
"Kuil ini adalah penanda waktu?"
"Benar Yang mulia, kemarin malam hamba sempat memeriksa puncak kuil dan menemukan belasan bangunan kecil yang semuanya tepat menghadap arah mata angin.
Awalnya hamba menganggap itu semua hanya kebetulan sampai melihat bayangan sinar bulan dari kamar Ajidarma yang tepat menghadap kearah utara saat tengah malam.
Yang mulia, tempat ini tidak hanya di bangun sebagai kuil pemujaan tapi lebih dari itu. Ilmu pengetahuan bahkan mungkin gerbang rahasia menuju suatu peradaban yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya," balas Wardhana pelan.
"Jadi peradaban terlarang itu benar benar ada?"
"Hamba pun awalnya sempat tidak yakin tapi struktur bangunan ini benar benar dibuat dengan perhitungan yang sangat rumit, bahkan Masalembo pun tak akan mampu membuat kuil ini."
Wardhana kemudian menjelaskan semua yang dia temukan selama tinggal di kuil Khayangan dan kemungkinan ada ruang rahasia di dasar danau purba.
"Ruang rahasia di dasar danau purba?" tanya Sabrang bingung.
"Walau mungkin sudah di tinggalkan oleh mereka, hamba yakin ada petunjuk mengenai peradaban terlarang itu dan tujuan Ajidarma sebenarnya menjaga tempat ini adalah mencari gerbang itu," jawab Wardhana.
"Mencari gerbang itu? bukankah menurut kakek Hanggareksa, Ajidarma adalah satu satunya orang yang tersisa dari peradaban itu?"
"Tidak Yang mulia, aku memang tidak tau siapa dia sebenarnya tapi jelas bukan berasal dari peradaban terlarang. Saat kita masuk ke kamarnya, beberapa lantai batu terlihat rusak di beberapa sisi menandakan sering di geser dengan paksa.
Lantai batu itu sepertinya dibuat sangat sempurna di atas jalur sebagai kunci gerbang rahasia dan jika kita menggeser ke arah yang salah maka perlahan kunci itu akan rusak. Mereka sengaja membuat sistem rumit itu agar jika ada yang memaksa masuk maka ruang rahasia itu tidak akan bisa dibuka selamanya.
Peradaban terlarang mempunyai ciri khas yang sama yaitu air dan sinar bulan, Ajidarma sepertinya sudah mengetahui rahasia itu tapi sampai saat ini dia belum bisa menemukan gerbang itu. Itulah alasan dia selalu duduk di puncak kuil saat purnama mencapai puncaknya untuk memecahkan misteri lantai kamarnya," balas Wardhana.
"Jadi gerbang itu ada di dalam kamarnya?"
Wardhana mengangguk pelan sambil menggambar ulang lantai di kamar Ajidarma, dia ingin memecahkan misteri lantai itu dan hubungannya dengan penanda Waktu.
"Baru kali ini aku menemukan tuas kunci gerbang yang begitu rumit, apa memang sebaiknya ruang rahasia itu terkubur selamanya?" ucap Wardhana dalam hati.
Wardhana memang sudah mengetahui jika kuil khayangan adalah sebuah penanda waktu rahasia tapi dia masih belum mengerti hubungannya dengan gerbang rahasia itu.
Saat Wardhana sedang berfikir, tiba tiba pintu kamarnya diketuk pelan.
"Tuan Wardhana?" ucap Cokro pelan.
Sabrang yang terkejut dengan ketukan tiba tiba itu langsung mengeluarkan pisau es di kedua tangannya dan menoleh kearah Wardhana.
"Tidak apa apa Yang mulia, dia adalah temanku," bisik Wardhana sambil melangkah kearah pintu dan membukanya.
"Anda baik baik saja tuan?" tanya Cokro khawatir.
"Aku baik baik saja, masuklah," balas Wardhana.
Cokro tersentak kaget dan langsung melompat mundur saat melihat Sabrang di dalam kamar Wardhana, hampir saja dia mencabut pedang andai Wardhana tidak menahannya.
"Beliau adalah rajaku, tolong jaga sikapmu," ucap Wardhana cepat.
"Raja anda? bagaimana dia bisa masuk ke tempat ini dan menebus segel langit?" tanya Cokro bingung.
"Segel langit?" balas Sabrang bingung.
