Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Penanda Waktu Raksasa


__ADS_3

"Aku sangat yakin tadi mendengar suara seperti benturan," ucap Ajidarma bingung, matanya tak berkedip menatap air danau yang begitu tenang.


"Mungkin hanya suara pepohonan yang tertiup angin tuan, jika memang benturan itu terjadi di bawah sana seharusnya air danau akan bergelombang terkena benturan," jawab Cokro pelan sambil memperhatikan sekitarnya.


"Aku pun mendengar suara itu dan aku yakin itu adalah tuan Wardhana, dimana dia bersembunyi?" ucap Cokro dalam hati.


"Apa kau tidak mendengarnya?" tanya Ajidarma bingung.


"Tidak tuan, hanya suara dedaunan yang tertiup angin yang kudengar. Ketua mengerahkan seluruh pendekar Kalang untuk menjaga kuil malam ini, aku yakin tak akan ada penyusup yang bisa masuk kesini tuan," jawab Cokro cepat.


Ajidarma kembali melemparkan pandangannya ke segala arah sebelum mengangguk pelan.


"Dudukkan aku kembali di batu itu, kalian boleh meninggalkanku sendiri, malam ini aku ingin tidur di sini," ucap Ajidarma pelan.


"Baik ketua, aku akan datang menjemput anda saat pagi tiba," jawab Cokro cepat.


Saat Cokro melangkah kembali kearah batu yang biasa digunakan Ajidarma untuk duduk, di sisi yang berlawanan, bongkahan es yang cukup besar menempel di dinding bangunan teras keempat kuil Khayangan.


Wardhana yang berdiri di atas bongkahan es itu tampak bernafas lega, andai Sabrang terlambat datang mungkin tubuhnya sudah jatuh ke danau dan menarik perhatian Ajidarma.


"Terima kasih Yang mulia, andai anda tidak datang tepat waktu..." ucap Wardhana pada Sabrang yang berada di sampingnya.


Dia masih mengingat dengan sangat jelas bagaimana kaki kanannya tergelincir yang membuat tubuhnya jatuh kebelakang. Wardhana sudah berusaha meraih apapun didekatnya untuk bertahan namun tidak berhasil.


Saat tubuhnya mulai terjatuh kebawah itulah, tiba tiba belasan pisau es melesat kearahnya dan menancap di dinding bangunan. Wardhana kemudian berhasil meraih salah satu pisau es itu untuk menahan tubuhnya.


Sabrang kemudian muncul dan menyambar tubuh Wardhana, dia menggunakan beberapa pisau es yang menancap di dinding sebagai pijakan sambil menarik kembali semua pisau es itu ke tubuhnya untuk menghindari bongkahan es itu jatuh ke danau dan menimbulkan suara.


Sabrang kembali memunculkan bongkahan es yang sedikit lebih besar di sisi berlawanan untuk menjadi pijakan mereka. Kejadian itu begitu cepat sampai Wardhana sendiri tidak menyadari telah berpindah tempat.


Dia begitu takjub melihat kecepatan Sabrang yang menurutnya tidak masuk akal itu, ditambah setiap gerakannya yang begitu senyap dan tidak menimbulkan suara sedikitpun menandakan ilmu kanuragannya sudah berada di level tertinggi.


"Apa yang sebenarnya sedang paman lakukan di tempat seperti ini?" tanya Sabrang pelan.


Wardhana kemudian menjelaskan secara singkat tentang kemungkinan kamar Ajidarma menyimpan petunjuk tentang peradaban terlarang yang mereka cari, dan malam ini dia mencoba masuk ke kamar itu dari luar sampai akhirnya tergelincir.


"Jadi tuan Ajidarma ada di puncak kuil?" bisik Sabrang.


Wardhana mengangguk pelan sambil menatap ke bawah, pandangan matanya kini jauh lebih luas karena berada di sisi yang berlawanan dari Ajidarma berada.


Dia menoleh keatas dan melihat bulan sebelum pandangannya menyapu danau purba itu.


"Bayangan kuil ini?" Wardhana seperti menyadari sesuatu saat melihat bayangan bangunan berbentuk kerucut yang berada di puncak kuil.


