
Seorang pria tua tampak duduk bersila di sebuah ruangan sambil memejamkan matanya. Aura yang cukup besar tampak menyelimuti tubuhnya, walau pria itu terlihat tidak bisa berjalan karena kehilangan salah satu kakinya namun tidak menutupi sedikitpun kekuatannya.
Seorang pendekar tampak mengetuk pintu ruangannya sebelum melangkah masuk sambil membawa makanan.
"Tuan Ajidarma, aku membawakan makanan untuk anda," ucap pendekar itu pelan.
Ajidarma membuka matanya perlahan lalu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih Ekawira, apakah kakangmu belum kembali?" tanya Ajidarma lembut.
"Belum tuan, mungkin sedang dalam perjalanan," balas Ekawira menenangkan.
"Begitu ya, entah kenapa aku tidak pernah suka pada Mandala dan keturunannya. Aku takut Hanggareksa dimanfaatkan oleh keturunan Mandala itu," ucap Ajidarma.
"Tuan jangan terlalu khawatir, kakang memiliki ilmu kanuragan yang sangat tinggi, tak mudah mengalahkannya," jawab Ekawira.
Ajidarma menarik nafas panjang, dengan kondisi tubuhnya yang semakin menua dia tidak tau sampai kapan bisa menjaga kuil Khayangan, terlebih setelah Arda sukma membawa lari kitab Sabdo Loji.
Ajidarma merasa cepat atau lambat akan ada yang mampu memecahkan misteri keberadaan peradaban terlarang yang ada di dalam kitab itu.
"Apa yang sebenarnya kau pikirkan nak, aku sudah mempersiapkan kau sebagai penerusku untuk menjaga tempat ini. Apakah kau benar benar tergoda oleh kitab itu?" ucap Ajidarma dalam hati.
Menghilangnya Arda Sukma memang sangat melukai hati Ajidarma, selain karena dia adalah murid kesayangannya, adik Hanggareksa itu sudah dipersiapkan untuk memimpin pendekar Kalang.
Sifatnya yang lembut dan tidak berambisi terhadap Ilmu kanuragan justru membuat Ajidarma tertarik untuk memilih Arda Sukma sebagai menggantikannya kelak. Namun pada akhirnya itu tak pernah terjadi karena tiba tiba di suatu malam, dia menghilang bersama kitab itu.
"Ketua kembali, ketua kembali," suara teriakan dari luar terdengar jelas membuat Ekawira tersenyum.
"Tuan, kakang sudah kembali," ucap Ekawira pelan.
Ajidarma tampak lega sambil menganggukkan kepalanya, tak lama Hanggareksa mengetuk pintu ruangan dan melangkah masuk.
"Terimalah hormatku tuan," ucap Hanggareksa sambil menundukkan kepalanya.
"Kakang," Ekawira berdiri dan memberi hormat.
"Bagaimana dengan kitab itu?" tanya Ajidarma penasaran.
"Aki sudah menemukannya tuan," Hanggareksa mengambil sebuah kitab dari sakunya dan memberikan pada Ajidarma.
Ajidarma mengernyitkan dahinya saat melihat kitab itu sebelum menatap Hanggareksa yang kemudian di balas anggukan.
"Simpanlah, kau yang sudah menemukannya berarti kau yang harus menyimpannya," ucap Ajidarma pelan.
"Terima kasih tuan, aku akan menyimpan kitab ini baik baik agar kejadian itu tak terulang lagi," balas Hanggareksa.
"Ekawira, bisakah kau meninggalkan kami, ada yang ingin aku bicarakan dengannya," pinta Ajidarma sambil menoleh kearah muridnya itu.
"Baik tuan, aku permisi dulu," balas Ekawira cepat sebelum melangkah keluar.
"Apa ada yang ingin kau jelaskan padaku? kau tidak berfikir untuk menipuku dengan kitab palsu itu bukan?" tanya Ajidarma setelah Ekawira pergi.
"Tuan, sebenarnya aku membawa seseorang agar bertemu dengan anda, dia yang akan menjelaskan semuanya," balas Hanggareksa pelan.
"Seseorang?"
"Masuklah," ucap Hanggareksa sambil menoleh keluar.
"Arda Sukma?" Ajidarma tersentak kaget saat melihat Wardhana melangkah masuk sambil membuka penutup wajah yang biasa dikenakan pendekar Kalang.
"Hormat tuan, namaku adalah Wardhana," sapa Wardhana sambil menundukkan kepalanya.
"Wardhana?" Ajidarma menoleh kearah Hanggareksa seolah meminta penjelasan.
Hanggareksa kemudian menjelaskan pertemuannya dengan Wardhana dan kemungkinan dia adalah keturunan Arda Sukma.
Dia juga menjelaskan tentang semua rencana Wardhana untuk menjebak seseorang diantara mereka yang di duga pengkhianat.
"Jadi maksudmu ada pengkhianat diantara kami dan kau ingin aku percaya? kami sudah bersama cukup lama bahkan sebelum kitab itu menghilang, tak mungkin ada yang berusaha berkhianat padaku," ucap Ajidarma dengan suara sedikit meninggi.
