
Senyum penuh percaya diri tak lagi nampak di wajah Naradipta saat melihat aura besar terus meluap dari tubuh Lingga, dia sadar pusaka pedang langit telah memilih tuannya dan itu jelas tidak baik untuknya.
"Bagaimana mungkin ruh itu memilih orang lemah seperti dia sebagai tuan? kau telah melakukan kesalahan besar Kemamang," ucap Naradipra dalam hati.
"Aku sudah mengamati semua gerakannya, dia tidak hanya cepat tapi tubuhnya kuat bagaikan besi, sepertinya sisik ular di seluruh tubuhnya itu yang mengumpulkan tenaga dalam dan merubahnya menjadi tameng alami. Saat ini tubuhmu sudah hampir mencapai batasnya, kau harus bisa mengalahkannya secepat mungkin," ucap Kemamang pelan.
"Bicara memang mudah tapi sangat sulit mencari celah pertahanan sisik ular yang hampir sempurna itu," balas Lingga sambil bersiap menyerang.
"Tak ada jurus yang benar benar sempurna termasuk sisik ular itu, Kau harus terus mendekatinya, aku yakin celah itu akan terlihat," jawab Kemamang.
"Mendekatinya? terima kasih, rencana yang kau buat benar benar sempurna," ejek Lingga sambil bergerak menyerang.
"Energi Kemamang memang sangat kuat, tapi sampai kapan tubuhmu akan bertahan dengan kekuatan sebesar itu? aku hanya perlu menunggu tubuhmu hancur perlahan sebelum membunuhmu," Naradipta menyambut serangan Lingga hati hati, kali ini dia memutuskan untuk menjaga jarak karena bertarung jarak dekat dengan Kemamang sama saja dengan bunuh diri.
Lingga menggunakan jurus tarian Iblis pedang sebagai awal serangannya yang kemudian berubah cepat menjadi beberapa jurus pedang lainnya. Gerakannya yang semakin cepat terus menyudutkan Naradipta.
Mendapat tekanan yang terus menerus tidak membuat Naradipta kehilangan ketenangan, pengalaman bertarung yang dimilikinya membuat dia tidak panik walau saat ini lawannya sedikit lebih kuat. Dia terus menghindari serangan sambil menjaga jarak.
"Apa kini kau hanya bisa menghindar? dimana kesombongan dan rasa percaya dirimu tadi?" ejek Lingga pelan.
"Jika kau berniat membuatku marah itu percuma, dalam pertarungan, pemenang yang akan dikenang bukan seberapa banyak dia menyerang," balas Naradipta.
"Sangat menyedihkan kata kata itu keluar dari mulutmu, apa rasa percaya dirimu hanya muncul saat menghadapi lawan yang lemah?" Lingga meningkatkan kecepatannya, dia benar benar ingin menghabisi lawan secepat mungkin.
Naradipta tersentak kaget saat Lingga tiba tiba merubah arah pedangnya, dia berusaha melompat mundur untuk menghindari serangan tiba tiba itu namun kecepatan Lingga benar benar diluar dugaannya.
Tubuhnya terlempar mundur saat sabetan pedang Lingga menghantam punggungnya, beruntung sisik ular masih melindunginya.
"Sial, sisik ular itu benar benar keras," umpat Lingga sambil mengatur nafa, tubuhnya mulai merasakan sakit menandakan hampir mencapai batasnya.
Tak mudah menahan energi Kemamang yang meledak ledak di tubuhnya dan itu sangat menguras tenaganya.
"Dia sengaja mengulur waktu sampai tubuhmu mencapai batasnya, kau harus cepat menemukan cara menyerang leher bagian belakangnya," ucap Kemamang tiba tiba.
"Leher bagian belakang? jadi itu kelemahannya?" tanya Lingga pelan.
"Benar, saat kau tadi terus menyerangnya, ada beberapa gerakan yang membuatku curiga. Dia selalu menghindar dan berusaha menjauhkan lehernya dari jangkauan serangan. Kau lihat sendiri bahkan jurus terbaikmu pun tak mampu menembus sisik ular itu, lalu kenapa dia begitu takut lehernya disentuh?"
"Begitu ya... tapi tetap saja sangat sulit menyerang bagian itu, dia begitu cepat dan menghindari semua serangan dengan tenang. Aku harus menggunakan jurus yang juga mengandalkan kecepatan dan menyerang di saat yang tepat," balas Lingga bingung.
