalamnya untuk meringankan beban tubuhnya.
"Kau jangan salah paham, aku datang bukan untuk bernegosiasi tapi menghancurkan Masalembo," balas Sabrang.
"Kau mungkin bisa mengalahkan ku namun apa yang kau dapat? kembali ke kehidupanmu dan menjadi Raja, lalu menua dan mati? apa kehidupan seperti itu yang kau mau?
Kau memiliki bakat yang sangat besar namun harus dibatasi dengan umur manusia, bukankah itu sangat disayangkan?"
"Apa salahnya menua? kita bisa memberikan ruang buat generasi muda untuk berkembang. Manusia diciptakan dengan umur terbatas agar kita bisa lebih menghargai hidup dan seisinya. Kalian pikir bisa hidup selamanya? kalian benar benar bodoh, dunia akan terus berputar dan generasi baru akan terus muncul.
Sekuat apapun kalian coba melawan percuma, kalian akan tergerus oleh waktu," balas Sabrang sambil melepaskan aura dari tubuhnya.
Suasana tiba tiba mencekam saat Sabrang mulai menggunakan ajian Cakra manggilingan, Sabrang langsung melepaskan aura besar karena ingin segera mengakhiri pertarungan agar bisa mencegah kebangkitan dewa Kumari kandam.
Kuntala tersentak kaget saat merasakan energi murni khas trah Tumerah dalam diri Sabrang.
"Bagaimana kau bisa memiliki energi Arjuna? Masalembo sudah memastikan untuk tidak ada pernikahan silang antara tiga trah agar menjaga keseimbangan dengan menyegel darah masing masing trah. Bagaimana kau bisa memilikinya?" teriak Kuntala panik.
"Kau bisa tanyakan pada ayahku setelah aku membunuhmu," Sabrang bergerak lebih dulu untuk menyerang, dia mulai mengaktifkan mata bulannya.
"Kurang ajar kau Arya dwipa, aku sudah mengawasimu sejak kau masih kecil, tak kusangka kau masih bisa mengecohku," umpat Kuntala sambil menyambut serangan Sabrang.
***
Sementara itu pertarungan Lingga dan beberapa tetua aliran putih berlangsung sengit, walau Lingga didukung oleh Mantili, Wulan sari, Brajamusti dan yang lainnya namun Jalapati mampu mengimbanginya.
Jalapati yang memiliki energi murni milik trah tumerah tampak tenang menghadapi kepungan para pendekar aliran putih itu.
Jalapati bergerak cepat saat celah pertahanan Wulan sari terbuka akibat serangan sebelumnya, dia mengayunkan pedangnya sekuat tenaga.
"Pisau angin peremuk tulang," Wulan sari menyerang sambil melompat mundur namun semua serangannya dapat dipatahkan dengan mudah, Jalapati melesat cepat diantara pisau angin Wulansari dan menebaskan pedangnya saat sudah berada didekatnya.
Kecepatan Jalapati tak dapat diimbangi Wulansari, tubuhnya terkoyak dan terpental cukup jauh.
Semua tersentak kaget saat Jalapati melepaskan beberapa jurus dalam satu waktu.
Mantili dan Brajamusti yang mencoba membantu tak mampu berbuat banyak saat energi pedang melesat kearah mereka. Energi murni yang ada didalam pedang itu membuat lesatan pedang makin cepat.
Matili membentuk dinding es dan bergerak memutar untuk menjangkau lawannya namun Jalapati selalu bergerak lebih cepat dari mereka.
Jalapati muncul tiba tiba dan mencengkram lengan Mantili untuk mencegahnya menggunakan jurus es abadi.
"Hentakkan langit dan bumi," kakinya dengan cepat menendang tubuh Mantili.
Mantili masih sempat membentuk perisai es disekitarnya namun bongkahan es itu tak mampu menahan efek hentakkan langit dan bumi, tubuhnya terpental mundur bersamaan dengan hancurnya dinding es.
