
Sabrang menghentikan Gerakannya disalah satu pohon besar di hutan larangan saat merasakan tenaga dalam besar yang entah berasal dari mana.
Pakaiannya yang berwarna gelap dengan topi caping di kepalanya membuat dia seolah menyatu dengan gelapnya malam hutan larangan.
Arung yang bergerak tak jauh darinya memilih berhenti di pohon yang paling tinggi untuk melihat situasi, dia harus memastikan rajanya tidak dalam bahaya.
"Sepertinya aura itu berasal dari sini," gumamnya bungung, tak ada tanda tanda gerakan atau bekas orang berada disana.
Sabrang menajamkan mata bulannya untuk melihat kesekelilingnya, setiap jengkal hutan itu dia perhatikan namun tetap tidak menemukan tanda tanda kehidupan.
"Dimana sebenarnya letak air terjun lembah pelangi?"
"Yang mulia," Arung melesat mendekat setelah memastikan semuanya aman.
"Apa kau merasakannya?" tanya Sabrang pelan.
Arung mengangguk pelan, tangannya masih dalam posisi siaga menggenggam gagang pedang yang terselip di pinggangnya.
"Aura yang sangat mengerikan, namun bagaimana bisa tiba tiba menghilang," balas Arung.
"Aku yakin aura itu berasal dari sini, mungkin ada semacam segel seperti segel kabut milik Ciha untuk menyembunyikan Air terjun lembah pelangi," ucap Sabrang sambil terus menatap sekitarnya, dia mengalirkan energi Naga api ke matanya untuk memaksa mata bulan bekerja.
Pandangan matanya terhenti disalah satu pohon kecil yang rantingnya terlihat patah. Hutan larangan adalah hutan misterius yang jarang dimasuki orang, sehingga akan terlihat mencolok saat seseorang masuk dan meninggalkan jejak.
"Dia ada disini dan mungkin sedang mengamati kita, berhati hatilah dengan sekelilingmu," ucap Sabrang memperingatkan Arung.
Sabrang tampak menarik seluruh auranya sebelum bergerak kearah ranting pohon itu, dia ingin menyembunyikan hawa kehadirannya, sementara Arung terus memperhatikan sekitarnya.
Sabrang meraba ranting pohon yang patah itu, dia merasakan ada hawa aneh sebelum tiba tiba sebuah serangan tenaga dalam melesat kearahnya.
Sabrang dengan cepat membentuk dinding es dengan lengan kanannya untuk menahan serangan itu dan memunculkan keris penguasa kegelapan di lengan kirinya, sebuah ledakan terdengar keras saat Sabrang terdorong mundur.
"Dibelakang?" Sabrang memutar tubuhnya saat terpental dan menyabetkan keris itu kearah aura yang dia rasakan berada dibelakangnya namun Anom hanya membelah udara.
Sabrang mendarat dengan posisi jongkok dan menancapkan keris ketanah, matanya terus memperhatikan sekelilingnya.
"Dia menghilang lagi?"
Arung yang melihat Sabrang tiba tiba terpental mencoba membantu namun gerakannya terhenti saat seorang pendekar yang memakai topeng muncul dan menotok beberapa bagian tubuhnya.
"Tenanglah, aku sedang menyelamatkan nyawamu, kau akan langsung mati jika mengikuti keturunan trah Dwipa itu," bisik Rubah putih, dia terus menatap Sabrang dengan wajah cemas.
"Dia benar benar ingin membunuhnya, aku harus bersiap menyelamatkan anak itu," umpat Rubah putih.
"Menyelamatkan Yang mulia? pendekar ini berada di pihak kami," gumam Arung dalam hati, dia terus berusaha menggerakkan tubuhnya namun tak berhasil.
Sabrang kembali terpental setelah sebuah serangan kembali menghantam tubuhnya, kali ini dia seolah menerima serangan itu tanpa berusaha menghindar, Sabrang hanya membuat perisai tenaga dalam disekitar tubuhnya.
"Dia tidak berusaha menghindar? anak ini benar benar menarik," Rubah putih menatap Sabrang sambil tersenyum, dia merasa Sabrang sangat mirip dengan dirinya yang ceroboh namun memiliki suatu rencana.
"Sedikit lagi," gumam Sabrang sambil terus memaksa mata bulannya bekerja.
