
"Jagan disentuh". Mentari setengah berteriak saat Lingga mencoba memegang bunga mawar merah yang ada disekelilingnya.
"Apa maksudmu?". Lingga menoleh kearah Mentari yang berjalan dibelakangnya.
Mentari menunjukan bunga ditangannya yang tadi dipetik. Tangan Mentari diselimuti aura biru yang keluar dari bunga ditangannya.
"Racun?". Lingga tersentak kaget.
Mentari mengangguk pelan, dia menyadarinya saat memetik bunga itu. Saat dia meyentuh bunga itu tangannya tiba tiba menjadi kaku dan berubah warna menjadi biru sebelum dia menggunakan Ajian pelebur sukma untuk mengikat racun itu.
"Berarti tempat ini adalah surga bagimu untuk meningkatkan ilmu kanuraganmu". Lingga tertawa keras.
Mentari hanya tersenyum kecut mendengar ejekan Lingga walaupun dia tak membantah ucapannya. Mentari memang membutuhkan bermacam macam jenis racun untuk meningkatkan efek ajian pelebur sukmanya karena itu dia memutuskan untuk memetik beberapa bunga dihadapannya.
"Berhati hatilah, sepertinya banyak jebakan racun disekitar kita". Lingga memperingatkan Sabrang yang berjalan didepannya.
"Kau mulai mengkhawatirkanku?". Sabrang tersenyum sinis.
"Aku hanya ingin merebut kerismu saat kau benar benar kuat bukan saat keracunan dan aku tidak akan segan segan untuk membunuhmu jima kau menghambat misi kita di sekte bintang langit".
Mentari hanya menggelengkan kepalanya melihat dua orang dihadapannya selalu bertengkar hanya karena masalah sepele.
"Apakah setiap mahluk bernama laki laki paling suka bertarung? jika demikian aku dengan senang hati memetik beberapa bunga ini untuk kuberikan pada kalian?". Mentari berkata setengah mengancam.
Mendapat ancaman seperti itu membuat Sabrang dan Lingga memutuskan menunda perseteruan diantara mereka. Ilmu kanuragan mereka memang sangat tinggi namun saat ini mereka dikelilingi racun mematikan yang bisa membunuh mereka dalam hitungan detik.
"Kau terlalu pemarah nona racun". Lingga menggelengkan kepalanya.
"Kau memanggilku apa?". Mentari bersiap melempar bunga ditangannya.
"Sepertinya setelah melewati bukit didepan kita akan sampai di Sekte bintang langit". Lingga mengalihkan pembicaraan karena sadar kesalahannya bisa membuatnya terbunuh.
"Dia lebih menakutkan dari Naga api". Lingga bergumam dalam hati.
***
"Daniswara apa yang kau lakukan?". Birawa berteriak saat beberapa murid Bintang selatan masuk kediamannya dan menangkapnya.
"Panggil aku ketua, apa kau lupa kini aku adalah ketua Sekte Bintang Langit!". Daniswara mincul dari pintu dan melangkah mendekati Birawa.
"Kau benar benar gila". Birawa menatap tajam Daniswara.
"Aku hanya melakukan tugasku sebagai Ketua sekte, beberapa hari sebelum Andaru menghilang ada yang melihatnya bertemu denganmu. Aku harus menyelidiki keterlibatanmu Birawa, kuharap kau bekerja sama demi kebaikan sekte kita".
"Kau!".
"Bawa dia ke ruang tahanan dan pastikan dia tidak bisa menggunakan segelnya". Daniswara memerintahkan muridnya.
"Baik ketua". Para penjaga itu menyeret Birawa dengan paksa.
"Suatu saat kau akan menerima balasan atas pengkhianatanmu Daniswara".
"Bermimpilah Birawa". Daniswara tertawa angkuh.
Tak lama Jagratara muncul dengan tergesa gesa menghadap Daniswara.
"Ketua, ada yang penyusup yang berhasil masuk".