__ADS_1
Lingga yang lebih dulu terluka terlihat menahan amarahnya, puluhan jurus yang dimilikinya telah dicoba untuk melukai Jalapati namun tak ada yang berhasil, mereka seolah menemui dinding kokoh yang tak dapat ditembus.
"Dia sangat kuat," gumam Lingga sambil mengatur nafasnya, sementara Brajamusti dan Suliwa masih menyerang.
Lingga terus berfikir dan mencari cara melumpuhkan Jalapati, salah satu dewa terkuat Masalembo dan juga orang kepercayaan Kuntala.
***
Pertarungan Sabrang dan Kuntala menimbulkan suara-suara ledakan yang memekakkan telinga akibat benturan dua tenaga dalam besar.
Sabrang jelas terlihat lebih cepat dari Kuntala namun gerakannya selalu melambat jika berada didekatnya.
"Dia mengendalikan udara dengan mudah?" gumam Sabrang sambil bergerak menyerang.
Energi Eyang wesi membuatnya mampu bergerak sangat cepat yang membuat Kuntala sedikit kewalahan membaca arah gerakannya. Tanpa dinding udara, mungkin dia sudah bernasib sama dengan dewa penjaga lainnya.
Sabrang kembali merubah arah gerakannya untuk mengelabui Kuntala saat berada didekatnya, kecepatan dam Mata bulan sebenarnya mampu mengunci gerakan Kuntala, dia memutar tubuhnya dan mendekat dari sisi kiri namun saat Sabrang mengayunkan pedangnya, tubuhnya kembali kaku dan melambat membuat Kuntala dengan mudah menyerang balik.
"Pedang kilat penghancur," Kuntala menebaskan pedangnya dan tanpa kesulitan bergerak diantara udara padat yang dia buat.
"Sial," Sabrang berusaha menghindar namun gerakannya jauh lebih lambat karena dalam pengaruh jurus Kuntala.
"Teruslah berusaha bergerak jika kau mampu,"
Tubuh Sabrang terluka dibeberapa bagian sebelum dia menghilang dengan energi ruang dan waktunya.
Sabrang muncul kembali di udara sambil menahan rasa sakit.
"Selama aku dapat mengendalikan udara di sekitarku, pertahananku mutlak. Itulah kenapa aku dijuluki dewa tak terkalahkan," ucap Kuntala congkak.
Kuntara memang menggunakan tenaga dalamnya untuk memadatkan udara disekitarnya dan itu menyulitkan pergerakan Sabrang yang serangannya terkenal cepat.
"Selama dia terus mengendalikan udara disekitarnya, aku tak bisa mendekatinya," umpat Sabrang.
Dia bergerak menyerang dan tidak memperdulikan provokasi Kuntala yang mencoba menjatuhkan mental bertarungnya.
Puluhan jurus telah dikeluarkan Sabrang namun tak ada satu goresan pun yang mampu melukai Kuntala, seluruh serangannya dapat dipatahkan dengan mudah.
Sabrang mencoba menyerang dengan jurus jarak jauhnya sambil menjaga jarak, dia menggunakan energi keris penghancur dan berharap mampu menembus dinding udara.
Kuntala tersenyum melihat puluhan energi keris yang mendekatinya, dia memutar pedangnya dan dan menangkis energi keris penghancur.
Kuntala bergerak maju sambil terus memadatkan udara disekitarnya, Sabrang yang mencoba menjaga jarak tak menyadari jika Kuntala memperluas area dinding udaranya.
Tubuh Sabrang tiba tiba kaku dan tidak bisa digerakkan.
"Gawat, tubuhku kembali tak bisa bergerak," umpat Sabrang panik.
"Apa kau pikir area jangkauan tenaga dalamku hanya segini? kau salah," Kuntala merapal jurus andalannya.
