Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Ekstra Bab : Sabrang vs Naga Api II (End)


__ADS_3

Sabrang menghentikan langkahnya di kaki bukit Merbabu, pandangannya jauh ke depan melihat hutan belantara dihadapannya. Kenangannya bersama Wardhana dan yang lainnya saat mendaki gunung Merbabu untuk mencari rahasia Masalembo kembali muncul dalam ingatannya.


"Jadi nama gunung ini sekarang Merbabu? tidak buruk," Sabrang mulai melangkah masuk hutan sambil terus menikmati pemandangan yang ada dihadapannya.


"Ada yang mengikuti kita sejak di perbatasan Rogo Geni nak, apa kau tidak ingin mencari tau siapa dia?" ucap Anom pelan.


"Biarkan saja, aku tidak merasakan sama sekali hawa membunuh dari tubuhnya. Yang terpenting saat ini adalah menghancurkan sekte Cahaya Bulan Kegelapan sebelum mereka menjadi sangat kuat karena kitab terkutuk itu," jawab Sabrang tenang, dia terus berjalan masuk kedalam hutan seolah tidak terjadi apapun.


"Tuan Damar sepertinya memang bukan pendekar sembarangan, bagaimana mungkin dia bisa begitu tenang saat memasuki wilayah Perguruan Cahaya Bulan Kegelapan," ucap Prana Dwipa yang mengamatinya dari jauh sambil menggeleng pelan.


Prana Dwipa pada akhirnya memutuskan untuk mengikuti Sabrang diam diam karena khawatir pendekar itu akan terbunuh.


Prana Dwipa merasa memiliki tanggung jawab karena kemarin dialah yang memberitahu dimana letak perguruan Cahaya Bulan Kegelapan. Awalnya dia berpikir jika Sabrang hanya bertanya karena penasaran namun dia benar benar tidak menyangka pria itu akan nekad datang ke gunung Merbabu seorang diri.


"Ilmu Kanuragan anda mungkin tinggi tuan, tapi datang sendirian ke perguruan Cahaya Bulan Kegelapan adalah tindakan yang sangat bodoh. Aku benar benar menyesal memberitahukan tempat ini pada anda kemarin," ucap Prana Dwipa pelan.


Dan, apa yang ditakutkan Prana Dwipa akhirnya benar benar terjadi. Baru saja Sabrang mulai mendaki gunung Merbabu, puluhan pendekar Cahaya Bulan Kegelapan muncul dan menghadang jalannya.


"Berani sekali kau menginjakkan kaki di gunung Merbabu, apa kau sudah bosan hidup?" teriak Samudro, salah satu pendekar terkuat Cahaya Bulan Kegelapan yang juga merupakan wakil ketua termuda perguruan itu.


"Apa gunung ini milik kalian? Aku merasa tak perlu meminta izin dari siapapun untuk datang ketempat ini," ejek Sabrang pelan.


"Dia benar benar sedang mencari masalah, apa sebenarnya yang dipikirkan pendekar itu?" ucap Prana Dwipa sambil menggeleng pelan, dia mulai mengalirkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuh dan bersiap dengan kemungkinan terburuk.


"Jadi kau datang memang ingin mencari masalah dengan kami ya?" Samudro tersenyum kecil setelah mendengar jawaban Sabrang.


"Aku datang untuk kitab Sabdo Loji, berikan kitab itu padaku maka kalian akan kubiarkan hidup," Sabrang tiba tiba memunculkan pedang di kedua tangannya yang membuat para pendekar Cahaya Bulan Kegelapan terkejut.


"Dia bukan pendekar biasa, aku harus berhati hati menghadapinya," ucap Samudro dalam hati.


"Maaf tuan, sepertinya anda salah tempat, kami tidak tau kitab apa yang anda maksud," ucap Samudro mengulur waktu, dia ingin mengukur kemampuan Sabrang terlebih dahulu sebelum memerintahkan murid muridnya menyerang.


"Kalian membuat semuanya menjadi sulit, kitab itu suatu saat akan membunuh kalian semua," jawab Sabrang.


"Aku sama sekali tidak merasakan tenaga dalamnya dari tubuhnya. Apa sebenarnya yang membuat tuan Damar begitu percaya diri," ucap Prana Dwipa bingung.


Selain memunculkan pedang dari dalam tubuhnya, Prana sama sekali tidak merasakan sesuatu yang istimewa dari dalam tubuh Sabrang.


