
"Apa kau bisa membacanya?" tanya Wardhana penasaran.
"Semoga tuan, Brahmi adalah aksara tertua di dunia ini tapi aku pernah mempelajarinya saat masih di sekte Bintang Langit," Ciha terlihat mengeja tulisan itu perlahan.
"Dendam lama akan membuatnya bangkit, kekejaman yang terjadi di Bukit menoreh membuat Mandala Rakyan yang merupakan pemuda baik hati berubah menjadi Iblis. Dia tidak benar benar tewas setelah dibunuh oleh murid kesayangannya karena menguasai ajian segel keabadian yang dipelajarinya dari kitab Sabdo Loji.
Beberapa tahun setelah pembantaian keji itu dan hilangnya kitab Sabdo loji dan pusaka Bilah Gelombang ciptaan Mandala, dunia persilatan mulai bergejolak. Bersama munculnya sekte kuil suci, Ilmu kanuragan pun ikut bermunculan dan para pendekar saling bersaing untuk menjadi yang terkuat. Aku adalah salah satu orang yang terobsesi dengan ilmu kanuragan Sabdo Loji.
Tapi semakin lama kemunculan ilmu kanuragan di dunia persilatan terasa aneh bagiku. Seseorang seperti sengaja menyebarkannya agar semua saling bermusuhan, dan itu semua sepertinya berhasil. Kelompok aliran mulai terbentuk, baik mereka yang mengaku aliran putih, hitam dan netral. Kami mulai saling membunuh satu sama lain, kedamaian yang dulu hilang seketika dan berganti dengan permusuhan antar aliran.
Hingga di suatu hari, aku menyadari jika sumber dari semua ilmu kanuragan itu adalah seorang pemuda yang sepertinya memiliki hubungan dengan Mandala. Dia berusaha membangkitkan kembali Mandala dan pusaka bilah gelombang. Kuciptakan Kitab pedang Sabdo palon untuk menghentikannya, dan setelah pertarungan selama beberapa hari, aku hanya mampu memusnahkan semua ilmu kanuragannya.
Pemuda itu memiliki tubuh abadi yang mungkin dia dapatkan dari kitab Sabdo Loji, Kitab Sabdo Palon ciptaan ku akan menjadi tandingan ilmu kanuragan miliknya, hentikan dia atau amarahnya akan menghancurkan semua yang ada di dunia," Ciha menarik nafasnya panjang sambil menatap Wardhana.
"Segel keabadian? bukankah ajian itu ciptaan Arjuna Tumerah?" tanya Rubah Putih bingung.
"Dalam kitab itu disebutkan jika Mandala berhasil dibunuh oleh murid kesayangannya, bagaimana jika murid itu adalah leluhur Lakeswara dan dua trah lainnya? itu bisa menjelaskan dari mana tiga trah besar Masalembo memiliki tubuh dan kemampuan istimewa," jawab Wardhana.
"Jadi menurutmu ini ada hubungannya dengan kemunculan tiga trah Masalembo?" tanya Wulan penasaran.
"Itu baru kemungkinan karena jarak antara Mandala dan Lakeswara sangat jauh tapi bukankah kita semua selalu bertanya tanya dari mana tiga trah itu memiliki kemampuan dan tubuh istimewa? Hubungan murid Mandala dengan tiga trah itu juga bisa menjelaskan bagaimana Arjuna bisa menciptakan jurus segel keabadian."
"Semua yang dikatakan tuan patih sangat masuk akal tapi yang belum kumengerti adalah hubungan pasukan kuil suci dengan keturunan Mandala, apakah mereka berkaitan atau Pasukan kuil suci hanya sekumpulan pendekar yang terobsesi dengan pedang bilah gelombang?" timpal Ciha bingung.
"Sepertinya masalah ini jauh lebih rumit dari yang aku perkirakan, Lakeswara jelas tidak mengetahui masalah ini karena semua catatan Masalembo yang kutemukan tidak pernah menyinggung Sabdo Loji dan Bilah Gelombang dan jika itu benar setelah kehancuran Guntur Api musuh kita tidak berkurang sama sekali," ucap Wardhana.
"Bukankah kita sudah terbiasa menghadapi banyak musuh seperti ini? Aku selalu percaya padamu, sekarang yang harus kita lakukan adalah mengurai masalah ini perlahan seperti yang kita lakukan pada Masalembo. Jika benar pusaka bilah gelombang itu ada berarti saat ini ada di suatu tempat," balas Rubah Putih.