"Pedang kilat penghancur tingkat III : Energi kilat penghancur", Pedang Kuntala menari dengan cepat dan membuat puluhan goresan ditubuh Sabrang tanpa bisa dihindari.
Mata bulan Sabrang sebenarnya mampu melihat setiap detik perubahan pedang Kuntala namun tubuhnya tak bisa bergerak sedikitpun.
"Anom," teriak Sabrang sambil merapal ajian Cakra manggilingan. Dia menarik paksa Energi Anom untuk membantu tubuhnya bergerak, darah segar mulai mengalir dari hidungnya, Sabrang sudah hampir mencapai batasnya.
Menggunakan ajian cakra Manggilingan bukan perkara mudah karena perlahan akan merusak organ tubuh jika digunakan berlebihan dan Sabrang telah menggunakan berkali kali dalam pertarungan sebelumnya.
Saat mata pedang Kuntala hampir memenggal kepalanya, Sabrang berhasil menggerakan tangannya dan menarik pedang Naga api untuk menangkis serangan itu.
"Cakar dewa bumi," lengan kiri Sabrang menyentuh pedang Kuntala untuk membuat tubuhnya sendiri terdorong keluar dari udara padat milik Kuntala.
Sabrang terpental jauh dengan luka sayatan namun dia mulai bisa menggerakkan tubuhnya seperti semula.
"Dinding itu benar benar merepotkan", ucap Sabrang sambil mengatur nafasnya.
"Tak kusangka kau cukup pintar, kau menggunakan efek cakar dewa bumi untuk mendorong tubuhmu keluar dari jurusku,"
Sabrang memperhatikan pertempuran disekitarnya yang tak jauh lebih baik darinya. Tim yang dipimpin Lingga maupun Candrakurama masih kesulitan menghadapi dua dewa penjaga tersisa. Kekuatan mereka jauh lebih besar dari dewa lainnya yang sudah dikalahkan.
"Aku harus cepat menemukan cara mengalahkannya atau kami akan hancur," gumamnya dalam hati.
__ADS_1
"Kembalilah pada Masalembo, aku masih memberimu kesempatan," ucap Kuntala pelan.
"Sudah kukatakan aku datang untuk menghancurkan kalian bukan untuk bergabung," balas Sabrang.
"Kau sangat mirip dengan Naraya, sangat disayangkan aku harus membunuhmu."
Sabrang mengernyitkan dahinya saat mengingat ucapan Arjuna yang mengatakan Kuntala tidak cukup kuat dari dewa Kumari kandam.
"Apakah Arjuna pernah mengalahkan Kuntala?" tanya Sabrang dalam pikirannya.
"Aku tidak tau karena saat aku bersamanya, dia tidak pernah bertarung dengannya namun melihat reaksi Kuntala yang takut pada Arjuna aku yakin dia pernah dikalahkan," balas Eyang wesi.
"Jika Arjuna mampu mengalahkannya lalu bagaimana cara dia menembus dinding udara Kuntala?" gumam Sabrang bingung.
"Sebaiknya kau gunakan jurus pedang jiwamu," ucap Eyang wesi.
"Tidak, aku harus memastikan terlebih dulu dinding udaranya memiliki kelemahan."
Sabrang tak ingin mengambil resiko jika pedang jiwanya bernasib sama dengan jurus lainnya, retakan pedangnya yang semakin membesar akibat benturan dengan pedang Kuntala membuatnya ragu menggunakan jurus pedang jiwa.
Jika sampai dia menggunakan pedang jiwa dan menghancurkan pedangnya namun serangannya tak mampu menembus dinding udara itu maka tamat riwayatnya.
"Aku harus mendekat," Sabrang melesat mendekat, dia tidak lagi memperdulikan jarak aman dan berniat menembus dinding udara untuk memastikan sesuatu.
"Apa kau sudah gila? kau akan dihancurkan nya jika berada dalam dinding udaranya," teriak Naga api.