"Benar juga, Yang mulia bagaimana anda bisa masuk ke tempat ini?" Wardhana tak kalah terkejut setelah menyadari semuanya.
Kuil Khayangan di lindungi oleh segel langit yang jauh lebih kuat dari segel kabut milik sekte Bintang Langit. Tak akan ada yang mampu menembus segel itu kecuali dibuka oleh penggunanya. Dengan mata biasa, Kuil Khayangan hanya terlihat sebagai danau purba dengan tumpukan bekas lahar gunung merapi.
"Aku tidak tau jika kuil Khayangan di lindungi oleh segel langit karena saat sampai, aku langsung melihat kuil ini dan paman Wardhana sedang tergantung di dinding bangunan," jawab Sabrang bingung.
"Apa mungkin tuan Hanggareksa sedang membuka segel itu?" tanya Wardhana penasaran.
"Tidak mungkin, segel langit hanya di buka atas persetujuan tuan Agung dan ketua. Terlebih malam tuan agung sedang melakukan ritual di puncak kuil jadi mustahil ketua membuka segel itu."
__ADS_1
"Jika begitu, jangan jangan mata bulannya kembali berevolusi sehingga mampu menembus segel langit?" ucap Wardhana dalam hati sambil menoleh kearah Sabrang yang masih tampak bingung.
"Apa ada yang salah, paman?" tanya Sabrang kembali.
"Tidak Yang mulia, hamba hanya merasa mata bulan anda adalah kunci dibalik keanehan ini," balas Wardhana sambil menarik nafas panjang, dia benar benar takjub dengan mata bulan dan entah sampai kapan mata itu akan terus berevolusi.
"Lalu dimana tuan Ajidarma saat ini?" tanya Wardhana kemudian.
"Dia akan mengurung diri di kamar selama beberapa hari setelah melakukan ritual, mungkin dengan tubuh yang mulai melemah dia butuh waktu untuk beristirahat," jawab Cokro pelan.
"Istirahat? tidak, aku yakin saat ini dia sedang berusaha membuka gerbang rahasia di kamarnya. Itulah alasan dia selalu melakukan ritual di malam purnama," balas Wardhana sinis.
"Gerbang rahasia? jika maksud anda ruang rahasia yang berada di teras pertama, tuan Agung sudah sering memasukinya," sahut Cokro.
"Tidak, ruangan itu mungkin hanya ruang biasa yang sengaja di gunakan Ajidarma untuk menyamarkan rahasia terbesar di kuil Khayangan dan untuk memanfaatkan kalian semua," balas Wardhana cepat.
"Memanfaatkan kami semua?" tanya Cokro semakin bingung.
"Apa ruang itu yang kalian jaga selama ini?" tanya Wardhana.
"Benar tuan, di ruangan itulah peninggalan peradaban terlarang berada termasuk kitab Sabdo Loji," balas Cokro.
"Apa kalian pernah masuk ke ruangan itu?"
"Tidak tuan, ruangan itu hanya boleh dimasuki oleh tuan Agung," jawab Cokro.
"Lalu darimana kalian tau jika di dalam ruangan itu tersimpan peninggalan peradaban terlarang?" kejar Wardhana.
"Itu..." Cokro tidak bisa menjawab pertanyaan Wardhana kali ini, dia mulai menyadari semua yang dikatakan Wardhana benar.
"Tuan Agung telah menyelamatkan hidup kami dan memberi tempat tinggal yang kayak, akan sangat aneh jika kami tidak percaya padanya," jawab Cokro.
"Itulah yang digunakan Ajidarma untuk memanfaatkan kalian selama ribuan tahun demi ambisinya. Dengar Cokro, Kuil Khayangan dibangun bukan hanya sebagai tempat pemujaan, banyak misteri lainnya yang tidak kalian ketahui termasuk ruang rahasia yang kemungkinan pintu masuknya berada di kamar Ajidarma.
Apa kalian selama ini tidak merasa aneh mengapa hanya kitab Sabdo Loji yang muncul ke dunia persilatan andai di ruang yang kalian jaga selama ini tersimpan begitu banyak peninggalan peradaban terlarang? Saat ini mungkin kau masih meragukan ucapanku, bagaimana jika kita masuk ke ruangan rahasia di teras pertama untuk membuktikannya?" tantang Wardhana.