"Sisi kiri," Sabrang tiba tiba memutar tubuhnya dan mengayunkan pedang Naga api yang muncul ditangannya namun tiba tiba sebuah serangan dari sisi berlawanan kembali menghantamnya membuat dia kembali terdorong beberapa langkah.
Sabrang kali ini meringis kesakitan saat tubuhnya meneteskan darah segar, terlihat baju yang dikenakannya robek akibat serangan itu.
"Jurus pedang kegelapan, dia benar benar masih hidup," ucap Megantara dalam pikirannya.
"Dewi Racun?" tanya Sabrang pelan.
Eyang wesi mengangguk cemas, dia terus mengalirkan energinya ketubuh Sabrang.
"Kabarnya sangat jarang ada pendekar yang selamat dari jurusnya ini, jurus pedang kegelapan membunuh dengan senyap bahkan kau tak akan tau siapa yang sebenarnya menyerangmu."
"Sangat jarang bukan berarti tidak ada, aku akan menjadi orang yang sangat jarang itu," Sabrang melepaskan energi Naga api dari tubuhnya, suasana hutan larangan yang gelap tiba tiba menjadi terang saat kobaran api menyelimuti tubuhnya.
Sabrang kali ini tidak berusaha bersembunyi dengan menahan hawa keberadaannya, dia justru terlihat ingin menunjukkan diri pada sesuatu yang menyerangnya.
__ADS_1
"Majulah kali ini kutangkap kau," ucap Sabrang dalam hati.
Rubah putih mengernyitkan dahinya, dia bingung dengan keputusan yang dibuat Sabrang, satu satunya cara untuk mengalahkan jurus itu adalah dengan terus bergerak senyap dan berusaha membaca pergerakannya namun Sabrang justru seolah menjadikan dirinya sebagai sasaran empuk serangan.
"Mata itu benar benar menjijikkan," suara pelan seorang wanita terdengar sesaat sebelum sebuah serangan kembali berusaha menghantam Sabrang dari arah belakang.
Sabrang berusaha menghindar namun tak sempat, dia menajamkan mata bulannya di satu titik sebelum menghilang diudara saat tebasan energi pedang menghantamnya.
Rubah putih yang hampir bergerak untuk membantu Sabrang mengurungkan niatnya saat melihat sebuah bayangan mengikat keris yang tertancap di tanah.
"Kau mendapat lawan yang sulit Wulan," ucapnya sambil tersenyum kecil.
Sabrang muncul tiba tiba dari ruang dan waktu tepat didekat sebuah energi kuning yang dilihat mata bulannya. Dia merapal sebuah jurus sambil melepaskan aura dari tubuhnya.
"Pedang pemusnah raga," Sabrang mengayunkan pedangnya sekuat tenaga dan menembus energi kuning itu,
"Kuakui matamu jauh lebih baik dari Naraya namun tak akan mengubah apapun, tak ada serangan yang bisa melukaiku," Energi kuning berbentuk tubuh manusia itu melepaskan serangan balik.
Sabrang yang dalam posisi tidak siap menerima serangan menarik pedangnya sambil melompat mundur namun energi kuning itu jauh lebih cepat, dia sudah berada dihadapan Sabrang dan menghujamkan energi pedang ke tubuh Sabrang.
Sabrang kembali berpindah dengan jurus ruang dan waktunya, dia menarik keris penguasa kegelapan dengan segel bayangannya sesaat sebelum menghilang.
"Cih, mau sampai kapan kau menggunakan jurus pengecut itu."
Wulan bukan tidak menyadari ada keris melesat kearahnya, dia sengaja tidak menghindar karena yakin serangan Sabrang hanya akan menembus tubuhnya.
Dan perkiraannya tepat, Anom tak mampu melukainya dan hanya menembus udara.
Wulan itu tampak tersenyum kecil saat mampu membaca dimana Sabrang akan muncul, dia bisa merasakan energi ruang dan waktu sebelum Sabrang muncul.
Wulan melepaskan aura dari tubuhnya, perlahan energi kuning itu terlihat memadat dan membentuk tubuh Wulan seutuhnya.
Pedang ditangan Wulan memancarkan sinar kuning yang menyilaukan mata, dia menarik pedang ya kedepan dengan tubuh sedikit membungkuk.
"Jurus pedang kegelapan tingkat II : Pelebur raga," Wulan langsung menyerang ketika tubuh Sabrang muncul diudara.
