
Paksi berjalan pelan menuju ruangan Mahapatih Majasari Tunggul Umbara, Sebuah kipas kecil yang selalu berada ditangannya terlihat dimainkan berputar menandakan dia sedang memikirkan sesuatu. Ada yang mengganjal dalam pikirannya terkait penyerangan di Pulau tengkorak.
"Aku ingin bertemu dengan Tuan Patih" Paksi berdiri di depan ruangan berbicara dengan penjaga kerajaan.
"Sebentar tuan" Prajurit tersebut masuk ruangan menemui Tunggul umbara.
"Anda dipersilahkan masuk tuan" Paksi mengangguk dan melangkah masuk ruangan.
Sebuah ruangan besar dengan beberapa kursi bercorak naga berjajar rapi. Terlihat seorang pria berbadan tegap dengan aura yang menekan Paksi.
"Hamba menghandap tuan Patih" Paksi menudukan kepalanya memberi hormat.
"Duduklah" Suara pelan namun berwibawa Tunggul umbara menyapa Paksi.
"Tuan, mengenai Pulau tengkorak....." Paksi tidak melanjutkan perkataannya.
"Aku tau, aku sudah memerintahkan pasukan Tangan besi memburu mereka".
"Apakah Malwageni terlibat tuan?".
Tunggul umbara menggelengkan kepalanya "Sepertinya mereka bukan dalang dibalik semua ini, aku sudah mendapat laporan dari penjaga dermaga jika hari itu hanya Kelompok mata elang yang pergi kepulau itu".
"Apakah sudah dipastikan tuan?" Paksi bertanya pelan.
Tunggul Umbara mengangguk "Arkadewi langsung yang memimpin Mata elang masuk kepulau itu. Aku tidak akan melepaskan wanita itu sampai kapanpun karena dia telah menginjak injak harga diriku". Tangan Tunggul umbara mengepal menahan amarah.
Paksi diam sesaat, hatinya masih merasakan ada yang mengganjal. Mata elang tidak pernah mau bermasalah dengan siapapun, penyerangan pulau tengkorak diluar kebiasaan mereka.
Namun laporan dari prajurit Penjaga dermaga mengatakan hanya Mata elang yang hari itu berkunjung kesana.
"Semoga ini hanya perasaanku saja" paksi bergumam dalam hati.
"Bagaimana dengan rencanamu? aku sudah mengikutimu untuk menarik separuh pasukanku dari Rogo geni".
"Ah iya tuan patih semua hampir sesuai rencanaku namun ada yang harus kupastikan dulu sebelum kita mulai bergerak. Aku merasa harus berhati hati karena lawan kita adalah Wardhana. Aku ingin meminta izin untuk pergi ke Rogo geni beberapa hari tuan" Paksi menatap Tunggul umbara.
"Kau perlu pasukan?".
"Tidak tuan, aku hanya minta dua orang saja untuk mengawalku. Akan menimbulkan perhatian banyak orang jika aku pergi bersama satu pasukan".
Umbara mengangguk "Baiklah, aku akan memerintahkan Komandan Tangan besi dan satu pendekar dari Iblis hitam untuk menjagamu".
"Terima kasih tuan, hamba mohon diri" Paksi menunduk memberi hormat kemudian melangkah pergi dari ruangan Mahapatih.
***
"Kita berpisah disini tuan" Wardhana bersiap pergi bersama Sabrang.
Mada mengangguk pelan "Jadi pangeran akan ke Keraton Saung galah bersama Wardhana?".
"Iya paman, Patih Saung galah ingin bertemu denganku. setelah urusanku di Saung galah selesai aku akan menemui paman di Rogo geni, aku harap paman memberi kabar baik untukku".
"Hamba mengerti" Mada dan Ronggo menundukan kepalanya.
Mada menoleh ke arah Wardhana "Jaga Pangeran dengan nyawamu".
__ADS_1
"Aku mengerti tuan".
Setelah kepergian Sabrang dan Wardhana Mada menarik nafas panjang.
"Kau sudah memutuskannya?" Mada menoleh ke arah Ronggo yang masih menatap kearah Sabrang pergi.
Ronggo hanya tersenyum pelan "Aku tidak tau tuan namun ada sesuatu dalam diri Pangeran yang membuatku ingin mengikutinya mungkin perasaan ini yang membuat ayah mengikuti Yang mulia".
"Kau sudah melihat kekuatannya bukan? aku merasa Malwageni akan menjadi besar ditangannya".
Ronggo mengangguk tidak menyanggah, dia telah melihat sendiri kekuatan Sabrang.
"Apakah kita akan berhasil tuan? dengan kekuatan Majasari yang begitu besar".
Mada tersenyum kecil "Orang yang pergi bersama Pangeran itu walaupun aku tidak ingin mengakuinya namun dia adalah satu satunya orang yang mungkin bisa meruntuhkan kekuatan Majasari dengan kepintarannya. Dia adalah alasan tuan Gundala sampai saat ini masih percaya bisa mengalahkan Majasari".
"Begitukah?".
"Ayo kita pergi, kita harus bergegas sebelum Majasari membaca gerakan kita".
"Baik tuan".
***
(Sekte Elang Putih)
Seorang pria muda tersenyum memandang puluhan Mayat bergelimpangan di hadapannya. Tetesan darah terlihat dari pedangnya.
