
Kembalinya Sabrang ke keraton kali ini mengundang perhatian banyak orang, selain karena Wardhana menyiapkan penyambutan kembalinya Mentari, mereka semua menantikan keputusan Sabrang apakah akan menyerang Saung Galah atau tidak.
Walaupun Wardhana telah merencanakan semuanya dengan sangat detai namun menyerang Saung Galah bukan tanpa resiko.
Korban berjatuhan dari kedua belah pihak jelas tidak sedikit, bagi Malwageni yang saat ini juga sedang berhadapan dengan Masalembo jelas harus berhitung.
Keputusan Sabrang kali ini akan sangat bergantung dengan situasi yang dihadapinya mengingat Masalembo juga mulai bergerak.
Sabrang tampak berjalan sambil menggenggam lengan Mentari erat, dia seolah mengirim pesan untuk tidak menyentuhnya lagi.
Semua terdiam termasuk Wardhana, dia sudah paham pesan apa yang disampaikan Sabrang pada semua yang menyambutnya.
"Selamat datang kembali Yang Mulia, Nyonya selir. Maaf kejadian saat itu hamba tidak berada ditempat. Akan hamba pastikan tak akan terulang kembali," sapa Wardhana sopan.
Mentari menggeleng pelan, "Bukan anda yang salah paman, maaf aku merepotkan kalian semua," balas Mentari ramah.
"Paman, aku ingin mendengar semua yang sudah paman temukan mengenai masalah ini. Ikut denganku," Sabrang melepas genggaman tangan Mentari dan mengelus rambut wanita itu.
"Pergilah ke paviliun ratu, temui Dewi dan ceritakan semua, kudengar dia sangat khawatir padamu," ucap Sabrang.
"Baik Yang Mulia, maaf merepotkan kalian semua," Mentari kembali meminta maaf.
Sabrang mengangguk sesaat sebelum melangkah pergi diikuti Wardhana dan Arung.
"Silakan nyonya, hamba akan mengantar anda menuju paviliun ratu," seorang dayang menundukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Aku tidak melihat Airin? apa dia sedang tidak bertugas?" tanya Mentari bingung.
Wajah dayang itu berubah seketika, dia terdiam beberapa saat.
"Mengenai itu...," dayang itu tampak bingung harus menjawab apa.
"Apa terjadi sesuatu padanya?" wajah Mentari menjadi khawatir, dia tidak mengetahui jika Airin terlibat dalam pengusirannya dari istana.
"Nona Airin ditahan di ruang tahanan kerajaan nona," jawab dayang itu.
"Ditahan? apa terjadi sesuatu? jawab aku!" suara Mentari sedikit meninggi.
***
"Saung Galah terlibat?" Sabrang tampak mengepalkan tangannya menahan amarah.
"Benar Yang mulia, hamba sudah menangkap semua pengkhianat dan pengakuan mereka semua terarah pada Jaladara. Hamba sudah menutup semua akses perbatasan dengan Saung Galah sebagai bentuk protes Malwageni atas tindakan mereka," jawab Wardhana pelan.
"Apa yang sebenarnya mereka inginkan? aku tak pernah sedikitpun mengusik mereka," ucap Sabrang kesal.
"Sama seperti Majasari, mereka menginginkan wilayah kekuasaan Malwageni. Hamba sudah mempersiapkan semuanya untuk menyerang mereka Yang mulia, kini keputusan ada di tangan anda," ujar Wardhana pelan.
Sabrang menarik nafasnya panjang, dia memejamkan matanya sesaat sebelum menjawab Wardhana.
"Lakeswara telah bangkit paman, sangat beresiko untuk berperang saat ini," jawab Sabrang.
"Lakeswara? bukankah sampai saat ini tubuh para pemimpin dunia masih membeku? tanpa jamur emas yang ada pada anda mereka tak mungkin bisa bangkit?"
"Lawan yang kita hadapi bukan pendekar biasa paman, aku tidak tau bagaimana dia bisa bangkit namun aku memang merasakan kekuatannya. Kekuatan yang jauh lebih besar dariku, kekuatan yang sama sekali belum pernah kurasakan selama bertarung dengan para pendekar hebat selama ini," jawab Sabrang.
Wardhana terdiam, dia sangat mengetahui seberapa besar kekuatan Sabrang saat ini. Jika ada yang jauh lebih kuat darinya hanya para pemimpin dunia yang mampu melakukannya.
"Mengenai masalah ini, ada yang ingin hamba sampaikan Yang mulia," ucap Wardhana tiba tiba.
__ADS_1
"Apa paman menemukan sesuatu?" tanya Sabrang penasaran.
