
Saat malam sudah melewati hampir sepertiganya, Wardhana masih berdiri di tengah bukit Angin biru sambil menatap puluhan murid sekte Angin Biru yang sedang menjaga dedaunan di beberapa titik dengan wajah datar. Entah kenapa saat dia mulai mendekati gerbang suci, perasaannya justru gelisah.
"Apa yang sebenarnya terjadi? terakhir kali aku merasakan hal seperti ini, sehari sebelum Malwageni hancur dan Yang mulia tewas," ucap Wardhana dalam hati.
"Tuan? apa ada masalah?" tanya Ken Panca tiba tiba.
"Ah tidak, lupakan, mungkin hanya perasaanku saja," jawab Wardhana cepat, dia melangkah mendekati beberapa murid yang tengah memasang dedaunan.
"Pastikan kalian mengamatinya dengan benar, aku tak ingin menunggu satu purnama lagi untuk menyingkap misteri gerbang suci," ucap Wardhana pelan.
"Baik ketua," jawab salah satu murid sopan.
Wardhana memandang langit malam yang mulai bersinar terang masih dengan perasaan yang tidak tenang.
"(Sinar bulan purnama akan menjadi awal penanda matahari kembar muncul di Glagah Wangi). Apa maksud pesan ini, apa mungkin danau purba itu juga sebagai pemantul sinar bulan?" ucapnya dalam hati.
"Tuan Patih, sepertinya disini letak danau purba itu," teriak Ken Panca dari kejauhan.
Wardhana langsung berlari mendekati Ken panca dan beberapa murid sekte Angin biru. Terlihat dedaunan yang dipegang oleh beberapa muridnya terisi air cukup banyak.
Dia mengambil sebuah ranting dan menancapkan didekat daun itu sebagai penanda.
"Pastikan kalian terus memegang daun itu tanpa bergeser sedikitpun, aku masih belum mengerti beberapa petunjuk lainnya," perintah Wardhana sambil mengamati sekitarnya.
"Baik ketua," balas mereka cepat.
"Pola misterinya sangat tidak biasa, jika batu kenteng songo hanya menggunakan sinar bulan sebagai penyampai pesan mengapa Glagah wangi membutuhkan sinar bulan dan matahari secara bersamaan?"
"Apa karena mungkin karena pembuat pesannya orang yang berbeda?" tanya Ken Panca.
"Seharusnya walau pembuatnya berbeda tetap akan ada sedikit persamaan tuan, seperti ilmu siasat perang, walau sampai saat ini telah mengalami perkembangan tetap akan mengikuti kitab perang Anyarirani yang menjadi pusat ilmu berperang semua orang.
Saat ini banyak kitab kitab perang yang sudah sangat berkembang tapi tetap akan ditemukan benang merah kearah kitab Anyarirani. Seharunya pesan inipun sama, ada beberapa pola yang dirubah untuk menyamarkannya tapi tidak akan terlalu melenceng tuan," jawab Wardhana.
Saat Wardhana sedang berfikir seorang murid yang berada cukup jauh darinya berteriak kencang.
"Ketua, sinar bulannya memantul."
"Memantul? bukankah letak danau purba itu ada di sini? apa aku salah?" Wardhana kembali berfikir, dia menoleh kearah genangan embun yang berada di dekatnya.
"Kelembaban tanahnya cukup, aku yakin disini danau purba itu tapi mengapa di sana yang memantulkan sinar bulan? atau jangan jangan," Wardhana kembali membuka gulungannya.
"dua pohon buah Maja atau yang lebih dikenal sebagai pohon kehidupan akan membuka gerbang suci saat matahari kembar saling menyinari.
jadi begitu, sejak awal dua matahari kembar adalah dua buah danau kembar yang saling memantulkan dan tidak ada hubungannya dengan sinar matahari," ucap Wardhana mulai mengerti.
"Dua matahari kembar adalah dua danau purba?" tanya Ken Panca bingung.
"Benar tapi sepertinya dua matahari kembar hanya jebakan, kata kuncinya ada pada Dua pohon maja. Sejak awal sinar bulan hanya akan memantul dari salah satu danau.