"Biarlah Bilah gelombang itu terkurung selamanya di suatu tempat, saat ini yang terpenting adalah menyelidiki hubungan Pasukan Kuil suci Arkantara dengan masalah ini dan hancurnya suku hutan dalam," Wardhana tampak memegang keningnya, hilangnya Sabrang pasti akan sangat berpengaruh dengan rencana Wardhana kali ini, untungnya dia sudah bisa mengendalikan situasi Keraton sepenuhnya.
"Jadi kau sudah mengetahui dimana pusaka itu?" tanya Rubah Putih terkejut.
"Aku menemukan petunjuk pusaka Bilah gelombang secara tidak sengaja, kita akan membicarakan masalah ini lain kali. Aku akan menemui Gusti ratu untuk persiapan penobatan ratu Tungga Dewi, setelah semua selesai, aku ingin menyelidiki sekali lagi makam kuno yang ada di Puthuk Setumbu," jawab Wardhana pelan.
"Aku akan menemui guruku untuk mencari petunjuk tentang pembantaian di Bukit Menoreh, sepertinya beliau sedikit mengetahui masalah ini," Rubah Putih bangkit dari duduknya dan melangkah pergi.
***
Perjalanan menuju daratan Swarna Dwipa relatif lancar sejak kemunculan Sabrang, para perampok Elang Hitam terus mengurung diri dikamar setelah mengetahui kemampuan Sabrang.
Setelah beberapa hari berlayar, Daratan Swarna Dwipa yang terkenal hijau mulai terlihat.
"Perampok Elang Hitam!" teriak beberapa awak kapal saat melihat puluhan anggota Elang Hitam berdiri di pinggir dermaga.
__ADS_1
Mendengar keributan di dek kapal, Sabrang dan Emmy keluar kamar untuk memeriksanya, Dewanto dan beberapa pedang lainnya terlihat panik menyembunyikan barang dagangannya.
"Tuan, apa terjadi sesuatu?" tanya Emmy pada Dewanto.
"Para perampok Elang Hitam telah menunggu di daratan nyonya," jawab Dewanto pelan, dia memberi hormat pada Sabrang sebelum kembali menyembunyikan barang dagangannya.
"Perampok Elang Hitam?" Sabrang menoleh kearah Emmy meminta penjelasan.
Emmy kemudian menjelaskan tentang kelompok perampok Elang Hitam cukup ditakuti di Swarna Dwipa,
"Kita tidak mungkin selamanya berada di atas kapal seperti ini, aku akan mencoba memeriksanya," ucap Sabrang sambil melangkah ke dek kapal.
"Gawat, mereka tidak mengetahui kekuatan pemuda itu," ucap Wisesa dan tiga temannya yang melihat Sabrang dari kejauhan.
"Kakang, apa yang harus kita lakukan?" tanya Yasa pelan.
"Apa kau pikir kita bisa menghentikannya?" balas Wisesa kesal.
Sabrang yang sudah berada di dek kapal melihat puluhan orang berdiri sambil berteriak padanya dengan mengacungkan pedang.
"Kalian pikir bisa terus berada di atas kapal? cepat Sandarkan kapal itu sebelum kesabaran kami habis."
Suasana di atas kapal semakin riuh, beberapa awak kapal bahkan meminta Sabrang menjauh dari dek kapal.
"Tuan, sebaiknya anda menjauh," ucap salah satu awak kapal yang membawa pedang, mereka sepertinya siap melakukan perlawanan.
"Tenangkan mereka, aku akan mengurusnya," Sabrang tiba tiba melompat dari atas kapal dan tepat setelah kakinya menyentuh air laut, air disekitarnya langsung membeku.
"Nyonya, Yang mulia," ucap Dewanto yang sudah berada di dekat Emmy.
"Tenanglah tuan, saat ini yang ku khawatirkan bukan Yang mulia tapi para perampok itu," jawab Emmy tenang.
"Para perampok?" Dewanto tampak bingung dengan ucapan Emmy.
"Airnya membeku, lihat airnya membeku," teriak beberapa perampok yang mulai panik.
"Kalian beruntung bertemu denganku saat ini, aku tak lagi memiliki keinginan untuk membunuh. Sebaiknya kalian pergi sebelum aku berubah pikiran," Sabrang melangkah kearah daratan, setiap kakinya menyentuh air, semua membeku dengan cepat.
