
"Aku tidak pernah berbohong, aku benar benar menemukan gulungan itu di sebuah penginapan," ucap Gendis dengan suara terbata bata, wajahnya sudah sedikit membiru karena hampir seluruh tubuhnya sudah diselimuti bongkahan es.
"Tuan, sebaiknya kita bicarakan masalah ini baik baik, dia bisa mati jika anda terus melepaskan aura dingin kedalam tubuhnya," ucap Elang khawatir saat separuh tubuh Gendis sudah diselimuti bongkahan es tebal.
"Aku tak pernah mengatakan jika kau berbohong, yang ingin aku tanyakan apa sebenarnya hubunganmu dengan para pendekar kuil suci? Sejak awal kau sengaja mencuri pedang milik Elang dan memancingku keluar untuk menunjukkan pesan ini agar aku bergerak menyelamatkan dia bukan?
"Apa itu artinya kau mulai khawatir pada orang lain? tidak, kau hanya berusaha memanfaatkan kekuatanku untuk menghancurkan pasukan Kuil Suci," ucap Sabrang tajam.
"Jadi, dia mencuri pedangku tadi karena ingin memanfaatkan kita?" tanya Elang cepat.
"Setiap orang memiliki masa lalu yang terkadang tidak ingin dia bicarakan dengan siapapun termasuk pada seorang raja sekalipun. Apakah memiliki musuh yang sama tidak cukup untuk membuat kita bersekutu?" jawab Gendis cepat, wajahnya kini sudah terlihat benar benar pucat.
"Bersekutu? jadi kau menganggap aku mencari sekutu?"
"Apa ada alasan lain selain saling memanfaatkan di dunia ini tuan? aku yakin orang orang yang berada di sekitar anda juga berfikir demikian," jawab Gendis sebelum kesadarannya mulai hilang perlahan akibat suhu tubuhnya yang terus turun.
"Saling memanfaatkan ya?...Kau benar benar wanita yang menarik," ucap Sabrang sebelum menarik energi dingin dari tubuh Gendis dan menggantinya dengan tenaga dalam murni.
"Elang, bawa gadis ini, kita akan kembali ke air terjun Lembah pelangi untuk bertemu dengan yang lainnnya," ucap Sabrang pelan sambil menoleh kearah Winara.
"Aku berharap tidak membekukan tubuhmu juga karena itu akan menyulitkan Elang," Sabrang tersenyum kecil sebelum melesat pergi.
"Percaya padaku, dia akan melakukan itu jika kau tidak mengikuti perintahnya," ucap Elang sebelum bergerak mengikuti Sabrang sambil menggendong tubuh Gendis.
"Kita bisa pergi jika kau tidak ingin mengikutinya, aku akan membantumu menyempurnakan jurus segel Dewa Bumi," ucap Kirana tiba tiba saat melihat Winara masih belum bergerak mengikuti Sabrang dan Elang.
"Aku pasti menyempurnakan segel itu tapi bukan untuk bersembunyi lagi," jawab Winara sebelum melesat pergi kearah Sabrang dan Elang bergerak.
Sabrang yang bisa merasakan Winara mengikutinya dari belakang tampak tersenyum lega, walau belum bertemu langsung dengan para pendekar muda lain yang dijanjikan oleh sekte aliansi Malwageni dia cukup puas dengan tiga orang yang ditemukannya itu.
"Kau yakin dengan pilihanmu itu? Aku tak pernah meragukan mereka adalah pendekar muda yang sangat berbakat tapi dengan latar belakang dan semua kelebihan yang dimiliki, mereka akan sangat berbahaya jika kau tak mampu mengendalikannya," ucap Naga Api memperingatkan.
"Kau tak perlu khawatir, itulah alasanku meminta kakek Rubah Putih melatih paman Wijaya. Sama seperti ayah memilih paman Wardhana, aku yakin ada sesuatu yang membuat ayah mengangkat paman Wijaya sebagai orang kepercayaannya dan itu belum kulihat sampai hari ini," jawab Sabrang cepat sambil tersenyum kecil.
"Maksudmu dia masih menyimpan potensi yang tersembunyi?"
"Kita akan melihatnya setelah nanti bertemu tapi satu yang aku yakini, ayah tak akan salah memilih orang," jawab Sabrang pelan.