"Aku sudah berusaha sopan tuan, tapi jika anda terus memaksa, aku tak akan sungkan la..." ucapan Samudro tertahan saat tiba tiba merasakan aura yang sangat besar meluap dari tubuh Sabrang menekannya.


Aura yang belum pernah dia rasakan sebelumnya itu bahkan membuat bebatuan disekitar gunung Merbabu melayang di udara sebelum hancur menjadi debu.


"Dia tadi menyembunyikan kekuatannya, sial! aku masuk kedalam perangkapnya," ucap Samudro dalam hati.


Prana Dwipa tak kalah terkejut, mulutnya bahkan terbuka seketika, dia benar benar tidak menyangka pendekar yang kemarin bicara dengannya di penginapan memiliki tenaga dalam yang sangat besar.


"Ini mungkin akan sedikit sakit tapi tak akan membunuh kalian," tubuh Sabrang tiba tiba menghilang sebelum muncul tepat ditengah para pendekar Cahaya Bulan Kegelapan.


"Jurus Pedang jiwa tingkat V : Gelombang penghancur sukma."


"Jurus Legendaris ini...bagaimana pendekar ini bisa menguasainya," Samudro berusaha menghindar sekuat tenaga saat belasan muridnya jatuh tiba tiba. Namun secepat apapun dia bergerak, tebasan punggung pedang Sabrang masih mampu menghantam tubuhnya.


"Hentikan dia!" teriak Samudro sambil mengatur kembali kuda kudanya.


Puluhan pendekar langsung mengepung Sabrang, mereka membentuk formasi tempur kebanggaan perguruan Cahaya Bulan Kegelapan untuk menghentikan Sabrang.


Sabrang tidak gentar, dia menghentakkan kaki ketanah dan melepaskan aura yang jauh lebih besar sebelum menghancurkan formasi itu dengan mudah.


"Aura ini? bagaimana mungkin manusia bisa memiliki aura sebesar ini?" para pendekar Cahaya Bulan Kegelapan mulai panik dan bergerak mundur.


Namun Sabrang tidak membiarkan itu terjadi, dia terus bergerak dan menyerang semua yang berada dalam jangkauan pedangnya.


"Tarian Iblis Pedang," tebasan pedang Sabrang yang semakin cepat tak mampu dihindari lawannya.


Bagai hembusan angin yang menyapu dedaunan, Sabrang melumpuhkan puluhan pendekar hanya dalam beberapa kali serangan.


Kecepatan dan Ilmu kanuragan yang dimiliki Sabrang benar benar mengejutkan semua orang yang berada di kaki bukit Merbabu termasuk Prana Dwipa.


"Siapa dia sebenarnya?" ucap Prana Dwipa dengan nafas tertahan, dia benar benar terkejut dengan kemampuan yang dimiliki Sabrang karena sampai beberapa saat lalu, Prana tidak merasakan sama sekali ada energi besar didalam tubuh Sabrang.


"Kalian semua tidak harus melakukan ini karena aku datang hanya ingin mengambil kitab itu, tidak lebih. Mereka semua akan sadar beberapa saat lagi tapi aku sudah memusnahkan seluruh ilmu kanuragannya," ucap Sabrang pada Samudro sebelum melangkah pergi.

__ADS_1


"Siapa kau sebenarnya? seharusnya dengan kemampuan tadi, namamu sudah melambung di dunia persilatan," tanya Samudro tiba tiba.


"Anggap aja aku pemilik kitab itu," jawab Sabrang tanpa menoleh sedikitpun.


"Kau!" Samudro tampak kesal, dia mengalirkan tenaga dalam ke pedang pusaka nya sebelum menyerang tiba tiba dengan kecepatan tinggi.


"Kau pikir bisa seenaknya mengacau di perguruan Cahaya Bulan Kegelapan," Samudro mengayunkan pedangnya sekuat tenaga dan mengincar tenggorokan Sabrang.


Sabrang menggeleng pelan, dia memutar tubuhnya dan kembali melepaskan aura yang cukup besar dari tubuhnya.


"Aku mungkin tidak bisa mengalahkan mu tapi setidaknya kita bisa mati bersama," aura aneh tiba tiba meluap dari tubuh Samudro bersamaan dengan ayunan pedangnya.


"Ajian menghancurkan raga melepas energi?" Prana tersentak kaget setelah mengenali aura yang meluap dari tubuh Samudro.


"Tuan Damar, menghindari!" Prana Dwipa melompat dari tempat persembunyiannya dan bergerak cepat kearah Sabrang sambil terus berteriak.


