
"Apakah kita mempunyai masalah tuan pendekar?". Tanya Sakka sopan, dia masih mengamati situasi dan tak ingin menyinggung Sabrang karena setelah melihat kekuatannya, akan sangat merepotkan jika harus berhadapan dengan Sabrang.
Sakka sesekali menoleh keatas, dia merasa perlu waspada terhadap puluhan keris yang masih berputar diudara.
"Jadi kau yang bernama Sakka?". Sabrang menoleh kearah Sakka.
"Benar, aku adalah ketua dari Manca api. Apa kita mempunyai masalah?". Sakka kembali bertanya.
"Kalian menyerangku saat aku akan meninggalkan tanah Jawata, harusnya aku yang bertanya padamu'. Ucap Sabrang pelan.
Sakka dan Malewa tampak terkejut setelah mengetahui asal Sabrang. Selama ini Sakka sering mengirim orang untuk menyelidiki tanah Jawata dan mendapat laporan jika para pendekar disana tidak perlu terlalu ditakuti, hanya Kertasura, Rakiti dan Mantili yang harus diwaspadai karena ilmu kanuragan mereka paling tinggi.
Sakka tidak pernah mendengar ada pendekar muda yang sangat kuat.
"Sepertinya itu hanya salah paham tuan, aku akan menegur murid muridku agar tidak menyinggung anda".
"Salah paham? lalu apakah muridmu yang menyerangku di lereng gunung ini juga salah paham?". Sabrang tersenyum sinis.
Raut wajah Sakka menjadi buruk saat teringat dia menempatkan puluhan pendekar terbaik Manca api dilereng gunung. Kekuatan para pendekar itu bahkan bisa menghancurkan satu sekte menengah.
Jika Sabrang sampai bisa lolos berarti dia telah mengalahkan pendekar terbaiknya.
"Apa yang kau lakukan pada mereka?". Senyum diwajah Sakka mulai menghilang.
"Tidak banyak, aku hanya membakar mereka sampai menjadi abu". Pancing Sabrang. Dia memang ingin memancing amarah Sakka agar lebih mudah mengalahkannya. Ratusan pendekar kelas tinggi yang ada disekitarnya akan sangat menyulitkan jika menyerang bersama.
Malewa ikut terkejut mendengar ucapan Sabrang. Dia tau betul seberapa kuat para pendekar Manca api, jika Sabrang bisa mengalahkannya Malewa memperkirakan ilmu kanuragan Sabrang jauh diatasnya.
"Kau melakukan kesalahan besar anak muda, kau pikir aku takut padamu? jika kau sangat bangga dengan Naga apimu, akupun memiliki api yang menjadi kebanggan Celebes selama ini". Seketika tubuh Rakka diselimuti api yang cukup besar.
Sabrang cukup terkejut melihat Rakka diselimuti api.
"Laborombonga". Ucap Naga api pelan.
"Laborombonga?". Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Laborombonga adalah iblis pemakan api, dia bisa menggunakan api yang dimakannya menjadi kekuatannya untuk menyerang balik. Hal inilah yang menggangu pikiranku saat kita menginjakan kaki di daratan ini. Aku sudah merasakan energinya sejak masih diatas kapal". Ucap Naga api.
"Jadi aku tidak boleh menggunakan energimu?". Tanya Sabrang.
"Untuk beberapa waktu iya, dia akan memakan semua serangan apimu dan bertambah kuat. Sampai kita menemukan kelemahannya, sebaiknya gunakan kekuatan Anom".
"Baik, saatnya beraksi Anom". Sabrang bergerak cepat menyerang Sakka.
__ADS_1
Sakka menyambut serangan dengan penuh percaya diri. Dalam beberapa tarikan nafas mereka telah bertukar belasan jurus.
"Dia tidak menggunakan apinya? apa dia sudah mengetahui kekuatan pedangku yang mampu memakan api".
"Apa kau takut Naga api?". Sebuah suara mengisi pikiran Naga api.
"Laborombonga, mahluk lemah pemakan api. Kau pikir kekuatanmu bisa membuatku takut?". Naga api tertawa mengejek.
"Kau terlalu sombong seperti biasanya Naga api. Jika kau tidak takut padaku, mengapa kau tidak membantu tuanmu?". Jawab Laborombonga.
"Kekuatanmu tidak membuatku tertarik sama sekali Laborombonga. Satu yang harus kau tau, Sejak aku diciptakan belum sekalipun aku mengakui penggunaku terdahulu sebagai tuan. Kali ini aku mengakuinya sebagai tuanku, Diam dan lihatlah seberapa kuat tuanku walau tanpa energiku". Bentak Naga api.
"Kau!". Laborombonga terlihat menahan amarah.
Sabrang terus berusaha menekan sambil sesekali menghindari serangan pedang api milik Sakka. Berbeda dengan api milik Naga api yang tidak membakarnya, Api Laborombonga dapat membakar Sabrang dalam sekejap.
"Apinya benar benar menyusahkan". Umpat Sabrang dalam hati. Walaupun Sabrang terlihat unggul dari Sakka berkat mata bulannya namun dia belum mampu menyentuh Sakka karena api yang menyelimutinya sangat panas.
"Mungkin itu yang dirasakan lawanmu selama ini nak". Ucap Anom terkekeh.