"Masuk ke ruang rahasia itu? tidak mungkin, ketua pun pasti tidak akan mengizinkannya karena itu sudah menjadi bagian sumpah setia kami sebagai pendekar kalang," jawab Cokro cepat.
"Kau masih memegang sumpah pada orang yang memanfaatkan kalian, dan mungkin juga yang membuat Arda Sukma lari dari tempat ini?" tanya Sabrang sinis.
"Bukan begitu tuan, bagaimana jika perkiraan tuan Wardhana salah?"
"Kalian boleh memenggal kepalaku," jawab Wardhana yakin.
Cokro terdiam sesaat, masih ada keraguan dalam hatinya jika Ajidarma yang mereka anggap penyelamat pendekar kalang adalah orang licik yang memanfaatkan mereka demi ambisi pribadi.
"Jika perkiraanku benar, kalian harus berhari hati dengan Ajidarma. Dia telah memegang kitab itu lebih dulu itu artinya ilmu kanuragannya sangat tinggi dan mungkin Hanggareksa pun tak mampu menghadapinya.
Kami bukan menginginkan peradaban itu tapi menyelamatkan dari pasukan kuil suci pimpinan Agam, saat ini hanya Yang mulia yang mungkin mampu menghadapi Ajidarma. Kini pilihan ada di tangan kalian karena walau tanpa pendekar kalang sekalipun kami akan tetap membongkar semua rahasia ini," ucap Wardhana kemudian.
Cokro terlihat semakin bingung karena semua yang diucapkan Wardhana masuk akal, dan keanehan keanehan Ajidarma yang dia lihat selama ini seolah menguatkan pendapat itu.
"Andai semua yang anda ucapkan benar, aku tetap tidak bisa memutuskannya, sebaiknya anda bicara pada ketua, tuan," jawab Cokro pelan.
"Aku pasti bicara padanya tapi sebelum itu ada sesuatu yang ingin kuminta padamu."
"Meminta sesuatu dariku?"
"Kudengar kau adalah orang yang paling dekat dengan Ekawira, aku ingin kau membujuknya untuk mengatakan semua yang dia ketahui. Sejak awal, aku yakin dia ingin merebut kitab itu bukan demi kepentingan pribadinya.
Ada sesuatu yang mungkin bisa menjadi petunjuk menemukan gerbang itu dan sepertinya hanya kau yang bisa membujuknya. Lupakan semua sumpah setia kalian, dia bukan dewa penolong," jawab Wardhana pelan.
"Kakang Wira? bagaimana aku mencarinya, bukankah ketua mengatakan dia telah melarikan diri," balas Cokro bingung.
__ADS_1
"Dia aman bersama kami, jika kau setuju aku akan mempertemukanmu dengannya."
"Anda sudah merencanakannya dengan matang?" Cokro tampak takjub melihat semua pergerakan Wardhana.
Wardhana seolah sudah menguasai sepenuhnya situasi yang dihadapi walaupun baru beberapa hari tinggal di kuil Khayangan. Cokro tidak bisa membayangkan seberapa mengerikan mereka saat kepintaran Wardhana menyatu dengan ilmu kanuragan Sabrang yang dengan mudahnya menembus segel langit.
"Akan kucoba tapi aku harus mencari alasan yang tepat untuk pergi dari kuil ini," jawab Cokro.
"Alasan? bagaimana jika kau tak harus meninggalkan tempat ini?" balas Wardhana tiba tiba.
"Maksud anda?" ucap Cokro terkejut.
"Yang mulia?" Wardhana menoleh kearah Sabrang seolah menunggu perintah.
"Aku sudah meminta Naga api menemui Siren dan mengatakan pada Mentari untuk datang bersama Candrakurama dan kakek rubah Putih, saat ini mungkin mereka sudah dalam perjalanan. Lakukan paman," balas Sabrang.
"Lakukan?" Cokro masih belum mengerti situasinya.
"Kami memang akan memeriksa ruang rahasia yang kau katakan ada di teras pertama tapi tidak dengan diam diam, sudah saatnya kita membongkar topeng kebaikan Ajidarma dan menunjukkan siapa dia sebenarnya," jawab Wardhana tegas.
"Itu artinya anda akan bertarung dengan kami sebagai penjaga kuil Khayangan, tuan?"