Mereka membuat pengecoh dengan menanam dua pohon maja di dekat danau itu sehingga sinar bulan tidak akan memantul akibat terhalang pohon Maja. Siapapun yang berusaha mencari gerbang suci maka akan mengarah ke danau ini yang tidak ada penghalang.
Dua pohon maja akan membuka gerbang suci itu adalah pesan untuk menyingkirkan dua pohon itu dari danau utama, aku yakin ada sesuatu di sana," Wardhana berjalan menuju danau utama bersama Ken Panca.
"Gali tanah ini dan cari sesuatu yang mirip dengan tuas atau batu atau apapun yang bukan alami," perintah Wardhana cepat.
"Baik ketua," ucap mereka bersamaan.
"Tuan, ada yang ingin aku bicarakan dengan anda," ucap Wardhana sedikit menjauh dari kerumunan anggota Angin biru yang sedang menggali.
"Aku menjadi ragu untuk membukanya tuan," ucap Wardhana setengah berbisik setelah agak menjauh.
"Ragu?" Ken Panca mengernyitkan dahinya.
"Tempat ini seolah dibuat bukan untuk dibuka kembali, semua pengecoh ini seolah menuntun kita untuk menjauh dari gerbang suci," jawab Wardhana.
"Menjauh dari gerbang suci? jika mereka tidak ingin tempat ini ditemukan kenapa membuat petunjuk di dua sekte yang mengarah kemari?" bukankah harusnya tanpa petunjuk apapun tempat ini akan terkubur selamanya?"
__ADS_1
"Bagaimana bila ini sebuah peringatan bahwa ada sesuatu yang terkubur di suatu tempat dan sangat berbahaya. Tak ada yang menjamin gerbang suci tidak akan ditemukan, dan mereka memberi peringatan jika gerbang suci tidak boleh dibuka?" balas Wardhana.
"Jika yang anda katakan benar tentang peringatan itu, bukankah kita harus menemukannya lebih dulu saat ini? anda mencurigai kemunculan Rakirawa berhubungan dengan Gerbang suci bukan?
Berarti dia tau tentang keberadaan gerbang itu, kita harus temukan pusaka itu lebih dulu dan jika sangat berbahaya, kita bisa menguburkannya ditempat lain," balas Ken Panca.
Wardhana mengangguk pelan, kemunculan Rakirawa memang membuatnya sedikit khawatir. Tidak ada yang tau apakah dia bekerja sendiri atau berkelompok.
"Anda tidak perlu khawatir, pusaka itu lebih baik jatuh ke tangan kita dari pada orang lain," ucap Ken Panca melanjutkan.
***
Ciha menyiram sebagian dinding danau yang terbuat dari batu cadas sebelum mengarahkan daun yang berisi air ke sinar bulan yang masuk kedalam danau kering itu.
Dia memutar tubuhnya dan mengarahkan sinar bulan itu ke setiap sudut dinding danau secara perlahan..
Ciha menghentikan gerakannya saat sinar bulan menyinari salah satu sudut dinding, walau samar terlihat sebuah tulisan di batu itu.
"Tolong pegang air ini dan tetap arahkan sinar bulan ke dinding itu," pinta Ciha pada Candrakurama.
Ciha berjalan mendekati dinding danau yang terkena sinar bulan dan menyiram kembali untuk memperjelas tulisannya.
"Pagebluk lampor jauh lebih mematikan dari jurus pedang apapun, lebih tajam dari pusaka yang ada di dunia. Tubuhmu akan terasa panas yang menyengat di kepala seperti terbakar, matamu akan memerah sebelum mengeluarkan darah. Nafasmu akan terasa sesak sebelum kau mati perlahan.
Kami sepuluh pendekar menyegelnya di sebuah gunung yang dikeliling lembah yang sangat dalam bersama semua yang harus kami korbankan. Membunuh demi menyelamatkan nyawa orang lain membuat kami gila, dan itulah awal kesalahan terbesar kami.
Kami sudah bersepakat untuk tidak memberikan petunjuk apapun mengenai telak Pagebluk lampor dikurung sebelum kemunculan orang itu. Dia membunuh kami satu persatu tanpa ampun dan berusaha mencari tempat kami menyegel pagebluk lampor dan melepaskannya.
