
Setelah memeriksa hampir semua tempat di sisi gelap alam semesta, Wardhana tiba tiba memutuskan kembali ke keraton. Dia beralasan ingin membuka kembali catatan mengenai Dieng karena kedua tempat itu memiliki banyak kesamaan.
Ken Panca awalnya sedikit keberatan karena dia masih ingin mengajak Wardhana memeriksa beberapa tempat yang diyakini masih menyimpan petunjuk tentang kaitan sisi gelap alam semesta dengan Dieng namun setelah Rubah Putih menjelaskan jika posisi Wardhana sebagai patih membutuhkan izin Sabrang untuk semua tindakannya, Ken Panca akhirnya mengerti.
Setelah kembali ke keraton, Wardhana langsung mengumpulkan semua orang yang ikut bertarung di Dieng, hanya Mentari yang tidak hadir karena sedang berada di air terjun Lembah pelangi bersama Sekar Pitaloka.
"Catatan yang dibuat tuan Ken Panca di Dieng? bukankah beberapa hari lalu anda pergi bersamanya tuan, apa tidak lebih baik langsung ditanyakan padanya?" tanya Ciha bingung saat Wardhana memintanya mengingat kembali semua catatan yang dibuat Ken Panca selama di Dieng.
Wardhana menarik nafasnya panjang sebelum menjawab pertanyaan Ciha, dia seolah sedang mengumpulkan keberaniannya untuk menjelaskan tentang kecurigaannya pada Ken Panca.
"Aku tidak tau dari mana harus mulai menjelaskan tapi ada yang aneh dengan tuan Ken Panca," jawab Wardhana pelan.
"Ada yang Aneh?" sahut Wulan Sari cepat.
"Awalnya aku tidak terlalu memikirkan semua itu karena bagaimanapun dia..." Wardhana tidak melanjutkan ucapannya, lidahnya seolah kaku dan tak bisa bicara.
"Aku mengerti kekhawatiran anda tuan, karena bagaimanapun tuan Panca dan Yang mulia adalah satu garis keturunan tapi anda bisa percaya pada kami semua," jawab Wulan Sari.
Wardhana terdiam sesaat sebelum mengangguk pelan dan menjelaskan semua keanehan yang dia tangkap dari sikap Ken Panca selama ini termasuk alasan dia memilih sisi gelap alam semesta sebagai tempat persembunyiannya yang ternyata memiliki kesamaan dengan Dieng.
"Semua terasa aneh buatku termasuk keputusannya untuk bersembunyi selama ribuan tahun di sisi gelap alam semesta tapi kemarin adalah puncak dari semua keanehan itu. Saat pertama kali masuk aku seolah merasa pernah datang ketempat itu sampai akhirnya aku sadar jika letak gunung dan tebing tinggi di sana sama dengan Lembah merah dan gerbang terakhir Dieng.
Namun tuan Panca mengatakan jika dia baru menyadari kemiripan sisi Gelap alam semesta dengan Dieng setelah menemukan catatan mengenai Bom api. Apa kalian tidak merasa aneh karena bagi orang yang pernah tinggal cukup lama di Dieng, dia seharusnya langsung tau kemiripan kedua tempat itu," ucap Wardhana pelan.
Ciha, Wulan sari dan Lingga saling berpandangan setelah mendengar penjelasan Wardhana, tak ada satu katapun keluar dari mulut mereka karena sadar masalah kali ini akan menjadi sangat rumit.
"Aku tau kalian mungkin menganggap gila, tapi jika dia masih hidup, seharusnya dia muncul saat kita bertarung di Dieng," ucap Wardhana melanjutkan.
"Jadi menurut anda, tuan Panca...?" tanya Ciha dengan suara bergetar.
"Aku masih belum berani menyimpulkan masalah ini, itulah sebabnya aku memanggil kalian semua untuk meminta bantuan menyelidiki ulang semua catatan yang ditinggalkan tuan Panca di Dieng," jawab Wardhana sambil membuka catatan tentang pertarungan di Dieng yang sudah dipersiapkannya.
"Menurut catatan yang kau buat, tulisan ini berada di gua kecil yang ada di tebing bukit kelam, tepat di atas gerbang pertama Dieng bukan?" tanya Wardhana sambil menunjuk tulisan di gulungannya.
"Semua berawal saat aku menemukan gua ini, Tabir gelap masa lalu tersingkap tanpa bisa dibendung. Ketika aku mencari tau masa laluku semua mengarah ketempat ini. Kuharap tempat ini tertutup selamanya atau suku kuno akan bangkit. Bacalah batu tulis, geser kehidupan dan menyesal lah hidup abadi. Pesan ini peringatan untuk siapapun yang menemukannya."
(Chapter 167 jika kalian ingin membaca ulang, ada petunjuk penting jika kalian menyadarinya).
