
"Berfikir lah Arina, mereka semua sedang bertaruh nyawa di medan perang, kau harus mencari cara untuk bertahan sampai Yang mulia kembali," ucap Arina kesal sambil melihat gulungan yang penuh dengan coretan.
Namun sekuat apapun Arina berfikir semua jalan seolah sudah tertutup karena saat ini pasukan musuh sudah bergerak bersamaan dari berbagai arah mengepung Malwageni.
Arina bisa saja mengerahkan pasukan di satu titik untuk menahan serangan pasukan Suang Galah namun pertahanan keraton akan melemah dan jika ada serangan tiba tiba maka dia yakin keraton akan jatuh, tapi jika dia fokus menjaga keraton pun hasilnya akan sama, serangan dari berbagai arah secara bersamaan tak akan bisa mereka hentikan.
Situasi semakin sulit karena untuk bertahan di dalam Ibukota mereka membutuhkan pasokan makanan yang tidak sedikit, terlebih banyak penduduk yang mengungsi di dalam keraton. Ditutupnya jalur distribusi bahan makanan di Rogo Geni benar benar membuat Arina makin tersudut.
"Aku tidak boleh berakhir di sini, saat aku sudah menemukan rumah yang memperlakukanku dengan baik, tak akan kubiarkan mereka menghancurkannya kembali," umpat Arina kesal.
Dia kembali melempar gulungan yang sudah penuh coretan itu dan mengambil gulungan baru. Arina terus mencoba menerapkan berbagai strategi untuk keluar dari situasi sulit ini.
"Tenanglah Arina, pikirkan dengan perlahan," ucapnya pelan, dia kembali menggambar posisi pasukannya dan juga musuh di gulungan itu.
Namun saat dia sedang berusaha berfikir terdengar suara keributan dari luar. Arina langsung berlari keluar dan melihat ratusan prajurit musuh muncul dari hutan dan menyerang perkemahannya.
"Tidak mungkin! mereka tidak mungkin secepat ini sampai keraton," ucap Arina panik, dia yakin sudah menghitung semuanya termasuk jarak tempuh dan hasilnya paling cepat satu hari untuk sampai ke ibukota dengan pasukan sebesar itu.
"Jangan jangan, musuh yang bergerak dari arah barat memecah kembali pasukannya?" Arina semakin panik setelah menyadari kesalahannya.
"Nona, pergilah, kita sudah dikepung," teriak beberapa prajurit yang mencoba melindungi Arina.
Situasi langsung tegang, kepanikan terlihat dimana mana, tidak adanya orang yang mampu membaca situasi dengan cepat membuat para prajurit Malwageni bergerak mengikuti insting masing masing dan hal ini dimanfaatkan dengan baik oleh musuh.
"Pergi? apa kau gila, aku tidak akan pernah meninggalkan tempat ini," Arina langsung berlari kedalam dan mengambil pedangnya.
"Lindungi Nyonya selir dan pangeran," teriak Arina sambil berlari kearah pertarungan.
"Yang mulia, maafkan hamba jika mengecewakan anda tapi hamba sudah berusaha sekuat tenaga untuk menahan mereka," ucap Arina dalam hati.
Arina sadar sejak awal telah masuk perangkap lawan dan dia sebenarnya sudah mengantisipasinya namun rencana yang dibuat oleh Rengga tak mampu dilawan olehnya.
Arina baru menyadari jika gerakan tidak biasa Saung Galah yang menaklukkan Rogo Geni terlebih dahulu adalah siasat untuk meruntuhkan semangat tempur sekaligus mengalihkan perhatian agar pasukan pembuka bisa bergerak bebas mendekati keraton.
Sudah menjadi rahasia umum jika Kadipaten Rogo Geni adalah ibukota kedua Maleageni karena semua perjuangan Sabrang berawal dari kadipaten itu.
Dengan menaklukkan Rogo geni Arkantara dan Saung galah mendapatkan tiga keuntungan sekaligus. Turunnya semangat tempur pasukan Malwageni karena takluknya kadipaten itu hampir sama dengan takluknya keraton, kedua mereka bisa memutus jalur distribusi sekaligus mengalihkan perhatian Arina dan para Telik sandinya dari pasukan pembuka jalan yang bergerak diam diam mendekati Ibukota.
Dan kini rencana yang dibuat Rengga kembali menyudutkan Arina saat pasukan yang dipimpin Barapati memecah kembali pasukannya dan berubah menjadi pasukan pembuka jalan sekaligus mencoba menaklukkan pertahanan terakhir Malwageni.
"Senang telah mengenal anda Yang mulia," Arina menarik pedangnya dan berusaha menyerang dua orang prajurit musuh yang mendekatinya namun karena perbedaan kekuatan dia dengan mudah dilumpuhkan.
Sebuah sabetan pedang mengenai punggung Arina yang membuat tubuhnya roboh dengan posisi berlutut.
"Nona!" salah satu prajurit Malwageni berlari dan berusaha menyelamatkan Arina saat melihat pedang lawan hendak menebas lehernya.
