Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Akhir Pertempuran


__ADS_3

Rubah Putih dan Ken Panca menyerang bersamaan, mereka bergerak dari dua arah dan langsung melepaskan jurus terbaik yang dimiliki.


Lakeswara terlihat ingin menghindar namun melihat serangan cepat itu, dia yakin tak akan mampu bereaksi tepat waktu.


Lakeswara menarik pedangnya sebelum berputar dengan cepat dan menghantam tubuh Ken Panca. Rubah Putih yang menyerang dari sisi yang berlawanan tak menyianyiakan kesempatan saat perhatian Lakeswara terpecah, dia menggunakan Ledakan tenaga dalam iblis untuk memperkuat serangannya.


Lakeswara terpaksa menarik dirinya masuk ruang dan waktu untuk menghindar, namun serangan Rubah Putih masih mampu menyentuh tubuhnya sedikit.


"Sial! jurus itu sangat menyulitkan," Rubah Putih melompat mundur dan kembali mengatur kuda kudanya sambil melihat Ken Panca yang sedikit terluka.


Wardhana yang melihat pertarungan itu tampak mengernyitkan dahinya, dia merasa ada yang aneh dengan gerakan Lakeswara.


Pertarungan kembali terjadi dan kali ini mulai terlihat perbedaan kekuatan diantara mereka, jika tadi Lakeswara terkena serangan karena tidak siap setelah melepaskan jurus penghenti waktu, kini dia jauh lebih siap dan menangkis serangan gabungan mereka dengan sempurna.


"Jurus Api abadi tingkat II: Tarian api abadi," Ken Panca kembali menyerang, gerakan cepatnya menyatu dengan tarian pedang yang mengeluarkan hawa panas.


Lakeswara merendahkan tubuhnya saat tebasan golok Rubah Putih hampir mengenainya, dia memutar tubuhnya sedikit sebelum menangkis serangan Ken Panca.


Gerakan Lakeswara yang semakin cepat bahkan mampu menangkis serangan dua arah sekaligus.


Ken Panca dia tiba tiba merubah gerakannya di udara dan menyerang titik buta Lakeswara yang sedang sibuk menghindari serangan Rubah Putih.


Lakeswara mampu menangkis serangan Ken Panca namun dia tak sempat bereaksi terhadap serangan Rubah Putih.


"Jurus menghentikan waktu," tiba tiba gerakan pedang Rubah Putih yang hampir mengenai tubuhnya terhenti, bukan hanya dia, Ken Panca yang sedang bergerak kearahnya ikut mematung di udara.


"Jurus ini lagi?" umpat Rubah Putih dalam hati.


Sabetan pedang telak mengenai tubuhnya, dia terpental bersamaan dengan waktu yang kembali bergerak.


Sementara Ken Panca yang juga mulai bisa bergerak tak mampu berbuat apa apa saat sebuah energi pedang memotong lengan kirinya sampai putus.


"Kau adalah keturunanku namun ikut menyerang, kalian benar benar bodoh," Lakeswara mencengkram lengan kanan Panca dengan cepat dan mengayunkan pedang ke lehernya.


"Tubuhku tak bisa bergerak," Kepala Ken Panca hampir terpisah dari tubuhnya andai Sabrang tak cepat menariknya masuk ke dimensi ruang dan waktu.


Ken Panca kembali muncul di dekat Rubah Putih dengan tangan kiri sudah putus.


Lakeswara menoleh kearah Sabrang dan menatapnya tajam.


"Kau benar benar membuatku muak! akan ku bunuh kau lebih dulu," Lakeswara bergerak kearah Sabrang yang masih memulihkan kondisinya.


"Naga Api! jika kau bersikeras menahan kekuatanmu karena ingi melindungiku maka hari ini kau akan kehilangan tuanmu!" teriak Sabrang dalam pikirannya.