"Berapa orang?". Daniswara bertanya pelan.
"Tiga orang ketua, salah satunya membawa pedang yang mirip dengan Pedang Naga api".
__ADS_1
Daniswara mengernyitkan dahinya, dia tidak menyangka akan secepat ini mereka datang.
"Sambut mereka dan pastikan kau merebut Naga api itu".
"Baik ketua".
"Untung saja aku bergerak cepat, kini tak ada lagi yang menghalangiku memiliki Naga api".
***
"Akhirnya kita bisa melewati taman beracun itu". Lingga bernafas lega.
Saat mereka memutuskan beristirahat di bawah pohon tiba tiba puluhan jarum beracun melesat cepat kearah mereka.
Sabrang membuat perisai es untuk menghalangi jarum itu.
"Siapa mereka?". Lingga mengepalkan tangannya.
"Siapapun mereka tujuannya adalah membunuh kita". Sabrang melesat cepat mengejar beberapa orang yang mencoba melarikan diri di atas pohon.
"Hei tunggu, aku takut ini jebakan". Lingga berteriak namun tubuh Sabrang telah menghilang mengejar para penyerangnya.
"Dasar bodoh, ayo kita kejar dia". Lingga melesat kearah Sabrang menghilang.
"Mau kemana kalian". Sabrang muncul dihadapan para pendekar bertopeng yang menyerangnya.
Para pendekar itu sedikit terkejut melihat Sabrang dengan mudah mengejar mereka.
Salah satu pendekar memberi tanda pada yang lainnya untuk menyebar. Tak lama mereka berpencar mengepung Sabrang.
"Kalian tidak ingin bicara padaku? baik akan kupaksa kalian bicara".
Bongkahan Es perlahan menyelimuti kedua tangan Sabrang.
Sabrang menyambut serangan yang terarah padanya dengan tangannya yang telah diselimuti es. Gerakannya cepatnya membuat beberapa pendekar terpukul mundur.
"Cakar es utara". Salah satu pendekar meregang nyawa terkena serangannya.
"Dia terlalu kuat". Salah satu pendekar mundur beberapa langkah untuk menjag jarak. Dia menoleh kesekelilingnya seperti sedang menunggu sesuatu.
"Baiklah kita liat apa yang kalian sembunyikan dibalik topeng itu". Sabrang kembali menyerang dengan cepat.
"Anak itu memang bodoh, kita tidak tau apa yang tersembunyi di tempat ini". Lingga mempercepat gerakannya setelah mendengar bunyi pertarungan.
Melihat semua temannya dapat dikalahkan dengan mudah satu pendekar tersisa menjadi panik. Dia berusaha melarikan diri namun langkahnya terhenti saat sebuah jurang yang sangat dalam menghadangnya.
"Sekarang katakan siapa yang menyuruh kalian untuk membunuh kami". Sabrang mendekati pendekar itu dengan pedang es ditangannya.
Pendekar itu terlihat pucat dan terpojok di bibir jurang, tak ada jalan lain baginya selain menyerang Sabrang.
Saat beberapa langkah lagi jarak antara mereka tiba tiba tubuh Sabrang menjadi kaku tak bisa digerakan.
"Apa yang terjadi dengan tubuhku?". Sabrang berusaha sekuat tenaga menggerakan tubuhnya namun tetap tidak bisa.
"Tak kusangka ada pendekar muda begitu hebat di dunia persilatan". Seorang pendekar bertopeng lainnya muncul dengan santai.
"Ini?" Sabrang menyadari sesuatu setelah melihat gerakan tangan pendekar itu.
"Segel bayangan". Gumamnya dalam hati.
Tak lama sepuluh pendekar lainnya muncul dari segala arah.
__ADS_1
"Bunuh dia". Pendekar itu memberi perintah pada yang lainnya.
"Gawat, Naga api lakukan sesuatu".
"Aku sedang berusaha, mereka pencipta segel bayangan, sangat susah melepaskan diri dari segel ini".