"Apa paman menemukan sesuatu?" tanya Sabrang penasaran.


"Ah tidak Yang mulia, aku hanya merasa ada yang aneh dengan bayangan ini tapi entah apa," jawab Wardhana pelan.


"Paman, berpegangan lah padaku, jika paman ingin masuk ke kamar itu sebaiknya kita cepat karena sebentar lagi pagi akan datang," ucap Sabrang sambil menyentuh dinding kuil dan dalam sekejap bongkahan es tipis terbentuk dan memberi jalan pada mereka untuk memutar kembali ketempat Wardhana hampir terjatuh.


Sabrang bergerak cepat melewati bongkahan es yang seolah menancap di dinding kuil. Wardhana mengernyitkan dahinya saat melihat bongkahan es itu seolah menghilang setelah dilewati mereka.


"Yang mulia benar benar berbeda setelah hilang di gunung padang, dia semakin kuat," ucap Wardhana dalam hati.


Lengan Sabrang mencengkram sebuah celah yang cukup besar sebelum melompat masuk.


"Paman?" ucap Sabrang pelan.


"Ini kamarnya," Wardhana melangkah masuk dan langsung menyentuh lantai kamar.


"Benar juga, lantai ini seperti sengaja di buat untuk menyembunyikan sesuatu."


Wardhana terlihat berfikir sambil menatap lantai dari sudut kamar agar pandangannya lebih luas.


"Penanda waktu?" ucap Wardhana terkejut saat melihat corak aneh di lantai yang seolah membentuk lingkaran.


Wardhana berjalan cepat kearah celah kamar dan menoleh kearah langit.


"Jadi begitu, kuil ini bukan hanya berfungsi sebagai tempat pemujaan dewa matahari tapi juga penanda waktu kuno," ucap Wardhana yang mulai mengerti.


"Penanda waktu?" Sabrang mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Hamba akan menjelaskan semuanya di tempat lain Yang mulia, sebaiknya kita cepat pergi karena pagi sudah tiba," jawab Wardhana cepat.


Sabrang mengangguk cepat, dia menyambar tubuh Wardhana dan melompat keluar kamar.


***


"Pertemuan lima sumber air akan menyegel Bilah Gelombang selamanya ya? kita sudah memutari lima sungai yang mengelilingi gunung padang, sepertinya tempat ini yang paling mendekati petunjuk itu karena merupakan pertemuan dari lima sungai," ucap Emmy sambil berdiri di atas sebuah batu besar yang ada di sisi sungai.


"Apa hanya itu petunjuk yang diberikan? akan sangat sulit menemukan ruang rahasia dengan petunjuk seperti itu" tanya Lingga pelan.


"Dari pada kau mengeluh, sebaiknya mulai mencari apapun yang janggal dari tempat ini," balas Emmy sambil melompat dari atas batu.


"Yang janggal?" tanya Lingga bingung.


"Yang mulia mengatakan jika peradaban yang membangun Nagari siang padang memiliki ciri khusus yang sangat unik, mereka selalu menggunakan air dan tuas batu untuk setiap bangunannya.


Jika perkiraanku tidak salah maka salah satu batu yang mungkin tersembunyi di tempat adalah tuas untuk membuka gerbang itu, cari batu yang posisinya janggal dan tidak alami," Emmy berjalan ketengah sungai dan menatap sekitarnya.


"Kenapa kita selalu berurusan dengan hal menyebalkan seperti ini, misteri peradaban masa lalu dengan petunjuk aneh dan pendekar pendekar dengan tubuh abadi," umpat Lingga kesal.


"Nuswantoro, nama itu sedikit menjelaskan tentang daratan yang kita tinggali ini pernah menjadi pusat peradaban dunia sebelum hancur oleh sesuatu. Jadi wajar jika daratan paling indah ini menyimpan banyak misteri masa lalu," jawab Emmy pelan.


"Nuswantoro pernah menjadi pusat peradaban dunia?" tanya Lingga penasaran.


"Aku pernah membaca sebuah kitab kuno saat masih tinggal di sekte Naga langit. Kitab itu sedikit menyinggung tentang sebuah tempat yang sangat indah namun penuh dengan misteri bernama Nuswantoro.


