
Sisi Gelap Alam Semesta sebenarnya berada di dekat Air terjun Lembah Pelangi, bahkan dapat dikatakan berdampingan karena jika di perhatikan, tempat yang akan didatangi Wardhana ini berada di dasar jurang yang ada di air terjun Lembah Pelangi.
Jika dilihat dari puncak air terjun lembah pelangi maka hanya terlihat jurang menganga yang sangat dalam, tak ada yang mengira jika didasar jurang itu terdapat hutan pinus yang sangat indah.
Namun jika berjalan memutari air terjun Lembah pelangi dan masuk lewat celah batu yang cukup sempit disalah satu sisi tebing akan muncul didasar jurang dan disambut oleh hutan pinus khas Nuswantoro.
"Tunggu...bukankah di atas sana adalah air terjun Lembah Pelangi?" tanya Wardhana menunjuk dinding tebing yang menjulang tinggi saat mereka sudah melewati celah batu dan mulai memasuki hutan pinus yang sangat indah.
"Pengamatan anda benar benar sangat baik, Sisi Gelap Alam Semesta adalah salah satu misteri yang ada di hutan Larangan dan sampai hari ini belum bisa dipecahkan. Selain letaknya yang tersembunyi dan berada di dasar jurang Lembah pelangi, ilmu kanuragan ataupun tenaga dalam tak akan bisa digunakan karena udara di tempat ini sangat tipis dan tubuhmu akan semakin berat jika kau memaksa menggunakan tenaga dalam," jawab Ken Panca sambil melangkah perlahan masuk ke hutan pinus itu.
Wardhana berjalan mengikuti langkah Ken Panca sambil menatap sekitarnya, dia benar benar takjub dengan pemandangan yang ada di hutan pinus itu.
"Tempat ini sepertinya sangat cocok untuk orang seperti anda, tapi tetap waspada dan jangan terlalu banyak bergerak yang tidak perlu karena saat ini tubuhmu sedang dalam tahap adaptasi," ucap Ken Panca memperingatkan.
Wardhana mengangguk pelan, dia memang belum merasakan efek apapun di tubuhnya setelah memasuki sisi gelap alam semesta.
Bagi Wardhana yang tidak memiliki tenaga dalam, sisi Gelap alam semesta memang tidak terlalu berpengaruh bagi tubuhnya, dia hanya merasakan pernafasannya sedikit sesak saat berjalan semakin masuk ke dalam hutan pinus itu.
Hal ini sangat berbeda dengan Ken Panca atau Sabrang yang sudah terbiasa mengalirkan tenaga dalam saat bergerak untuk meringankan tubuh, mereka merasakan organ dalamnya sakit saat pertama kali masuk ke tempat itu.
"Tempat ini seolah melarang siapapun untuk menggunakan Ilmu kanuragannya," ucap Wardhana dalam hati sambil terus menatap sekitarnya.
"Menarik bukan? dan ditempat inilah Dewa Api disegel selama ribuan tahun," jawab Ken Panca sambil menunjuk sebuah gunung yang letaknya masih cukup jauh. "Gunung itu adalah tujuan kita, tubuhmu harus cepat beradaptasi karena di sana udara akan semakin tipis."
"Gunung itu?" Wardhana menghentikan langkahnya tiba tiba sebelum kembali menatap tebing tinggi yang menjadi pembatas dengan air terjun Lembah pelangi.
"Sepertinya tubuh anda belum terlalu bisa beradaptasi, kita istirahat sebentar," ucap Ken Panca khawatir saat melihat Wardhana berhenti tiba tiba.
Wardhana hanya mengangguk pelan walaupun sebenarnya bukan itu alasannya berhenti tiba tiba.
"Posisi gunung dan tebing ini? aku seperti pernah melihatnya di suatu tempat," ucapnya dalam hati sambil mencoba mengingat ingat kembali.
__ADS_1
"Tak perlu di pikirkan, Sabrang pun dulu cukup kesulitan beradaptasi saat pertama masuk ketempat ini bersama tuan Rubah Putih, dengan udara yang cukup tipis dan tidak adanya sinar matahari, wajar jika tubuhmu sedikit lambat beradaptasi," ucap Ken Panca sedikit menghibur.
"Tidak ada sinar Matahari? tidak mungkin, semua pepohonan yang ada di sini jauh lebih subur dari tempat lain, adalah hal yang mustahil jika hutan pinus ini tak pernah terkena sinar matahari," jawab Wardhana cepat.
"Itulah yang aku katakan sejak awal, semua hukum alam seolah tidak berlaku di tempat ini. Ratusan tahun aku bersembunyi di gua kabut dan tak sekalipun aku pernah melihat sinar matahari masuk ke hutan ini," balas Ken Panca.
"Pohon Pinus sangat membutuhkan sinar matahari untuk berkembang, pasti ada sesuatu yang bisa menjelaskan semua kejadian aneh ini," ucap Wardhana dalam hati.
"Apa anda sudah memeriksa semua tempat yang ada di sini?" tanya Wardhana tiba tiba.
"Memeriksa semuanya? selain gunung itu dan gua kabut tempat dewa api di segel, aku tidak terlalu tertarik karena kupikir tempat ini hanya hutan pinus biasa yang memiliki udara yang tipis," jawab Ken Panca pelan.
"Tapi di hutan yang anda anggap biasa ini ditemukan catatan yang bisa membuat bom api bukan?" balas Wardhana sambil menggambar sesuatu di tanah.