"Ini mengenai pesan Yang mulia Arya Dwipa."
"Pesan Ayah?" Sabrang mengernyitkan dahinya.
Wardhana kemudian menceritakan tentang pesan Arya Dwipa yang tersembunyi di pedangnya, juga mengenai kemungkinan membangkitkan legenda Dewa Api.
"Dewa api? aku belum pernah mendengarnya, bahkan Naga api tak bicara apapun padaku," ucap Sabrang bingung.
"Lupakan tentang Dewa api, kau tak akan mampu berurusan dengannya," ucap Anom tiba tiba.
"Kau mengetahui tentang Dewa api? mengapa kau diam selama ini?" balas Sabrang sedikit kesal.
"Lupakan Dewa api, kita bisa cari cara lain untuk menghadapi Lakeswara," jawab Anom.
"Naga Api aku bicara padamu! katakan yang sebenarnya," bentak Sabrang.
"Apa yang dikatakan Anom benar, lupakan tentang kekuatanku yang terkurung di suatu tempat. Saat ini pikirkan saja cara untuk terus meningkatkan tenaga dalammu," jawab Naga Api.
"Katakan yang sebenarnya, seberapa besar kekuatanmu?" tanya Sabrang pelan.
"Sudah kukatakan...," belum sempat Naga Api menjawab, Sabrang sudah memotong kembali.
"Katakan yang sebenarnya padaku, aku adalah tuanmu!" bentak Sabrang.
"Kau akan menyesalinya kelak, seluruh orang akan terbunuh olehmu jika kau memaksa membangkitkan seluruh kekuatanku."
"Katakan," perintah Sabrang kembali.
"Aku tercipta dari seluruh aura jahat yang ada di dunia ini, salah satunya adalah energi Banaspati yang tersegel di beberapa penjuru dunia. Sama seperti dirimu aku mempunyai sisi gelap karena tak semua yang ku serap adalah energi jahat.
Aku hampir menghancurkan dunia andai lima pertapa sakti tidak menghentikan dan menyegel semua kekuatanku. Saat Ken Panca membuat pusaka Naga Api, dia hanya menarik sedikit kekuatanku.
Sabrang tertawa mengejek setelah mendengar ucapan Naga Api.
"Apa yang kau tertawakan bodoh?"
"Apa kau lupa dengan apa yang kukatakan di air terjun lembah pelangi? Kau menjadi lemah karena keraguanmu," jawab Sabrang.
"Kau memang bodoh! saat itu dan kali ini berbeda, jika pun kau mampu menaklukkannya apa masih berguna? tak ada pusaka atau tubuh manusia yang dapat menampung kekuatanku," umpat Naga Api.
"Aku sudah mengerti garis besarnya paman, apa ayah memiliki cara untuk mengendalikannya?" tanya Sabrang pada Wardhana.
"Si bodoh ini tak mendengarkan ucapanku," umpat Naga Api.
"Kau benar benat tidak mengenali tuanmu Naga Api, tak ada sedikitpun keraguan di sorot matanya. Jika kau tidak mempercayainya maka pergilah, biarkan dia menjadi tuanku," ejek Megantara.
"Diam kau tua bangka! kau tidak tau apapun mengenai kekuatanku," balas Naga Api.
"Sisi gelap adalah dirimu sendiri dalam bentuk kegelapan. Sama seperti manusia, iblis sepertimu memiliki dua sisi, namun satu yang harus kau ketahui. Menjadi jahat atau baik itu tergantung dirimu sendiri, jika kau bisa kalah oleh sisi gelapmu maka kau memang lemah!
Tak bisa dikendalikannya kekuatanmu karena terbentuk dari energi jahat yang ada di seluruh dunia hanya sebuah alasan atas kelemahanmu, selama kau kuat harusnya kau bisa mengendalikan semuanya. Sangat disayangkan anak ini memilih pusaka lemah sepertimu," ejek Megantara.
"Kau!" Naga Api terlihat menahan amarahnya.
"Hanya ada satu cara Yang mulia, namun aku tidak yakin akan berhasil," jawab Wardhana.
"Katakan paman?"
__ADS_1
"Dimensi ruang dan waktu, hanya ruang dimensi yang bisa menekan separuh kekuatan Dewa Api namun kita hanya mempunyai waktu satu detik untuk mengurungnya. Kekuatannya yang sangat besar akan lepas jika lebih dari itu dan tak ada yang mampu menghentikannya," jawab Wardhana.
"Satu detik? mataku membutuhkan waktu lebih dari itu untuk menghisap seseorang masuk keruang waktuku," jawab Sabrang.
