Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Dua Pendekar Terkuat Beda Generasi


__ADS_3

Sabrang memutar pedangnya berkali kali untuk menghentikan prajurit abadi yang mencoba menyerang dari segala arah.


"Kemampuan mereka sangat tinggi, siapa mereka sebenarnya?". Sabrang mengatur nafas sesaat sebelum kembali menyerang. Mereka tak diberi kesempatan sedikitpun untuk bernafas.


Kemampuan para prajurit abadi bisa dikatakan setingkat dibawah Lingga sehingga dengan jumlahnya yang ratusan sangat menyulitkan Sabrang dan yang lainnya. Ditambah mereka bertarung di dalam gua sempit, itu sangat merepotkan terutama bagi Sabrang. Jurus jurus Sabrang mengandung ledakan tenaga dalam yang besar dan jika dia salah bertindak maka gua itu akan runtuh dan menyebabkan mereka terkurung didalamnya.


"Sial aku harus mengatur tenaga dalamku atau gua ini akan runtuh, andai saja aku bertarung diluar, sudah kubakar habis mereka". Umpat Sabrang.


"Atur nafasmu terlebih dulu, biar aku yang menahan mereka sementara". Ucap Madrim pada Sabrang setelah melihat Sabrang beberapa kali mengulur waktu.


Sabrang hanya mengangguk sambil melihat pertempuaran Madrim dan Lingga melawan para prajurit abadi. Dia berdecak kagum melihat keindahan gerakan pedang Madrim. Walaupun sesama pengguna jurus api abadi namun gerakan pedang Madrim jauh lebih halus dan mematikan.


"Sehebat inikah jurus api abadi?". Gumam Sabrang.


Puluhan pendekar kembali menyerang Sabrang setelah berhasil meloloskan diri dari serangan Lingga.


"Mereka tak membiarkanku beristirahat". Sabrang tersenyum kecut. "Cepatlah Ciha, kita tidak memiliki banyak waktu". Teriak Sabrang sambil menyambut serangan prajurit abadi yang mencoba masuk ke ruangan tempat Ciha berada.


"Kau pikir mudah membaca tulisan palawa kuno?". Balas Ciha.


Sabrang menggeleng pelan sambil terus menyerang para pendekar abadi. Sesekali dia harus mengurangi tenaga dalamnya karena serangannya beberapa kali membentur dinding gua dan menimbulkan retak retak kecil.


Sabrang terus bergerak sambil sesekali memperhatikan Lingga yang mulai mencapai batasnya. Lingga berbeda dengan Sabrang dan Madrim, dia tidak memiliki sesuatu dalam tubuhnya sehingga hanya mengandalkan tenaga dalamnya saja.


Saat Sabrang disibukan dengan lawan dihadapannya, beberapa prajurit abadi berhasil meloloskan diri dan masuk keruangan tempat Ciha berada.


Hei ada yang bisa membantuku?". Teriak Ciha kesal dari dalam gua.


"Hei pergilah dan bantu Ciha, serahkan sisanya pada kami". Teriak Sabrang pada Lingga.


Walaupun Lingga sebenarnya enggan namun dia menyadari jika staminanya tak akan mampu mengimbangi 2 monster dihadapannya itu.


"Baiklah, Serahkan padaku". Lingga melesat masuk keruang rahasia tempat Ciha berada. Terlihat puluhan prajurit abadi mengepung Ciha.


"Bisa kau tahan sebentar?". Ucap Sabrang pelan.


"Serahkan padaku". Madrim terus menebaskan pedangnya kesegala arah. Namun anehnya para pendekar yang sudah terkena serangannya bangkit kembali dan langsung menyerang seakan tidak memiliki rasa sakit.


Sabrang melompat mundur dan menyentuh pintu gua dengan tangannya. Tak lama dinding es menutup jalan masuk ruangan.


"Begini lebih baik, aku bisa berkonsentrasi pada mereka". Sabrang melompat mendekati Madrim, tubuhnya kembali memutar dan menebaskan pedang naga api. Kedua punggung mereka beradu saat sambil terus menyerang bagian depan masing masing.


"Apa tak ada cara lain? aku bisa saja membakar mereka semua namun aku yakin gua ini akan akan ikut runtuh". Ucap Sabrang pelan.


"Ada satu cara sebenarnya namun kita memerlukan 4 senjata". Madrim menoleh kearah Sabrang yang hanya memegang pedang Naga api.


"Seperti ini cukup?". Sabrang mengeluarkan aura hitam ditangannya dan membentuk sebuah keris.

__ADS_1


"Kau?". Madrim tersentak kaget saat melihat keris digenggaman Sabrang. Dia sangat yakin keris itu adalah pusaka penguasa kegelapan.


Madrim tersenyum kecil dan menggeleng pelan "Sepertinya gelar pendekar dalam legenda akan berpindah tuannya". Gumam Madrim dalam hati.


"Apa kau pernah mendengar tentang tarian kembar api abadi?". Tanya Madrim.


Sabrang hanya menggeleng pelan dan terus menyerang musuh yang tak pernah ada habisnya.