Benturan besar terjadi saat pedang Wulan menyentuh dinding perisai api milik Sabrang.
"Kekuatannya mengerikan," ucap Sabrang saat dinding perisai apinya mulai retak. Perlahan namun pasti pedang Wulan menembus perisai api.
"Satu yang ku benci dari Trah dwipa adalah rasa percaya diri kalian, dan Naraya hancur karena itu. Sampaikan pada Naraya di Neraka, aku yang membunuhmu, Masalembo tak bisa dikalahkan, satu satunya cara hanya menghindarinya," aura ditubuh Wulan semakin meningkat membuat seisi hutan bergetar.
Rubah putih tampak menggeleng pelan, dia merapal suatu jurus dengan tangan kanannya dan bersiap menghentikan pertarungan.
"Naga api, kau akhir akhir ini terlihat lemah dan aku sangat kecewa padamu, sepertinya kau terlalu cepat puas dengan kekuatanmu selama ini. Kehadiran Megantara sepertinya membuatmu terpukul.
Dengarkan aku bodoh, aku tak perduli apa Megantara lebih kuat darimu. Keraguanmu membuat kau melemah, bantulah aku atau kau kembali menjadi besi berkarat saat berada ditangan kakek Suliwa. Kembalilah menjadi Naga api yang tak takut tekanan siapapun, kembalilah menjadi Iblis api atau aku akan membuangmu," Teriak Sabrang sambil terus menahan pedang Wulan dengan perisai api yang mulai hancur.
Naga api terdiam sesaat setelah mendengar ucapan Sabrang, dia memang sempat menganggap Sabrang tak lagi membutuhkannya. kekuatan Sabrang yang terus meningkat ditambah hancurnya pedang Naga api di Masalembo membuat Naga api sedikit goyah dan tanpa sadar melemahkan energinya.
Naga api tersenyum kecil, dia tak menyangka tuannya akan terus mempercayainya walau pedang aslinya hancur.
"Kau memang bodoh, jangan salahkan aku jika aku kembali merasukimu," Kobaran api hitam mulai membesar, membuat Wulan mengernyitkan dahinya.
"Energi ini bukan milik Megantara?" Wulan terus menambah tenaganya ketika energi Naga api mulai menekannya.
"Tak ada yang akan berubah," gumam Wulan dalam hati.
Bertepatan dengan hancurnya perisai api, Pedang Wulan meluncur kearah Sabrang dan hampir menghujam tubuhnya.
"Apa yang terjadi dengan tubuhku? aku tidak bisa bergerak," Wulan berusaha bergerak sekuat tenaga namun tak berhasil.
"Senang bertemu denganmu Dewi kematian, apakah tubuhmu terasa kaku?," Sabrang menggerakkan tubuhnya sambil melompat mundur, Wulan tampak mengikuti gerakan Sabrang dan ikut melompat mundur.
"Segel?" tanya Wulan bingung.
"Segel bayangan, tak kusangka energi Naga api membuat jurus yang dipandang rendah ini jadi menakutkan. Terima kasih telah membuat si bodoh ini sadar jika dia sangat kuat," sindir Sabrang pada Naga api.
__ADS_1
"Kau akan menyesal telah membangkitkanku kembali," balas Naga api ketus.
Kedua tangan Sabrang terlihat diselimuti kobaran api yang menbentuk kepala naga.
"Kita lihat apa yang terjadi jika tinju kilat hitam mengalir energi Naga api," Sabrang merapal jurusnya sebelum bergerak maju, dia melepaskan seluruh kekuatannya untuk menyerang Wulan.
"Tinju Naga api," Sabrang memukul Wulan dengan sekuat tenaga namun tiba tiba Wulan menghilang, membuat tinju Naga api melesat dan membentur tebing yang membuat tebing itu hancur berkeping keping.
"Jurus ruang dan waktu?" Sabrang berusaha mencari keberadaan Wulan saat sebuah serangan pedang muncul dari sisi kirinya.
"Gawat, aku tak memperkirakan dia menguasai jurus ruang dan waktu," Kobaran api semakin membesar dan menekan seluruh area pertempuran.
Sabrang menarik pedangnya dan bersiap menangkis serangan Wulan, namun Rubah putih muncul dihadapan mereka dan dengan mudah mendorong keduanya mundur.
