
Setelah menemukan kunci telaga khayangan api dan mengetahui kenyataan masa lalu Trah Dwipa, mereka memutuskan kembali ke Jawata terlebih dahulu sebelum menuju daratan Hujung tanah yang diyakini sebagai tempat rumah para dewa yang terakhir.
Wardhana terpaksa merubah rencananya setelah mengetahui kenyataan masa lalu Dwipa. Setelah berfikir beberapa saat, akan jauh lebih berbahaya jika mereka memaksa pergi ke Hujung tanah dengan kondisi Sabrang saat ini.
Selain itu ada sesuatu yang harus dipastikan terlebih dahulu oleh Wardhana di ruang rahasia tapak es utara setelah tidak menemukan benda apapun di ruang rahasia itu. Hanya pesan Naraya Dwipa yang ada disana.
"Dia akan baik baik saja tuan" Ciha mendekati Wardhana yang menatap kosong lautan dari dek kapal.
"Apa Yang mulia menyentuh makanannya?" tanya Wardhana.
Ciha menggeleng pelan "Sudah beberapa hari dia tidak menyentuh makanannya sedikitpun. Mungkin dia masih butuh waktu".
"Andai aku saat itu tak menemukan ruangan itu, setidaknya sampai semua kondisi sudah baik".
"Apa yang anda lalukan sudah benar tuan, masa lalunya tak akan bisa dikubur selamanya. Jika anda tidak menemukan tempat itu maka kita akan jatuh kepermainan pemuda misterius itu".
Wardhana terdiam mendengar ucapan Ciha, sudah berhari hari dia memikirkan masalah ini namun dia benar benar tidak tau bagaimana memulai percakapan dengan Sabrang.
Sabrang memang mengurung diri dikamar selama berada diatas kapal, selain karena dia memang mabuk laut, dia juga tidak ingin diganggu terlebih dahulu.
Sabrang yang sedang bermeditasi terlihat gelisah, tubuhnya mulai mengeluarkan keringat dingin. Bukan karena mabuk laut namun dia merasakan sesuatu dalam tubuhnya seperti hendak keluar dan menguasai tubuhnya.
"Apa yang terjadi dengan tubuhku?" gumamnya dalam hati.
Anom dan Naga api yang menyadari sesuatu sedang terjadi pada Sabrang mencoba membantu dengan mengalirkan energinya ketubuh Sabrang.
"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Naga api.
"Aku belum tau namun gejalanya hampir sama dengan ayahnya beberapa bulan sebelum penyerangan Iblis hitam ke Malwageni. Sepertinya ini berhubungan dengan percobaan yang kemarin dikatakan Wardaha. Aku selalu mendampingi keturunan trah Dwipa mulai dari tuan Panca sampai saat ini dan gejala ini selalu muncul".
"Mengapa baru sekarang bereaksi?".
"Aku tidak tau namun sisi gelap mereka akan muncul saat sedang terlalu kecewa atau terlalu senang". Anom menarik nafasnya panjang. "Ini gawat, Arya Dwipa mengorbankan dirinya dan mencegahku membantunya saat pertarungan dengan Iblis hitam demi mengubur sisi gelap yang tidak bisa dia kuasai. Anak ini akan jauh lebih menakutkan dari leluhurnya jika sisi gelapnya bangkit mengingat saat ini dia sudah sangat kuat".
Apa yang ditakutkan Anom benar benar terjadi, tiba tiba beberapa benda disekitar Sabrang mulai melayang saat mata kirinya perlahan berubah menjadi hitam.
"Naga api, tarik semua kekuatan Banaspati untuk menahannya, aku akan mencoba memberi tahu Wardhana. Aku yakin dia memiliki solusi jangka pendek, jangan sampai dia mengamuk disini atau mereka semua akan mati".
"Aku sudah berusaha bodoh, namun Cakra manggilingan menarik paksa energiku".
Anom memejamkan matanya sesaat sebelum sebuah keris tercipta diudara dan melesat keluar.
__ADS_1
Wardhana menarik pedangnya dan mendorong Ciha saat sebuah keris melesat cepat kearahnya. Terlambat sedikit saja Wardahana bergerak mungkin tubuhnya sudah dilubangi Anom.
"Apa ada penyusup?" ucap Ciha khawatir.
Wardhana menggeleng pelan "Bukan, ini keris penguasa kegelapan namun bagaimana dia bisa menyerang kita?".
Raut wajah Wardhana sedikit berubah saat menyadari sesuatu.
"Panggil yang lainnya" Wardhana berlari kearah ruangan Sabrang.
Raut wajah Wardhana makin buruk saat melihat aura aneh dari kamar Sabrang yang terbuka. Dia berlali sekuat tenaga dan langsung masuk.
"Yang Mulia..." Belum sempat Wardhana menyelesaikan ucapannya, sebuah Aura menghantam tubuhnya.
"Gawat" tubuh Wardhana terpental jauh dan hampir terjatuh kelaut sebelum Lingga bergerak cepat menyambar tubuhnya.
"Apa yang terjadi?" teriak Lingga.