__ADS_1
"Mungkin inilah alasan Arda Sukma membawa lari kitab Sabdo Loji karena sekuat apapun dia menjelaskan kalian tak akan percaya," jawab Wardhana cepat.
"Jika dia yang bicara padaku langsung mungkin aku akan percaya tapi pada akhirnya dia sendiri yang mengikis kepercayaanku padanya," balas Ajidarma pelan, tampak kekecewaan menghiasi wajahnya.
"Andai dia mengatakan semuanya lalu apa yang akan anda lakukan? memanggil semua pendekar kalang tanpa bukti hanya akan menimbulkan kecurigaan diantara kalian dan Arda Suka tidak menginginkan itu terjadi.
Mungkin dia curiga pada seseorang diantara kalian yang ingin menguasai kitab itu tapi tidak memiliki bukti apapun jadi dia memutuskan menanggung semuanya sendiri dengan menyelamatkan kitab itu. Jika perkiraanku tepat, tak ada yang lebih memegang teguh sumpah setia menjaga tempat ini selain Arda Sukma," ucap Wardhana penuh keyakinan.
Ajidarma menoleh kearah Hanggareksa, wajah polos Arda Sukma terbayang kembali dalam ingatannya.
"Sukma, apakah benar yang dikatakannya? mengapa kau tidak bicara padaku lebih dulu," ucap Ajidarma lirih, dia tidak bisa membayangkan beban yang harus di tanggung Arda Sukma sendirian hanya demi menyelamatkan kitab itu.
"Tuan, Wardhana datang untuk membantu kita menemukan siapa pengkhianat itu dan membersihkan nama Sukma," ucap Hanggareksa.
"Membersihkan nama Sukma? apa kau tau siapa orangnya?" tanya Ajidarma penasaran.
"Aku belum tau tapi jika rencanaku berhasil dia akan membuka sendiri topeng yang selama ini dia pakai," jawab Wardhana.
"Tidak ada salahnya mencoba tuan, bagaimanapun tidak ada yang bisa menjamin salah satu dari kita tidak tergoda dengan kitab pusaka itu," timpal Hanggareksa meyakinkan.
Ajidarma menatap Wardhana sesaat, dia benar benar benar dibuat kagum oleh semua rencana yang dibuatnya.
"Apa aku bisa memintamu bergabung dengan kami?" tanya Ajidarma pelan.
"Maaf tuan, aku sangat bangga saat mengetahui leluhurku adalah salah satu pendekar kalang tapi aku sudah menemukan jalan hidupku sendiri dan aku sudah bersumpah setia pada Malwageni.
Tapi anda tak perlu khawatir, saat ini kita memiliki musuh yang sama dan aku akan tetap meneruskan sumpah leluhurku menjaga tempat ini walau dengan cara yang berbeda," jawab Wardhana sopan.
"Musuh yang sama?" Ajidarma mengernyitkan dahinya.
"Mandala telah bangkit lagi tuan, saat ini kemungkinan kitab Sabdo Loji yang asli berada di tangan mereka dan cepat atau lambat rahasia tersembunyi kitab itu akan diketahui," timpal Hanggareksa.
"Dan kami berniat menghentikan mereka," sahut Wardhana cepat.
"Aku tidak terkejut jika dia bangkit lagi, itu artinya mereka menguasai segel keabadian. Kitab itu benar benar membawa masalah besar," jawab Ajidarma sambil menarik nafas panjang.
"Pengamatanmu sangat tajam anak muda, kau benar benar mengingatkanku pada Sukma," Ajidarma memberi tanda Wardhana untuk mendekat.
"Aku tidak bisa menceritakannya padamu karena kau sudah memilih jalan yang berbeda dengan kami tapi aku ingin memberitahukan satu hal padamu. Alam menyimpan begitu banyak misteri dan mungkin yang kita ketahui saat ini hanya titik kecil di dalam sebuah lingkaran yang besar.
Sabdo Loji hanya sebuah pintu untuk keluar dari titik kecil itu menuju rahasia berikutnya. Apakah Sabdo Loji bisa mengungkap semua rahasia yang ada di jagat gede ini? tidak, sekali lagi ada sesuatu yang memang diciptakan tidak untuk diketahui oleh siapapun demi kebaikan kita sendiri.
Kami biasa menyebutnya peradaban terlarang, karena seharunya mereka tidak pernah ada di dunia ini. Mereka menentang alam dengan congkaknya seolah tak ada yang ditakuti dan ketika alam mulai bertindak, hanya sebagian kecil yang mungkin selamat dari kemarahan alam. Peradaban terlarang mengajarkan kita untuk tidak bermain main dengan alam," ucap Ajidarma melanjutkan.
"Jagad gede?" tanya Wardhana bingung.
"Hanya itu yang dapat kukatakan padamu nak, jika memang kau di utus untuk menggantikan Arda Sukma, aku yakin alam akan memberimu jalan dengan caranya sendiri," tutup Ajidarma pelan.