Saat serangan para pendekar itu hampir mengenai Sabrang tiba tiba Lingga muncul menyerang para pendekar itu.
Mereka terdorong beberapa langkah akibat serangan Lingga.
"Sudah kuperingatkan untuk berhati hati disini". Lingga membentak Sabrang yang menurutnya sangat ceroboh.
Sabrang tersenyum canggung "Hati hati dengan segel bayangannya".
"Aku tau". Lingga mengeluarkan pedang dari sarungnya dan melompat menyerang.
Lingga menyerang mereka dengan bertubi tubi dan tak memberi waktu untuk bernafas, dalam waktu singat sudah terlihat perbedaan kekuatan antara mereka.
"Bentuk formasi bintang". Teriak salah satu pendekar memberi perintah.
"Kalian pikir bisa menghentikanku dengan formasi kalian". Lingga tersenyum dingin.
Lingga memperhatikan setiap gerakan formasi itu sambil terus menghindari serangan mereka. Dia memutuskan untuk bertahan terlebih dahulu dan mencari kelemahan formasi yang menyerangnya. Dalam beberapa kali jurus di sudah bisa melihat kelemahan mereka dan menyerang balik.
"Telalu banyak celah yang kalian tinggalkan, kalian mungkin memiliki ilmu kanuragan tinggi namun terkurung ditempat ini membuat insting kalian benar benar tumpul". Lingga mengalirkan tenaga dalam ke pedangnya.
Dalam waktu singkat gerakan pedang Lingga mampu menghancurkan formasi mereka.
"Gerakan pedangnya benar benar sulit ditebak".
Saat Lingga tengah disibukan dengan pertarungannya, pendekar yang menggunakan Segel bayangan bergerak cepat kearah Sabrang.
Mentari yang baru muncul berusaha menghentikan pendekar itu mendekati Sabrang namun gerakannya kalah cepat.
"Dasar pengganggu". Serangan pendekar itu tepat mengenai tubuh Mentari membuatnya terpental jauh kearah jurang.
"Mentari!". Tiba tiba aura merah darah meluap dari tubuh Sabrang membuat pendekar itu terpental cukup jauh kemudian menghantam pepohonan.
"Dia bisa lepas dari segelku?". Raut wajah pendekar itu menjadi buruk.
Sabrang melesat cepat kearah tubuh Mentari yang sudah hampir masuk kejurang itu.
"Tuan muda hentikan!". Mentari berteriak kencang mengetahui Sabrang bergerak kearahnya.
"Aku harus cepat". Lingga menggunakan jurus tarian iblis pedangnya untuk mengakhiri perlawanan musuhnya.
Sabrang melompat dan menangkap tubuh Mentari, mereka kini melayang di atas jurang.
"Terlalu jauh". Sabrang melihat tepi jurang disebrangnya. Dia ingin menggunakan ilmu meringankan tubuhnya untuk sampai ke sana namun terlalu jauh dan membutuhkan beberapa pijakan.
Sabrang menggerakan tangannya berputar dan melempar Mentari ke pinggir jurang.
"Tolong jaga dia, aku akan mencari cara keluar dari sini". Beberapa saat kemudia tubuh Sabrang jatuh kedalam jurang.
"Tuam muda". Mentari berteriak kencang dan berlari kembali kearah jurang namun Lingga menahannya.
"Lepaskan aku". Mentari berusaha melepaskan diri dari cengkraman Lingga.
"Gawat racun ini". Tanpa sadar Mentari menggunakan ajian lebur sukmanya dan mengenai Lingga yang memegang tangannya.
"Maaf nona, aku harus melakukan ini". Sebuah pukulan Lingga mendarat di perut Mentari membuatnya hilang kesadaran.
__ADS_1
Lingga bergegas duduk bersila dan mengalirkan tenaga dalamnya untuk menekan racun mawar hitam yang mulai masuk dalam tubuhnya.