"Kau pikir aku akan mati begitu saja? aku akan membawa kalian semua," Arina menusukan pedang ke salah satu prajurit dengan sisa sisa tenaganya.
Saat serangan dari arah belakang hampir memenggal kepalanya, sebuah dinding es muncul dan menangkis serangan itu.
"Tak akan kubiarkan kalian berbuat seenaknya di wilayah Malwageni," Mentari muncul sambil menggendong anak yang baru dilahirkannya.
Dia kemudian mengambil panji kebesaran Malwageni yang berada didekatnya yang sudah berlumuran darah dan menggunakan untuk menggendong anaknya.
__ADS_1
"Nyonya selir pergilah!" teriak Arina terbata bata.
"Akan kubunuh kalian semua," teriak Mentari sambil bergerak maju. Puluhan prajurit Arkantara langsung mengepungnya dan berusaha menyerang bayi yang ada dalam gendongan Mentari.
Mereka sadar Mentari memiliki ilmu kanuragan tinggi dan satu satunya cara mengalahkannya dengan menyerang kelemahan wanita itu.
"Maafkan ibu nak tapi ini harus ibu lakukan untuk mempertahankan Malwageni," ucap Mentari sambil melepaskan aura dari tubuhnya.
Aura putih yang meluap dari tubuh Mentari perlahan membentuk sebuah tongkat yang berputar di udara, dia terus menghindar setiap serangan yang terarah pada anaknya sambil sesekali menyerang balik.
Melihat Mentari kesulitan bertarung sambil melindungi pangeran kecil, Arina tidak tinggal diam. Gadis itu ikut membantu dengan sisa sisa tenaganya.
Ketika situasi semakin kacau dan pasukan Malwageni terus terdesak, sebuah harapan muncul kembali bersama puluhan pisau es yang bergerak menyerang pasukan Arkantara.
"Yang mulia?" ucap Mentari pelan sambil melihat sesosok tubuh mendekat dengan cepat.
"Jurus pedang Serbuk Bunga penghancur Iblis," Sekar Pitaloka mengayunkan pedangnya sekuat tenaga membuat puluhan prajurit musuh mundur.
"Kau baik baik saja?" ucap Sekar Pitaloka pelan.
"Ibu ratu, anda sudah kembali," balas Mentari yang diiringi tangis anaknya.
"Berani sekali kalian menyerang cucuku," luapan tenaga dalam dari tubuh Sekar langsung menekan sekitarnya yang membuat para prajurit musuh kesulitan bergerak.
Dia bergerak cepat dan menyerang semua lawan yang berada dalam jangkauan pedangnya.
"Lindungi Ibu ratu!" Wardhana muncul bersama para pendekar kalang dan Ksatria pisau tumbuk lada, dia langsung mengambil kendali dan memerintahkan prajurit Malwageni untuk membentuk formasi tempur.
"Bentuk Formasi Wukir Sagara Wyuha (strategi perang dengan susunan pasukan berbentuk bukit dan samudera), jangan biarkan celah kalian terbuka, siapapun yang mundur satu langkah akan kubunuh!" Wardhana langsung masuk kedalam formasi tempur, dia bergerak dari sisi kiri dan terus menekan bersama beberapa pasukannya.
Hanggareksa dan Arsenio juga ikut membantu dengan formasinya masing masing. Kehadiran mereka membuat situasi berubah dengan cepat.
Pasukan Arkantara yang awalnya sudah unggul mulai terdesak, Gabungan Formasi Wardhana, pendekar kalang dan Kstaria pisau tumbuk lada benar benar memporak porandakan lawannya. Dan puncaknya saat aura yang sangat besar tiba tiba menekan area pertempuran bersamaan dengan munculnya Rubah Putih dan Lingga di tengah pertempuran.
"Tak kusangka situasinya begitu kacau," ucap Rubah Putih sebelum bergerak dan mengambil belasan nyawa di dekatnya.
***
"Tarian Rajawali," Tungga Dewi bergerak menyerang dan berusaha keluar dari kepungan formasi pasukan Arkantara yang dipimpin Barapati namun secepat apapun dia menyerang dan membuka jalan, prajurit lainnya langsung menutup celah formasi dan menekan balik.
"Sial, mereka benar benar kuat!" umpat Tungga Dewi sambil melihat pasukannya yang juga terdesak.
Pasukan tempur yang dipimpin Barapati memang cukup kuat karena merupakan gabungan dari pasukan elit Arkantara dan beberapa pendekar Kuil suci kelas menengah. Hal inilah yang membuat formasi mereka mengunci pergerakan Tungga Dewi dan berhasil memisahkannya dengan pasukan Malwageni.
Kemampuan para pendekar menengah Kuil suci sebenarnya berada di bawah Tungga Dewi namun karena mereka bergerak dalam formasi yang cukup rumit sehingga mampu mengimbangi bahkan sedikit mendesak Tungga Dewi.
Sayatan sayatan pedang mulai menghiasi tubuh Tungga Dewi yang membuat gerakannya perlahan melambat dan itu dimanfaatkan benar oleh Barapati untuk melumpuhkan secepatnya.