Ajidarma kemudian meminta Hanggareksa mengangkat tubuhnya ke tempat tidur.
"Reksa beri Wardhana kamar terbaik di kuil Suci ini, kita akan lihat apakah rencanamu akan benar benar berhasil mengungkap apa sebenarnya tujuan Sukma membawa pergi kitab itu. Sudah waktunya aku beristirahat, tubuh ini semakin lama semakin lemah," ucap Ajidarma sambil tersenyum.
"Terima kasih tuan sudah mau menerimaku dengan baik," balas Wardhana pelan.
"Kuil ini selalu terbuka bagi keturunan Sukma, aku yang harus berterima kasih karena kau sudah sudi berusaha mengungkap semua ini dan membersihkan namanya."
***
Setelah Wardhana pergi bersama Hanggareksa ke Kuil Khayangan dan Emmy kembali ke Air terjun Pelangi bersama Lasmini untuk merawat Wulan yang sedang terluka, Rubah Putih mengajak Sabrang untuk menemui Ken Panca.
Sabrang tampak terkejut setelah mendengar Ken Panca kembali ke sisi gelap alam semesta untuk meneliti sesuatu yang yang penting.
"Dia mengatakan menemukan sesuatu yang menarik dan mungkin berhubungan dengan kitab Sabdo Loji," ucap Rubah Putih.
"Berhubungan dengan Sabdo Loji?" tanya Sabrang bingung.
"Saat pertempuran di Gunung padang, dia tidak sengaja menemukan catatan kuno di dalam gerbang terakhir. Awalnya, Panca ingin aku merahasiakan masalah ini sebelum dia memastikan kebenarannya. Hingga akhirnya dia memintaku datang membawamu untuk membicarakan kemungkinan hubungannya dengan Sabdo Loji," jawab Rubah Putih.
"Catatan kuno di Gunung Padang?"
__ADS_1
"Aku tidak tau pastinya, sebaiknya kita cepat pergi ke sisi Gelap alam semesta," ucap Rubah Putih sebelum melesat pergi.
Sabrang kemudian mengikuti Rubah Putih dengan wajah bingung, dia masih tidak percaya jika ada kemungkinan hubungan Nagari Siang Padang dengan kitab Sabdo Loji.
Setelah bergerak cukup lama, mereka sampai di celah kecil yang merupakan pintu masuk menuju sisi gelap alam semesta.
"Aku sepertinya tak perlu memperingatkanmu lagi tentang tekanan udara di sini," ucap Rubah Putih yang dibalas senyum kecut oleh Sabrang.
Sabrang terus mengikuti Rubah Putih dari belakang tanpa kesulitan, tubuhnya yang semakin kuat tak lagi kesulitan bergerak di bawah tekanan udara sisi gelap alam semesta.
Ken Panca tampak menyambut mereka di bawah kaki gunung yang berada di tengah hutan.
"Ikutlah denganku," ucap Ken Panca menunjukkan jalan ke gubuk yang dulu digunakan Guntoro bersembunyi.
"Apa yang sebenarnya sudah kakek temukan di Gunung padang?" tanya Sabrang sambil mengikuti Ken Panca dari belakang.
"Sesuatu yang sepertinya sedang di incar oleh pasukan Kuil Suci," jawab Ken Panca.
"Di incar oleh mereka?" sahut Rubah Putih.
"Gunung Padang sepertinya dulu merupakan tempat persembunyian mereka sebelum muncul di ujung Swarna Dwipa dan bergabung dengan Arkantara. Catatan yang dibaca tuan Rubah Putih berisi kemungkinan tempat yang mereka cari dan jika perkiraanku tepat maka tujuan mereka bukan hanya membalas dendam masa lalu tapi juga menguasai sesuatu yang saat ini tersembunyi di suatu tempat," jawab Ken Panca.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa Vote..
Oh iya ada even kecil kecilan dari PNA...
Dikarenakan sampul PNA sudah dari awal terbit tidak pernah ganti.. saya ingin mengganti agar lebih fresh dan meminta bantuan pasukan Jomblo abadi untuk membuatkan sampulnya...
Lomba membuat sampul novel Pedang Naga Api.
Sampul Pedang Naga Api
Ketentuan :
Ukuran 450 x 600 px
Gambar tidak memiliki hak cipta.
Cover menggambarkan cerita Pedang Naga Api (Bisa baca Sinopsis untuk lebih menggambarkannya) dan kental unsur apinya.
Tidak mengambil gambar di google.
Kalau bisa ada gambar seorang pemuda sedang menggenggam pedang.
Cover pemenang otomatis menjadi hak milik saya.
Hadiah :
Juara 1 : Poin 8000 + pulsa 50K
Juara 2 : poin 5000 + pulsa 25K
Juara 3 : poin 3000 + pulsa 15K
All operator
Periode 25 Nov s.d 15 Desember 2020
Pengumuman 16 Desember 2020
Karya bisa di kirim di Grup chat saya atau melalui instagram saya @rickyferdianwicaksono
Terima kasih....
__ADS_1