Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Tekanan kerajaan Saung Galah


__ADS_3

Situasi dunia persilatan akhir akhir ini memanas akibat para tetua sekte besar aliran putih yang selama ini menjadi penyeimbang kekuatan terluka parah.


Sekte Pedang ilusi yang selama ini jarang terdengar mulai berani menampakkan taringnya, mereka bersama sekte Tapak dewa menyerang beberapa sekte kecil aliran putih.


Mereka bahkan berani menyerang Teratai merah yang terkenal memiliki hubungan dekat dengan Sabrang walau akhirnya digagalkan oleh Wardhana.


Dukungan kerajaan Majasari menjadi alasan utama mereka berani terang terangan bergerak selain karena terlukanya Mantili dan tetua lainnya.


Situasi yang mulai kacau inilah yang coba dihentikan Wardhana, dia tidak ingin sekutu utama Malwageni diporakporandakan mereka.


Sekte pedang ilusi dalam sekejap menjadi pusat kekuatan baru aliran hitam sejak hancurnya Iblis hitam.


Mereka mempengaruhi sekte sekte aliran hitam dengan membawa pengaruh Majasari. Kekayaan dan jabatan tinggi menjadi daya tarik para pendekar untuk mendukung Pedang ilusi.


Tak ada yang berani menentang sekte pedang ilusi secara langsung, bahkan beberapa sekte kecil aliran putih memilih diam saat sekutunya diserang.


Namun pagi itu, seorang pendekar yang memakai topeng hitam tampak berdiri tegak didepan gerbang utama sekte pedang ilusi.


Dia menatap tajam kearah kumpulan pendekar yang menjaga gerbang utama.


Aura besar yang meluap dari tubuhnya menekan para pendekar itu. Melihat kedatangan tak bersahabat pendekar bertopeng itu membuat mereka siaga.


"Siapa kau dan ada perlu apa dengan sekte pedang ilusi?" tanya salah satu pendekar.


"Keperluanku hanya satu, menghancurkan kalian," jawab Candrakurama dingin.


Pendekar itu tersentak kaget, dia tidak menyangka Candrakurama akan berkata seperti itu dengan penuh percaya diri. Selain karena dia datang sendiri, berurusan dengan sekte pedang ilusi sama saja mengusik Majasari.


"Apa kau membual?" ejek pendekar itu.


"Kau harus mengukur kemampuanmu sebelum berurusan dengan Hibata," Candrakurama mengibaskan tangannya dan dalam sekejap sembilan pendekar muncul didekat para pendekar penjaga dan langsung menghabisi mereka.


"Hibata?" ucap salah satu pendekar sebelum meregang nyawa ditangan pendekar Hibata.


Serangan para pendekar itu begitu cepat membuat mereka tak mampu bereaksi apapun.


"Ketua," ucap salah satu pendekar Hibata yang mendekati Candrakurama.


"Bunuh semua tanpa sisa, aku akan mencari pemimpin mereka," ucap Candrakurama sebelum melesat kesalah satu bangunan yang paling tinggi.


"Baik ketua," pendekar itu memberi tanda pada yang lainya untuk bergerak masuk.


Pandangan Candrakurama berhenti disalah satu bangunan yang cukup besar, dia mengernyitkan dahinya sebelum melesat kebangunan itu.


"Di sini kau rupanya," Candrakurama mengayunkan pedangnya saat berada didekat jendela bangunan.


Jendela yang terbuat dari kayu itu hancur berkeping keping yang memudahkannya masuk.


Belum juga kaki Candrakurama menyentuh lantai, tiga orang pendekar yang terkejut melihat kehadiran Candrakurama langsung menyerangnya.


Candrakurama bergerak lincah menghindar sambil mencabut pedangnya, dia melepaskan aura ditubuhnya sebelum menyerang balik.


Tubuhnya berputar sesaat sebelum mengayunkan pedang pusakanya memutar.


"Jurus pedang Penghancur Naga tingkat II : Putaran angin Naga," tubuh para pendekar yang melambat memudahkan Candrakurama mencabut nyawa mereka.


Candrakurama terlihat tersenyum diantara percikan darah diudara saat dia memenggal kepala para pendekar itu. Dia seolah menikmati semua pembunuhan yang dilakukannya.