"Kekuatannya sangat mengerikan, bahkan dia menghancurkan sekteku seorang diri. siapa pemuda ini sebenarnya" Ki Laksono menatap ngeri pemuda yang ada dihadapannya.
Pendekar muda itu tersenyum sinis "Kalian terlalu banyak bicara, sudah aku katakan aku sedang bosan anggap aja hari ini kalian tidak beruntung".
Ingatan Ki Laksono kembali ke saat melepas kepergian Wijaya (Ada di Chapter 23 : Janji Sang Patih) "Setelah urusanmu selesai kuharap kau kembali ke Padepokan Elang putih. Aku telah memilihmu menjadi penerusku kelak, semoga Elang putih kelak menjadi Sekte besar ditanganmu".
Laksono menggeleng pelan "Maaf Wijaya aku tidak bisa menepati janjiku padamu". Nafas ki Laksono mulai tersenggal, darah di tubuhnya menetes dari luka yang hampir ada disekujur tubuhnya.
"Kau harusnya bersyukur karena hancurnya sektemu akan menjadi awal kebangkitan Lembah Siluman".
Pendekar itu mengangkat pedangnya keatas tiba tiba aura hitam menyelimuti pedangnya membentuk seekor ular hitam.
"Dia mengeluarkan jurus aneh ini lagi, Aku harus berhati hati" Ki Laksono melompat mundur namun Pendekar itu tiba tiba muncul tepat dibelakangnya.
"Jurus Pedang Kematian" beberapa detik kemudian pedangnya bersarang di tubuh Ki Laksono.
"Ilmu iblis apa yang digunakannya?" Kesadaran Ki Laksono perlahan menghilang.
Setelah Pendekar itu mencabut pedangnya dia berjalan keluar.
"Mereka sangat membosankan".
Tiba tiba dia melemparkan pedangnya ke arah kiri dan menancap tepat disebelah salah satu murid Elang putih yang selamat.
"A....a....ampuni aku tuan, aku akan melakukan apapun asal tuan membiarkanku hidup".
Pendekar itu melangkah mendekati pemuda tersebut "Sampaikan kabar bahwa Sekte Elang putih telah dihancurkan oleh Iblis hitam dan kau akan kubiarkan hidup" Pendekar itu mencabut pedangnya dan menatap tajam pemuda itu.
__ADS_1
"Ba..baik tuan akan aku lakukan".
Pendekar itu berjalan pergi meninggalkan Sekte Elang putih yang telah hancur. "Kini tinggal menunggu Sekte aliran putih membalas dendam kepada Iblis hitam atas hancurnya Elang putih" Pendekar itu tersenyum licik.
"Siapa dia? bahkan Guru Laksono dapat dikalahkan dengan mudah".
***
Sabrang berjalan memasuki sebuah penginapan yang berada di sekitar Keraton Saung galah bersama Wardhana. Dia menoleh kesekitarnya mencari seperti mencari sesuatu.
Tak lama seorang pelayan mendekatinya "Tuan Wardhana?".
Wardhana mengangguk pelan dan mengernyitkan dahinya "Anda telah di tunggu, silahkan ikuti aku".
Pelayan itu berjalan menuju sebuah kamar yang ada di lantai dua, dia mengetuk pintu kamar.
"Masuk" Terdengar suara dari dalam kamar tersebut.
Sabrang melangkah masuk bersama Wardhana, seseorang berjalan mendekati Sabrang dan berlutut dihadapannya.
"Hormat pada Pangeran" Sabrang mengangguk "Bangunlah paman"
Wijaya bangkit kemudian mempersikahkan Sabrang dan Wardhana duduk.
"Jadi apakah mereka setuju tuan?" Wardhana berbicara setengah berbisik.
Wijaya menggelengkan kepalanya, "Pada dasarnya tuan patih sudah menyetujui garis besar rencana kita, namun beberapa Mentri dan penasehat Yang mulia raja masih belum memberi keputusan. Mereka tidak mau mengambil resiko atas keselamatan Putri mahkota".
"Aku sudah menduganya, namun cepat atau lambat Majasari pasti akan menyerang Saung Galah dan mereka akan menyesal saat semua sudah terlambat, ditambah kini Paksi ada dibelakang mereka".
"Paksi? dia masih hidup?" Wijaya mengernyitkan dahinya.
Wardhana mengangguk pelan "Saung galah dalam bahaya tuan".
"Para penasehat kerajaan kini terbelah dua menyikapi masalah ini. Tuan patih belum bisa bergerak selama belum ada persetujuan dari pemerintahan, sepertinya kali ini akan sedikit sulit untuk kita". Wijaya memejamkan matanya.
"Aku sudah memperkirakannya tuan, besok aku akan mencoba menemui salah satu Penasehat itu".
"Kau yakin?" Wijaya menatap Wardhana.
"Aku akan mencobanya tuan".
Wijaya mengangguk pelan "Berhati hatilah jangan membuat gerakan yang mencolok, aku akan menemani Pangeran menemui patih Jaladara".
"Baik tuan".
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
***Vote dan Like Novel Pedang Naga Api jika menurut teman teman novel ini menarik untuk dibaca
Dukung juga penulis di
Karyakarsa. com /RickypakeC
dengan memberikan vote dan dukungan dalam bentuk lainnya
__ADS_1
Terima kasih atas dukungan teman teman semua 🙏🙏***