***
Seorang gadis terlihat berlari dibawah guyuran hujan tanpa memperdulikan suasana disekitarnya. Jalan setapak di pinggiran hutan larangan yang licin dan berlumpur akibat guyuran hujan tak menyurutkan langkahnya untuk terus berlari.
Gadis itu sadar, jika berhenti dan tersusul oleh para pendekar yang mengejarnya maka nyawanya adalah taruhannya, karena sekuat apapun ilmu kanuragan yang dimilikinya tetap tak akan mampu menghadapi sepuluh pendekar Kelabang Merah, sebuah organisasi pembunuh yang mulai ditakuti dunia persilatan.
Langkah gadis itu mulai melambat, tenaganya mulai habis karena telah berlari begitu lama. Tubuhnya bergetar hebat saat menoleh kebelakang, para pendekar yang mengejar mulai bisa mendekatinya.
__ADS_1
Saat gadis itu mencoba memaksakan tubuhnya untuk terus berlari tiba tiba dia terpeleset dan terjatuh.
Seorang pendekar yang mengejarnya tak melewatkan kesempatan itu, dia melesat cepat mendekati gadis buruannya. Ketika gadis itu mencoba bangkit kembali, pendekar itu sudah berada didekatnya dan mencengkram lehernya.
"Mau sampai kapan kau akan terus berlari nona," ucap Pendekar itu dingin.
"Lepaskan aku, apa yang sebenarnya kalian inginkan?" ucap Gadis itu terbata bata.
"Apa yang kami inginkan? Aku ingin kitab yang kau curi dari perguruan Elang Hitam," Jawab pendekar itu pelan.
"Aku hanya mengambil apa yang harusnya menjadi milikku, Kitab itu adalah milik ayahku yang dicuri oleh perguruan Elang Hitam," jawab gadis itu cepat.
"Kau mempersulit dirimu sendiri nona, berikan kitab itu atau aku akan mematahkan lehermu," pendekar itu mulai mengalirkan tenaga dalam ke tangannya.
Gadis itu terus meronta kesakitan, darah mulai keluar dari mulut dan hidungnya.
"Katakan dimana kau menyembunyikan kitab itu?" tanya pendekar itu kembali.
"Bunuh saja aku."
"Ah jadi kau lebih memilih mati dari pada memberikan kitab itu? pilihan yang salah karena tidak akan semudah itu nona, jika aku pulang dengan tangan hampa maka tak ada yang akan membayar ku. Akan kuberikan apa yang jauh lebih menderita dari sebuah kematian," pendekar itu mengambil sebuah pisau dengan tangan kirinya dan merobek pakaian gadis malang itu.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku," wajah gadis itu pucat pasi saat sebagian pakaiannya robek dan hampir memperlihatkan tubuhnya.
"Katakan dimana kitab itu?" bentak pendekar itu kasar yang disambut tawa pendekar lainnya.
Saat gadis itu sudah pasrah, sesosok tubuh tiba tiba mendekat dengan kecepatan tinggi dan berdiri tepat di hadapan mereka semua.
"Lepaskan dia!" seorang pemuda berusia delapan belas tahun muncul tiba tiba sambil menatap tajam para pendekar itu.
"Siapa kau? Aku masih berbaik hati padamu, pergi dari sini dan anggap kau tidak melihat apapun," ucap pendekar itu sinis.
"Aku tidak akan meminta dua kali, jika setelah lima langkah kalian masih belum pergi maka aku akan membunuh kalian semua," Pendekar muda itu mulai melangkah pelan.
Para pendekar itu tertawa terbahak bahak, mereka menganggap pemuda dihadapannya sudah gila karena berani mengancam pendekar Kelabang merah.
"Kalian yang memilih maka jangan salahkan aku," Pemuda itu menggeleng pelan sesaat sebelum bergerak menyerang.
"Jurus Pedang api abadi tingkat dua : Tarian pedang Api," pemuda itu menarik pedangnya sambil melepaskan aura dari tubuhnya.
"Jurus itu?" para pendekar Kelabang merah tampak terkejut saat melihat jurus yang digunakan pemuda misterius itu.
Belum sempat dia bereaksi, sembilan pendekar yang bersamanya sudah meregang nyawa dan roboh secara bersamaan.