Awalnya aku tak mengerti mengapa dia begitu terobsesi dengan kami, namun perlahan akhirnya aku mengerti jika semua ini karena dendam. Salah satu orang yang kami segel bersama pagebluk lampor adalah adik kesayangannya. Aku tidak tau apakah mengorbankan seratus orang demi jutaan orang adalah tindakan yang dibenarkan namun apa yang kami lakukan saat itu adalah jalan terbaik untuk menghindari kemusnahan di Nuswantoro.
*Aku adalah satu satunya orang yang selamat karena ditolong oleh dua pendekar dunia persilatan. Si**apapun yang membaca pesan ini hentikan dia dan jaga agar gunung itu tidak terbuka* atau Pagebluk lampor akan memusnahkan semuanya."
Ciha menahan nafas sejenak, dia benar benar tidak menyangka dengan apa yang dibacanya.
"Sekuat itukah pusaka Pagebluk Lampor sampai bisa memusnahkan Nuswantoro? tanya Candrakurama pelan.
Kata kata ini sepertinya menunjukkan suatu penyakit yang mewabah saat itu. Kita harus segera memberi tahu tuan Wardhana jika membuka gerbang suci adalah suatu kesalahan," ucap Ciha pelan.
"Apakah "dia" yang dimaksud pesan ini masih hidup?" tanya Candrakurama.
"Aku tidak tau namun dendam kadang bisa membuat orang melakukan apa saja. Ayo kita pergi dan temui tuan Wardhana untuk memberitahukan hal ini," jawab Ciha sambil melompat naik diikuti Candrakurama.
Namun betapa terkejutnya mereka berdua saat melihat Wulan dan Mentari mematung tak bergerak.
"Berhati hatilah dengan bayangan kalian, dia pengguna segel bayangan," teriak Mentari.
"Dia?" Candrakurama menarik tubuh Ciha Menjauh sambil memperhatikan sekitarnya namun tiba tiba dua bayangan melesat cepat dan mengunci bayangan mereka.
"Tak ada yang bisa lepas dari segel bayanganku," Rakiti muncul dari balik pohon sambil tersenyum dingin.
"Gawat, tubuhku tak bisa bergerak," umpat Candrakurama dalam hati.
"Kuharap kalian tidak menyimpan dendam pada kami karena sebenarnya musuh kita sama, hanya pusaka itu yang mampu menghentikan Lakeswara," ucap Rakiti sambil melangkah mendekati Ciha.
"Apa ada yang ingin kau katakan padaku tentang danau itu?" tanya Rakiti pada Ciha.
"Kau melakukan kesalahan besar jika membuka gerbang suci, Pagebluk lampor bukan sebuah pusaka, apa yang dikubur di dalam gerbang suci itu adalah sebuah penyakit mematikan yang bisa memusnahkan kita semua," jawab Ciha.
"Penyakit? apa kau ingin membohongiku?" balas Rakiti sinis.
"Aku tidak berbohong, semua yang kukatakan sesuai dengan pesan tersembunyi itu," jawab Ciha cepat.
Rakiti menatap tajam Ciha sebelum tertawa keras.
"Sepertinya kau harus kupaksa bicara," Rakiti berjalan mendekati Mentari sambil mencabut pedangnya.
"Katakan apa yang kau temukan di danau itu atau aku akan memenggal kepala gadis ini," ancam Rakiti.
__ADS_1
"Aku sudah mengatakan semuanya, Pagebluk Lampor bukan pusaka tapi wabah penyakit, apa kau tidak mendengarku? jika memang kau ingin membunuh seseorang maka bunuh lah aku dan jauhi nyonya selir," jawab Ciha.
"Kau pikir aku takut dengan ancamanmu? penggal saja kepalaku!" teriak Mentari pada Rakiti.
Rakiti menoleh kearah Mentari.sambil tersenyum.
"Sejak awal melihatmu aku sudah tau jika kau adalah gadis yang berani tapi itu tak mengubah apapun, aku akan melakukan apa saja untuk membangkitkan Pagebluk Lampor," Rakiti mengalungkan pedangnya di leher Mentari.
