
Beberapa pendekar yang mengenakan penutup wajah tampak menyisir seluruh area reruntuhan Gunung Padang, mereka bergerak menyebar ke setiap jengkal reruntuhan.
Arung berdiri ditengah reruntuhan sambil menatap sekitarnya dengan wajah lelah, sudah beberapa hari mereka bermalam di gunung itu untuk mencari keberadaan Sabrang.
"Tak ada jalan keluar sama sekali, Yang mulia, mungkinkan anda..." Arung tidak menyelesaikan ucapannya, dia sebenarnya masih ingin percaya Sabrang masih hidup namun sekuat apapun mereka mencari kemungkinan jalan keluar rahasia, tak ada yang ditemukan kecuali tumpukan batu besar yang mengubur Nagari Siang Padang.
"Tidak! aku harus terus mencari Yang mulia," gumamnya dalam hati.
Beberapa pendekar yang tadi menyisir area gunung padang tampak bergerak mendekati Arung.
"Tuan, tak ada lubang atau celah gua apapun disekitar sini, kami sudah menyisir tempat ini berkali kali," ucap salah satu pendekar itu.
Arung mengangguk sambil memejamkan matanya, ada rasa kecewa dalam hatinya walau sebenarnya dia sudah tau jawaban apa yang akan didapatkannya karena sudah beberapa hari mereka mengelilingi tempat itu siang malam.
"Baik, kembalilah ke keraton dan laporkan pada tuan patih mengenai masalah ini, aku akan mencoba memeriksa sekali lagi tempat ini," jawab Arung pelan.
"Baik tuan, kami mohon diri," para pendekar itu menundukkan kepalanya sebelum pergi.
Arung kemudian duduk di atas sebuah batu sambil melepaskan lelahnya sebelum kembali memeriksa gunung padang.
"Sebaiknya aku istirahat sebentar," Arung duduk bersila dan memejamkan matanya, dia ingin mengembalikan tenaga dalamnya yang sudah terkuras.
Suasana gunung padang yang sunyi membantu Arung untuk berkonsentrasi, dia mulai mengalirkan tenaga dalam ke seluruh tubuh.
Saat konsentrasi Arung mulai terfokus pada satu titik, dia merasakan beberapa aura besar bergerak cepat kearahnya.
Arung membuka matanya cepat, dia merasakan aura yang mendekat terasa sedikit aneh. Ada hawa panas yang menyelimuti aura itu, seperti aura Naga api namun jauh lebih lemah.
"Apa mereka menuju kemari? tapi bagaimana mungkin, bukankah segel Ciha telah menutupi seluruh area gunung padang?" Arung berfikir sejenak sebelum bergerak kearah batu besar yang ada di sisi barat untuk bersembunyi. Dia juga menekan tenaga dalamnya agar tidak diketahui mereka.
Tak lama terlihat sepuluh pendekar memakai jubah hitam panjang dengan penutup kepala berbentuk caping mendarat tepat di tengah reruntuhan.
"Mereka benar benar bisa menembus segel kabut dan masuk ketempat ini, siapa mereka sebenarnya?" ucap Arung dalam hati sambil terus memperhatikan para pendekar misterius itu.
"Tuan Arkan aura ini?" tanya salah satu dari mereka pada pendekar yang bertubuh paling besar.
"Sepertinya semacam segel, ada yang berusaha menyembunyikan tempat ini," jawab pendekar itu.
"Apa mungkin mereka sudah tau tentang pusaka itu?" tanya pendekar lainnya.
"Sepertinya belum, jika mereka sudah mengetahui tentang pusaka itu aku yakin dunia persilatan saat ini sudah ramai," ucap Arkan sambil menatap sekitarnya.
"Sial, petunjuk mengenai letak pusaka itu ikut terkubur bersama reruntuhan gunung ini, akan semakin sulit mencari pusaka itu," ucap Arkan melanjutkan.
"Pusaka? apa mereka juga mengira Pagebluk Lampor adalah sebuah pusaka?" Arung terus memperhatikan dari jauh.
"Sebaiknya kita beritahu ketua mengenai masalah ini, jangan sampai rencananya gagal atau kita semua akan dibunuh," ucap Arkan sambil memberi tanda untuk pergi.
