
Mentari tiba tiba terbatuk dan muntah darah saat mencoba memisahkan energi Siren menggunakan Cakra Manggilingan. Wajahnya tampak meringis menahan sakit di sekujur tubuhnya.
"Apa ada yang terlewati?" umpat Mentari dalam hati.
"Aku tidak tau ajian apa yang kau gunakan namun jika diteruskan kau akan terluka parah. Kau bukan berusaha memisahkan energi milikku tapi justru membenturkan dengan tenaga dalammu sendiri," balas Siren pelan.
Mentari tidak menjawab ucapan Siren, dia terus berusaha menggunakan Cakra Manggilingan walau hasilnya sama, dua energi di tubuhnya saling berbenturan yang membuatnya terluka dalam.
"Ibu ratu bertahanlah," ucap Mentari panik saat melihat wajah Tungga Dewi sudah pucat.
"Yang mulia, apa yang harus aku lakukan? mengapa aku tidak bisa menggunakan ajian ini."
Saat Mentari terus berusaha menggunakan ajian Cakra Manggilingan, Tungga Dewi terlihat mulai mencapai batasnya. Energi murni yang mengalir kedalam tubuh Sekar Pitaloka perlahan berkurang.
Wajah Sekar Pitaloka yang awalnya mulai membaik, terlihat mulai memucat kembali. Darah segar mengalir dari hidungnya, dan bibirnya mulai membiru.
"Tari, cepatlah, aku sudah hampir mencapai batas," ucap Tungga Dewi terbata bata.
Mentari kembali batuk darah setelah mencoba menarik energi Siren, wajahnya pun tak jauh beda dari Tungga Dewi yang terlihat pucat.
"Sial! apa yang harus aku lakukan?" Mentari memejamkan matanya kembali, dia tidak menghiraukan peringatan Siren yang memintanya berhenti.
Namun berapa kali dia mencoba menggunakan ajian itu, hasilnya selalu gagal.
"Siren, kau pernah mengatakan bisa berkomunikasi dengan Naga Api bukan?" tanya Mentari tiba tiba.
"Aku memang bisa berkomunikasi dengannya tapi aku membutuhkan energi milikmu dalam jumlah besar untuk mendeteksi Naga Api dan berbicara dengannya," jawab Siren.
"Lakukan, ambilah tenaga dalam milikku berapapun yang kau butuhkan, aku harus bicara pada Yang mulia," jawab Mentari cepat.
"Apa kau sudah gila? dengan kondisi tubuhmu yang terluka akibat ajian aneh itu, kau bisa semakin terluka dan bahkan tewas seketika," balas Siren.
"Aku tidak punya banyak waktu, lakukan apa yang kuminta!" bentak Mentari.
Siren terdiam sambil menggeleng pelan, dia benar benar tidak mengerti dengan sikap Mentari yang rela mengorbankan diri demi seseorang yang sudah sekarat dan hampir tewas.
"Baiklah, akan aku lakukan. Aku sudah berusaha memperingatkan mu tapi kau memaksa," Siren mulai menyerap energi kehidupan Mentari.
Jerit kesakitan Mentari yang sangat menyayat terdengar keras saat energi Siren keluar dari tubuhnya dan melesat cepat kearah jalur utama.
Tubuh Mentari terlihat goyah dan hampir roboh ketanah andai dia tidak membekukan tubuhnya sendiri dengan jurus es untuk menahan tetap dalam posisi duduk.
"Aku harus kuat, kumohon cepatlah Siren," ucapnya lirih.
"Dasar bodoh, apa yang sebenarnya dia pikirkan," umpat Siren yang terus melesat cepat.
"Naga Api?" Siren mengernyitkan dahinya saat melihat beberapa orang bergerak cepat diantara pepohonan.
"Naga Api!" teriak Siren yang langsung masuk kedalam tubuh Sabrang yang sedang melompat.
"Iblis betina, apa yang kau lakukan di saat seperti ini? jika kau masih ingin bertarung denganku akan aku kabulkan setelah semua masalah selesai," Naga Api melepaskan energinya untuk menekan Siren yang tiba tiba masuk ke tubuh Sabrang.
"Tenanglah bodoh, aku datang diperintah oleh tuanku, dia ingin bicara dengan tuanmu," balas Siren kesal.