Sabrang kembali menggunakan Ajian Inti Lebur saketi tingkat akhir walau tubuhnya terasa hancur.


Saat Sabrang akan bergerak menghindar, tubuhnya menjadi kaku karena rasa sakit yang luar biasa dia rasakan bertepatan dengan tekanan aura yang besar meluap dari tubuhnya.


"Naga Api?"


"Baik aku kabulkan permintaanmu, namun aku perlu waktu sedikit!" balas Naga Api.


"Gawat, gerakanku terlambat," Sabrang tak sempat menghindari serangan Lakeswara, dia menarik pedangnya dan berusaha semampunya menangkis serangan itu.


"Jurus pedang api abadi tingkat V," Emmy tiba tiba muncul bersama Lingga dan Candrakurama, mereka langsung menyerang.


Kemunculan tiba tiba mereka bertiga membuat konsentrasi Lakeswara sedikit terganggu, dia melepaskan aura hitam untuk menahan gerakan mereka bertiga namun Rubah Putih sudah berada didekatnya dan langsung menyerangnya.


"Segel bayangan!" Ken Panca ikut membantu dari jarak jauh, dia menahan gerakan Lakeswara dengan bayangannya saat hendak menghindar.


Tubuh Lakeswara kaku sesaat sebelum tebasan Emmy dan Rubah Putih menghantam tubuhnya bersamaan.


"Aku akan mengambil kepalamu," Lingga tiba tiba melesat dengan jurus andalannya, kecepatan yang dimiliki Lingga mampu menyulitkan Lakeswara, beberapa tebasan nya berhasil melukai lawannya.


Lingga semakin menggila, dia memutar pedang langitnya dan berusaha menjangkau kepala Lakeswara.


"Jangan mendekat!" teriak Rubah Putih.


Saat pedang Lingga hampir mengenai leher Lakeswara tiba tiba waktu kembali terhenti.


"Apa ini?" Lingga tampak bingung ketika waktu seolah terhenti.


Pedang Lakeswara menembus tubuh Lingga dengan cepat.


"Kau ingin kepalaku? manusia rendah sepertimu harus diberi pelajaran," Lakeswara menarik pedangnya dari tubuh Lingga dan mengayunkan kearah lehernya.


"Mati kau."


Lakeswara tersentak kaget saat sesosok tubuh melesat kearahnya dengan sangat cepat, dia terpaksa menarik serangannya dan melompat mundur.


"Bagaimana dia masih bisa bergerak saat aku menghentikan waktu?" belum selesai rasa terkejutnya, Sabrang sudah berada didekatnya.


"Ledakan tenaga dalam Iblis," sebuah pukulan menghantam tubuh Lakeswara.

__ADS_1


Rubah Putih tersentak kaget saat Sabrang menggunakan jurusnya, dia yakin efek ledakan tenaga dalam iblis milik Sabrang jauh lebih besar dari miliknya.


"Jurus penirunya benar benar membuatku kagum," ucap Rubah Putih pelan.


Lakeswara mencoba menarik tubuhnya masuk ke ruang dimensi untuk menghindari serangan lanjutan Sabrang. Saat tubuhnya hampir menghilang, lengan Sabrang ikut masuk kedalam lorong dimensi dan menarik kembali tubuh Lakeswara keluar.


"Cakar dewa bumi," Serangan Sabrang kembali menghantam Lakeswara, tekanan aura merah darah yang meluap dari tubuh Sabrang membuat Lakeswara tak leluasa bergerak.


Saat tubuh Lakeswara terpental di udara, Sabrang memutar pedangnya perlahan sebelum menghilang dan muncul didekat lawannya.


"Jurus pedang jiwa tingkat VIII : Cahaya penghancur kegelapan," energi api berbentuk kepala Naga menghantam tubuh Lakeswara dan mendorongnya ke tanah.


Ledakan besar membuat guncangan besar disekitar hutan dan menghancurkan semua yang ada didekatnya.