"Aku sudah meminta baik baik," Pemuda itu tiba tiba muncul dibelakang pendekar Kelabang merah.
__ADS_1
"Cepat sekali? Kecepatannya bahkan jauh di atas guru," ucap pendekar itu sesaat sebelum kepalanya terlepas dari tubuhnya.
"Berani sekali kalian mencari masalah di tempat ini," ucap pemuda itu sambil menyarungkan pedangnya.
"Kau baik baik saja nona?" pemuda itu menoleh kearah gadis yang sedang menatapnya takut.
Gadis itu tampak bingung harus senang atau takut saat pemuda itu menyelamatkannya karena dia melihat sendiri pemuda itu membunuh sambil tersenyum menandakan dia menikmati setiap tetes darah yang keluar dari tubuh lawannya.
Cukup lama gadis itu terdiam, tubuhnya bergetar hebat saat pemuda itu menatap wajahnya.
"Kau harus lebih berhati hati, dunia persilatan sedang kacau akhir akhir ini dan tak selamanya kau beruntung bertemu pendekar tampan sepertiku. Jika berkenan, izinkan aku mengantarmu pulang," ucap pemuda itu sambil melangkah mendekat dan memeluk gadis itu tiba tiba.
"Sepertinya kau adalah gadis yang selama ini kutunggu," pemuda itu memonyongkan bibirnya dan siap menyergap bibir gadis itu sebelum sesosok tubuh muncul dan berusaha mencengkram lehernya.
Mendapat serangan tiba tiba seperti itu membuat pemuda misterius itu melepaskan pelukannya dan melompat mundur.
"Aku selalu kagum dengan para murid sekte Pedang Naga Api tapi kau benar benar diluar bayanganku. Entah apa yang ada di pikiran Ageng saat menerima pemuda mesum sepertimu sebagai muridnya," ucap Wulan sambil menarik tubuh gadis yang sudah sangat ketakutan itu.
"Anda? terima kasih atas pujiannya, bakat mesum yang kumiliki memang...." pemuda itu tiba tiba menghentikan ucapannya saat menyadari sesuatu.
"Apa katamu, mesum?" teriak pemuda itu kesal.
"Kau sudah mengakuinya sendiri, lalu untuk apa kau marah?" balas Wulan mengejek.
"Tetua Wulan, anda dari mana saja? semua sudah berkumpul di tempat latihan," Tantri tiba tiba muncul saat pemuda itu sedang berusaha menjelaskan jika dia tidak seperti yang dituduhkan.
"Aku bukan pria mata keranjang yang suka pada semua wanita..." pemuda itu menghentikan ucapannya saat melihat kemunculan Tantri. "Nona, dunia persilatan sedang kacau akhir akhir ini dan tak selamanya kau beruntung bertemu pendekar tampan sepertiku. Jika berkenan, izinkan aku..." pemuda itu tak bisa melanjutkan ucapannya saat Tantri tiba tiba memukul perutnya.
"Kenapa kau memukulku?" umpat pemuda itu kesal.
"Minak Jinggo, walau bakat yang kau miliki tidak sebesar Sabrang tapi saat ini kau adalah murid paling berbakat yang dimiliki sekte Pedang Naga Api bahkan mungkin dunia persilatan, sepertinya wajah wajah baru Hibata sangat menarik," ucap Wulan dalam hati sambil memperhatikan wajah bodoh pemuda yang beberapa detik tadi sempat membuatnya takut saat bertarung dengan para pendekar Kelabang merah.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Terima kasih sekali lagi atas semua dukungannya... Saya sempat melakukan Swab tes dan alhamdulilah hasilnya Negatif..
Hari ini saya sepertinya sudah sembuh sepenuhnya dan sesuai janji saya, mulai besok Pedang Naga Api akan update tiap hari dengan durasi yang panjang seperti biasa...
Ada satu komen yang cukup menggelitik hati saya, begini kira kira isi komentarnya.
"Ya allah berilah kesehatan pada Othor setidaknya sampai PNA tamat, klo udh tamat terserah"
wkwkwkwkw ini gw bingung, mau marah apa ketawa.
Mau marah tapi dia doain gw sehat, tapi sehatnya cuma sampe PNA tamat wkwkwkkw
__ADS_1
Tapi apapun itu terima kasih atas dukungan kalian semua.. Kalian LUAR BIASA....