Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kelompok Mata Elang


__ADS_3

"Keturuan Arya Dwipa memang istimewa namun aku tidak menyangka kau benar benar menarik nak" Kakek itu berjalan mendekat.


Sabrang menurunkan pedangnya, dia tidak merasakan ancaman dari kakek itu.


"Anda mengenalku?" Sabrang menunduk memberi hormat.


"Tidak ada informasi yang tidak bisa kami dapatkan anak muda" Kakek itu tersenyum lembut.


"Ikut denganku ada yang ingin berbicara denganmu" Kakek itu melangkah pergi.


Saat Sabrang akan mengikuit kakek itu Mentari menahannya dengan wajah cemas.


"Tidak apa apa nona, tidak ada hawa membunuh dari kakek itu, aku penasaran apa yang dia inginkan dariku. Ayo kita pergi". Sabrang melangkah kearah kakek itu di ikuti Mentari dibelakangnya.


Tak lama terlihat sebuah kereta kuda di bawah pepohonan rimbun, Sabrang mengernyitkan dahinya.


Sebuah kereta kuda mewah dikelilingi beberapa pendekar dengan aura yang menekan ada dihadapannya.


Kakek tua itu tersenyum ramah dan mempersilahkan Sabrang untuk masuk ke dalam.


"Maaf nona hanya tuan muda yang diijinkan masuk, harap anda mengerti". Kakek itu menahan Mentari yang mengikuti Sabrang dibelakangnya.


"Tidak apa apa, tunggulah disini" Mentari mengangguk pelan.


"Selamat datang tuan muda ah Pangeran maksudku". Seorang perempuan muda tersenyum ramah dan mempersilahkan Sabrang duduk di hadapannya.


Sabrang memperhatikan setiap jengkal perempuan itu, dia tidak merasa mengenalnya.


"Nona telah mengenalku namun maaf aku tidak dapat mengingat anda" Sabrang mengernyitkan dahinya.


Perempuan itu tersenyum kecil "Arkadewi, kau boleh memanggilku Arka".


Sabrang mengangguk pelan "Lalu ada keperluan apa nona denganku?".


"Aku ingin menawarkan kesepakatan dengan anda tuan".


"Kesepakatan?".


"Benar tuan muda, aku memiliki beberapa informasi yang anda butuhkan dan anda memiliki sesuatu yang kami butuhkan" Arkadewi kembali tersenyum.


"Sepertinya aku tidak bisa membuat kesepakatan dengan orang asing nona".


Arkadewi terkekeh mendengar perkataan Sabrang.

__ADS_1


"Apakah identitasku lebih penting dari letak tanah para Dewa?".


Sabrang sedikit terkejut kemudian tersenyum ramah.


"Lalu apa yang dapat aku lakukan untuk kalian?".


"Ketua Sekte kelelawar hijau adalah kenalanku, beberapa bulan ini kami kehilangan kontak dan menurut informasi yang kami dapatkan beberapa bulan lalu telah terjadi pergantian ketua secara paksa".


"Aku tidak akan mencampuri urusan sekte lain namun aku hanya ingin menyelamatkan kenalanku yang ditahan oleh mereka".


"Lalu kenapa kalian tidak menyelamatkannya sendiri?".


Arka menggeleng pelan "Kami adalah kelompok Mata elang, untuk pengumpulan informasi kami yakin lebih unggul dari kelompok manapun namun kemampuan kanuragan kami jauh dibawah anda tuan".


"Ah ternyata anda adalah kelompok misterius yang selalu bergerak dibekalang layar. Aku sering mendengar kabar angin tentang Mata elang tak kusangka hari ini bisa bertemu langsung".


Sabrang memang pernah mendengar dari ki Ageng tentang satu kelompok yang berisikan orang yang lihai dalam mengunpulkan informasi. Biasanya mereka disewa oleh orang yang ingin mencari informasi tentang sesuatu.


Bahkan saat perang antar kerajaan mereka akan menjadi rebutan.


"Kabar yang anda dengar terlalu berlebihan tuan, kami hanya kelompik kecil".


"Jadi apa anda menerima tawaran kami?" Arka menatap Sabrang.


Akan sangat sulit baginya bergerak jika namanya makin terkenal di dunia persilatan. Misinya kali ini secepatnya menemukan Dieng.


