Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pertempuran di Gunung Padang


__ADS_3

Hutan Loa berada tepat di perbatasan Kadipaten Cibiru, letaknya yang sangat strategis dan merupakan jalur termudah menuju Gunung Padang membuat Jaladara memutuskan membangun Tenda utama sebagai pusat komando dari empat tenda prajurit lainnya yang tersebar di beberapa titik.


Setiap informasi mengenai pergerakan terkini dari Malwageni dari seluruh telik sandi akan terkumpul di pos utama sebelum disebarkan kembali ke empat titik pasukan lainnya sesuai perintah Jaladara.


Letaknya yang tersembunyi dan berada di dekat air terjun membuat lawan sulit mendeteksi keberadaan mereka.


Seorang pria tampak memasuki hutan diantar oleh dua orang prajurit Topeng Galah. Setelah berbicara pada penjaga yang berdiri di luar tenda paling besar, dia melangkah masuk menemui Jaladara.


"Hormat pada tuan patih," ucap pria itu pelan.


"Pandita, bagaimana kau bisa keluar dari Malwageni? bagaimana jika mereka curiga?" tanya Jaladara terkejut.


"Maaf tuan, aku diperintah Wardhana untuk berpatroli disekitar perbatasan gunung padang bersama beberapa prajurit lainnya. Aku memisahkan diri saat mereka menyebar, tak akan ada yang curiga," jawab Pandita cepat.


Jaladara mengangguk lega, dia harus lebih berhati hati kali ini karena lawannya adalah Wardhana.


"Lalu apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Jaladara Penasaran.


"Perintah perang sudah turun tuan, tapi mereka tidak akan mengambil jalur utama dan lebih memilih jalur Lembah penghisap sukma," balas Pandita.


"Jalur Lembah Penghisap Sukma? apa kau yakin?" wajah Jaladara berubah seketika.


Pandita mengangguk pelan, "Itu perintah langsung Wardhana."


"Bagaimana mungkin mereka mengambil jalur sulit itu untuk membawa ratusan ribu pasukan, aku benar benar tidak mengerti jalan pikiran Wardhana," umpat Jaladara kesal. Dia sudah menyusun semua prajurit di titik titik strategis jalur utama untuk menyergap mereka dan kini harus merubah rencananya seketika.


"Hamba tidak tau tuan, sepertinya mereka sangat berhati hati karena perintah pada kami para prajurit hanya itu, dia mengatakan perintah lainnya akan menyusul," jawab Pandita.


"Wardhana memang seperti itu, gerakannya yang sulit ditebak itulah yang membuat Majasari hancur, kini kita harus sedikit merubah rencana kita," ucap Jaladara lemas.


Dia sudah membayangkan betapa sulitnya menarik pasukan dalam jumlah besar yang tersebar di beberapa titik, belum lagi jika harus berperang di Lembah Penghisap Sukma yang terkenal misterius.


"Antoro, bagaimana menurutmu?" tanya Jaladara pada salah satu panglimanya.


"Memindahkan para prajurit ke sisi selatan bukan perkara mudah tuan, aku tidak terlalu khawatir dengan pasukan Topeng Galah namun para prajurit lainnya akan cukup sulit untuk bergerak, apalagi tempat itu terkenal misterius dengan banyaknya orang yang hilang.


Situasi kita mungkin sama dengan Malwageni namun mereka sedikit lebih unggul karena banyak didukung pendekar pilih tanding. Aku tidak ingin mengambil resiko terlalu besar terlebih lawan kita adalah salah satu yang terbaik dalam strategi perang. Menurutku akan lebih mudah jika kita bertempur di sisi luar Lembah Penghisap Sukma," jawab Antoro.


"Bertempur di sisi luar?" Jaladara mengernyitkan dahinya.


"Kita tempatkan pasukan panah di kedua sisi jalur sebelum masuk Lembah itu, dan aku akan memimpin pasukan untuk bersembunyi di dekat air terjun Cikondang untuk menyergap mereka.


Bertempur di tempat itu akan menguntungkan kita karena banyak bukit bukit terjal yang bisa menjadi tempat persembunyian para pasukan. Saat ini mereka sangat yakin kita akan menunggu di sini dan itu bisa melonggarkan kewaspadaan mereka.


Serangan pasukan panah akan membuat mereka panik, dan saat itu terjadi ratusan pasukan kita akan menyergap dari berbagai arah," balas Antoro.