"Dikirim tuanmu? sejak kapan kau menganggap Mentari tuan? kau tak akan bisa menipuku," Naga Api membentuk sebuah pedang dari kobaran api dan bersiap menyerang Siren.
"Hentikan Naga Api," teriak Sabrang sambil menarik Naga Api mundur dengan ajian inti Lebur saketi miliknya.
Sabrang tiba tiba menghentikan langkahnya di sebuah pohon besar.
"Emmy pergilah bersama mereka, ada yang harus aku lakukan lebih dulu, aku akan menyusul," ucap Sabrang pada Emmy.
Emmy tampak bingung namun melihat wajah Sabrang yang berubah serius dia mengangguk pelan dan kembali bergerak.
"Katakan, apa yang ingin disampaikan Tari padaku," ujar Sabrang dalam pikirannya.
"Saat ini Ibumu sedang terluka parah dan satu satunya cara untuk menyembuhkannya menggunakan Cakra Manggilingan untuk menarik energiku namun beberapa kali dia mencoba selalu gagal.
Dia memintaku untuk berkomunikasi denganmu dan membimbingnya menggunakan ajian itu," jawab Siren Cepat.
"Ibu terluka? cepat sambungkan aku dengan Tari," balas Sabrang panik.
"Naga api," ucap Siren sambil mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Aku tau," Naga Api menyambut uluran tangan Siren dan mengalirkan energinya.
"Tari?" panggil Sabrang lembut.
Mentari membuka mata dengan sisa sisa tenaganya.
"Yang mulia, ibu ratu... maafkan hamba," balas Mentari pelan.
"Tenanglah, kau tidak akan bisa membantu ibu jika panik. Aku akan membimbing mu menggunakan ajian itu, dengarkan baik baik," ucap Sabrang.
"Cakra Manggilingan adalah ajian untuk menarik energi tersembunyi dalam tubuhmu. Aku ingin kau memejamkan matamu dan menajamkan semua panca indra. Rasakan perlahan energi yang mengalir di dalam tubuhmu, kau akan menemukan perbedaan antara energi tubuhmu dan Tongkat cahaya putih. Pusatkan pikiranmu di satu titik dan kau akan mulai merasakannya," ucap Sabrang.
Mentari mengikuti semua perintah Sabrang, dia mengalirkan sisa sisa tenaga dalamnya untuk menutup telinganya agar suara lain tidak terdengar.
Perlahan namun pasti, Mentari mulai merasakan dua energi yang saling bertabrakan di dalam tubuhnya.
Dia mencoba menarik energi yang terasa hangat dan mengalirkan ke tangannya.
"Tunggu! jika kau menarik sekarang maka energi itu akan menolak dan itu bisa membuat tubrukan tenaga dalam di tubuhmu.
Tarik perlahan tenaga dalammu untuk memisahkannya sebelum kau menarik energi Tongkat cahaya putih. Kau harus memastikan dua energi itu sudah terpisah sebelum menarik energi Siren."
Mentari mengangguk pelan, kini dia mengerti mengapa dua energi dalam tubuhnya saling berbenturan saat dia menggunakan ajian itu.
Tungga Dewi membuka matanya saat merasakan energi Mentari perlahan meluap, dia sempat melihat tubuh Mentari diselimuti aura putih sebelum pandangannya buram.
"Maafkan aku Ibu ratu, aku sudah mencapai batas...," Tubuh Tungga Dewi roboh ketanah.
Sementara itu Wajah Sekar Pitaloka makin pucat, guratan guratan biru menghiasi wajahnya. Darah yang menetes dari hidungnya mulai membeku dan denyut kehidupannya perlahan menghilang.
Mata Sekar Pitaloka tiba tiba terbuka, dia mengernyitkan dahinya saat menemukan dirinya berada di tempat yang serba hitam.
"Apakah ini alam kematian? sepertinya tugasku sudah selesai. Yang mulia, maafkan aku yang tidak bisa mendampingi anak kita lagi. Aku sempat berfikir untuk menggendong cucu, namun sepertinya tidak mungkin terjadi," ucap Sekar pitaloka lirih.
Sebuah gerbang terbuka perlahan di salah satu sisi ruangan. Sekar perlahan berjalan mendekati gerbang itu, namun saat dia hampir sampai, tubuhnya tiba tiba diselimuti aura putih.