"Itu yang menjadi masalah Yang mulia, namun aku akan mencoba mencari cara untuk mengatasi itu," jawab Wardhana pelan.
Sabrang mengangguk pelan, dia tak menyangka jika energi Naga Api yang selama ini ada ditubuhnya hanya sebagian kecil. Dia tidak bisa membayangkan seberapa kekuatan sebenarnya Naga Api.
"Lalu bagaimana cara membangkitkan kekuatanmu?" tanya Sabrang pada Naga Api.
"Untuk terakhir kalinya ku peringatkan padamu, lupakan kekuatanku," jawab Naga Api.
"Bagaimana caranya?" tanya Sabrang kembali.
"Kau!" Naga Api menggeleng pelan.
"Jika kau dan aku tak mampu mengendalikannya, bagaimana jika kita berdua mencobanya? bukankah dulu kau pun sama tak bisa ku kendalikan? tak ada orang yang paling kupercaya selain ayah, jika dia mengatakannya maka dia yakin aku mampu. Katakanlah Naga Api, dan mari kita coba," jawab Sabrang.
"Perjanjian darah, itulah yang bisa membangkitkan seluruh kekuatanku."
"Perjanjian darah di gua kabut? bukankah gua itu sudah hancur bersama Dieng?"
"Gua kabut Dieng hanya tiruan, Ken Panca membuat gua itu untuk mengalihkan semua orang yang berusaha membangkitkan ku. Gua kabut berada di sisi gelap alam semesta yang kau datangi kemarin," jawab Naga Api.
"Begitu ya, kita hanya perlu menunggu paman Wardhana menemukan caranya," ucap Sabrang dalam pikirannya.
"Kau benar benar gila, aku sudah mencoba memperingatkan mu nak. Apa kau ingat jika sampai saat ini aku tidak pernah membuat perjanjian darah dengan tuanku? itulah alasanku sebenarnya. Kekuatanku hanya akan menjadi bencana jika tidak bisa dikendalikan, bahkan mungkin jauh lebih mengerikan dari leluhur mu."
"Jika demikian, bantu aku mengendalikan semua kekuatanku. Kau pernah membantuku menaklukan sisi gelapku, jadi anggap aja kali ini aku membantumu," jawab Naga Api.
"Apa mungkin dia adalah orang yang aku tunggu selama ini, kekuatanku tidak bisa dikurung selamanya, cepat atau lambat segel itu akan melemah. Mungkin si bodoh ini orangnya yang mampu membantuku," ucap Naga Api dalam hati.
***
Ken Panca memejamkan matanya sambil menggenggam pedang, terlihat keraguan di wajahnya.
"Kau terlalu pengecut Panca, sebagai pencipta pusaka Naga api, keberanianmu sungguh mengecewakan," sebuah suara mengejutkan Ken Panca.
"Naga Api, suara menyebalkan yang tak ingin kudengar lagi, apa kau datang untuk mengejekku?" ucap Ken Panca saat kobaran api kecil muncul dihadapannya.
"Lama tidak bertemu Panca," balas Naga Api sambil terkekeh.
"Bagaimana kau tau aku masih hidup?"
"Kau adalah penciptaku, tak mungkin aku tak bisa merasakan energi mu. Kau sangat pintar dengan bersembunyi ditempat ini, sisi gelap alam semesta membuatku tak bisa merasakan energimu. Jika kemarin aku tidak masuk ketempat ini mungkin sampai saat ini aku sudah menganggapmu mati," jawab Naga Api.
"Kau sudah memiliki tuan, untuk apa datang menemui ku?"
"Aku sudah memutuskan untuk menarik semua energiku," balas Naga Api cepat.
"Apa kau sudah gila? kau yang dulu memperingatkanku untuk tidak membangkitkan semua kekuatanmu namun kini kau ingin membangkitkan semuanya?" ucap Ken Panca kesal.
"Semua bisa berubah Panca, termasuk dirimu yang kini jauh lebih penakut. Kau dulu pernah mengatakan padaku untuk percaya pada tuanku dan kini aku percaya pada keturunanmu.
Aku sudah memutuskan semuanya, tolong bantu aku, hanya pedang itu yang dapat menahan energiku," ucap Naga Api pelan.
"Pedang itu sudah lama aku buang, sebaiknya hentikan semuanya sebelum terlambat."
"Kau buang? apa kau ingin aku percaya jika pedang yang kau buat dari batu langit itu dibuang? aku tau kau mempersiapkan pedang itu untuk kebangkitanku. Panca, percayalah padaku keturunanmu itulah yang selama ini aku tunggu," jawab Naga Api.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Vote