Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Hari Penobatan Tungga Dewi


__ADS_3

Suasana sekte Tapak es utara tampak ramai, penjagaan terlihat sangat ketat baik oleh prajurit angin selatan maupun prajurit Saung galah.


Beberapa komandan pasukan elit topeng galah bahkan beberapa kali terlihat memberi arahan.


Hal ini dapat dipahami mengingat Mahawira akhirnya memutuskan menghadiri undangan penobatan Ratu Malwageni sebagai bentuk dukungan dengan beberapa syarat yang diajukannya.


Sabrang terlihat memasuki aula tapak es utara dengan pakaian kebesaran Malwageni dikawal Wardhana, Paksi dan Arung.


Kedatanganya mengundang perhatian semua orang tak terkecuali Mahawira dan Jaladara yang duduk dibarisan tamu kehormatan.


Seluruh pasukan angin selatan yang sedang berjaga disekitar aula utama langsung berlutut.


"Hormat pada Yang mulia raja, semoga panjang umur dan sehat selalu," teriak mereka bersamaan.


Brajamusti yang duduk bersebelahan dengan Suliwa tampak tersenyum.


"Muridmu akan menjadi raja besar suatu saat tetua," ucap Brajamusti pada Suliwa.


"Aku sudah tau, tak sabar melihatnya terus berkembang," balas Suliwa bangga.


Seluruh pendukung Malwageni terus meneriakkan dukungan, untuk pertama kali setelah puluhan tahun, Malwageni kembali memiliki seorang raja.


Sabrang menundukkan kepalanya saat berada didekat tamu kehormatan sebelum melangkah menuju kursinya.


"Paman, aku tidak terbiasa dengan pakaian seperti ini," bisik Sabrang setelah duduk pada Wardhana.


Wardhana tersenyum kecil, hal yang wajar jika Sabrang merasa risih menggunakan pakaian kebesaran Malwageni. Dia besar dalam pelarian di dunia persilatan setelah Malwageni hancur.


"Mohon bersabar Yang mulia, anda hanya perlu mengikuti proses awal penobatan, setelah itu gusti ratu yang akan memimpin penobatan selir kerajaan. Hamba sudah meminta patih Jaladara untuk menyampaikan pada raja Saung galah jika setelah acara ini kita akan membicarakan rencana penyerangan di ruangan lain," ucap Wardhana pelan.


Sabrang hanya mengangguk pelan sambil tersenyum kecut.


Mahawira terus menatap raja muda itu kagum, selain memiliki ilmu kanuragan yang sangat tinggi, Sabrang dikelilingi orang orang yang mengerikan. Paksi dan Wardhana lah yang membuat Mahawira memutuskan menghadiri penobatan itu walau dia tau resikonya adalah kemarahan Majasari mengingat saat ini Malwageni berada dibawah kekuasaan Majasari.


Setelah memikirkan cukup lama, Mahawira lebih memilih berhadapan dengan Majasari daripada Malwageni.


Dia kembali mengingat kejadian kemarin, bagaimana Sabrang dan Paksi menekannya habis habisan.


"Apa kalian tidak sadar telah mengancam dua kerajaan besar? setelah kalian menekan ku kini kalian dengan percaya diri akan menyerang Majasari?" Mahawira menggelengkan kepalanya, dia benar benar tak bisa membaca jalan pikiran Paksi.


"Kami sudah kehilangan segalanya sejak Malwageni runtuh, hanya semangat dan tekad kami yang tersisa, lalu apa lagi yang harus kami takutkan?" jawab Paksi enteng.


"Sepertinya kalian hanya ingin menyeret Saung galah kedalam ambisi semu kalian tanpa persiapan matang. Kalian seolah tak perduli menang atau kalah, yang ada dipikiran anda hanya membalas dendam apapun hasilnya," balas Mahawira.


Paksi tertawa keras tiba tiba yang membuat seisi ruangan menatapnya bingung.


"Anda salah paham Yang mulia, tak ada sedikitpun niat aku ingin mati konyol. Kami tak akan bergerak jika tidak melihat celah kemenangan, atau Saung galah ingin mencoba lebih dulu?" ancam Paksi tiba tiba.


"Kau!," Mahawira terlihat mulai tersulut emosinya.


"Saung galah adalah kerajaan besar yang sudah ada jauh sebelum Malwageni, tradisi Saung galah tak pernah memiliki pemimpin seorang wanita, apa anda pikir suksesi kepemimpinan Saung galah akan berjalan mulus? aku hanya perlu memainkan sedikit intrik untuk membuat kerajaan ini hancur tanpa harus berperang," ucap Paksi pelan.