"Ledakan tenaga dalam iblis," Rubah putih meraih dua pusaka itu dan menancapkan nya di tanah.
"Pedangku? sejak kapan dia mengambilnya?" umpat Sabrang dalam hati.
"Ilmu kanuragannya jauh lebih kuat dari dewi kematian, berhati hatilah dengan pendekar aneh itu," ucap Naga api memperingatkan.
"Rubah putih! berani sekali kau ikut campur," bentak Wulan kesal.
"Aku hanya ingin kau mengingat janji kita dulu bersama Naraya, jika ada keturunan Naraya yang mampu membuatmu menggunakan jurus ruang dan waktu maka kau akan melupakan semua dendam masa lalu dan mengangkatnya murid, kuharap terkurung didalam air terjun lembah pelangi tak membuat ingatanmu terganggu," ucap Rubah putih sambil terkekeh.
"Rubah putih? jadi dia orang yang menemui paman Wardhana?" gumam Sabrang pelan.
Wajah Wulan tampak berubah seketika, dia tanpa sadar telah merapal jurus Ruang dan waktu yang sangat dibencinya saat bertarung dengan Sabrang.
"Kekuatan anak ini jauh melebihi Naraya, dia bahkan bisa memaksaku menggunakan jurus itu. Bagaimana dia bisa sekuat itu? apakah harapan itu bisa kupercaya kembali?," Wulan mematung menatap mata bulan Sabrang yang masih bersinar diantara gelapnya malam, perlahan namun pasti kobaran api ditubuh Sabrang mulai menghilang.
"Mata itu, sudah sangat lama aku tidak melihatnya," Wulan mulai menarik energi pedangnya.
"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Wulan tajam.
"Aku membutuhkan beberapa ramuan untuk ratuku dan selirku," balas Sabrang pelan sambil menundukkan kepalanya.
"Ramuan?" Wulan mengernyitkan dahinya.
"Aku memerlukan..." belum selesai Sabrang bicara, Wulan tiba tiba muncul dibelakang Sabrang dan langsung menghunuskan pedangnya.
Pedang Wulan menembus tubuh Sabrang sampai kedadanya.
"Kau tak pernah berubah," Rubah putih menggeleng pelan.
"Aku harus membunuh keturunan Naraya karena itu adalah sumpahku, anggap saja aku telah membunuhmu, sekarang cepat singkirkan pedang apimu dari leherku," Wulan menarik pedangnya saat tubuh Sabrang menghilang, dia memegang pedang Naga api yang menempel dilehernya sambil menoleh kearah Sabrang yang telah berdiri dibelakangnya.
"Kau orang pertama yang berani menghunuskan pedang ke leherku, apa ini caramu meminta sesuatu padaku?"
"Maaf nek, aku tak berniat sedikitpun menyerang, aku tidak tau ada masalah apa anda dengan leluhurku namun aku datang ingin meminta bantuan," ucap Sabrang pelan.
Wajah Rubah putih berubah seketika setelah mendengar ucapan Sabrang, dan detik berikutnya sebuah pukulan keras menghantam perut Sabrang yang membuatnya roboh ketanah.
"Kau mengatakan hal yang membuatnya marah," ucap Rubah putih pelan.
"Jangan pernah panggil aku nenek karena aku bukan nenekmu, dan aku masih muda. Ingat itu atau aku akan membunuhmu," umpat Wulan sambil pergi meninggalkan mereka berdua.
"Apa salahku?" Sabrang menoleh kearah Rubah putih yang menatapnya iba.
"Dia paling benci menjadi tua, dan kata "nenek" yang kau ucapkan adalah hal yang paling dibencinya," jawab Rubah putih terkekeh.
"Tapi bukankah kalian memang sudah tua?" Sabrang masih tidak terima.
"Jaga ucapanmu atau dia akan muncul kembali dengan tenaga yang jauh lebih besar," Rubah putih melangkah menuju Arung dan membuka totokannya.
"Ikut denganku, ada yang ingin kutunjukkan padamu sambil menunggu amarahnya mereda," Rubah putih berjalan menuju hutan disebelah air terjun.
"Jadi dia marah hanya karena disebut nenek?" tanya Sabrang sambil mengejar Rubah putih, Arung mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
"Hentikan menyebut nama itu atau kita semua dalam bahaya," balas Rubah putih.