"Tuan, apa yang akan kita lakukan?" tanya salah satu perompak pada seorang pria yang sepertinya adalah pimpinan mereka.
"Apa kau ragu dengan kemampuanku? jurus tipuan itu tak akan membuatku takut," pria itu memberi tanda pada anggotanya untuk bersiap menyerang.
"Aku sudah memperingatkan, tapi kalian memaksaku," Sabrang tiba tiba menghilang dari pandangan dan muncul tepat dihadapan mereka.
__ADS_1
"Kecepatannya?" ucap salah satu anggota Elang hitam sebelum tubuhnya membeku.
Puluhan pendekar lain tersentak kaget, mereka sangat yakin Sabrang hanya menghilang beberapa detik, bagaimana dia sudah berada tepat didepan mereka.
"Serang," teriak mereka bersamaan.
"Pedang bukan sebagai alat pembunuh, orang seperti kalianlah yang membuatnya seolah haus darah, tapi aku tidak menyalahkan, karena aku pernah diposisi kalian," Sabrang membentuk perisai es disekitarnya, dia bergerak lincah menghindari setiap serangan mereka sambil sesekali menyerang balik.
Beberapa pedang yang berhasil ditangkap Sabrang langsung berubah menjadi abu, dia terus mendesak musuh diantara serpihan pedang yang sudah berubah menjadi abu.
Sesekali aura dari tubuhnya meluap untuk memperlambat gerakannya, dia menarik salah satu pendekar Elang Hitam sebelum melemparkannya kembali bersama serpihan es yang langsung membekukan mereka.
Para pendekar Elang Hitam yang sudah mengetahui kekuatan Sabrang tampak sedikit menyesal.
Perisai es yang berputar cepat mengikuti tubuhnya benar benar menyulitkan lawan mendekat. Sabrang terus menyerang dengan melempar serpihan serpihan es disekitarnya, dan setiap lawan yang terkena serangan itu langsung membeku seketika.
Hanya dalam belasan jurus saja, semua perampok Elang hitam sudah membeku.
"Dia kuat sekali," ucap pemimpin perampok sebelum tubuhnya membeku.
Dewanto dan para awak kapal hanya bisa menahan nafas melihat kekuatan raja Malwageni itu, mereka sering mendengar jika Sabrang adalah pendekar pilih tanding tapi tidak pernah menyangka jika sekuat itu.
"Ada yang berbeda pada Yang mulia, tak ada lagi hawa membunuh yang meluap dari tubuhnya tapi hilangnya hawa itu sepertinya membuat Yang Mulia semakin kuat," Emmy terus memperhatikan Sabrang.
Sabrang kemudian memberi tanda pada Emmy untuk menyandarkan kapal.
"Tuan, bisakah anda menyandarkan kapal sekarang?" tanya Emmy tiba tiba.
"Ba..baik nyonya," jawab awak kapal yang langsung berlari ke ruang kendali kapal.
"Kau semakin berkembang nak, hawa membunuh dalam tubuhmu memang menghilang namun itulah yang membuatmu menjadi sangat kuat, sepertinya pedang telah menyatu dengan hatimu," ucap Anom dalam pikirannya.
"Aku hanya merasa selama ini aku salah, pedang bukan untuk membunuh tapi jauh lebih dari itu, pedang mengajarkan ku untuk hidup dengan tidak memaksakan diri walau aku memiliki kemampuan setajam pedang," balas Sabrang pelan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Selamat siang para mahluk tidak laku, seperti janji saya hari ini akan ada satu chapter bonus untuk menemani malam penuh penyiksaan ini.
Bonus chapter akan meluncur malam hari, jadi sambil menunggu, lebih baik kalian makan dulu. CUKUP HATI KALIAN SAJA YANG KOSONG, LAMBUNGNYA JANGAN. Sulit membayangkan ada sebuah berita di koran dengan judul SEONGGOK MANUSIA DITEMUKAN TAK SADARKAN DIRI DIKAMAR, SETELAH DIPERIKSA, SELAIN HATINYA KOSONG, LAMBUNGNYA JUGA IKUT KOSONG.
Pantun terakhir dari saya....
Berakit rakit ke hulu, berenang renang ketepian.
__ADS_1
Umur udah tua kayak manusia jaman batu, kamu masih sendirian.
Jangan lupa VOTE