"Bagaimana jika Wardhana menyadari dan mempersiapkan jebakan di sana? kita bisa hancur," ucap Jaladara.


"Kemungkinan itu ada namun biasanya komandan pasukan akan mematangkan rencana setelah mendapat kabar terbaru dari para telik sandi dan Pandita bisa memainkan perannya sebagai mata mata kita.


Wardhana mengirim mereka untuk memastikan rencana mana yang akan dijalankan dan laporan Pandita akan menentukan pergerakan terakhir Wardhana. Kita beruntung berhasil menyusupkan Pandita dalam pasukan mereka.


Laporkan pada Wardhana jika pasukan Saung Galah terkonsentrasi di jalur utama sesuai perkiraannya dan dia akan dengan percaya diri melewati jalur Lembah Penghisap Sukma. Saat mereka merasa menang, kita sergap dengan seluruh pasukan," jawab Antoro.


"Begitu ya..." Jaladara menganggukkan kepalanya sambil berfikir sejenak.


"Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memindahkan separuh pasukan?" tanya Jaladara.


"Dengan jalur sesulit itu mungkin hampir setengah hari tuan, namun kita tidak harus memindahkan mereka bersamaan, beberapa titik ini juga perlu kita jaga jika mereka terdesak dan mencoba melarikan diri. Melihat jalur ini, satu satunya cara untuk mereka adalah turun kedalam jurang atau bertempur sampai mati, mereka akan terkurung seperti tikus yang siap dimangsa kapan saja oleh elang Saung Galah," jawab Antoro penuh percaya diri.


"Baik, Aku akan memindahkan pasukan dari tiga titik ini. Sangaji, kau akan memimpin pasukan panah menuju bukit sebelum masuk jalur Lembah Penghisap Sukma dan pastikan cari tempat yang bisa melihat ke sudut ini," tunjuk Jaladara pada gulungannya.


"Baik Tuan," jawab Sangaji.

__ADS_1


"Antoro, kau bawa seluruh pasukan Topeng galah dan menunggu di sekitar jalur masuk, aku akan memimpin dari sisi kiri sebagai pasukan penyergapan. Jangan ada yang bergerak sebelum pasukan panah menghancurkan formasi mereka. Semua komando ada di tanganku, jika situasi diluar kendali kalian boleh memilih jalur manapun untuk mundur dan kita bertemu di tempat ini lagi," ucap Jaladara.


"Baik tuan Patih," jawab mereka bersamaan.


"Saat ini adalah satu satunya kesempatan Saung Galah untuk menaklukkan tanah Jawata tapi mungkin juga akhir dari kerajaan kebanggaan kita. Lakukan yang terbaik untuk memastikan kemenangan Saung Galah."


"Hidup Saung Galah!!!" teriak mereka bersamaan.


"Pandita, kembalilah ke Malwageni dan katakan seperti yang diucapkan Antoro," perintah Jaladara.


"Baik tuan, hamba mohon diri," ucap Pandita cepat.


***


"Ketua seluruh pendekar Guntur Api sudah siap untuk bergerak, kami menunggu perintah anda," ucap seorang wanita pada Kawanda yang sedang membersihkan pusaka Begu Ganjang.


Kawanda terus membersihkan pedang pusaka nya tanpa menjawab laporan wanita dihadapannya.


"Andini, kau adalah satu satunya wanita yang berhasil menduduki posisi tinggi di Guntur api dan menjadi ketua pasukan pendekar Wanita Guntur Api karena kepintaranmu. Apa kau tidak merasa ada yang aneh?" tanya Kawanda dingin.


"Aneh?" Andini mengernyitkan dahinya.


"Sakuta baru saja kembali dari pengintaian nya dan dia melaporkan jika di sekitar gunung Padang banyak ditemukan prajurit Saung Galah yang bersembunyi, apa menurutmu mereka mengincar kita?"


Andini menggeleng pelan, seingatnya Guntur Api tidak pernah menyentuh atau berurusan dengan Saung Galah.


"Jadi maksud anda?" tanya Andini pelan.


"Benar, ada memanfaatkan Saung Galah dan aku yakin hanya Wardhana yang bisa melakukannya, bukankah sejak awal sudah kukatakan untuk berhati hati menghadapi dia. Ilmu kanuragannya mungkin rendah tapi kepintarannya tak boleh dianggap remeh.


Ada kemungkinan Wardhana ingin menjebak kita dan Saung Galah untuk saling berperang di jalur utama sebelum mereka menyerang bersamaan. Menghadapi para pasukan kerajaan akan selalu sulit karena mereka memiliki pasukan panah.