__ADS_1


"Siapa kau sebenarnya? apa kita memiliki masalah?" tanya seorang pria setengah baya yang dikelilingi empat pendekar tinggi.


"Apa kau yang bernama Darya?" tanya Candrakurama pelan, dia menaruh pedangnya diatas pundak sambil berjalan mendekat.


Pria tua itu mengangguk pelan "Benar, namaku Darya ketua sekte pedang ilusi sekaligus orang kepercayaan mahapatih Majasari," ucap Darya setengah mengancam, dia yakin seluruh sekte dunia persilatan masih berfikir puluhan kali untuk berurusan dengan kerajaan terbesar di daratan Jawata.


"Kebetulan sekali, aku datang untuk mencabut nyawamu," Candrakurama mengarahkan pedangnya kedepan.


Wajah Darya berubah seketika, dia tau Candrakurama tidak asal bicara. Mengalahkan tiga dari sepuluh anggota setan ilusi yang merupakan pendekar pilihan sekte Pedang ilusi bukan perkara mudah dan Candrakurama membunuh mereka dalam waktu yang cukup cepat.


Apa pedang ilusi memiliki masalah denganmu?" tanya Darya heran, dia merasa belum pernah melihat pendekar itu.


Candrakurama menggeleng pelan, "Aku hanya sedang bosan dan kuharap kau bisa memberikanku kesenangan," balas Candrakurama.


"Aku tau kemampuanmu sangat tinggi, kau bahkan bisa menghabisi tiga anggota setan ilusiku namun kuharap kau tidak bertindak bodoh. Berurusan dengan kami sama saja menantang Majasari dan itu tak akan mudah," ucap Darya.


"Majasari? kau tak perlu khawatir, mereka memang sudah masuk dalam daftarku untuk untuk dihancurkan. Aku akan memberimu pilihan, kau boleh melawan namun jika ingin kematian cepat sebaiknya tutup mata kalian", Candrakurama mulai merapal jurus andalannya.


Wajah Darya berubah seketika karena menahan amarah, dia merasa Candrakurama benar benar meremehkannya.


"Apa kau lupa sedang berada dimana? aku hanya perlu menggerakkan tanganku dan seluruh pendekar pedang ilusi akan membunuhmu."


"Maksudmu tumpukan mayat dihalaman itu? mereka bahkan tidak bisa melindungi dirinya sendiri" ejek Candrakurama.


"Kau benar benar gila," Darya menggeleng pelan sambil bergerak menyerang bersama para pendekar yang berada didekatnya. Dia tidak mempunyai pilihan lain kecuali menyerang karena tak ada sedikitpun terlihat niat Candrakurama melepaskan mereka.


Wajah Darya pucat pasi, dia mengumpat dalam hati, saat dia mulai memegang kendali dunia persilatan dan mendapat kepercayaan Majasari, dia justru harus berhadapan dengan manusia haus darah dihadapannya.


"Pilihan yang salah," Candrakurama melesat menyambut serangan mereka.


***


"Energimu benar benar mengerikan Megantara, tubuhku terasa hancur," ucap Sabrang dalam pikirannya.


"Bukan aku yang mengerikan namun tubuhmu nak, aku tidak habis pikir bagaimana kau sanggup menggunakan Cakra manggilingan dan menarik energiku.


Menggunakan energiku dengan cara biasa saja membuat tubuh Arjuna hancur dan kau menggunakannya secara paksa dengan Manggilingan, aku sangat terkejut tubuhmu bisa pulih seperti semula. Kau benar benar anak yang istimewa," balas Megantara.


Sabrang tersenyum kecil, dia tidak memahami apa yang dibicarakan Megantara namun yang dia tau sejak masuknya energi Megantara dalam tubuhnya, dia seolah mampu meningkatkan kecepatannya berkali kali lipat dan mata bulannya pun mulai kembali berevolusi.


"Yang mulia," suara Mentari terdengar sesaat setelah pintu kamarnya terbuka, dia berlari kearah Sabrang kemudian menundukkan kepalanya.


"Sudah berapa lama aku tak sadarkan diri?," tanya Sabrang pelan.


"Hampir satu purnama Yang mulia," Mentari mengambil obat yang diberikan oleh Brajamusti dan memberikannya pada Sabrang.


"Minumlah Yang mulia, obat ini akan cepat memulihkan tenaga dalam anda," ucap Mentari pelan.