Semua tersentak kaget mendengar ucapan tajam Paksi tak terkecuali Wardhana, dia tidak menyangka gurunya akan bicara sangat keras saat Saung galah mulai melunak.


"Kau benar benar sudah keterlaluan," Jaladara langsung bergerak menyerang, dia sudah tidak memikirkan lagi kekuatan Sabrang saat harga diri Rajanya direndahkan.


"Sebaiknya kau tidak bertindak bodoh Jaladara, aku tak pernah melalukan sesuatu tanpa persiapan," ucap Paksi tanpa bergerak sedikitpun.


Paksi mengernyitkan dahinya, pedang yang sudah hampir menyentuh leher Paksi ditariknya kembali, dia merasa Paksi sangat yakin dia tak akan menyerangnya.


"Sebaiknya kita selesaikan tanpa ada kekerasan mengingat ayah adalah teman anda Yang mulia," ucap Sabrang pelan.


Jaladara tersentak kaget saat menyadari Sabrang sudah tidak berada ditempatnya, dia sudah berpindah tempat menggunakan jurus ruang dan waktunya dan hanya berada beberapa jengkal didekat Mahawira sambil menundukkan kepalanya.


Tubuh Jaladara bergetar hebat, walau Sabrang tampak sopan dihadapan Mahawira namun dia tau itu sebuah peringatan jika Sabrang bisa membunuh kapan saja.


"Bagaimana dia berpindah tempat dengan sangat cepat?" gumam Jaladara bingung, dia sangat yakin sedetik sebelumnya masih melihat Sabrang duduk disebelah Paksi dan Wardhana.


"Wardhana menyebutnya jurus ruang dan waktu, Yang mulia bisa membunuh siapapun dan kapanpun jika dia mau dengan jurus itu. Sebaiknya biarkan mereka yang memutuskan, kita hanya abdi rendah Jaladara, jangan kau lupakan itu," bisik Paksi percaya diri, kini seluruh kontrol negosiasi telah dalam genggamannya.


"Kau benar benar gila Paksi," Jaladara menahan amarahnya.


"Sudah kukatakan jika ahli siasat sepertiku tak akan bergerak tanpa menghitung kekuatan. Aku akan melakukan apa saja untuk mendukung orang yang telah mengampuniku. Kuharap kau tidak tersinggung, politik kerajaan itu sangat cair dan penuh kepentingan, kita bisa bersahabat hari ini dan saling bunuh esok hari," jawab Paksi pelan, dia terus mempermainkan psikologis Jaladara karena mengakui Jaladara adalah patih yang hebat.


Jaladara terdiam, dia benar benar tak bisa berbuat apa apa, Paksi telah mengendalikan semuanya.


"Apa ini sebuah ancaman?" Mahawira sedikit tersinggung atas sikap Sabrang yang tiba tiba sudah berada didekatnya, saking cepatnya Sabrang berpindah tempat, Mahawira yakin tidak melihatnya bergerak sama sekali.

__ADS_1


"Aku tak mungkin berani mengancam anda Yang mulia, aku hanya tidak ingin hubungan Saung galah dan Malwageni renggang," balas Sabrang sopan sesaat sebelum tubuhnya menghilang dan muncul kembali didekat Paksi.


Wajah Mahawira pucat pasi, dia bukan tidak tau jika Sabrang sedang mengancamnya namun dia tak bisa berbuat apa apa. Kejadian yang diceritakan Jaladara di gerbang utama sudah menggambarkan betapa menakutkannya kekuatan raja Malwageni itu.


Kalaupun pasukannya mampu mengalahkan Sabrang, dia yakin akan menjadi orang pertama yang terbunuh mengingat jurus aneh yang digunakan Sabrang benar benar cepat.


"Pelajari ini Wardhana, kau mungkin yang terbaik dalam siasat perang namun lemah dalam hal bernegosiasi, Malwageni akan membutuhkan ahli negosiasi jika ingin menguasai Nuswantoro," bisik Paksi.


Wardhana mengangguk pelan, dia benar benar kagum dengan cara Paksi menekan kerajaan sebesar Saung galah.


Suara genderang tanda kedatangan rombongan Tungga dewi membuyarkan lamunan Mahawira.


"Anak itu benar benar mengerikan," gumam Mahawira sambil menyaksikan acara penobatan Ratu Malwageni.


Wajah Sabrang tiba tiba berubah setelah melihat rombongan Tungga dewi memasuki aula utama.


Tungga dewi tampak begitu cantik dan anggun dengan pakaian ratu, tak ada sedikitpun tanda jika dia adalah pendekar wanita yang telah membunuh banyak orang.