"Bersiaplah!" ucap Wardhana pelan sambil menarik pedangnya.


"Bersiap?" Rubah Putih tampak bingung dengan ucapan Wardhana.


"Aku diam diam memasang segel udara di seluruh area hutan untuk membaca gerakan dimensi ruang dan waktunya. Sesaat sebelum jurus pedang jiwa milik Yang mulia mengenai tubuhnya, dia berhasil menghilang dengan jurus ruang dan waktu.


Jika aku tidak salah perkiraan, segel udaraku bisa mendeteksi dimana dia akan muncul melalui aura saat lorong waktu terbuka. Ikuti pergerakan Lingga dan menyatu lah dibawah strategi Wukir Sagara Wyuha (strategi perang dengan susunan pasukan berbentuk bukit dan samudera)", ucap Wardhana sambil bergerak kearah Sabrang.


" Yang mulia, titik buta anda," teriak Wardhana.


Sabrang yang mengetahui tanda dari teriakan Wardhana memutar tubuhnya dan melepaskan aura naga Api saat Lakeswara muncul dibelakangnya.


Sedangkan Lingga yang sudah pernah ikut dalam strategi Wardhana saat di Dieng tak terlalu sulit mengikuti gerakan sesuai Wardhana.


"Bagaimana dia bisa tau aku akan muncul di belakangnya?" ucap Lakeswara terkejut saat dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


Lakeswara makin terkejut saat melihat Lingga, Rubah Putih, dan Candrakurama bergerak bersamaan. Gerakan mereka tidak lagi individual, mereka seolah bergerak bagai sebuah sistem yang terhubung dikepala Wardhana, hal inilah yang membuat Lakeswara sulit menangkis serangan.


Gerakan Lingga dan Candrakurama membuat konsentrasi Lakeswara buyar, dia tidak dapat menghindar saat tusukan Pengilon kembar menusuk tubuhnya.


Sabrang mengalirkan energi Naga Api untuk merusak tenaga dalam Lakeswara.


"Jurus menghentikan waktu," mata bulan Lakeswara kembali bersinar bersamaan dengan terhentinya waktu disekitarnya.


"Pedang Cahaya merah : Api Masalembo," Serangan Lakeswara menghantam mereka semua.


"Kau akan mati terlebih dahulu," Lakeswara bergerak kearah Rubah Putih yang masih mematung.


"Sepuluh detik, dia hanya bisa menghentikan waktu selama sepuluh detik, hamba sudah memastikannya. Yang mulia!" teriak Wardhana ketika tubuhnya kembali bisa bergerak.


"Ayo kita lakukan, sudah lama sepasang pendekar masa lalu tidak bekerja sama," Rubah Putih menarik pedangnya, dia bergerak bersamaan dengan munculnya Wulan dari dimensi ruang dan waktu Sabrang.


"Kau terlihat bodoh dengan luka di sekujur tubuhmu," ejek Wulan sambil bergerak menyerang.


"Kau masih beruntung masih bisa melihat kami hidup," balas Rubah Putih ketus.


Serangan kombinasi Rubah Putih dan Wulan mampu sedikit memojokkan Lakeswara. Tak ada lagi senyuman di wajah pemimpin Masalembo itu ketika Wardhana dan Candrakurama ikut menyerang.


Gerakan mereka bagai ombak disamudra yang terus menekan bersamaan dan menempatkan Lingga sebagai penyerang jarak jauh untuk memecah konsentrasi Lakeswara.


Walau sebagian serangan bisa dihindari dengan sempurna namun beberapa tebasan Lingga mampu mengenai tubuhnya.


Sabrang masih terdiam saat luapan aura hitam semakin banyak keluar dari tubuh Lakeswara.


"Apa yang kau rencanakan? kenapa kau tidak membantu mereka," ucap Naga Api.