Kita akan mengubah rencana, jika mereka ingin menyergap kita di jalur utama maka kita akan lewat jalur Lembah Penghisap Sukma," balas Kawanda.


"Jalur Penghisap Sukma? bukankah disitu banyak pendekar hilang ketua?" tanya Andini terkejut.


Aku tidak perduli apa yang ada di di lembah itu, asal kita bisa membangkitkan Pagebluk Lampor. Beritahukan pada semua pendekar Guntur Api jika ada sedikit perubahan rencana, kita akan masuk melalui jalur Lembah Penghisap Sukma," ucap Kawanda tegas.


"Baik ketua, hamba mohon diri," balas Andini cepat.


"Tunggu!" ucap Kawanda sambil berjalan ke lemari penyimpanan pusakanya. Dia mengambil satu pedang berwarna hitam gelap dan melemparkannya pada Andini.


"Ketua, pusaka ini?" ucap Andini terkejut.


"Jurus pedang Serbuk bunga penghancur iblis yang kau kuasai tak akan maksimal tanpa pedang terbaik, hanya pedang pusaka dewa itu yang akan meningkatkan seranganmu. Gunakan pedang itu dan pastikan aku tidak kecewa memberikan pusaka itu padamu," ucap Kawanda pelan.


"Baik ketua, aku tak akan mengecewakan anda," jawab Andini cepat.


***


Wardhana yang duduk disebuah ruangan aula tempur kebanggaan Malwageni tampak mendengarkan laporan pandita mengenai kondisi terakhir pergerakan pasukan Saung galah. Dia tampak mengernyitkan dahinya beberapa kali saat Pandita meyakinkan jika semua pasukan Saung Galah berkemah di jalur utama.


"Jadi mereka memang mengincar kita di jalur utama?" tanya Wardhana pelan.


"Benar tuan Patih, hamba melihatnya sendiri beberapa tenda prajurit berdiri didalam hutan tersembunyi," jawab Pandita.


"Kau melihatnya sendiri...," Wardhana memejamkan matanya sesaat sambil menarik nafas panjang.


"Sepertinya rencana anda berhasil tuan, mereka kini dalam genggaman Malwageni," ucap Pandita.


"Kau benar, jadi aku hanya perlu menghancurkan mereka bukan?" tanya Wardhana.


"Semoga kejayaan selalu bersama Malwageni," jawab Pandita sambil mengangguk pelan.

__ADS_1


"Baiklah, terima kasih atas informasimu, tunggulah diluar dan persiapkan pasukanmu, kita akan berangkat sebentar lagi," ucap Wardhana pelan.


"Baik tuan Patih, hamba mohon diri," Pandita bangkit dari duduknya dan memberi hormat sebelum melangkah pergi.


Wardhana menatap kepergian Pandita sambil tersenyum kecut.


"Bagaimana menurutmu, Wardhana?" tanya Paksi.


"Dia berbohong, saat manusia sedang berbohong, gerakan tubuhnya akan berubah. Dia akan bersikap setenang mungkin untuk meyakinkan kebohongannya. Sebuah ironi saat dia berusaha tenang, namun gerakan tubuhnya mengatakan sebaliknya.


Tak pernah ada telik sandi yang mengatakan dengan sangat yakin musuh akan bergerak kemana karena setiap detik lawan bisa merubah rencananya dan dia dengan percaya diri Saung Galah bergerak di jalur utama," jawab Wardhana.


"Kau menyadarinya juga, sepertinya kini kau sudah melampaui aku Wardhana. Lalu apa yang akan kita lakukan? mengatur ulang pasukan di detik terakhir bukan pekerjaan mudah, ditambah Arung dan Wijaya sudah berada di posisinya di jalur utama menunggu Guntur Api?" tanya Paksi.


"Jika benar Pandita berbohong berarti dialah mata mata yang kita cari selama ini, aku sudah mulai curiga saat Saung Galah langsung mengetahui aku menghilang di Trowulan.


Dia mengabarkan kondisi Saung Galah saat ini mungkin untuk menjebak kita di Lembah Penghisap sukma. Aku bisa saja menarik paksa pasukan Arung dan merubah rencana namun kita masih belum tau kemana Guntur Api akan bergerak. Jika mereka melewati jalur utama yang sudah kosong maka mereka akan dengan mudah sampai di puncak Gunung Padang.