"Energi ini?" Sekar Pitaloka tampak bingung sebelum tubuhnya menghilang.
"Tari?" saat Sekar Pitaloka berusaha bergerak, tubuhnya seolah melawan. Sekuat apapun dia menggerakkan tubuhnya tetap tidak berhasil.
Sekar pitaloka merasakan seluruh tubuhnya lemah dan tak berdaya.
"Tari...," Sekar Pitaloka hanya mampu melihat wajah pucat Mentari yang terus mengeluarkan darah dari hidungnya.
"Yang mulia, hamba berhasil, hamba...," Mentari tak bisa melanjutkan ucapannya, tubuhnya mulai lemas bersamaan dengan hilangnya kesadarannya, dia mematung dengan posisi terduduk dan kepala menunduk.
"Tari...," Air mata mulai menetes dari mata Sekar Pitaloka, dia hanya mampu melihat tubuh selir kesayangan anaknya itu kaku dalam bongkahan es.
Wajah Sabrang berubah seketika saat Mentari tak membalas panggilannya.
"Tari?" teriak Sabrang.
"Naga Api? apa yang terjadi?" tanya Sabrang dalam pikirannya.
"Aku tidak tau, aku tidak bisa lagi merasakan energi Siren maupun energi Mentari, apa mungkin?" Naga Api tidak melanjutkan ucapannya saat Sabrang langsung bergerak kearah Lembah Penghisap Sukma.
Namun baru beberapa langkah Sabrang berlari, suara ledakan terdengar dari arah air terjun yang menjadi tujuan mereka.
Sabrang menghentikan langkahnya, dia tampak bingung harus berbuat apa. Dia sadar sedang terjadi sesuatu pada Mentari namun dia juga bertanggung jawab menghentikan Guntur Api yang berusaha melepaskan Pagebluk Lampor.
"Naga Api, apa kau bisa mengirim sedikit energi mu ke tubuh Tari?" tanya Sabrang tiba tiba.
"Aku tidak yakin tubuhnya mampu menerima energi Dewa Api," jawab Naga Api cepat.
"Aku tidak punya pilihan, jika Siren mampu menyembuhkan ibu, berarti dia juga bisa membantu Tari. Saat ini aku tidak merasakan energi kehidupan Tari tapi aku masih merasakan energi Tongkat Cahaya Putih yang terus melemah.
Bantu Siren memulihkan energinya dan pastikan kau membawa Tari kembali," ucap Sabrang sambil menarik sedikit energi Naga Api ditangannya.
"Pergilah dan jangan kecewakan aku," Sabrang melempar energi Naga Api sebelum bergerak kearah ledakan yang tadi didengarnya.
"Bertahanlah Tari, aku tak akan bisa membayangkan hidup tanpamu," ucap Sabrang dalam hati.
***
__ADS_1
"Gawat, aku tidak bisa lagi merasakan energi kehidupannya," Siren terlihat panik saat kembali masuk kedalam tubuh Mentari.
Siren mencoba mengalirkan energi untuk menyadarkan Mentari namun tak berhasil, energinya sudah terkuras akibat berkomunikasi dengan Naga Api.
Siren semakin melemah dengan hilangnya kesadaran Mentari karena pusaka sekuat apapun tetap membutuhkan media berupa manusia untuk memaksimalkan kekuatannya.
"Sial! bangunlah bodoh! sudah aku katakan kau bisa tewas jika nekat memintaku berkomunikasi dengan Naga Api," teriak Siren.
"Bergeraklah," Sekar Pitaloka yang dari tadi berusaha mengumpulkan energi murni mulai bisa bergerak perlahan. Dia mendekati Mentari dan memeriksa denyut nadinya.
Wajah Sekar Pitaloka berubah seketika saat tak merasakan denyut nadi gadis itu. Dia menjadi panik karena disaat bersamaan melihat Tungga Dewi juga tak sadarkan diri.
Sekar sebenarnya ingin mengalirkan energi murninya namun kondisi tubuhnya masih lemah setelah sadar. Luka dalamnya memang mulai pulih karena energi murni Siren namun Sekar membutuhkan waktu untuk mengembalikan tenaga dalamnya.
Sekar ingin berteriak meminta bantuan namun sekuat apapun berteriak, dia yakin tak akan ada yang mendengarnya karena mereka berada di dalam hutan.