"Paman Wardhana yang memintaku menyerang saat dia memberi tanda, percaya saja padanya, dia pasti memiliki rencana, selain itu ada yang ingin aku coba," balas Sabrang pelan.


"Ingin kau coba?"


"Naga api, alirkan sebagian besar energi di mataku," pinta Sabrang


"Tapi akan sangat...," belum selesai Naga Api bicara, Sabrang sudah memotongnya.


"Lakukan saja," teriak Sabrang.


"Sial! dia kuat sekali," Wulan tampak kesal saat serangan mereka terus dapat dihindari Lakeswara, bahkan lawannya mampu sesekali menyerang balik dan mengenai Wulan cukup telak.


Darah segar mulai merembes dari pakaian Wulan menandakan diapun terluka cukup parah.


Wardhana yang mulai bisa membaca gerakan Lakeswara memberi tanda pada Ken Panca untuk bersiap.


"Sekarang," Wardhana melesat cepat diantara gerakan Lingga, sebuah bayangan mengikutinya dari belakang.


Ketika sabetan pedang mengenai tubuhnya, bayangan hitam bergerak diantara tubuh Wardhana dan mengunci bayangan Lakeswara.


"Berhasil," Ken Panca mengalirkan tenaga dalamnya ke segel bayangan untuk menghentikan gerakan Lakeswara.


Namun pedang Lakeswara telah bergerak lebih dulu, pedang itu meluncur cepat kearah jantung Wardhana sebelum sebuah dinding es melindungi dan sebuah bayangan lain menarik tubuh Wardhana menjauh.

__ADS_1


"Untunglah aku tidak terlambat," Mentari tampak lega yang melihat dari kejauhan.


Melihat Lakeswara tak bisa bergerak akibat segel bayangan, Rubah Putih, Wulan dan Candrakurama menyerang bersamaan.


"Kau pikir jurus ini bisa menahanku?" Sebuah ledakan tenaga dalam melepaskan segel bayangan dengan cepat, Ken Panca terlihat terlempar beberapa langkah sebelum membentur pepohonan.


"Gawat!" Rubah Putih menarik tubuh Wulan saat energi pedang mengarah padanya.


"Tidak!!!!" wajah Wulan berubah seketika saat mengetahui Rubah Putih berusaha menahan energi pedang Lakeswara dengan tubuhnya.


Ketika energi pedang itu hampir memotong tubuh Rubah Putih, tiba tiba waktu kembali terhenti.


"Jurus menghentikan waktu?" Lakeswara tersentak kaget saat Sabrang sudah berada didekatnya.


"Kau lupa jika mata kita sama, apa yang bisa dilakukan matamu bisa kulakukan," Sabrang mengalirkan tenaga dalamnya ke dua pusaka ditangannya.


"Jurus pedang jiwa tingkat VIII : Cahaya penghancur kegelapan," serangan Sabrang membuat Lakeswara terpental di udara.


Ketika Lakeswara hendak mengatur kuda kudanya kembali, sesosok tubuh muncul dari ruang dan waktu milik Sabrang.


"Aku adalah ratu Malwageni, tak akan kubiarkan kau menghancurkan tanah leluhurku," Tungga Dewi menarik Lakeswara masuk ruang waktunya bersamaan dengan Sabrang yang menarik Ciha masuk.


"Mereka sejak awal menyembunyikan gadis ini di dimensi ruang dan waktu, aku benar benar masuk perangkapnya," Lakeswara menatap tajam Wardhana, orang yang dari awal dia remehkan karena tidak memiliki kemampuan apapun itu berhasil menjebaknya sampai tidak bisa berkutik.


"Segel gerbang dimensi utama," teriak Wardhana.


Ciha dan Lakeswara menghilang bersamaan di udara.


Cukup lama mereka terdiam sebelum Ciha muncul kembali dengan luka hampir di seluruh tubuhnya.


"Aku berhasil, dimensi ruang dan waktu tak akan bisa dibuka untuk sementara waktu," ucap Ciha sebelum roboh ketanah dan tak sadarkan diri.