Kitab kuno itu menjelaskan jika arti kata Nuswantoro adalah Tempat yang bisa dihuni yang terletak di jagat gede. Apa kau tidak merasa arti itu memiliki makna yang sangat dalam?" tanya Emmy.


"Semua sudut Nuswantoro bisa ditinggali?" balas Lingga cepat.


"Benar, walau tidak dalam arti sebenarnya karena tak akan ada manusia yang bisa hidup di dalam lautan tapi arti Nama Nuswantoro seolah memberi kita petunjuk jika banyak misteri peradaban masa lalu yang masih terkubur di suatu tempat karena berbagai alasan.


Mungkin saja peradaban yang membuat bangunan ini hanya sebagian kecil dari ratusan peradaban yang pernah tinggal di sini," jawab Emmy pelan.


"Begitu ya..."


"Tuan, bisakah kau naik keatas pohon yang paling tinggi dan lihat apakah ada batu hitam lainnya yang berbentuk seperti ini?" ucap Emmy tiba tiba sambil menunjuk batu berukuran sedang berbentuk segi empat sempurna.


"Batu seperti ini aku temukan hampir di setiap sungai yang mengelilingi gunung padang, aku merasa batu ini sengaja di letakkan di tempat tempat tertentu," jawab Emmy.


Lingga mengangguk mengerti lalu menoleh ke sekelilingnya untuk mencari pohon tertinggi sedangkan emmy mulai menggambar gunung padang lengkap dengan sungainya.


"Jika aku tidak salah batu batu yang kutemukan tadi terletak di sini." Emmy menggambar lingkaran lingkaran kecil di sekeliling gunung padang.


"Apa kau menemukan batu itu?" teriak Emmy pada Lingga yang sudah berada di atas pohon.


"Benar dugaannya, ada beberapa batu yang berbentuk sama tersebar di sepanjang sungai ini," ucap Lingga pelan sambil mengingat letak batu itu.


Saat Lingga sudah mengingat posisi batu itu dan bersiap melompat turun, dia melihat di kejauhan lima pendekar bergerak cepat kerahnya.


"Mereka jelas bukan prajurit Malwageni, apa mungkin pasukan Kuil Suci?" Lingga langsung melompat turun dan memberi tanda pada Emmy untuk bersembunyi di sebuah gua kecil di dekat tebing lereng gunung padang.


"Nyonya, ada lima pendekar sedang menuju kesini, sebaiknya kita bersembunyi di gua itu dan lihat apa yang mereka cari," bisik Lingga pelan.


"Pasukan Kuil Suci?" tanya Emmy sambil membereskan gulungannya.


Mereka kemudian bergerak cepat dan masuk kedalam celah kecil yang ada di dekat hulu sungai.


(Ilustrasi gua kecil yang digunakan untuk bersembunyi oleh Emmy dan Lingga)



(Foto ini adalah celah kecil yang ada di kaki gunung Padang. Sumber : Google)


Celah kecil yang berada di dekat sungai dan terisi air itu ternyata cukup besar di bagian dalamnya.


"Sebaiknya kita bersembunyi di sini terlebih dahulu, aku ingin tau apa yang mereka cari di tempat ini," Lingga memperhatikan lima orang pendekar yang kini sudah berdiri di pinggir sungai.


"Siapa mereka sebenarnya?" ucap Lingga dalam hati.


"Ketua mengatakan jika pusaka Bilah gelombang kemungkinan terkubur di dasar tempat ini, menyebar lah dan cari apapun yang berbentuk tuas, aku yakin ada ruang rahasia di sekitar gunung ini," ucap Naradipta pada para pendekar Kuil Suci.

__ADS_1


"Baik tuan," ucap empat pendekar bersamaan sebelum melesat pergi.


"Tanpa ada petunjuk sedikitpun sepertinya butuh waktu lama untuk mencari pedang Bilah Gelombang," ucap Naradipta sambil memperhatikan sekitarnya.


Pandangannya terhenti pada sebuah jejak kaki yang terdapat di pinggir sungai.


"Jejak ini masih baru?" ucap Naradipta pelan, lengannya dengan cepat menggenggam gagang pedang yang terselip di pinggangnya.