"Baik tuan," ucap mereka bersamaan sebelum bergerak mengikuti Arkan keluar dari gunung itu.
Wajah Arung tampak lega setelah kepergian mereka, dengan aura yang mereka miliki akan sangat sulit jika harus menghadapi mereka bersamaan.
"Aku harus memberitahu tuan patih tentang para pendekar misterius itu, aku yakin belum pernah melihat mereka," ucap Arung sebelum melangkah pergi.
***
"Paman Wardhana ingin bertemu denganku? bukankah ini sudah terlalu larut untuk meminta bertemu?" ucap Pancaka bingung saat Mandaka masuk keruangan pribadinya untuk menyampaikan jika Wardhana meminta bertemu.
"Hamba tidak tau pangeran, namun dia mengatakan ini atas perintah gusti ratu," balas Mandaka pelan.
"Apa yang ingin dibicarakannya? bukankah aku sudah menolak saat para menteri mengajukan namaku sebagai pengganti sementara Yang mulia," Pancaka tampak berfikir sejenak sebelum meminta Mandaka membawa Wardhana masuk.
Tak lama, Wardhana muncul dari balik pintu bersama Mandaka, dia langsung menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Hormat pada pangeran, maaf hamba memaksa meminta bertemu malam malam seperti ini," ucap Wardhana sopan.
"Jangan sungkan paman, jika memang ini berkaitan dengan Malwageni aku dengan senang hati membantu," jawab Pancaka sambil mempersilahkan Wardhana duduk.
"Situasi keraton masih belum membaik setelah penobatan Gusti Ratu, terlebih setelah Gusti ratu memutuskan memisahkan pejabat pemeriksa dari Menteri Penegak Paningkah (sejenis Menteri hukum kerajaan) yang dipimpin oleh Adiwilaga.
Setelah protes Adiwilaga tidak didengar oleh Gusti ratu, kini mereka berusaha menekan untuk menempatkan orang orang mereka di dalam Pejabat pemeriksa.
Pejabat pemeriksa menjadi penting karena semua pertanggungjawaban keuangan kerajaan yang digunakan oleh semua pejabat akan diperiksa oleh Pejabat pemeriksa dan dilaporkan pada gusti ratu. Selama ini mereka bebas menggunakan uang kerajaan karena mereka sendiri yang memeriksanya," ucap Wardhana menjelaskan.
Pancaka mengangguk pelan, dia juga sudah memperkirakan kepergian Sabrang yang tida tiba akan menimbulkan kekacauan terutama bagi para pejabat yang memang terusik.
"Paman, jika paman datang untuk memintaku menolah menjadi raja itu sudah aku lakukan. Aku sadar selama ini telah melakukan kesalahan dan akan terus menebusnya," jawab Pancaka pelan.
"Hamba tidak meragukan sama sekali saat ini anda berada di pihak Yang mulia, untuk itulah hamba datang menemui anda," balas Wardhana.
"Lalu apa yang paman inginkan dariku?"
"Gusti ratu telah memilih Ciha untuk dijadikan ketua Pejabat pemeriksa, namun dengan alasan kurangnya pengalaman, mereka mencoba menghalangi pengangkatannya sama seperti mereka menghalangi ratu Tungga Dewi naik tahta.
Gusti ratu bisa saja memaksakan kehendaknya namun itulah yang sebenarnya mereka incar. Mereka ingin membuat kekacauan yang memaksa gusti ratu mundur.
Anda adalah pangeran yang juga keturunan Yang mulia Arya Dwipa, aku yakin beberapa pejabat masih setia pada anda. Hamba ingin anda menjadi ketua pejabat pemeriksa," ucap Wardhana pelan.
"Aku? bagaimana mungkin? paman sudah mengerti kesalahanku dulu, Yang mulia masih membiarkanku hidup saja sudah sebuah keajaiban. Aku tidak ingin bersentuhan dengan kekuasaan paman," jawab Pancaka.
"Boleh hamba mengatakan sesuatu pada anda?" tanya Wardhana sambil menatap Pancaka.
"Katakanlah" Pancaka mengernyitkan dahinya bingung.
"Pengkhianatan terhadap Malwageni memang sebuah kesalahan terbesar yang seharusnya tidak akan diampuni, namun Yang mulia telah memutuskan untuk memberi anda kesempatan kedua.