"Mendekatlah dan dengarkan aku baik baik". Madrim memutar tubuhnya dan kembali beradu punggung dengan Sabrang.


"Gunakan jurus api abadi tingkat 2 dan 4 secara berurutan menggunakan kedua pusakamu. Teruslah bergerak berputar mengikutiku namun jangan sampai kedua punggung kita terpisah. Kau paham?".


"Sepertinya". Sabrang cengengesan.


"Baiklah mari kita coba, Gerakan kedua pusakamu saling berlawanan arah". Madrim memberi tanda untuk mulai bergerak. "Ayo kita tunjukan apa itu jurus api abadi dan hancurkan mereka semua". Madrim mulai merapal jurus api abadi diikuti Sabrang kemudian.


Kobaran api abadi ditubuh Sabrang kembali membesar sampai ikut menutupi tubuh Madrim.


"Sensasi ini? Sudah lama tidak bertemu Naga api".


"Kau semakin lemah Madrim". Ucap Naga api mengejek.


"Kau benar benar telah menemukan tuan yang sangat hebat Naga api". Ucap Madrim dengan senyum puas.


Mereka mulai bergerak menyerang bersamaan, menggunakan jurus pedang yang sama membuat mereka terlihat terlihat kembar dan saling menutupi celah yang terbuka. Gerakan cepat pedang dikedua tangannya terlihat seperti mesin pencabut nyawa yang membakar semua yang disentuhnya.


Namun tanpa disadari oleh Sabrang, Madrim sudah memperlambat gerakan pedangnya sejak awal.untuk memancing kemampuan terpendam Sabrang dan rencana itu terbukti berhasil. Gerakan Sabrang semakin cepat dan halus namun mematikan, Mata bulannya semakin bersinar. Sabrang menatap gerakan musuh musuhnya sambil tersenyum kecil karena mereka semua terlihat sangat lambat.


Kombinasi serangan keduanya semakin bervariasi dan mematikan. Saat hanya menyisakan puluhan prajurit abadi Madrim menarik lengan Sabrang dan mendorongnya kesampingnya.


"Kau bisa menggunakan api abadi tingkat 7". Tanya Madrim tiba tiba.


Sabrang mengernyitkan dahinya bingung, setaunya jurus api abadi tingkat 7 adalah jurus yang cenderung bertahan.


"Ayo kita habisi". Mereka merapal jurus yang sama dan bergerak kearah sisa sisa prajurit abadi.


"Jurus tingkat 7 ini sangat unik, lebih cenderung sebagai jurus bertahan namun jika dikombinasikan dengan tingkat 9 hasilnya akan sangat mematikan. Kenali Api abadi lebih dalam maka kau akan takjub dengan seni perang ciptaan Ken Panca ini".


"Jurus api abadi tingkat 7 : Gelombang api Neraka". Tubuh mereka menghilang dan muncul di kedua sisi berlawanan. Mereka bergerak cepat dari kedua sisi dan menghabisi para prajurit yang tersisa. Gerakan mereka sedikit berubah saat tubuh mereka hampir berdekatan.


Sepuluh prajurit abadi yang tersisa menyerang cepat karena merasa memiliki kesempatan setelah kuda kuda Sabrang dan Madrim belum sempurna setelah serangan sebelumnya.


Namun tiba tiba arah pedang mereka berubah dan lebih mematikan dari sebelumnya. Jurus Api abadi tingkat 9 menutup pertarungan berat sebelah itu.


"Ingatlah kata kataku tadi, jurus ini bahkan bisa lebih mematikan dari Panca geni sekalipun asalkan kau mengenalinya". Ucap Madrim sambil tersenyum.


"Ayo kita lihat apa yang ditemukan Ciha di ruang rahasia itu". Madrim melangkah mendekati pintu rahasia yang masih dilapisi dinding es.

__ADS_1


"Dunia ini sudah gila, dua unsur bertolak bertolak belakang seperti api dan es bisa dikuasai anak ini". Gumam Madrim kagum.


***


"Apa kau menemukan....". Madrim tak melanjutkan ucapannya saat melihat sebuah ruangan penuh dengan tulisan dan gambar gambar aneh. "Jadi disini mereka menyembunyikan semuanya". Gumam Madrim takjub.


"Kemarilah". Ucap Ciha dengan mata berbinar.


"Suku Iblis petarung bukan berasal dari tanah nusantara". Ciha menunjukan tulisan yang ada disudut ruangan gua. "(Perjalanan dari benua sungai kuning membawa kami sampai ke daratan daratan kecil yang terpecah oleh persilangan laut antara utara dan selatan. Daratan ini yang selama ini kami cari, daratan bertuah yang sangat subur dalam legenda leluhur kami suku Hwuang ho akhirnya bisa ditemukan. Daratan yang menurut cerita leluhur kami bernama Nuswantoro menyimpan sebuah kitab tanpa tanding keabadian Langit dan bumi)".


Ciha menghentikan penggalan tulisan yang dibacanya dan menerangkan maksud tulisan itu. "Suku Iblis petarung adalah suku asli benua sungai kuning bernama suku Hwuang ho yang sampai di tanah nusantara karena mencari daratan bertuah Nuswantoro".