"Kesan pertama yang kudapatkan saat pertama kali memasuki hutan pinus ini adalah aku seperti pernah datang ketempat ini. Posisi celah batu sebagai pintu utama dan juga gunung serta posisi dinding tebing itu seolah pernah terekam di kepalaku tapi entah kapan dan dimana.
"Saat ini aku belum tau misteri apa yang sedang menyelimuti tempat ini tapi satu yang bisa dipastikan, Sisi gelap alam semesta memang pernah kulihat entah dimana," ucap Wardhana pelan.
"Sepertinya malam akan segera datang, sebaiknya kita bergegas ke puncak gunung itu, sangat berbahaya bermalam di hutan ini karena suhu udara akan semakin dingin saat malam hari. Setelah itu, kita akan membahas masalah ini dengan tuan Rubah Putih dan Wijaya," ucap Ken Panca cepat.
"Kakang Wijaya?"
"Bukan hanya dia, kau akan melihat keajaiban lain dari tempat ini saat malam hari, mungkin kau bisa menemukan sesuatu dari keajaiban itu," jawab Ken Panca sebelum bergegas pergi.
***
Puncak Air terjun Lembah pelangi adalah tempat yang selalu digunakan Wulan jika sedang bermeditasi dan berlatih tenaga dalam. Dia merasa gemercik air yang jatuh ke bebatuan dibawahnya bisa membuat konsentrasinya meningkat.
Dan malam itu, saat semua pendekar muda yang merupakan utusan dari sekte aliansi sedang tertidur lelap, Wulan masih duduk di atas puncak air terjun untuk melatih ajian inti lebur saketi.
Walau tidak bisa menguasai ajian itu secara sempurna seperti yang dilakukan Sabrang namun sebagai pencipta Inti Lebur Saketi dia masih mampu menguasai beberapa tingkat dasar ilmu tertinggi tenaga dalam itu.
__ADS_1
Energi murni khas trah Tumerah tiba tiba meluap dari tubuhnya saat Wulan mulai menggunakan ajian inti Lebur saketi.
Namun semua tak berlangsung lama karena dia langsung menarik semuanya saat merasakan kehadiran seseorang di dekatnya.
"Sepertinya anda terlalu mengkhawatirkan murid kesayangan sekte Pedang Naga Api tetua, mohon jangan terlalu khawatir karena semua pendekar muda yang akan menjadi anggota Hibata aman bersamaku. Tak ada yang bisa masuk dan menembus segel matahari tanpa izin dariku termasuk anda," ucap Wulan sambil membuka mata dan menoleh kearah seorang pria tua yang ada di sampingnya.
"Mohon jangan salah paham nona, tak pernah sedikitpun aku meragukan kemampuan seorang Dewi Kematian. Aku datang karena ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan anda," jawab ki Ageng sopan.
"Apa mengenai kemampuan unik Minak Jinggo?" tanya Wulan seolah bisa membaca pikiran Ageng.
"Jadi anda sudah menyadari kemampuannya?" jawab Ageng pelan.
"Tak sulit bagiku mendeteksi tubuh tujuh bintang karena aku pernah melatih Sabrang cukup lama tapi yang membuatku penasaran adalah dari mana Jinggo mendapatkan tubuh itu," balas Wulan cepat.
Ageng menarik nafasnya perlahan sebelum duduk disebelah Wulan dan mulai menceritakan tentang muridnya itu.
"Setelah Yang mulia meninggalkan sekte Pedang Naga Api dan mulai mengembara, aku benar benar menarik diri dari dunia persilatan. Saat itu aku berfikir tugasku sudah selesai saat pangeran kecil yang dulu dititipkan padaku telah menjadi seorang pendekar hebat.
"Bisa dikatakan Yang mulia adalah murid terakhir sekte Pedang Naga Api karena setelah itu aku memutuskan tidak pernah menerima murid kembali hingga suatu malam setelah aku pulang dari pertemuan para tetua sekte di pulau tapak es utara, aku menemukan seorang pemuda berlutut di gerbang sekte dan memohon untuk menjadi murid sekte.
"Awalnya, aku bersikeras menolaknya karena selain keputusanku sudah bulat, anak itu tidak memiliki keistimewaan apapun, hanya semangatnya yang membuatku kagum saat itu. Namun, setelah aku menerimanya sebagai murid, tubuhnya mulai berevolusi dan menjadi tubuh Tujuh bintang. Itulah yang sebenarnya ingin aku bicarakan dengan anda," ucap Ageng pelan.
"Jadi, anda juga tidak tau tentang masa lalunya?"
Ageng menggeleng pelan, "Itulah yang sebenarnya membuatku khawatir karena aku takut Hibata saat ini sedang memelihara Iblis," jawab Ageng pelan.
"Iblis ya... sepertinya anak itu memang sedang memelihara Iblis karena hampir semua anggota Hibata yang dia kumpulkan bukan pendekar biasa walau memang Jinggo yang membuatku paling khawatir," balas Wulan pelan.
"Semoga saja Yang mulia bisa mengendalikan anak itu," ucap Ageng pelan.
"Aku tidak tau apa sebenarnya yang sedang dia rencanakan dengan Hibata barunya tapi aku yakin dia sudah berhitung dengan para iblis kecil itu," balas Wulan sambil melihat jurang tanpa dasar yang ada di belakangnya.
__ADS_1