Pasukan Malwageni sebagian sudah ditarik kembali ke keraton bersama para tawanan dan sebagian lagi sedang mengejar Jaladara.
Saat Sekar Pitaloka terlihat bingung, sebuah energi Api melesat dan langsung masuk ke tubuh Mentari.
Kobaran api mulai menyelimuti tubuh Mentari dan menghancurkan bongkahan es yang menyelimuti tubuh itu dengan cepat.
Tubuh Mentari perlahan melayang di udara seiring dengan kobaran api yang semakin membesar.
Sekar Pitaloka bergerak mundur sambil menyeret tubuh Tungga Dewi, wajahnya tampak lega karena dia tau api itu adalah Naga Api.
"Naga Api?" ucap Sekar Pitaloka pelan.
"Tongkat cahaya putih, untuk ukuran pusaka yang menurut cerita adalah pusaka dewa, kau terlalu lemah," ucap Naga Api mengejek.
"Diam kau bodoh, bukankah kau dikirim oleh tuanmu untuk membantuku?" balas Siren kesal.
"Kau pikir aku akan membantumu dengan percuma?" tanya Naga Api mengejek.
"Apa Naga Api mulai berkhianat dari tuannya?" jawab Siren cepat.
"Aku tak akan pernah berkhianat jika sudah memilih tuanku, bahkan jika dia mati aku pun akan menyegel diriku sendiri di sisi gelap alam semesta.
Sabrang hanya memintaku berusaha menyelamatkan selirnya dan jika aku mengatakan sudah berusaha apa dia akan marah padaku jika Mentari tak dapat diselamatkan?"
"Kau? tidak berniat menyelamatkannya sesuai permintaan tuanmu? apa yang kau rencanakan Naga Api?" tanya Siren kesal.
"Kau salah paham, aku akan melakukan apapun untuk menyelamatkan gadis itu namun aku tidak yakin akan membiarkanmu hidup jika kau tidak mengikuti permintaanku," jawab Naga Api.
"Kau berani mengancam ku?"
"Kekuatan Dewa api telah kembali padaku, aku tak perlu mengancam untuk membakarmu menjadi abu," ucap Naga Api sambil melepaskan auranya.
Siren tersentak kaget saat merasakan tekanan yang luar biasa, dia memperkirakan kekuatan Naga Api ratusan kali lebih kuat dari saat mereka bertemu di sisi gelap alam semesta.
"Apa yang kau inginkan sebenarnya? cepat katakan dan bantu aku menyelamatkannya," balas Siren terbata bata.
"Pusaka Pengilon kembar seharusnya ada dua namun Ken Panca memberikan satu pedang itu pada seseorang. Aku ingin kau mendeteksi di mana pusaka itu berada setelah Mentari pulih, hanya itu permintaanku," jawab Naga Api.
"Pengilon Kembar? apa yang sedang kau rencanakan sebenarnya? pusaka Pedang Naga Api dan satu pedang Pengilon kembar itu sepertinya sudah cukup untuk menjadi wadah Dewa api. Kau tak membutuhkan lagi pedang satunya bukan?"
"Aku akan mengatakannya saat kau menemukan pusaka itu, tapi satu yang pasti, pusaka itu akan membawa bencana di dunia persilatan kelak," balas Naga Api.
"Jangan jangan?" Siren mulai mengerti arah pembicaraan Sabrang.
"Benar, Penglihatan Mentari tentang seorang pendekar tua yang berdiri di pinggir jurang menggenggam sebuah pedang dengan tumpukkan mayat disekitarnya. (baca : Chapter 357 : Pertempuran di mulai)
Kau yang paling mengerti jika penglihatan Mentari tidak akan bohong karena itu adalah bisikan alam melalui Tongkat cahaya putih, kita harus menemukan pusaka itu," balas Naga Api.
"Mengapa tidak kau tanyakan langsung pada Ken Panca?"
"Apa kau pikir dia akan percaya jika hanya berdasarkan ramalan gadis muda? lagipula aku hanya ingin memastikan sesuatu bukan merebut pusaka itu."
Siren terdiam sesaat, dia merasakan energi kehidupan Mentari mulai hilang.
"Baik, bantu aku mengembalikan kekuatanku dan akan kutemukan pusaka itu untukmu," jawab Siren cepat.
"Dengan senang hati," jawab Naga Api.
__ADS_1