"Aku percaya Hanggareksa masih memiliki pikiran jernih, aku akan bicara padanya pagi ini tapi jika dia bersikeras kami terpaksa menghadapi kalian semua walau mungkin akan datang musuh lainnya," balas Wardhana.
"Musuh lainnya? maksud anda pasukan kuil suci?"
Wardhana mengangguk pelan, "Jika besok Hanggareksa tidak mau bekerja sama maka akan terjadi pertarungan besar di kuil ini dan mereka mungkin akan mengetahuinya," ucap Wardhana pelan.
"Dia benar benar sudah gila, mengetahui akan muncul banyak musuh tapi tak terlihat sedikitpun kegelisahan di wajahnya," ucap Cokro dalam hati.
"Maaf tuan, bolehkah aku bertanya sedikit? anda seperti sangat percaya diri dengan semua rencana yang anda buat tapi bagaimana jika semua rencana itu berantakan? Kami mungkin dimanfaatkan oleh tuan Agung selama ini tapi ketua tidak akan mengambil resiko mati sia sia dan lebih memilih menghentikan tuan Agung dengan caranya sendiri. Bagaimana jika ketua memilih jalan lain? apakah kita akan saling bunuh?"
"Tak ada yang pasti dalam perang, aku telah memenangkan puluhan kali peperangan tapi juga tidak sedikit kekalahan yang sudah kudapatkan. Bagi panglima perang sepertiku, kematian akan selalu mengintai di setiap nafasku.
Kau mungkin menganggap aku gila tapi dalam membela apa yang kami anggap benar terkadang harus dengan darah dan kami tidak akan takut sedikitpun. Rencana yang aku buat mungkin tidak selalu berhasil karena musuh juga pasti memiliki rencana sendiri tapi aku sangat percaya dengan ksatria ksatria hebat yang ada di sekitarku.
Kami berbeda dengan kalian yang setia pada Ajidarma karena memiliki rasa hutang budi. Ksatria Malwageni siap mati bukan karena berhutang budi atau takut pada Yang mulia. Kami semua disatukan oleh hati, setia pada Yang Mulia sudah menjadi jalan hidup kami," jawab Wardhana sambil mengambil pedang yang ditaruh di dekat tempat tidurnya.
"Yang mulia, hamba mohon izin untuk menemui tuan Hanggareksa," Wardhana bangkit dari duduknya dan menundukkan kepala menunggu perintah dari orang yang paling dihormatinya itu.
"Ayo kita lakukan paman," balas Sabrang penuh keyakinan.
***
"Anda tidak seharusnya ikut Ibu ratu, hamba takut Yang mulia murka," ucap Candrakurama pelan sambil bergerak cepat kearah sisi gelap alam semesta.
"Apa kau pikir aku akan mengizinkan Tari bertarung dengan perut yang sudah membesar? jika sampai bayinya terluka karena pertarungan, kalian semua yang akan kubunuh! apa yang sebenarnya di pikirkan anak bodoh itu dengan meminta Tari bertarung," umpat Sekar Pitaloka kesal.
Candrakurama terdiam, dia tidak berani menjawab ucapan Sekar Pitaloka. Sudah menjadi rahasia umum jika Sekar sangat dekat dengan Mentari.
"Apa yang dikatakan Naga Api tentang kuil Khayangan padamu?" tanya Sekar Penasaran.
"Hamba tidak begitu mengerti ibu ratu, nyonya selir hanya mengatakan jika ada kemungkinan sebuah peradaban yang berhubungan dengan kitab Sabdo Loji," jawab Candrakurama.
"Kitab itu lagi, sepertinya semua masalah di dunia persilatan bersumber dari Sabdo Loji," balas Sekar pelan.
Candrakurama dan Sekar Pitaloka menghentikan langkahnya saat melihat Rubah Putih sudah menunggunya di gerbang sisi gelap alam semesta.
"Tuan, anda juga mendapat pesan Naga Api?" tanya Candrakurama.
"Dia mengirim pesan melalui Naga api ke Ken Panca, sepertinya akan ada sesuatu yang besar di danau purba itu sampai Sabrang langsung mengirim Naga Api," jawab Rubah Putih.
"Sebaiknya kita cepat tuan," ucap Candrakurama.
__ADS_1
"Baik, ayo kita pergi," balas Rubah Putih cepat.