Namun apabila mereka juga masuk melalui jalur Lembah penghisap sukma, pertarungan akan jauh lebih sulit karena musuh mereka sama, Malwageni. Kita harus berusaha memisahkan mereka atau membuat mereka saling menghancurkan," jawab Wardhana sambil memijat keningnya.


"Semua pilihan yang ada di hadapanmu mengandung resiko besar bukan? maka berfikir lah dengan tenang. Kau mungkin adalah yang terbaik jika berfikir dalam keadaan tenang, tapi terkadang kau lemah saat tekanan datang dari berbagai arah seperti saat ini.


Gunakan kelebihan yang kau miliki untuk mengatasi semua tekanan yang saat ini terarah padamu, menghadapi dua musuh berbeda memang bukan pekerjaan mudah namun saat kau mampu menguasai keadaan, tak ada yang bisa menghentikan mu. Itulah kenapa Yang mulia Arya Dwipa lebih memilihmu daripada aku.


Aku akan menunggu diluar bersama pasukan lainnya, jangan pernah ragu karena perang tak ada yang pasti, hanya orang yang mampu membaca keadaan secara tenang yang mungkin akan memenangkan pertempuran. Jangan takut gagal, jika gagal berarti musuh yang jauh lebih tenang, hanya itu hasil dari sebuah perang," ucap Paksi sambil melangkah keluar, dia ingin memberi waktu muridnya berfikir sendirian.


"Tuan," Kertapati yang menunggu diluar mendekati Paksi saat melihatnya keluar dari ruangan Wardhana.


"Persiapkan pasukan, aku yakin sebentar lagi perintah akan keluar dari mulutnya," jawab Paksi.


"Baik tuan," balas Kertapati cepat.


"Apa yang mulia masih di ruangannya?" tanya Paksi kemudian.


Kertapati mengangguk pelan, "Hamba mendengar dia sedang berbicara dengan pangeran Pancaka di ruangannya, tapi titah perang sudah aku dapatkan," Kertapati memberikan gulungan berwarna merah sebagai tanda Malwageni akan melakukan perang besar seperti saat berhadapan dengan Majasari.


"Tak kusangka gulungan merah ini akan muncul saat ini, Wardhana cepatlah mengambil keputusan," ucap Paksi dalam hati.


Suara pintu ruangan mengagetkan Paksi dan Kertapati, mereka menoleh bersamaan dan melihat Wardhana sudah memakai panji kebesaran Malwageni di pinggangnya.


"Dia sudah memutuskannya, teruslah berkembang Wardhana," ucap Paksi dalam hati.


"Guru, aku ingin anda memimpin pasukan bersama Kertapati menuju jalur utama untuk memberitahukan jika ada sedikit perubahan rencana. Bergeraklah ke arah gunung padang melalui jalur utama, dan hindari sebisa mungkin jika bertemu dengan Guntur Api.


Akan ada persimpangan jalan yang mempertemukan dua jalur ini, tunggu di sana dan bentuk formasi Wukir Sagara Wyuha (strategi perang dengan susunan pasukan berbentuk bukit dan samudera), kita akan bertemu di titik itu," ucap Wardhana pelan.


"Kau, jangan jangan?" tanya Paksi bingung.


"Jika mereka ingin bertempur di tempat itu maka akan aku kabulkan. Mereka mungkin sudah menyusun jebakan di tempat itu tapi aku memiliki satu cara untuk mengacaukannya. Aku akan menghadap Yang mulia untuk bersiap," balas Wardhana sebelum melangkah pergi.


"Wardhana, kau melupakan ini," ucap Paksi sambil memberikan gulungan merah.


Wardhana mengambil gulungan itu sambil berlutut sebagai tanda penghormatan dan kesetiaan pada Malwageni.


"Titah raja telah kuterima, bersiaplah untuk bergerak dan kibarkan panji kebesaran Malwageni di seluruh wilayah Saung Galah," ucap Wardhana pelan.


"Baik tuan," balas Kertapati cepat.


"Kertapati ada satu hal yang ingin aku minta darimu sebelum pergi. Bunuh Pandita sekarang juga agar semua ksatria Malwageni tau jika berkhianat maka kematian adalah balasannya."


"Laksanakan tuan," jawab Kertapati.


Wardhana melangkah pergi menuju ruang utama Raja, terlihat panji kebesaran Malwageni yang melingkar di pinggangnya berkibar tertiup angin, seolah menandakan jika sebentar lagi panji itu akan berkibar di seluruh tanah Jawata.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Vote


__ADS_2