***


"Tuan, apakah posisi batu yang kau liat berada di sini?" bisik Emmy sambil menunjukkan gulungannya.


Lingga tampak terkejut saat Emmy menggambar empat lingkaran di beberapa titik, walau posisinya tidak terlalu tepat tapi batu itu memang berada tidak jauh dari lingkaran yang di gambar Emmy.


"Bagaimana kau bisa tau jika batu itu berada di dekat situ?" tanya Lingga bingung.


"Benar dugaanku, Nagari Siang Padang dibangun bukan hanya sebagai tempat pemujaan tapi juga sebagai penanda waktu," jawab Enny cepat.


"Penanda Waktu?"


"Kau lihat sungai yang mengelilingi gunung ini dan letak batu hitam aneh di setiap sisi sungai, walau terlihat seperti diletakkan secara asal tapi semua batu itu tepat berada di arah mata angin," Emmy kemudian menggambar titik titik arah mata angin dan menunjukkan pada Lingga.


"Jadi menurutmu gunung ini adalah penanda waktu raksasa?" tanya Lingga tak percaya.


"Benar, jika dugaanku tepat puncak Nagari siang padang sebelum hancur oleh Yang mulia adalah jarum penanda waktu yang akan muncul saat sinar matahari maupun sinar bulan menyinari puncak itu dan aku yakin di waktu tertentu jarum itu akan menunjukan di mana gerbang rahasia yang kita cari saat ini," jawab Emmy pelan.


"Lalu bagaiman jika jarum itu sudah hancur?" kejar Lingga.


"Sayangnya hanya penanda waktu ini satu satunya petunjuk di mana gerbang rahasia itu berada," Emmy tampak lemas sambil menatap gunung padang yang sudah hancur.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Seperti yang saya katakan sebelumnya, jika Kuil khayangan yang merupakan Borobudur versi PNA akan menjadi pusat semua trilogi Naga Api.


Jadi satu persatu misteri Candi Borobudur akan saya munculkan di Novel ini termasuk Jam raksasa atau dalam bahasa PNA penanda waktu.


(Foto Candi borobudur dan dugaan Jam raksasa di puncaknya)




Misteri Jam raksasa di Candi Borobudur


Candi Borobudur adalah bangunan paling rumit di dunia bahkan jauh lebih rumit dari piramida mesir.


Bayangkan, batu seberat 2 ton disusun satu per satu sampai jadi bukit berlantai 10.


Batu itu juga diukir dengan gambar yang sangat teliti. Gambar itu berkisah tentang kehidupan rakyat Kerajaan Syailendra.


Nah, ada satu misteri lain soal Candi Borobudur ini, yakni sebuah jam raksasa


Bagaimana melihat Candi Borobudur sebagai sebuah jam raksasa?


Begini penjelasannya. Candi Borobudur memiliki 72  buah stupa berbentuk lonceng terbalik.


Stupa terbesar berada di lantai teratas. Arsitek Borobudur memakai stupa-stupa itu sebagai titik tanda jam.


Jarum jam-nya berupa bayangan sinar Matahari yang disebabkan stupa terbesar.


Ya, bayangan stupa terbesar selalu jatuh dengan tepat di stupa lantai bawah.


Tak hanya itu, Candi Borobudur juga merupakan petunjuk arah yang sangat tepat. Tanpa bantuan kompas dan GPS.


Seperti diketahui, Matahari memang terbit di arah timur. Namun, tidak selalu tepat di titik timur.


Matahari hanya terbit benar-benar di titik timur dalam dua kali setahun. Yaitu sekitar tanggal 20-21 Maret dan 22-23 September.


Nah, arsitek Borobudur rupanya sudah mengetahui titik timur yang benar. Oleh karena itu, Candi Borobudur juga dibangun menghadap titik utara dan selatan dengan sangat tepat.


(Sumber : Suara grid)

__ADS_1


Keren bukan? seperti kata Emmy, mungkin dulu Indonesia adalah pusat peradaban dunia..benar atau tidaknya, PNA hanya ingin mengenalkan pada kalian betapa Indonesia dianugerahi hal yang sangat menakjubkan oleh sang pemilik hidup.


__ADS_2