"Benar tuan, saat itu air laut belum surut sehingga gerbang pertama masih tertutup air jadi kami memutuskan menunggu di gua kecil yang ada di tebing Bukit Kelam dan secara tidak sengaja menemukan batu tulis itu," jawab Ciha cepat.
"Apa kau menemukan keanehan dari gua itu?" tanya Wardhana cepat.
"Sepertinya tidak ada tuan," Ciha mencoba mengingat kembali kejadian yang sudah cukup lama itu.
__ADS_1
"Baik kita lanjutkan ke catatan lainnya," balas Wardhana sambil menggulung catatan itu.
Namun saat Wardhana hendak mengambil gulungan lainnya, Ciha tiba tiba menunjuk gulungan pertama tadi.
"Aku ingat sekarang tuan... Tulisan terakhir ini memiliki guratan yang berbeda dan seolah di tulis di waktu yang berbeda," ucap Wardhana cepat.
"Bacalah batu tulis, geser kehidupan dan menyesal lah hidup abadi. Pesan ini peringatan untuk siapapun yang menemukannya," Wardhana membaca tulisan itu perlahan sebelum menatap Ciha. "Ditulis diwaktu yang berbeda dan kau baru mengatakan petunjuk sepenting ini sekarang?"
"Saat itu aku mengira tujuan Ken Panca menulis pesan di waktu yang berbeda karena ingin menyamarkan tentang keberadaan suku Iblis petarung dan empat Pusaka Dieng. Tak akan ada yang berfikir pesan itu aneh karena semua mengira dia sudah mati," jawab Ciha pelan.
"Aku tau... dan mungkin aku juga akan berfikir demikian saat itu," balas Wardhana sambil melingkari tulisan itu.
Wardhana kemudian membaca catatan catatan lainnya sambil sesekali bertanya pada Ciha, dia terus melingkari tulisan tulisan yang dianggapnya aneh hingga sampai pada catatan batu tulis di gerbang pertama Dieng.
"Aku menciptakan 4 pusaka disaat terakhirku sebelum kesadaranku terenggut kabut itu untuk memperkuat segel gerbang."
"Kesadaran terenggut kabut? tunggu... kau mengatakan jika Yang mulia sempat dirasuki kabut aneh Dieng karena saat itu Naga Api menolak segel pelindung bukan?" tanya Wardhana cepat.
"Benar tuan, sebelum masuk ke Dieng, kami sudah berusaha melindungi tubuh Yang mulia dengan segel Bintang langit agar tidak dirasuki oleh kabut aneh itu tapi seperti yang anda katakan, Naga api menolak segel itu," jawab Ciha.
"Bagaimana jika hal itu juga terjadi dengan Ken Panca? bukankah dia masuk Dieng dengan membawa pedang Naga Api?" balas Wardhana.
"Kau terlalu jauh membuat perkiraan Wardhana, saat anak itu kerasukan di Dieng, dia tak bisa mengenali siapapun, bahkan Ciha hampir dibunuhnya. Apa orang yang kehilangan tangan karena membantu kita terlihat sedang dirasuki?" Lingga yang dari awal hanya diam, ikut bicara.
"Dan dia juga mengenali Sabrang yang merupakan keturunannya, sepertinya kecurigaan anda agak sulit dibuktikan tuan," ucap Wulan Sari.
"Andai apa yang anda katakan benar, lalu bagaimana membuktikannya? kita tidak mungkin bicara pada Yang mulia tanpa ada bukti apapun. Tuan Panca adalah leluhur Yang mulia dan dia juga beberapa kali bertaruh nyawa demi Malwageni," tanya Ciha bingung.
"Saat ini aku belum tau, tapi terlepas dari benar atau tidaknya tuan Panca dirasuki, tidak ada salahnya kita berhati hati bukan?" jawab Wardhana pelan.
Mereka semua terdiam dengan nafas tertahan, walau yang dikatakan Wardana cukup masuk akal tapi mencurigai Ken Panca benar benar tak terpikirkan sebelumnya karena bagaimanapun dia adalah salah satu kunci kemenangan Malwageni atas Arkantara dengan bom Apinya.
"Kalian boleh tidak percaya padaku tapi untuk kali ini bantu aku menyelidiki semua keanehan ini sekali lagi. Tolong ingat kembali apakah kalian pernah melihat simbol atau gambar apapun yang aneh di tempat itu," pinta Wardhana tiba tiba.
"Aku tau tuan dan sedikitpun aku tak pernah kehilangan kepercayaan pada anda tapi untuk masalah ini..." belum selesai Ciha bicara, Wulan Sari memotong ucapannya.
"Simbol aneh? aku pernah melihatnya saat berada di gua danau kehidupan bersama Tari."