Anom merasa pertarungan kali ini benar benar lucu, Sabrang yang selama ini dikenal sebagai pendekar pengguna api kini tak dapat menggunakan kekuatannya menghadapi sesama pengguna api.
"Tertawalah sepuasmu Anom, jika aku mati terbakar kau hanya akan menjadi besi tua". Jawab Sabrang kesal.
"Kau semakin mirip Naga api nak, selera humormu hilang". Anom terus terkekeh.
"Dengar nak, kau belum menyadari satu hal. Aku dan Naga api mengikutimu bukan tanpa alasan. Kekeuatan, bakat dalam dirimu yang membuat kami tertarik mengikutimu. Kekuatan kami menjadi berlipat karena kau yang menariknya. Gunakan seluruh kemampuan yang tependam dalam dirimu untuk memaksimalkan kekuatan Naga api. Bakar api itu bodoh!". Ucap Anom.
Sabrang tersentak kaget mendengar ucapan Anom sehingga membuatnya sedikit lengah. Sakka muncul dibelakangnya dan mengayunkan pedangnya sekuat tenaga.
Sabrang sebenarnya mampu membaca gerakan Sakka namun dia tidak siap. Tubuhnya terpental jauh dan membentur sebuah bangunan.
"Tuan yang kau banggakan ternyata hanya seorang bocah yang mengandalkan kekuatanmu Naga api. Tanpa dirimu dia hanya anak kecil yang baru mengenal ilmu kanuragan". Laborombonga tertawa mengejek.
Melihat Sabrang membentur bangunan, puluhan pendekar melesat kearah Sabrang. Mereka merasa ini saatnya membunuhnya.
"Gawat, pendekar muda itu dalam bahaya". Malewa mencoba membantu namun tubuhnya tak mau bergerak, dia sudah mencapai batasnya.
Saat para pendekar itu mulai mendekat, tiga sosok pendekar menghadang mereka bersamaan. Gerakan pedang mereka bertiga saling mengisi seolah digerakan oleh satu orang.
Gerakan pedang mereka bertiga sangat bervariasi dan saling melindungi satu sama lain sehingga mampu menutupi kekurangan jumlah yang mereka hadapi.
"Dalam perang ini disebut siasat Kannaya Wyuha (strategi perang dengan susunan pasukan berbentuk lingkaran berlapis). Saling mengisi dan melindungi dengan berputar dan berpindah posisi untuk menghadapi musuh yang jauh lebih banyak. Jika kalian mengikuti setiap perintahku maka kita memiliki kesempatan untuk menang". Ucap Wardhana pada Lingga dan Arung.
__ADS_1
"Arung". Teriak Malewa pada muridnya itu.
"Guru, perintahkan semua murid Naga langit untuk mengikuti semua perintah tuan Wardhana". Pinta Arung pada gurunya.
Malewa mengangguk, dia berteriak lantang pada muridnya yang mulai terdesak.
"Bergerak sesuai perintah tuan itu, jangan bergerak sendiri sendiri".
Puluhan murid mengikuti intruksi Mawena, mereka melompat mundur dan mendekati Wardhana.
"Baik, ayo hancurkan mereka". Wardhana memutar pedangnya.
Mereka bergerak bersama sesuai perintah Wardhana. Wardhana seolah menjadi komandan perang yang menggerakan ribuan pasukan. Dalam sejekap mereka mampu membalikan keadaan.
"Siapa dia sebenarnya?". Sakka menatap tajam Wardhana. Dia merasa semua ini ulah Wardhana.
"Bukan saatnya kau mengkhawatirkan orang lain". Sabrang muncul dibelakang Sakka dengan pedang terhunus padanya.
Kobaran api merah darah menyelimuti tubuh Sabrang.
"Akhirnya kau menggunakan kekuatan Naga api anak muda. Keluarkan semuanya, biar Laborombonga memakan semua kekuatan Naga api". Ucap Sakka angkuh.
"Kau pikir bisa memakan energi Naga api? Mari kita buktikan". Sabrang bergerak menyerang.
Dalam sejekap dia mampu menekan Sakka.
"Laborombonga, kini kau akan mengetahui kenapa aku memilihnya sebagai tuanku". Teriak Naga api.
Sabrang memutar pedangnya saat tubuhnya berhasil mendekat. Kobaran Naga api mengahantam tubuh Sakka saat dia berusaha menghindar.
Saat dia mencoba melompat mundur dan mengatur kuda kudanya, Anom muncul dibelakangnya dan langsung menyerang.
Sakka terpaksa menggunakan pedangnya untuk menahan serangan Anom.
"Trang". Suara besi berbenturan terdengar begitu keras. Sakka terdorong beberapa langkah kebelakang akibat efek benturan itu.
"Kenapa Laborombonga tidak bisa menyerap energi Naga api?". Sakka mengernyitkan dahinya.
"Kenapa wajahmu begitu pucat? bukankah kau yang tadi memaksaku menggunakan Naga api?". Sabrang tersenyum mengejek.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Laborombonga menurut cerita di Sulawesi tenggara digambarkan sebagai iblis pelahap api dan manusia, berkepala sapi dan bertanduk mirip kambing.( Koreksi jika Author salah ).
__ADS_1
Dalam PNA Laborombonga digambarkan sebagai ruh yang mengisi pedang milik Sakka, Ketua sekte Manca api.
Buat yang minta Crazy up sebagai THR dari PNA, berikan vote terbaikmu dulu BAMBANG.