Kecantikannya semakin bersinar karena rambut panjangnya ditata sedemikian rupa, tak seperti biasanya yang hanya diikat. Dia berjalan diapit oleh Wulan sari dan Tantri dari teratai merah, dibelakang Mentari dan Emmy yang tak kalah cantik mengikutinya.


Sabrang cukup terkejut melihat aura Tungga dewi, gadis cantik pilihan ibunya itu benar benar membuatnya kagum.


Tungga dewi berjalan mendekati Sabrang dan berlutut dihadapannya sebelum kembali melangkah ketempat yang telah disediakan.


Sabrang menggaruk kepalanya, dia benar benar canggung dengan suasana resmi seperti itu.


Ciha bangkit dari duduknya setelah Tungga dewi berada di tempatnya.


Dia berjalan mendekati Tungga dewi sambil membawa gulungan.


"Hormat gusti ratu," ucap Ciha sopan sambil menundukkan kepalanya.


"Anda sudah siap menerima titah Yang mulia?" tanya Ciha pelan.


Tungga dewi menoleh kearah Mentari dan Emmy yang duduk dibelakangnya seolah meminta persetujuan, mereka berdua mengangguk pelan sambil tersenyum.


"Hamba siap menerima titah Yang mulia," jawab Tungga dewi.


"Mohon anda berlutut untuk menerima titah," balas Ciha.


Tungga dewi bangkit dari duduknya dan berlutut dihadapan Ciha.


"Hari ini, bertempat di sekte tapak es utara dihadapan semua yang ikut menyaksikan. Saya, Sabrang Damar, raja Malwageni mengangkat Tungga dewi sebagai ratu Malwageni sesuai dengan aturan kerajaan.


Bersamaan dengan titah ini, seluruh aturan dan tradisi kerajaan akan langsung melekat ditubuh Tungga dewi.


Seluruh sikap dan keputusannya mulai hari ini akan ikut mewakili keputusan Yang mulia Raja. Jadilah ratu yang penuh kasih dan menjadi kekuatan bagi Malwageni".


Ciha menutup gulungan itu dan memberikannya pada Tungga dewi yang masih berlutut.


"Hamba menerima titah Yang mulia," ucap Tungga dewi sambil terisak.


Bersamaan dengan berdirinya Tungga dewi, sebagian yang hadir termasuk Ciha, Mentari dan Emmy langsung berlutut sambil berteriak bersamaan.


"Selamat gusti Ratu, semoga anda selalu diberi umur panjang dan kesehatan."


Seketika suasana ruangan menjadi riuh, teriakkan teriakan nama Tungga dewi menggema di seluruh ruangan.


Hari ini seorang gadis biasa yang sempat di persiapkan untuk memimpin sekte aliran putih terbesar Rajawali emas memilih menjadi Ratu dan mengabdikan hidupnya untuk orang yang dicintainya, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah Malwageni dipimpin sepasang pendekar terkuat saat ini.


Sabrang tersenyum hangat ketika Tungga dewi menoleh kearahnya dan menundukkan kepalanya.


"Kau benar benar cantik hari ini Dewi," gumam Sabrang dalam hati.


***


Sabrang dan rombongan memutuskan meninggalkan ruangan utama setelah pelantikan Tungga dewi karena urusan penobatan selir berada ditangan ratu.


Sabrang dan rombongan memasuki salah satu ruangan yang cukup besar bersama Mahawira. Suasana yang kemarin sempat tegang kini tampak mencair, Sabrang dan Mahawira sudah saling melempar pujian dan canda.


Suasana kembali serius saat Wardhana memasuki ruangan bersama Paksi.


"Yang mulia" Wardhana meminta izin untuk menjelaskan rencananya.


"Silahkan paman," jawab Sabrang pelan.


"Maaf Yang mulia, hamba berjanji pertemuan ini tidak akan terlalu lama, anda bisa menuju kamar ratu setelah pertemuan ini," ucap Wardhana.

__ADS_1


"Kamar ratu?" Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Bukankah beliau telah resmi menjadi ratu Malwageni?, apakah anda...," Wardhana tidak melanjutkan ucapannya saat menyadari kesalahannya.


Sabrang menatap bingung Wardhana yang mencoba mengalihkan perhatian dengan memulai bicara.


Pertemuan berlangsung sampai sore karena Wardhana hanya membahas garis besar rencana penyerangan. Pembahasan mengenai detail siasat perang akan dibahas dalam pertemuan selanjutnya antara patih masing masing kerajaan dengan ahli siasat.