Sebagai pendekar yang tidak memiliki kecepatan seperti Sabrang, ilmu pedang milik Lingga lebih mengandalkan tehnik dan penempatan posisi.
"Tunggu..." Lingga tiba tiba teringat dua belas tingkatan jurus tarian Iblis pedang dan dia hanya bisa menguasai sampai tingkat sebelas karena jurus terakhir tidak cocok dengan dirinya.
Tingkat terakhir dari Tarian Iblis pedang membutuhkan kecepatan tingkat tinggi karena ada beberapa perubahan gerakan pedang dan hanya Kertasura yang bisa menguasainya.
"Sepertinya aku masih mengingat gerakan jurus terakhir itu, aku akan mencoba menggunakannya," ucap Lingga pelan.
"Sorot matanya berubah, sepertinya dia akan menggunakan jurus terakhir dan itu artinya dia mulai menyadari tubuhnya sudah mencapai batas. Sekarang saat yang tepat untuk mengakhiri perlawanannya dan menunjukkan jika akulah orang yang tepat untuk menjadi tuan Kemamang," Naradipta menarik hampir seluruh tenaga dalamnya, dia sudah siap dengan serangan terakhirnya.
Keduanya bergerak bersamaan dan menyerang dengan jurus masing masing, suara ledakan terus terdengar saat kedua pusaka mereka beradu.
Lingga terlihat lebih unggul kali ini namun Naradipta mulai berani menyerang balik, dia menunggu waktu yang tepat sampai lawannya benar benar mencapai batasnya dan menghabisi dengan serangan cepat.
"Dia mulai berani menyerang, sepertinya dia mulai menyadari jika kecepatanku mulai menurun," Lingga terus menekan dan sesekali berusaha menjangkau leher bagian belakang Naradipta.
"Jadi kau sudah menyadari kelemahan ajian Tameng Waja milikku berada di leher belakang? baik jika kau begitu ingin menyerang bagian itu maka akan kuberikan," Naradipta melompat mundur sebelum melesat kembali dan menyerang dengan sekuat tenaga.
Saat Lingga menghindar kesamping, Naradipta memutar tubuhnya untuk terus menekan lawannya.
Wajah Lingga berubah seketika, dia merasa gerakan Naradipta terlalu ceroboh dan seolah lupa melindungi leher bagian belakang yang selama pertarungan tadi selalu menjadi titik paling sulit didekati.
Tak menyianyiakan waktu, Lingga langsung menyerang titik lemah itu namun begitu terkejutnya dia saat Naradipta menghilang dari pandangan dan muncul dibelakangnya.
Naradipta diam diam menggunakan seluruh kekuatannya untuk meningkatkan kecepatan disaat terakhir untuk melumpuhkan Lingga.
"Kau kalah, latihan sekeras apapun tak akan mampu mengalahkan bakat alami, aku dilahirkan memang untuk bertarung," Aura besar yang meluap dari tubuh Naradipta menekan Lingga dengan cepat bersamaan dengan ayunan pedang yang siap menebas tubuh Lingga.
"Tarian Iblis pedang tingkat akhir : Angin dingin kematian."
Naradipta tersentak kaget saat serangannya mampu dipatahkan, Lingga berputar cepat dan menyerang balik.
__ADS_1
"Inilah orang yang kupilih sebagai tuan Naga Api, suatu saat dia akan melampaui tuanku sebelumnya," Kemamang memberikan energi dalam jumlah besar pada Lingga.
Sabetan demi sabetan pedang menghantam tubuh Naradipta, walau sisik ular terus melindungi tubuhnya namun akibat benturan itu beberapa tulang rusuknya patah.
"Tidak mungkin!" umpat Naradipta panik.
Dia mencoba menghindari serangan Lingga sekuat tenaga tapi jurus tarian Iblis pedang seolah tak memiliki celah sedikitpun.
Tepat setelah tubuhnya terlempar cukup jauh, dia melihat Lingga sudah berada di belakangnya dan sesaat kemudian merasakan sakit yang luar biasa di leher belakangnya.
"Tidak mungkin! bakat alam sampai kapanpun tidak akan bisa dikalahkan."
"Bakat yang kau miliki mungkin besar tapi itu tak akan berguna tanpa kau latih dengan keras. Pemiliki Naga Api itu memiliki bakat yang jauh lebih besar darimu tapi dia terus mengasahnya dengan latihan karena dia sadar bakat saja tidak akan cukup dalam pertarungan," Pedang langit memenggal kepala Naradipta dengan cepat.