"Katakan padaku apa yang kau temukan di danau itu!" teriak Rakiti pada Ciha.
"Jika aku menjadi dirimu, aku tak akan melakukan itu. Dia adalah selir kesayangan Sabrang, anak itu akan membunuhmu jika kau menyentuhnya," Wulan mencoba mengulur waktu, dia sedang berusaha mengalirkan tenaga dalam untuk menekan segel bayangan.
"Jika aku bisa membunuh Lakeswara kalian tak perlu repot membunuhku, aku akan membunuh diriku sendiri. Hal yang paling penting saat ini adalah melenyapkan Lakeswara dan menyelamatkan dunia persilatan," balas Rakiti pelan.
"Ada yang bergerak mendekat, beri aku waktu untuk menekan segel ini," ucap Siren dalam pikiran Mentari.
"Apakah Yang mulia?" tanya Mentari.
"Tidak, aku tidak mengenali energinya, tapi satu yang pasti dia bukan pendekar sembarangan," balas Siren.
"Jika bukan Yang mulia, lalu siapa?" ucap Mentari bingung.
"Tolong lepaskan nyonya selir, jika kau tidak percaya padaku, akan kutunjukan pesan rahasia itu, kau bisa membacanya sendiri," ucap Ciha.
"Tidak, aku sudah sangat mengenalmu, kau bisa melakukan apa saja untuk menipuku. Kesabaranku sudah mulai habis, katakan padaku apa yang kau temukan di danau itu," balas Rakiti.
"Aku sudah mengatakan semuanya! apalagi yang harus kukatakan!" balas Ciha.
"Kau memang keras kepala Ciha," Rakiti menarik pedangnya dan mengayunkan ke leher Mentari.
"Nyonya selir!" teriak Ciha dan Candrakurma bersamaan.
"Mati kau!"
"Sial sedikit lagi," umpat Siren kesal, dia terus berusaha menekan segel bayangan untuk melepaskan tubuh Mentari.
Candrakurama langsung bergerak setelah berhasil lepas dari segel bayangan.
"Sial tak sempat," ucap Candrakurama saat melihat pedang Rakiti sudah hampir menyentuh Mentari.
"Lancang sekali kau berani membunuh selir Malwageni," seorang wanita muncul tiba tiba dan menangkis pedang Rakiti.
"Sejak kapan?" Rakiti melompat mundur untuk menghindari serangan berikutnya namun gerakan wanita itu lebih cepat, dia menarik pedang Rakiti dan melepaskan tapak es utara.
Tubuh Rakiti terpental beberapa langkah sebelum sebagian tubuhnya membeku.
"Jurus pedang penghancur Naga," Candrakurama muncul didekat Rakiti dan mengayunkan pedangnya.
Rakiti yang tak bisa bergerak hanya bisa pasrah menerima serangan Candrakurama. Tubuhnya kembali terpental sebelum menghantam pepohonan.
"Tapak es utara?" wajah Rakiti berubah seketika, dia melepaskan aura dari tubuhnya untuk menghancurkan bongkahan es yang menyelimuti tubuhnya.
"Akan kubunuh kalian!" teriak Rakiti.
Semua terlihat kagum dengan tenaga dalam yang dimiliki wanita itu, tak banyak pendekar wanita yang memiliki tenaga dalam begitu besar.
"Apa kau benar selir Malwageni?" tanya wanita itu sambil menatap tajam Mentari.
Mentari tampak bingung mendapat pertanyaan dari wanita yang tidak dikenalnya itu.
Mentari mencoba mengingat wajah cantik yang ada dihadapannya namun tak berhasil, dia benar benar tidak mengenali pendekar itu.
"Siapa anda sebenarnya?" tanya Mentari hati hati.
"Wajar kau tak mengenaliku karena aku sudah menghilang cukup lama bahkan dianggap sudah mati. Aku adalah Sekar Pitaloka, ibu dari rajamu," ucap wanita itu sesaat sebelum melesat cepat menyambut serangan Rakiti.
"Sekar Pitaloka?" Mentari tersentak kaget.
__ADS_1