Sabrang mengangguk sebelum meminum ramuan yang diberikan Mentari.


"Tolong panggilkan paman Wardhana, ada yang ingin kubicarakan dengannya," ucap Sabrang setelah menghabiskan ramuannya.


"Baik Yang mulia," jawab Mentari kemudian.


***


"Maaf tuan, Yang mulia sudah memutuskan jika kadipaten Rogo geni akan masuk kedalam wilayah Saung galah, jika kalian ingin meminta bantuan untuk menyerang Majasari maka posisi kalian adalah prajurit Saung galah bukan Malwageni," ucap Jaladara tegas.

__ADS_1


Raut wajah Wijaya berubah seketika, dia mengepalkan tangannya menahan amarah.


"Kalian ingin mencoba mengingkari perjanjian yang kita buat dulu?" balas wijaya sinis.


"Perjanjian? perjanjian yang kita sepakati saat itu hanya menjaga kadipaten Rogo geni dari serangan Majasari dan apa yang diputuskan Yang mulia juga bertujuan menjaga Rogo geni."


"Menjaga Rogo geni? kalian hanya berambisi menguasai Malwageni, kalian tak ada bedanya dengan Majasari," suara Wijaya meninggi.


"Kau tidak dalam posisi tawar tinggi tuan, kuharap anda menjaga ucapan atau aku akan memerintahkan para prajurit untuk menangkap anda," ancam Jaladara.


"Anda mengancam ku?," tanya Wijaya pelan.


"Aku tak suka mengancam seseorang, namun jika kau masih terus berusaha membuat keributan maka aku tak akan segan menangkapmu," balas Jaladara.


"Saung galah benar benar membuat kesalahan dengan memilih Malwageni sebagai lawan, akan kupastikan kalian menerima balasannya," Wijaya menundukkan kepalanya sebelum melangkah pergi.


"Kalian semua memiliki potensi besar namun tak cukup memiliki kekuatan untuk melawan Majasari. Aku akan bicara pada Yang mulia untuk meminta posisi yang layak bagi Rajamu jika kalian mau bergabung dan membantu Saung galah," ucap Jaladara tiba tiba.


Wijaya menghentikan langkahnya saat mendengar tawaran Jaladara.


"Malwageni tak akan sudi tunduk pada siapapun namun berbeda jika Saung galah yang ingin menyerah pada kami, aku akan memikirkannya," ucap Wijaya pelan.


"Kau!" ucap Jaladara menahan emosi.


Saat Wijaya membuka pintu, sepuluh prajurit tiba tiba menghadang jalannya dengan pedang terhunus.


"Kalian ingin menangkapku?" Wijaya mengernyitkan dahinya, tak ada rasa takut sama sekali walau dia berada di pusat kekuatan Saung galah.


"Biarkan dia pergi," perintah Jaladara.


"Tapi tuan patih," balas salah satu prajurit topeng galah.


"Apa kau mau membantah perintahku?" hardik Jaladara.


Prajurit itu terdiam sesaat sebelum memberi jalan pada Wijaya.


"Aku akan mengingat semua perlakuan kalian hari ini," ucap Wijaya sambil melangkah santai.


Namun langkah Wijaya terhenti saat berpapasan dengan seorang pemuda yang dikenalnya, dia terlihat mengenakan pakaian kebesaran khas Saung galah.


"Pangeran Pancaka?," ucap Wijaya terkejut.


Pancaka sempat terlihat gugup walau dia berusaha menutupinya, dia seolah tidak menghiraukan kehadiran Wijaya dan terus melangkah melewatinya.


Cukup lama Wijaya terdiam menatap punggung Pancaka yang kemudian masuk kedalam ruangan Jaladara.


"Apa yang sebenarnya terjadi? bukankah dia seharusnya ditahan karena menyusup ke keraton Saung galah? apa ini ada hubungannya dengan perubahan sikap Saung galah?."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Saya mohon maaf karena PNA update sedikit telat.. Kondisi saya hari ini sedang kurang sehat.. semoga besok akan update seperti biasa dan chapternya jauh lebih panjang.


Hari ini PNA tepat 300 Chapter, semoga kedepannya bisa jauh lebih baik....


terima kasih sebelumnya...


dukungan kalian masih saya harapkan baik dalam bentuk Vote dan yang lainnya....

__ADS_1


__ADS_2