Tubuh Naradipta roboh ketanah saat kepalanya sudah terpisah dari tubuhnya. Hari ini, kebanggaannya hancur seketika oleh pendekar yang disebutnya tidak memiliki bakat.
Lingga menatap tubuh Naradipta cukup lama, dia seolah mengatakan jika kerja keras mampu mengalahkan pendekar dengan bakat sebesar apapun.
"Kau sudah kalah sejak melupakan latihan karena terlalu membanggakan bakatmu," tubuh Lingga tiba tiba roboh ke tanah.
"Tenagaku sudah habis," umpat Lingga kesal.
"Aku akan mencoba memulihkan tenaga dalam milikmu, tak ada waktu beristirahat, aku merasakan ada energi besar yang sedang mendekat ke Jawata," ucap Kemamang pelan.
"Energi Besar?"
***
Rubah Putih menghentikan serangannya dan melompat mundur saat merasakan energi Lingga menekan tubuhnya sesaat.
"Sejak kapan dia memiliki tenaga dalam sebesar ini?" ucap Rubah Putih bingung.
"Apa kau sudah menyerah dan menyadari jika tak ada yang mampu menembus pertahan es milikku?" ejek Ajidarma.
Ajidarma terlihat begitu percaya diri karena hampir semua serangan Rubah Putih mampu di patahkan oleh dinding es disekitarnya. Serangan baliknya bahkan mampu melukai Rubah Putih sesekali.
Ajidarma sebenarnya diam diam mengakui kekuatan Rubah Putih dan dia pun tidak yakin mampu mengalahkannya tapi selama dinding es bekerja dengan baik, dia hanya perlu menunggu lawannya kehabisan tenaga dalam dan membunuhnya.
"Menyerah? keturunan Rakin Aryasatya tak mengenal kata itu, harusnya kau yang menyerah karena dengan jurus itu, kau hanya butiran pasir di hadapan Sabrang," ejek Rubah Putih.
"Maksudmu pemuda dengan jurus es itu? aku minta maaf tapi mungkin saat ini dia hampir mati," jawab Ajidarma.
"Hampir mati? kau yakin?" tanya Rubah Putih sinis.
"Apa maksudmu?" tanya Ajidarma dengan wajah terkejut, dia merasa wajah Rubah Putih seolah mengatakan Sabrang sudah selamat.
Beberapa detik kemudian pertanyaannya terjawab saat melihat Hanggareksa dan Cokro melesat kearah Kuil Khayangan.
"Kau tak akan bisa mengurungnya, Wardhana selalu memiliki cara untuk lepas bahkan dari lubang semut sekalipun. Kau sudah kalah, sebaiknya kau menyerah sebelum aku berbuat kasar," ucap Rubah Putih sambil bersiap menyerang.
"Menyerah pada orang yang bahkan tidak bisa menyentuhku? aku akan membunuhmu lebih dulu sebelum membereskan mereka semua dan menguasai dunia ini dengan peradaban terlarang itu. Sudah cukup bagiku menderita dan berpura pura menjadi orang lumpuh selama ribuan tahun," balas Ajidarma kesal.
"Kau tak akan mampu, kami akan terus menjadi kuat karena dikelilingi oleh orang orang kuat, berbeda denganmu yang selama ini terbiasa di puja, kami selalu berusaha untuk terus menjadi kuat dan mengejar anak itu," luapan energi tiba tiba keluar dari tubuh Rubah Putih bersamaan dengan munculnya aura merah darah yang menyelimuti goloknya.
"Dia masih menyimpan kekuatan sebesar ini?" wajah Ajidarma kembali berubah setelah menerima tekanan yang cukup besar. Beberapa dinding es yang melindunginya selama pertarungan tadi bahkan terlihat retak perlahan.
"Rubah Putih, akhirnya kau mau menggunakan kekuatanku. Apa saat ini kau hampir mati?" ucap Suanggi, ruh Golok pusaka milik Rubah Putih dalam pikirannya.
"Kau benar benar menyebalkan bodoh, diam dan bantu aku atau kau akan tertinggal jauh dari mereka," balas Rubah Putih.
"Tertinggal?" tanya Suanggi bingung sebelum menoleh ke sekitarnya seperti sedang mencari sesuatu. "Jadi selain Iblis api sialan itu, Siren dan Kemamang sudah bangkit? ini menarik," ucapnya sambil tersenyum.