"Yang mulia seperti kerasukan sesuatu". Wardhana kembali berlari diikuti Lingga dan yang lainnya.
Mereka menghentikan langkahnya saat melihat Sabrang telah berubah sepenuhnya. Kedua mata birunya kini telah berganti hitam. Saat Wardhana berusaha mendekat, Lingga menghentikannya.
"Naga api sepertinya sedang berusaha menghentikannya, sebaiknya jangan mendekat dulu".
"Kau menguasai segel kehidupan?" tanya Anom pada Ciha.
"Bantu aku menyegelnya sementara waktu, kalian bantu menghentikannya". Anom berubah kembali menjadi aura hitam dam melesat masuk ketubuh Sabrang.
Lingga memutar pedangnya saat Sabrang mulai lepas dari cengraman Naga api.
"Jangan gunakan pedang" teriak Wardhana.
"Kau pikir siapa yang kita hadapi? walau aku enggan mengakuinya namun anak itu telah menjadi yang terkuat saat ini". Lingga melesat cepat menyerang titik vital Sabrang.
Saat Lingga hampir mendekat, Sabrang memutar lengannya dan menciptakan energi keris diudara namun dia terlihat kesulitan menarik keris itu karena Anom juga menahannya.
Disaat yang bersamaan, tanpa mereka sadari Sabrang diam diam membentuk pisau es dan bergerak menyerang Lingga.
Lingga yang tidak menyadarinya tak bisa berbuat apa apa saat pisau es itu mendekat.
"Jurus pedang bayangan" Arung muncul dihadapan Lingga dan menangkis pisau es itu. "Hampir sa...". Belum sempat Arung menyelesaikan ucapannya, tinju kilat hitam menghantam tubuhnya.
__ADS_1
Wardhana bergerak memutar sambil melindungi Ciha.
"Terus berlari" teriak Wardhana pada Ciha saat Sabrang menyerangnya.
Wardhana terlihat hendak menyerang Sabrang namun saat tubuh mereka berdua sudah sangat dekat Wardhana membuang pedangnya dan membiarkan Sabrang menghujamkan pedangnya ketubuhnya.
Dengan tenaga yang tersisa, Wardhana mencengkram lengan Sabrang dengan kedua tangannya untuk memberi waktu Ciha menempelkan telapak tangannya dipunggung Sabrang.
Darah menetes dari tubuh Wardhana akibat tusukan pedang yang tembus kepunggungnya.
"Aku dengan senang hati mati ditangan anda Yang mulia. Sadarlah, semua orang membutuhkan anda". ucap Wardhana tersenyum saat kesadarannya mulai memudar.
"Naga api jangan biarkan dia membakar Wardhana" teriak Anom.
"Aku sedang berusaha" balas Naga api yang terus menarik energinya.
Kobaran api mulai menyelimuti pedang Naga api membuat semua semakin panik, Lingga bahkan nekat mencengkram Wardhana dan menariknya. Dia merasa selama tubuh Wardhana tidak terbakar mereka masih bisa menyelamatkannya.
Saat api itu hampir membakar Wardhana tiba tiba api menghilang.
Lingga tak menyianyiakan kesempatan itu, dia bergerak cepat dan menggunakan punggung pedangnya untuk menghantam Sabrang. Arung bergerak kesisi berlawanan dan melakukan hal yang sama. Dua pedang pusaka itu menghantam tubuh Sabrang membuatnya roboh ketanah.
"Aku sudah menyegel kekuatannya dengan dua segel sekaligus namun kekuatan tersembunyi dalam tubuhnya sangat kuat. Kemungkinan segelku tak bertahan lama, kita harus secepatnya membawa ke Tapak es utara dan mencari cara menghentikannya". ucap Ciha pelan.
"Apa yang sebenarnya terjadi padanya?" tanya Arung sambil mengalirkan tenaga dalam ketubuh Wardhana. Arung berusaha menghentikan pendarahan ditubuh Wardhana.
"Darah iblis, sisi lain trah Dwipa". ucap Ciha pelan.
"Darah Iblis?" Lingga mengernyitkan dahinya.
Ciha mengambil sebuah botol kecil berisi pil obat dan memberikannya pada Arung.
"Minumkan obat itu pada tuan Wardahana, aku mencampur obat itu dengan air kehidupan walau tak bisa membuatnya abadj namun akan membantu memulihkan kondisinya".
Ciha mulai menceritakan apa yang dia temukan diruang rahasia Balidwipa dan kemyataan masa lalu trah Dwipa, juga tentang penguasa dunia yang sedang berusaha bangkit.
"Jadi sisi gelapnya adalah hasil percobaan para penguasa dunia?" tanya Arung geram. Dia tidak habis pikir bagaimana bisa mereka mengorbankan sesama manusia untuk kepentingan pribadi.
Ciha mengangguk pelan "Saat ini kita kembali ke Tapak es utara dan membicarakannya dengan tetua Mantili. Semoga ada cara untuk masalah ini".
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Kemarin MT sempat eror namun hari ini sepertinya sudah pulih....