Wardhana hanya membentuk tim kecil gabungan Malwageni dan Saung galah untuk mulai bergerak memata-matai kekuatan Majasari.


Pertemuan selanjutnya diputuskan berpindah pindah untuk menghindari kecurigaan Majasari.


"Kuharap rencanamu berhasil tuan patih karena tidak sedikit yang akan dipertaruhkan oleh kami," ucap Mahawira sesaat sebelum pamit undur diri.


"Hamba akan pastikan semua berjalan sesuai rencana Yang mulia," Jawab Wardhana sambil menundukkan kepalanya.


Mahawira tampak tersenyum lega sambil melangkah keluar ruangan.


"Paman, aku ingin semua detail rencana disampaikan padaku terlebih dahulu. Ada sesuatu yang harus tetap kita sembunyikan dari mereka, jangan sampai mereka tau seluruh kekuatan kita," ucap Sabrang pelan.


"Hamba akan mengaturnya Yang mulia, harap jangan terlalu khawatir," jawab Paksi pelan.


"Terima kasih paman," Sabrang bangkit dari duduknya dan bersiap pergi. "Aku akan latihan sebentar paman, kau bisa mencari ku diruang latihan tapak es utara."


"Maaf sebelumnya Yang mulia," Wardhana memberanikan diri bicara.


"Apa ada yang salah?," tanya Sabrang bingung.


"Maaf jika hamba lancang namun sesuai tradisi Malwageni, ratu harus menemani anda setelah penobatannya," ucap Wardhana pelan.


Paksi yang berdiri disebelahnya tampak mengernyitkan dahinya, seingatnya tidak ada tradisi seperti yang dikatakan Wardhana.


"Apa harus malam ini?" Sabrang seolah keberatan karena sebenarnya dia ingin berlatih terlebih dahulu setelah lama tak sadarkan diri.


"Tradisinya seperti itu Yang mulia."


"Baiklah jika seperti itu," Sabrang melangkah keluar dan menuju kamar yang telah dipersiapkan untuknya dan Tungga dewi.


"Apa kau cari mati bodoh? seingatku tak ada tradisi seperti itu," tanya Paksi setelah Sabrang pergi.


"Yang mulia memang tak tertandingi jika bicara ilmu kanuragan namun dia begitu polos jika berhubungan dengan wanita. Aku harus membantunya sedikit guru agar pangerang kecil Malwageni segera hadir," jawab Wardhana sambil tersenyum.


***


Sabrang menghentikan langkahnya saat berada didepan pintu kamar Tungga dewi, dia terlihat ragu untuk melangkah masuk.


Untuk pertama kali dalam hidupnya dia merasakan takut, hal yang tak pernah dia rasakan bahkan saat berhadapan dengan Kuntala sekalipun.


"Apa yang harus aku katakan padanya?" gumam Sabrang gugup.


Setelah mengumpulkan keberanian cukup lama, Sabrang membuka pintu dan melangkah masuk.


Tungga dewi yang sedang duduk dipinggir tempat tidurnya langsung menundukkan kepalanya saat melihat Sabrang masuk.


Wajah gadis itu tak jauh lebih baik dari Sabrang, dia terlihat gugup menghadapi situasi itu.


"Anda ingin berganti pakaian?," tanya Tungga dewi pelan.


"Ah... aku bingung dengan situasi ini namun baiklah, bisakah kau mengambilkan pakaianku," jawab Sabrang kaku.


Tungga dewi mengangguk pelan, dia mengambil pakaian yang sudah dipersiapkan oleh Wulan sari dan Tantri.


Cukup lama mereka terdiam setelah Sabrang selesai berganti pakaian. Sabrang semakin bingung karena Tungga dewi hanya menunduk dan tak berkata satu katapun.


"Aku tidak tau bagaimana harus mengatakannya namun kau terlihat cantik Dewi," Sabrang memberanikan diri memegang lengan Tungga dewi.


"Yang mulia," jawab Tungga dewi pelan.


"Maaf jika selama ini aku selalu merepotkanmu."


"Mohon jangan berkata seperti itu Yang mulia, hamba hanya melakukan apa yang harus hamba lakukan," jawab Tungga dewi.


"Kau benar benar gadis yang baik," Sabrang perlahan mendekatkan wajahnya, sementara Tungga dewi mulai menutup matanya.


Aroma bunga yang ada didalam ruangan menambah kesan romantis, membuat raja dan ratu Malwageni itu larut dalam dunianya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Jangan komen minta jelasin gimana proses pembuatan Pangeran kecil Malwageni ya karena Author masih Polos.


Coba berapa Vote buat Pangeran kecil Malwageni....


__ADS_2