"Kekuatanmu mungkin yang paling mendekati Naga api tapi kau terkadang lepas kontrol dan itu yang membuatmu tak akan bisa melampaui Naga Api. Namun aku akan memberimu satu kesempatan lagi, jika kau masih berulah aku akan menyegel kekuatanmu selamanya," Rubah Putih tiba tiba bergerak menyerang, dia menoleh kearah Wardhana yang berada di puncak kuil sebelum mengayunkan pedangnya.
"Cepatlah selesaikan semuanya Wardhana, kita sudah terlalu lama di tempat ini, aku yakin saat ini Malwageni membutuhkan bantuanmu."
Suara ledakan besar mengejutkan Wardhana dan lainnya yang sedang berada di atas Kuil Khayangan tapi yang paling terkejut jelas Ajidarma karena untuk pertama kalinya perisai es yang paling dia banggakan hancur akibat tebasan Rubah Putih.
"Aura dalam tubuh tuan Rubah Putih berbeda, walau hamba tidak terlalu mengerti ilmu kanuragan tapi aura itu terasa sangat menakutkan," ucap Wardhana pelan.
"Tak banyak pendekar muda yang rambutnya terpaksa memutih akibat efek ilmu yang dipelajari dan Rubah Putih adalah salah satunya. Rambut itu bukan memutih karena kebetulan, tekanan tenaga dalam yang sangat besar sehingga memaksa tubuh berevolusi yang menyebabkan sel rambut menjadi rusak.
__ADS_1
Mungkin apa yang kita lihat hari ini adalah kekuatan sebenarnya yang disembunyikan Rubah Putih karena suatu hal. Pertarungan ini sudah berakhir, lawannya akan merasakan betapa mengerikannya ilmu yang membuat rambutnya itu memutih," sahut Sekar Pitaloka.
Wardhana mengangguk setuju, dia melihat Rubah Putih sebagai sosok yang berbeda dan lebih menakutkan.
"Lalu bagaimana dengan gerbang rahasia itu, apa benar ada sesuatu yang disembunyikan oleh peradaban terlarang itu?" tanya Sekar Pitaloka.
"Hamba belum tau sejauh itu Ibu ratu namun satu yang hamba yakini, di dalam gerbang rahasia itulah tersembunyi alasan Lemuria meninggalkan tempat ini dan hubungannya dengan Suku Atlantis," jawab Wardhana pelan.
"Lalu di mana gerbang rahasia itu? cepat buka karena mungkin Malwageni tidak punya banyak waktu saat ini," ucap Sekar Pitaloka.
"Maaf Ibu ratu, mereka sangat berhati hati menyembunyikan gerbang itu dan hamba sebenarnya membutuhkan sinar bulan untuk mencari titik pasti tuas yang akan membuka gerbang peradaban paling maju di dunia ini. Namun seperti yang anda katakan kita tidak punya banyak waktu jika harus menunggu malam, hamba akan berusaha mencari titik tuas itu berada dengan bantuan sinar matahari walau agak sedikit rumit."
Wardhana kembali berkonsentrasi setelah ledakan besar tadi, dia sedikit kesulitan menghitung titik pasti menggunakan sinar matahari karena arahnya sedikit berbeda.
"Berfikir lah Wardhana, mereka pasti menyiapkan petunjuk lain karena sinar bulan tidak selalu muncul," wajah Wardhana tiba tiba berubah saat menyadari sesuatu.
"Petunjuk? harusnya mereka tidak meninggalkan petunjuk apapun jika peradabannya tidak ingin ditemukan, apa mungkin mereka sengaja memberi petunjuk agar bisa di temukan?" ucap Wardhana dalam hati.
Wardhana kemudian merangkai semua petunjuk mengenai peradaban kuno itu dengan kemunculan kitab Sabdo Loji di Kuil Khayangan sebelum dibawa pergi oleh Arda Sukma dan juga tentang tulisan yang ada di batu yang menutupi lorong sistem pembuangan air.
"Jangan jangan...." Wardhana hampir berbicara sesuatu pada Sekar Pitaloka sebelum pandangan matanya tertuju pada satu titik.
Bayangan bangunan di puncak Kuil oleh sinar matahari tampak di air danau yang bergelombang akibat efek pertarungan Rubah Putih dan Ajidarma.