Seperti yang hamba katakan diawal tadi, tak ada sedikitpun keraguan jika anda telah berubah tapi jika anda ingin menebus kesalahan dengan mendukung Yang mulia tidak cukup hanya menjadi simbol di keraton, anda harus memiliki kekuasaan untuk menekan semua yang mencoba mengusik tahta kerajaan dan menjadi ketua pejabat pemeriksa adalah salah satunya.
Adiwilaga jelas jelas menentang kebijakan Gusti ratu untuk kepentingan mereka sendiri, dan harus diakui separuh lebih para Menteri Malwageni saat ini sudah berpihak padanya, itu akan menyulitkan Gusti ratu mengambil setiap keputusan apapun," balas Wardhana tenang.
"Paman sedang berusaha memanfaatkan dan menarikku dalam pusaran kekuasaan bukan?"
"Anda boleh berkata seperti itu pangeran, tapi apa yang hamba lakukan untuk kepentingan Malwageni dan anda sendiri," jawab Wardhana cepat.
"Kepentinganku?"
"Apa anda tidak sadar kenapa mereka lebih memilih anda daripada Ciha? hamba mohon maaf namun secara kemampuan anda jauh dibawah Ciha dan mereka tau itu. Mereka meremehkan anda dan menganggap anda tidak akan mampu sehingga mudah diatur.
Anda sebenarnya sama dengan Yang mulia, yang membedakan adalah Wahyu keprabon telah memilih Yang mulia, seharusnya mereka menghormati anda karena itu sangat pantas didapatkan seorang pangeran Malwageni," Wardhana mencoba memprovokasi Pancaka.
"Bukankah kalian sama saja berusaha memanfaatkan aku?" balas Pancaka sinis.
"Hamba tidak pernah meremehkan anda, hamba datang sendiri menemui anda untuk meminta bekerja sama. Kesepakatan ini akan menguntungkan anda pangeran, anda bisa menunjukkan pada mereka jika anda bukan hanya sebuah simbol keraton sekaligus menyingkirkan para pengkhianat itu.
Yang kedua, hamba akan pastikan anda mendapat jabatan tinggi setelah semua masalah ini selesai. Ini bukan sebuah pemberian karena anda memang sangat pantas mendapat jabatan di Malwageni," jawab Wardhana.
Pancaka menoleh kearah Mandaka yang dari awal berdiri di sampingnya.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Pancaka.
"Saat ini mereka mengajukan beberapa nama untuk menjadi ketua Pejabat pemeriksa dan anda salah satunya. Terima permintaan mereka, hamba akan mengatur semua sampai anda menduduki jabatan itu.
Dekati mereka dan cari semua bukti penyelewengan keuangan kerajaan yang mereka lakukan, beberapa orang kepercayaan hamba akan ikut membantu anda. Setelah semua bukti lengkap, serahkan sisanya pada hamba," jawab Wardhana.
"Apa gusti ratu menyetujui rencana anda?" tanya KmPancaka khawatir.
"Anda tenang saja, beliau sudah menyetujui semuanya," balas Wardhana.
__ADS_1
"Baik paman, aku akan membantu anda jika itu bisa menebus kesalahanku," jawab Pancaka.
"Terima kasih pangeran, hamba akan memberitahukan semua rencana lengkapnya setelah anda diangkat sebagai kepala pejabat pemeriksa. Hamba mohon diri dan maaf telah mengganggu anda larut malam seperti ini," Wardhana bangkit dari duduknya dan menundukkan kepala sebelum melangkah keluar.
"Pangeran?" ucap Mandaka saat Wardhana telah pergi.
"Aku tau paman, dia sedang memanfaatkanku saat ini tapi itu jauh lebih baik daripada harus berhadapan dengan paman Wardhana, dia bukan orang yang bisa dihadapi walau dengan ratusan ribu pasukan.
Aku pernah mendengar jika hidup di lingkungan politik kerajaan sama berbahayanya dengan dunia persilatan tapi selama aku bisa menebus kesalahanku dulu, akan kulakukan untuk mendukung kekuasan kakang Sabran," balas Pancaka pelan.