Melihat Sabrang sedikit ragu membuat Arkadewi kembali menawarkan sesuatu yang lebih menarik


"Mungkin dengan beberapa informasi tentang kekuatan Majasari akan sedikit merubah pikiran tuan".


Kali ini Sabrang terlihat sedikit tertarik, dia merasa informasi sekecil apapun tentang Majasari akan berguna bagi perjuangannya merebut kembali Malwageni.


"Lalu apa rencana anda nona?".


Arkadewi tersenyum melihat Sabrang mulai tertarik dengan penawarannya.


"Sekte kelelawar hijau selalu dikirimi bahan makanan setiap bulan oleh seorang pedagang. Besok adalah jadwal mereka mengirim bahan makanan itu, Aku telah meminta pedagang tersebut untuk menyisipkan beberapa orangku untuk masuk ke sekte itu. Anda akan mengawal beberapa orang ku untuk masuk ke sana dan membawa tetua Bahadur keluar dari Sekte kelelawar hijau".


"Baik, aku terima penawaran anda nona".


"Terima kasih tuan" Arkadewi menundukan kepalanya memberi hormat pada Sabrang.


"Mengenai Dieng....." Arkadewi berhenti sesaat.

__ADS_1


"Anda yakin akan tetap pergi kesana?".


Sabrang mengernyitkan dahinya "Anda tau lokasinya?".


Arkadewi menggeleng pelan, dia terlihat menarik nafasnya perlahan.


"Aku tidak tau lokasi pastinya, namun yang kutahu dari informasi yang kupelajari Gerbang dieng terdapat di sebuah lembah yang ditumbuhi bunga Mawar hitam. Sebuah gua yang konon disembunyikan oleh Segel misterius berada di balik rimbunnya Mawar hitam tersebut.


Ada sebuah mitos jika didalam gua tersebut terdapat air kehidupan yang dapat membuat orang awet muda. Jika dilihat dari beberapa ciri tersebut ada satu tempat yang kemungkinan adalah pintu gerbang menuju Dieng yaitu Lembah Kegelapan.


Namun itu hanya asumsiku, Jika gerbang tersebut memang mudah ditemukan maka semua orang pasti sudah berada di sana.


Sebuah tempat yang digambarkan sebagai pusat kekuatan sekaligus pusat keangkaramurkaan itu seperti sengaja disembunyikan oleh alam agar manusia tidak menginjakan kakinya disana".


Arka menatap Sabrang sesaat "Anda adalah pewaris tahta Malwageni, aku menyarankan anda tidak menyianyiakan hidup anda dengan pergi ke tempat itu".


"Aku berterima kasih atas saran anda nona namun ada sesuatu yang harus aku pastikan disana".


Arka mengangguk sambil tersenyum "Baik tuan aku mengerti, aku akan menunjukan jalan ke Lembah Kegelapan setelah urusan pada Kelelawar hijau selesai".


Sabrang mengangguk lalu memohon undur diri. Dia keluar dari kereta Kuda tersebut.


"Ayo kita pergi nona, besok akan menjadi hari yang melelahkan untuk kita".


"Baik tuan" Mentari mengangguk dan mengikuti Sabrang melangkah pergi.


Tak lama pria tua yang mengantar Sabrang masuk ke dalam kereta dan memberi hormat pada Arka.


"Bagaimana ketua? dia bersedia membantu kita?".


Arka mengangguk pelan.


"Apakah ketua mengatakan tentang kemungkinan keterlibatan Sekte Lembah siluman dalam masalah ini?".


"Sebaiknya kita rahasiakan dulu paman, akupun belum yakin apakah Lembah siluman berada dibalik semua ini. Sebuah sekte yang telah hancur ratusan tahun lalu bagaimana bisa bangkit kembali? Kepalaku terasa sakit jika memikirkannya" Arka memegang keningnya.


"Kini kunci untuk mengerahui keterlibatan Lembah siluman hanya tetua Bahadur. Semoga prediksiku tidak tepat, namun Jika benar Lembah Siluman bangkit kembali maka akan menjadi bencana bagi dunia persilatan baik aliran putih maupun hitam".


***Sekali lagi saya mengharapkan dukungan teman teman semua baik dalam bentuk like maupun Vote 🙏


Kunjungi juga novel ke dua Saya berjudul


"Tentang kita (Komedi Romantis)"

__ADS_1


Terima kasih dan semoga sukses selalu untuk kita semua***


__ADS_2