Bayangan itu membentuk beberapa simbol segi empat tidak sempurna di atas air yang seolah terbelah oleh bayangan lain.
"Sepertinya ini adalah petunjuk untuk membuka gerbang itu, hampir saja aku melakukan kesalahan lagi karena terlalu fokus pada danau purba ini," ucap Wardhana dalam hati, dia menoleh keatas langit dan melihat di mana matahari berada.
"Jadi begitu, simbol tidak sempurna ini terjadi karena letak matahari sudah sedikit bergeser, Ibu ratu aku sudah menemukan di mana gerbang rahasia itu," ucap Wardhana sambil mengajak turun dari puncak Kuil Khayangan.
"Matahari sedikit bergeser?" tanya Sekar bingung.
"Maaf Gusti ratu, selama ini hamba terlalu fokus pada Danau purba itu dan menganggap di danau itulah letak tuas pembuka gerbang dan itu salah besar karena danau itu sengaja digunakan sebagai pengecoh.
Gelembung air yang kadang muncul di danau memang menunjukkan ada sebuah ruang rahasia dibawahnya tapi mungkin hanya ruang biasa yang sengaja dibuat untuk mengecoh dan menjauhkan dari pintu utama. Mereka benar benar pintar menyembunyikan semuanya," jawab Wardhana cepat.
"Lalu jika ruang rahasia di bawah danau itu adalah tipuan, dimana gerbang peradaban kuno itu berada?" tanya Sekar kembali.
"Kamar Ajidarma, di sanalah gerbang utama itu berada. Bangunan di puncak kuil Khayangan hanya sebuah petunjuk untuk menggeser batu di lantai kamar itu dan membuka tuas utama.
Mereka benar benar membuatmu takjub karena semua kerumitan misteri ini menunjukkan betapa majunya peradaban Lemuria," Wardhana menghentikan langkahnya saat bertemu Hanggareksa yang sedang menuju ke puncak Kuil.
"Apa anda sudah menemukannya?" tanya Hanggareksa penasaran.
Wardhana hanya mengangguk sambil menunjuk kamar yang ada dihadapannya.
"Disitulah gerbang itu berada dan selama ribuan tahun, Ajidarma tidak sadar jika dia adalah orang yang paling dekat dengan gerbang peradaban Lemuria," ejek Wardhana sambil membuka pintu kamar.
(Ilustrasi Kuil Khayangan dan ruang rahasianya yang akan dibongkar oleh Wardhana kemana gerbang itu akan membawa mereka. Foto : Google)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Cerita di balik layar.......
"Jadi maksud lu Ajidarma orang yang paling dekat dengan gerbang Lemuria?" tanya Hanggareksa terkejut.
"Benar, seperi Jomblo yang tidak sadar jika jodohnya berada disekitar mereka. Sifat tidak peka yang terbentuk selama ribuan tahun akibat Menjomblo sampai berkarat membuat mereka kehilangan jodohnya, mirip dengan kucing garong yang terlalu sibuk ngelirik barang bening dan tidak sadar makanannya di embat kucing lain.
Mereka dengan terlalu percaya diri menganggap wajah kesemek gantung sebagai ketampanan yang paripurna, itulah kesalahan terbesar si Jomblo," jawab Wardhana sambil nyeruput kopi Lampung yang harganya murah tapi rasanya nendang.
"Gila ini Kopi mantep banget, lu harus beli dengan menghubungi akun Instagram rickyferdianwicaksono sebelum perang sama Arkantara biar pasukan kita menang," lanjut Wardhana sambil menatap kamera dihadapannya.
"Ah lu lebai War, kopi dimana mana sama," Hanggareksa mulai tertarik dengan kopi yang ada di dalam cangkir bertuliskan "Vote donk"
"Beda ini bro, banyak Jomblo yang langsung mendapatkan pasangan setelah minum kopi Lampung yang dipetik langsung dari sumbernya. Kalo lu gak percaya beli dong dan rasakan sensasinya," balas Wardhana.
"Wah jadi penasaran gua, oke deh gw add dulu IG nya baru pesen," ucap Hanggareksa tertarik.
"Tapi gak boleh ngutang, emang lu pikir dia ngedip, biji kopinya keluar gitu aja? enggak lah, dia juga beli," balas Wardhana cepat.
__ADS_1
"Orang blo'on gini di jadiin musuh gua? jatuh harga diri gua sebagai penjahat," Umpat Mandala yang bersembunyi di atas pohon.