"Gunakan formasi tingkat dua," gerakan prajurit Arkantara berubah seketika setelah mendengar perintah Batara, mereka saling berganti posisi membuat Tungga Dewi tidak siap menerima serangan itu.
"Mereka juga menguasai ilmu pedang tingkat tinggi?" Tungga Dewi tersentak kaget saat dua orang prajurit Arkantara bergerak cepat diantara formasi tempur mereka dan langsung menyerang.
Tungga Dewi merendahkan tubuhnya dan menangkis serangan salah satu pendekar itu namun tak sempat menghindari serangan dari arah yang berlawanan.
__ADS_1
"Gawat!" Tungga Dewi yang sudah pasrah kemudian mengalirkan tenaga dalam ke seluruh tubuh untuk mengurangi efek serangan.
"Tehnik pedang Rajawali seharusnya jauh lebih cepat dari ini, anda harus berlatih lebih keras untuk sampai pada tingkatan tetua Sudarta," seorang pria tua tiba tiba muncul didekat Tungga Dewi dan menangkis serangan pendekar itu. Dia juga melepaskan beberapa jurus pedangnya yang membuat pendekar kuil Suci terlempar cukup jauh.
"Anda?" ucap Tungga Dewi lega.
"Maaf kami terlambat karena harus menemui Wahyu Tama, kita harus meminta bantuan semua pendekar karena Mandala sudah bergerak," ucap Darin pelan.
"Wahyu Tama?" belum selesai rasa terkejut Tungga Dewi, Wulan muncul bersama Wahyu Tama dan langsung melindungi Tungga Dewi.
"Sepertinya kami hampir terlambat," ucap Wulan sambil menarik pedangnya.
"Tetua Wulan, syukurlah," ucap Tungga Dewi lega.
Munculnya tiga orang dengan ilmu kanuragan yang tinggi membuat Barapati menjadi waspada, dia langsung meminta pasukannya menggunakan formasi tempur tingkat terakhir.
"Mereka bukan prajurit biasa, aku bisa merasakan saat menyerangnya tadi. Berhati hatilah," ucap Darin sambil bersiap menyerang.
"Bukan kita yang harus berhati hati tapi mereka," balas Wahyu Tama cepat sambil menatap kesatu arah. "Kemunculanku kembali di dunia persilatan setelah puluhan tahun langsung di sambut oleh pendekar terkuat."
"Energi keris penghancur," puluhan energi keris muncul di udara sebelum melesat cepat dan menghancurkan formasi pasukan Barapati dengan cepat.
"Mundur!" teriak Barapati sambil melompat mundur, dia menatap sekitarnya untuk mencari asal aura besar yang menekan mereka.
Pandangannya terhenti saat melihat seorang pemuda berambut putih yang mengenakan topeng sedang melayang di udara.
"Jadi dia yang menyerang kami?" ucap Barapati dalam hati.
"Yang mulia..." Tungga Dewi menatap haru.
"Sepertinya anda mengajarinya dengan baik," ucap Wahyu Tama kagum.
"Kaulah yang membentuk pondasinya, aku hanya meneruskan apa yang sudah kau bentuk," balas Darin yang disambut tawa Wahyu Tama.
***
"Sampai kapan kita harus menunggu? kau mengatakan kita akan bergerak pagi hari tapi sampai matahari hampir tenggelam kembali kita masih disini, bukankah mereka sudah terdesak?" tanya Saragi sedikit kesal, dia merasa Rengga terus mengulur ngulur waktu.
"Mohon bersabar Yang mulia, ketenangan dan kesabaran adalah kunci kemenangan kita kali ini, jangan sampai semuanya hancur hanya karena terburu buru. Hamba hanya ingin memastikan semua bergerak sesuai rencana," jawab Rengga pelan sambil menatap langit yang mulai gelap.
"Berapa hari perjalan dari sini ke ibukota?" tanya Rengga pada salah satu telik sandi kepercayaannya.
"Jika tidak ada halangan berarti kemungkinan besok malam kita sudah sampai di gerbang Ibukota," jawab prajurit itu pelan.
"Begitu ya... tuan Agam dan pasukannya juga kemungkinan malam sudah sampai di ibukota. Lalu, apa sudah ada kabar dari pasukan kita yang saat ini masih dalam perjalanan?" Rengga kemudian membereskan gulungannya dan berlutut dihadapan Saragi.
"Hamba siap menerima perintah Yang mulia," ucap Rengga pelan.
Wajah Saragi berubah seketika, sudah lama dia menunggu Rengga mengatakan itu.
"Biak, Ayo kita taklukkan Malwageni," Jawab Saragi cepat.
Dia kemudian mengadakan pertemuan kecil dengan para panglima perangnya untuk mematangkan kembali semua rencana yang dibuat Rengga.
__ADS_1
Setelah semua siap, pasukan utama Arkantara mulai bergerak menuju keraton dan di saat yang bersamaan Pancaka bersama Agam memimpin pasukan Saung Galah meninggalkan Rogo Geni.