"Pengalaman bertarungku selama ini mengajarkan jika area paling berbahaya musuh justru menjadi kelemahannya, aku akan bertaruh kali ini, semoga tubuhku tidak hancur."
Sabrang menggunakan cakra Manggilingan untuk menarik energi Naga api, dia mengalirkan ke mata birunya untuk memaksa mata bulan bekerja lebih keras.
Tubuh Sabrang sempat melambat saat dia merasakan sakit yang luar biasa akibat efek cakra manggilingan.
"Jika harus mati maka akan kubawa kau bersamaku," gumam Sabrang sesaat sebelum kecepatannya kembali meningkat.
"Teruslah menyerang, akan ku perlihatkan apa itu perbedaan kekuatan. Sejak kecil aku berada dibawah bayang bayang Arjuna, akan kubuktikan aku lebih hebat darinya," Kuntala melepaskan aura dari tubuhnya untuk memperbesar area dinding udaranya.
"Tak mungkin jurus itu tak bisa ditaklukkan, pasti ada cara yang digunakan Arjuna untuk mengalahkannya," Sabrang menajamkan mata bulannya saat bergerak mendekat, dia melakukan gerakan khas jurus pedang pemusnah raga.
Sabrang menghilang menggunakan jurus ruang dan waktunya dan muncul tepat didekat Kuntala.
"Jurus pedang pemusnah raga," Tubuh Sabrang kembali sulit digerakkan seperti sebelumnya, jurus yang selama ini terkenal dengan kecepatannya terlihat lambat dimata Kuntala.
Wajah Sabrang berubah setelah merasakan ada yang aneh dengan dinding udara Kuntala, Mata bulan akhirnya melihat jelas kelemahan besar trah Ampleng yang selama ini menjadi kebanggan mereka.
"Jadi begitu cara Arjuna mengalahkannya," ucap Sabrang kecut, namun semua sudah sangat terlambat karena pedang Kuntala hanya beberapa inci lagi memenggal lehernya.
"Berakhir disini?," ucap Sabrang menyesal.
"Katakan pada Naraya di neraka jika Masalembo akan menguasai dunia dan menyesal lah bersamanya," ucap Kuntala sambil menebas leher Sabrang, namun yang terjadi berikutnya membuat Kuntala geram.
Saat dia sangat yakin telah memenggal kepalanya, tubuh Sabrang menghilang tiba tiba dan muncul dipelukkan Tungga dewi.
"Anda tak boleh mati begitu saja Yang mulia, aku sudah berjanji pada Ratu untuk menjaga anda dengan nyawaku," ucap Tungga dewi sambil melepaskan pelukannya.
"Kau benar benar mengejutkanku, bagaimana kau bisa menggunakan energi ruang dan waktumu disaat seperti ini," balas Sabrang.
"Maaf jika hamba lancang namun hamba tak ingin terlihat lemah dihadapan anda, itulah yang membuatku selalu melatih jurus ruang dan waktuku."
Kuntala menatap Tungga dewi penuh amarah, hampir saja dia membunuh keturunan terakhir trah Dwipa.
"Sial, gadis itu ternyata menguasai jurus ruang dan waktu," umpat Kuntala geram.
Sabrang tersenyum sambil menoleh kearah pedang Naga api.
"Apa kalian siap? saatnya menghancurkannya," ucap Sabrang dalam pikirannya.
"Buat aku terkejut sekali lagi, akan kuberikan sesuatu setelah kau membunuhnya," balas Eyang wesi.
"Baik, kupegang janjimu Megantara," Energi murni bercampur tiga energi mahluk terkuat yang berada dalam tubuh Sabrang meluap, dia sekali lagi memaksakan tubuhnya merapal ajian Cakra manggilingan.
"Terima kasih kau telah membantuku, ibu akan bangga melihatmu," ucap Sabrang pada Tungga dewi sesaat sebelum tubuhnya melesat.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Seru? Vote