Sabrang bergerak dengan sisa sisa tenaganya saat melihat tubuh Tungga Dewi jatuh ketanah, dia menyambar tubuh ratunya itu sebelum mengalirkan tenaga dalamnya.


"Tak pernah mudah menarik Lakeswara masuk ruang dan waktu, kau pasti telah menggunakan seluruh tenaga dalam yang kau miliki, terima kasih ratuku," ucap Sabrang lembut.


Pertarungan melawan pendekar terkuat itu berakhir saat matahari mulai tenggelam, semua terdiam dan tak percaya jika mereka sudah berhasil mengalahkan pemimpin tertinggi Masalembo itu dengan kerjasama.


"Setidaknya ruang dan waktu memberi kita waktu sampai cahaya putih terakhir muncul," ucap Rubah Putih lirih.


"Apa kau liat Rubah Putih? muridku yang mengalahkan Lakeswara, leluhurku bisa istirahat dengan tenang," balas Wulan sambil tersenyum menatap Sabrang.


***


Ketika Sabrang dan yang lainnya sedang berusaha menyembuhkan luka akibat pertarungan dengan Lakeswara di hutan Trowulan, di sebuah penginapan di dekat kadipaten Saung Galah seorang pendekar muda sedang duduk sambil menyantap makanannya.


Beberapa pendekar dari sekte Elang Merah yang merupakan sekte aliran besar di Saung Galah terlihat mendekati pemuda itu karena merasa dia memiliki uang yang banyak.


"Kau sepertinya bukan berasal dari daerah sini tuan?" tanya Jangka Lodro yang langsung duduk dihadapan pemuda itu.


Pemuda itu hanya mengangguk sebelum kembali menyantap makanannya.


"Berikan semua uang yang kau miliki pada kami dan kau akan kubiarkan berada ditempat ini," ancam Jangka Lodro sedikit mengancam.


Pemuda itu menghentikan makannya dan menatap tajam Empat pendekar Elang merah itu.


"Aku akan memberi apa yang kalian minta asalkan kalian bisa menjawab pertanyaanku," balas pemuda itu.


"Pertanyaan?" Jangka Lodro tampak mengernyitkan dahinya.


"Apa kalian tau di mana letak Hutan Glagah Wangi?" tanya pemuda itu.


"Glagah Wangi? seingatku hutan itu sudah tidak ada sejak ratusan tahun lalu, dan saat ini ditempat itu berdiri Sekte Angin Biru tetua Brajamusti," jawab Jangka Lodro bingung.


"Glagah wangi sudah tidak ada?" pemuda itu tersentak kaget.


"Anda seperti baru keluar dari dunia lain? hutan itu sudah lama hancur tuan," balas Jangka Lodro.


"Begitu ya? bisa kalian tunjukkan dimana letak sekte Angin Biru?" pemuda itu mengeluarkan sebuah pedang kecil berwarna emas.


"Kau boleh memilikinya jika bersedia membantuku."


"Pedang ini sangat bagus, sepertinya akan sangat mahal jika di jual kembali," ucap Jangka Lodro dalam hati.


"Apa yang sebenarnya anda cari tuan?" tanya Jangka Lodro penasaran.


"Sesuatu yang akan mengubah dunia ini," jawab pemuda itu sambil tersenyum penuh makna.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Pertarungan pemanasan Sabrang dan Lakeswara telah usah, akan ada kejutan lagi dalam beberapa chapter ke depan, semoga kalian masih setia bersama Sabrang dan Naga Api.


Sebagai tambahan Glagah Wangi adalah nama sebuah pantai di Demak yang sangat indah tapi kabarnya pantai itu dijaga dua ular berkepala manusia.

__ADS_1


PNA meminjam nama Glagah Wangi sebagai pintu pembuka menuju sesuatu yang menarik.


__ADS_2