Prana Dwipa pantas panik karena ajian menghancurkan raga melepas energi adalah jurus yang sangat mematikan milik perguruan Cahaya Bulan Kegelapan.


Ajian itu dimiliki semua pendekar Cahaya Bulan Kegelapan dan biasanya digunakan saat sudah terdesak. Mereka akan memusatkan tenaga dalam di Cakra Mahkota dan membenturkan energi itu berulang kali untuk meledakkan diri sendiri.


Sabrang merubah gerakan tangannya, dia menangkis serangan itu dengan tangan kanannya yang diselimuti energi Anom sebelum melepaskan Cakar Dewa Bumi dengan tangan kiri tepat ke perut Samudro.


"Cakar Dewa..." Sabrang tersentak kaget saat merasakan udara disekitarnya naik dengan cepat sebelum ledakan besar menghantam tubuhnya.


"Duarr."


Tubuh Prana Dwipa terlempar cukup jauh dan membentur pepohonan yang berada disekitarnya.


"Tuan Damar!" teriak Prana Dwipa.


Kobaran api tampak membumbung tinggi diantara debu yang beterbangan di udara membuat suhu udara di kaki gunung Merbabu yang biasanya sejuk menjadi sangat panas.


"Aku terlambat..." ucap Prana lirih sebelum menyadari ada sesuatu yang aneh.


"Tunggu... bukankah ajian menghancurkan raga melepas energi hanya meledakan tubuh penggunanya...lalu darimana datangnya api itu?"


Prana Dwipa semakin terkejut ketika melihat Sabrang masih berdiri tegak dengan seluruh tubuhnya diselimuti kobaran api tanpa terluka sedikitpun.


"Jadi namamu Sabrang Damar ya? Aku masih belum bisa mengingat semuanya kecuali namamu tapi sepertinya kau adalah orang yang sangat menarik," ucap Naga Api tiba tiba dalam pikiran Sabrang.


"Tak perlu terburu buru Naga Api, kau sudah mengingat namaku saja itu cukup. Selamat datang kembali di dunia persilatan," ucap Sabrang sambil melangkah pergi.


"Sabrang Damar, apa mungkin anda adalah leluhurku yang juga pengguna Naga Api itu?" tanya Prana Dwipa tiba tiba.


Sabrang menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Prana Dwipa yang berdiri tak jauh darinya.


"Kau boleh menganggapnya begitu," Sabrang mengambil sebuah gulungan kecil dari balik pakaiannya dan melemparkan pada Prana Dwipa.


"Paman Wardhana menyimpan petunjuk tentang gerakan pemurnian dunia yang mereka sebut Pralaya Wekas Semesta di Hutan Trowulan. Aku tidak tau kalian menyebut tempat itu dengan nama apa sekarang tapi petunjuk lokasinya ada di dalam gulungan itu. Pulanglah dan temukan petunjuk itu, aku akan kembali setelah menyelesaikan apa yang seharusnya kulakukan dari dulu," ucap Sabrang sebelum melangkah pergi.


"Anakmu akan menjadi pendekar hebat kelak, aku tidak sabar melihatnya tumbuh menjadi cahaya terakhir yang selama ini kami tunggu."


Prana hanya mengangguk sambil menatap kepergian Sabrang ke puncak gunung Merbabu. Itulah terakhir kalinya dia bertemu dengan Sabrang sebelum kabar tewasnya pendekar terkuat saat ini, Cakra Buana dan hancurnya Perguruan Cahaya Bulan Kegelapan terdengar esok harinya.


Kabar mengejutkan itu membuat dunia persilatan gempar, terlebih perguruan terkuat aliran hitam itu hancur oleh seorang pendekar misterius.


Kabar ini juga mendorong beberapa perguruan Aliran putih membentuk aliansi yang dipimpin oleh ki Warta, ketua dari perguruan Angin Biru.


Mereka sepakat untuk meningkatkan kekuatan masing masing dan saling melindungi karena tidak ada yang tau apakah pendekar yang menghancurkan Cahaya Bulan Kegelapan adalah aliran putih atau hitam.


Aksi Sabrang menghancurkan perguruan Cahaya Bulan Kegelapan juga pada akhirnya memancing beberapa kelompok misterius yang selama ini bergerak dari balik layar muncul ke dunia persilatan.


Tewasnya Cakra Buana yang menguasai hampir separuh ilmu kanuragan yang ada di dalam kitab Sabdo Loji tidak bisa dianggap remeh karena siapapun yang membunuhnya jelas bukan orang sembarangan.