"Apa anda bisa menggambar ulang nyonya?" sambar Wardhana cepat sambil menyodorkan gulungan dan alat tulis.
"Aku tidak yakin tapi akan kucoba," jawab Wulan Sari sambil mengingat kembali gambar gambar aneh yang pernah dia tunjukkan pada Mentari. (Chapter 183).
"Kalau aku tidak salah ingat diantara gambar Magma dan beberapa simbol aneh ini ada beberapa lingkaran kecil yang sepertinya sebagai penanda sesuatu," ucap Wulan Sari sambil memainkan alat tulisnya di atas gulungan.
__ADS_1
Wajah Wardhana langsung berubah saat melihat gambar yang dibuat Wulan Sari, dia yakin mengenal simbol simbol itu.
"Anda yakin melihat simbol ini di Dieng?" kejar Wardhana.
"Aku sangat yakin, bahkan Tari pun melihatnya saat itu. Apa anda mengenal simbol ini?" tanya Wulan Sari cepat.
"Gambar yang anda anggap sebagai aliran Magma ini sama persis dengan bentuk sungai di sisi Gelap alam semesta dan beberapa simbol ini pernah kulihat di puncak Suroloyo yang merupakan tempat peradaban Lemuria. Sedangkan gambar gambar lingkaran ini jika dilihat dari titik ini adalah posisi Kuil Khayangan, Gunung padang dan Trowulan," jawab Wardhana.
"Jadi maksud anda suku Iblis petarung dan Dieng memiliki hubungan dengan peradaban terlarang itu?" tanya Ciha semakin penasaran.
"Apa menurutmu ada kebetulan yang terlalu mirip seperti ini? walau aku belum terlalu yakin tapi sepertinya suku Iblis petarung memiliki hubungan dengan Lemuria," balas Wardhana.
"Kurasa itu tidak mungkin tuan, karena menurut catatan yang kutemukan di Dieng, mereka datang ke Nuswantoro jauh setelah peradaban itu menghilang."
"Suku Iblis petarung mungkin datang setelah Lemuria menghilang tapi bagaimana dengan leluhur mereka? aku memiliki catatan yang menunjukkan suku sungai kuning pernah bertemu dengan peradaban itu," ucap Wardhana sambil menunjukkan gulungan yang diberikan Paksi padanya.
"Sesuatu mungkin terjadi pada Ken Panca saat masuk ke Dieng yang mungkin berhubungan dengan suku Iblis petarung dan simbol simbol ini semakin menguatkan dugaanmu. Itukan yang sebenarnya ingin kau katakan?"
"Apa kau ingin membantah semuanya? aku siap mendengarkan jika ada kemungkinan lain yang bisa menjelaskan keanehan Ken Panca," jawab Wardhana.
"Anggap aku percaya padamu, lalu apa yang akan kau lakukan untuk membuktikan semuanya karena kita tidak mungkin menangkap Ken Panca, anak itu tidak akan tinggal diam leluhurnya dituduh seperti ini," balas Lingga cepat.
"Aku ada satu rencana untuk menjebaknya tapi akan sedikit berbahaya dan kita membutuhkan bantuan nyonya selir," ucap Wardhana sambil menjelaskan rencananya.
"Aku yang akan bicara dengan Tari, kalian susun saja rencananya tapi dengan satu syarat," sahut Wulan Sari.
"Syarat?" tanya Wardhana bingung.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ada beberapa chapter yang sepertinya harus kalian baca kembali untuk mencari petunjuk tentang keanehan Ken Panca yang memang sudah saya persiapkan dari awal.
Di chapter 183 dengan judul suku terkuat bermata biru ada percakapan Wulan Sari dan Mentari yang sebenarnya sebuah petunjuk penting tentang apa yang terjadi pada Ken Panca.
Bagi yang malas membaca kembali, saya akan memberikan penggalan percakapan itu.
"Gambar ini sepertinya terlewat oleh Ciha". Gumamnya dalam hati. Wulan sari mencoba menterjemahkan arti gambar gambar itu namun tidak berhasil.
"Kemarilah nak". Panggil Wulan sari pada Mentari. "Kau lihat gambar kecil ini? sepertinya Ciha melewatkannya".
Mentari menajamkan pandangannya kearah gambar yang ditunjukan Wulan sari. "Mungkin Ciha melihat namun tidak menganggapnya penting," jawab Mentari pelan.
"Kau lihat gambar lingkaran dan segitiga ini? sepertinya di beberapa tempat ini terdapat gambar yang sama. Aku baru menyadarinya tadi, mungkin ini suatu tanda atau apa".
__ADS_1
Apa yang terjadi dengan Ken Panca?
Jawabannya yang terjadi, Ken Panca akan mengamuk jika VOTE PNA turun terus.. jadi berikan Votenya Mblooooo