"Jadi mereka bukan berasal dari nusantara?". Madrim tersentak kaget.


Ciha mengangguk pelan sambil menunjuk sebuah gambar lengkap dengan titik titik dan garis penghubung.


"Ilmu pengetahuan mereka benar benar hebat, mereka menggunakan bahan sejenis cairan alami beberapa tumbuhan ditambah struktur bangunan yang kedap udara membuat mayat atau apapun di ruangan ini akan sulit terurai. Ruangan ini didesain khusus untuk mengawetkan apapun yang ada didalam sini. Mereka menyebutnya ruang keabadian atau yang kita kenal lembah merah". Ciha terkagum kagum pada desain bangunan bawah tanah itu.


"Gambar ini menunjukan Lembah merah sengaja dibangun disini karena berada diantara urat kantong magma gunung api bawah laut. Mereka memanfaatkan uap uap magma kawah gunung api yang menguap di ruangan ini untuk membantu mengawetkan apapun di ruangan ini". Ciha beberapa kali menarik nafas kagum.


"Semua bangunan yang ada disini dibangun dengan sangat detail dan rinci sesuai dengan kebutuhan dan letaknya. Danau Kehidupan dibangun didekat dinding yang menghadap laut bukan tanpa tujuan. Mereka membangun untuk mengalirkan air kehidupan melalui sistem manajemen air yang rumit untuk meredam kantung magma agar tidak meletus. Namun dilain pihak mereka memanfaatkan uap magma yang tersiram air kehidupan untuk membuat ruang pengawet bernama Lembah merah".


Ciha terlihat menarik garis lurus kebawah di gulungannya. "Kalian lihat? Danau kehidupan dan lembah merah jika ditarik garis ujung ke ujung dua tempat ini berada pada satu garis lurus!. Aku tidak tau ilmu pengetahuan seperti apa yang mereka gunakan. Dunia kita saat ini tak akan mampu membuat susunan bangunan yang saling terkait ini dengan detail dan rumit. Suku Iblis petarung adalah suku yang sangat pintar".


Semua terdiam mendengar penjelasan Ciha.


"Jangan terkejut terlalu cepat, masih banyak kejutan lainnya mengenai suku ini". Ciha melanjutkan membacanya.


"(Daratan tak berpenghuni ini terlihat indah namun menyimpan begitu besar bahaya. Disebuah hutan yang penuh dengan pepohonan berbuah pahit itu kami menemukan kitab yang selama ini kami cari. Di hutan yang kami beri nama hutan Maja itu Kitab keabadian langit dan bumi tersimpan di dalam gua. Daratan tak berpenghuni itu selain menyimpan kitab keabadian ternyata ditempati bangsa siluman dan bangsa lelembut. Kami bertarung dan berhasil mengalahkan mereka berkat bantuan kitab keabadian. Dengan bantuan kitab keabadian kami menyatukan daratan daratan itu menjadi beberapa bagian). Tulisan ini menjelaskan jika mereka menemukan kitab di dalam gua hutan maja". Ciha menjelaskan.


"Maja... Maja". Ciha mengingat ingat kata yang sepertinya dia kenal. "Majapahit". Gumam Ciha dalam hati dengan wajah terkejut. "Apakah ada keterkaitan antata Majapahit , Iblis petarung dan Sabdo palon".


"Hei kau baik baik saja?". Madrim mengagetkan lamunan Ciha.


"Ah iya tuan aku baik baik saja, aku akan melanjutkan membaca batu tulis ini". Ciha berusaha mengalihkan perhatian. Dia merasa jika kata Majapahit merupakan suatu petunjuk atau ramalan masa depan tanah nusantara namun dia masih merahasiakan dari Sabrang dan lainnya sebelum benar benar menemukan petunjuk akurat lainnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Catatan Author :


* Indonesia atau dulu lebih dikenal dengan nama Nusantara menurut beberapa sumber awalnya bernama Nuswantoro. Menurut cerita legenda konon Nuswantoro dulunya terdiri dari pulau pulau kecil sebelum disatukan oleh kesaktian Brahmana Agung bernama Shang Hyang Dewa. Dari beberapa cerita legenda itulah Author meramu dan mengadaptasikan dengan Iblis petarung dan Pedang Naga api.


* Buat yang penasaran atau belum tau tentang Sabdo palon, tunggu aja di novel baru Author Api di Bumi Majapahit. Tapi klo udh penasaran bisa search di mbah goole. Tapi di Novel Api di Bumi Majapahit, Sabdo palon Akan diadaptasi sesuai dengan seting dan jalan cerita novel kedua Author.


* Lanjut? Penasaran? Yuk bantu kerek dulu Pedang Naga api di Rank Mangatoon dengan cara Vote. Abis itu kita ngobrol tentang Crazy up.


* Terakhir sekali lagi Author ucapin TERIMA KASIH yang besar atas dukungang kalian semua pada Pedang Naga api.

__ADS_1


Kalian Luar Biasa (Gaya Ariel Noah)


__ADS_2