"Anda telah jauh lebih dewasa pangeran, semoga Yang mulia bisa terus membimbing anda agar tidak melakukan kesalahan yang dilakukan nyonya selir dulu karena Wahyu Keprabon tidak bisa dipaksa memilih," ucap Mandaka dalam hati.
***
"Hei bodoh, bukankah sudah kukatakan untuk tidak berjalan terlalu jauh, tubuhmu masih terluka," ucap Naga Api kesal saat Sabrang berjalan terlalu jauh dari gubuk milik Wahyu Tama.
"Aku hanya ingin menghirup udara segar Naga Api, kau pikir aku tidak bosan terbaring terus di tempat tidur?" balas Sabrang sambil memperhatikan sekitarnya.
"Lakukan sesukamu," jawab Naga Api.
Sabrang terkekeh mendengar umpatan Naga Api, dia merasa Iblis api itu kini lebih mirip ibunya yang cerewet dan melarangnya ini itu.
"Tempat ini benar benar indah," ucap Sabrang takjub.
Saat Sabrang terus melangkah masuk hutan, dia seperti mendengar suara orang berlatih.
"Apa kakek sedang berlatih?" ucap Sabrang pelan sambil berjalan mendekat.
Wajah Sabrang berubah seketika saat melihat permainan pedang Wahyu Tama. Permainan pedang pria tua itu begitu halus namun sangat mematikan, setiap gerakannya begitu membius matanya.
Setiap perubahan gerakan pedang Wahyu Tama sangat halus dan menutup celah sebelumnya. Jika biasanya ilmu pedang selalu menimbulkan celah saat berganti jurus tapi tidak dengan apa yang diperlihatkan oleh Wahyu Tama.
Bahkan Naga Api yang sudah sering melihat jurus pedang terbaik pun dibuat takjub oleh ilmu pedang Wahyu Tama.
"Aku baru kali ini melihat jurus pedang sehebat ini, tak ada celah sedikitpun," ucap Naga Api tak percaya.
Sabrang terus memperhatikan setiap gerakan Wahyu Tama dan mengingatnya, dia yakin suatu saat akan berguna dalam pertarungan.
"Bukankah mencuri lihat itu tidak baik nak," Wahyu Tama memutar tubuhnya sebelum melemparkan pedang kayunya kearah Sabrang.
Sabrang yang masih belum bisa menggunakan tenaga dalamnya tampak terlambat bereaksi.
Saat pedang kayu itu hampir mengenai Sabrang, Wahyu Tama mengarahkan tangannya kearah pedang itu dan menghentikannya di udara.
"Kau benar benar menarik nak, tak ada rasa takut sedikitpun di matamu," ucap Wahyu Tama sambil menarik kembali pedang kayu itu dengan tenaga dalam.
"Benar dugaanku, kakek bukan pendekar biasa," ucap Sabrang pelan.
"Kau tau banyak tentang ilmu pedang ya? bagaimana jika kau tunjukkan ilmu pedangmu? tenang saja, aku juga tidak akan menggunakan tenaga dalamku" Wahyu Tama melempar sebuah ranting pada Sabrang.
Sabrang tersenyum kecil sebelum menangkap ranting pohon itu.
"Mohon petunjuknya kek," jawab Sabrang pelan.
"Kau lihat Anom, sedikit saja dia memegang pedang, wajahnya langsung berubah seketika," ucap Naga Api kesal yang dibalas Anom dengan tertawa.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Buat pasukan Jomblo yang meminta bonus chapter saya meminta maaf untuk beberapa hari ini belum bisa mengabulkannya. Beberapa chapter ke depan akan ada pertarungan politik dan strategi antara Wardhana dan Adiwilaga.
Pertarungan politik selalu menguras pikiran saya jadi bonus chapter akan diberikan setelah gejolak Malwageni berakhir dalam beberapa hari ke depan.
Catatan kaki
__ADS_1
Bukit Punthuk Setumbu terletak di Magelang, Bukit ini merupakan salah satu spot terbaik untuk menyaksikan sunrise dengan latar Gunung Merapi Merbabu. Dari tempat ini wisatawan juga bisa melihat megahnya Candi Borobudur di pagi hari yang terkurung lautan kabut.
Terima kasih dan terima Vote....