Hibata, salah satu organisasi yang paling misterius saat ini juga mulai menampakkan diri setelah penculikan Arya Wijaya, anak dari Prana Dwipa beberapa bulan setelah Sabrang menghilang.


Walau pada akhirnya Arya Wijaya ditemukan selamat di sebuah hutan, Hibata memutuskan memburu para penculik itu.


Perlahan nama Hibata mulai ditakuti di dunia persilatan setelah gerakan mereka yang menghancurkan perguruan perguruan baik aliran putih maupun hitam yang diduga terlibat penculikan Arya Wijaya.


Tak ada yang tau apa tujuan Hibata sebenarnya menghancurkan perguruan perguruan itu karena Arya Wijaya sendiri sudah selamat dari penculikan itu.

__ADS_1


Aksi Hibata membuat kekuatan dunia persilatan kembali berimbang, dengan hancurnya Cahaya Bulan Kegelapan, Angin Biru, Pedang Naga Api dan Tengkorak Merah muncul menjadi tiga kekuatan besar.


Dan, beberapa tahun setelah kejadian menghebohkan itu, Prana tewas saat sekte Pedang Naga Api diserang oleh perguruan Tengkorak Merah karena gesekan dendam mereka dimasa lalu.


Tewasnya Prana Dwipa juga membuat gulungan yang diberikan Sabrang sebagai petunjuk untuk menemukan dimana pesan rahasia yang ditinggalkan Wardhana tentang Pralaya Wekas Semesta hilang entah kemana.


Pada akhirnya, kenyataan tersembunyi yang hampir dipecahkan Wardhana kembali diselimuti misteri seperti puncak Bukit Suroloyo yang selalu tertutupi kabut abadi.


"Kejadian akhir akhir ini sepertinya semakin menunjukkan jika ramalan kuno itu benar benar mendekati kenyataan. Apa mungkin dunia persilatan akan benar benar hancur?" ucap Seorang pria sambil menatap keindahan alam Nuswantoro dari puncak Suroloyo.


"Tuan, aku sudah memeriksa semua tempat di puncak ini dan tidak ada tanda tanda energi Naga Api sedikitpun," ucap seorang pendekar wanita pelan.


"Begitu ya... sepertinya dia sudah mengambilnya kembali ruh pusaka itu," balas pendekar itu datar.


"Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"


"Temukan Sabrang Damar secepatnya, kita harus mulai memberinya jalan kembali ke dunia persilatan," pendekar itu menarik nafasnya panjang sambil memejamkan mata dan menikmati hembusan angin di wajahnya.


"Maaf ketua, apakah tidak..."


"Aku memberimu perintah bukan meminta pendapat, lakukan saja yang aku minta," potong pendekar itu dingin.


"Baik ketua," jawab Gadis itu cepat.


"Sudah saatnya kita kembali tuan Minak Jinggo, para pendekar Gunung Wilis sudah menunggu anda," sebuah lubang dimensi tiba tiba terbuka bersamaan dengan munculnya seorang pendekar yang mengenakan topeng berwarna perak.


"Baik... Ayo pergi," balas Minak Jinggo pelan sebelum menghilang tiba tiba.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Akhirnya... Setelah perjalanan panjang dari tanggal 5 Februari 2020, Perjalanan Pedang Naga Api benar benar berakhir....


Terima kasih atas segala dukungan yang kalian berikan selama ini.


Dan pada hari ini, saya juga mengajak untuk kembali berpetualang bersama Sabrang di Api di Bumi Majapahit. Silahkan Klik profil saya, sudah ada 48 Bab kalau tidak salah....


Pemenang Even Pedang Naga Api sudah saya kantongi dan dipilih oleh beberapa member yang sudah saya pilih sebelumnya, jadi ini semua pilihan bersama.


Yang belum menang, bukan berarti jelek dan akan ada even kembali di Api di Bumi Majapahit khusus yang belum menang hari ini.


Pemenang Even Pedang Naga Api



Adi Cokro


Gede Sudiarta


Novi Aresta Tresia


Siti Malisa


Muhammad al amin sholeh


Izza Arif


Rendra S.A


King Fonsi


AL


D. Andhara P



Silahkan kirim no handphone kalian melalui DM instagram saya, ditunggu paling lambat tanggal 14 Maret dan hadiah akan dikirim paling lambat di tanggal itu juga...


Satu lagi.. Update ABM terpaksa saya undur dini hari nanti atau paling lambat jam 8 pagi, hari ini saya harus berjibaku dengan lembur di pekerjaan saya karena besok tanggal merah.. semoga mengerti...


Sekali lagi terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2