Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Gerbang ketiga Dieng


__ADS_3

Suliwa mematung didepan dua tubuh yang sudah tak bernyawa, pandangan matanya tajam seolah memastikan jika Mahendra benar benar telah mati.


"Kau telah berbuat baik diakhir hidupmu nak". Ucap Suliwa sambil memandang Maruta yang tergeletak dengan tubuh yang hampir tidak utuh lagi, sedangkan Mahendra berada tak jauh dari Maruta dengan kepala yang sudah terpisah dari tubuhnya.


Namun entah kenapa perasaan Suliwa seolah tak tenang, semua terasa mudah bagi mereka. Setelah serangan tiba tiba Mahendra, mereka hampir meregang nyawa namun lambat laun entah disengaja atau tidak Kertasura mulai mendominasi pertarungan dan berakhir dengan terpenggalnya kepala Mahendra.


"Apa memang Kertasura yang terlalu hebat dengan pedang langitnya?". Gumam Suliwa gusar.


"Apa yang kau pikirkan? ayo kita pergi, waktu kita tidak banyak lagi". Kertasura mengagetkan Suliwa.


"Dengan lukamu saat ini kau masih berlagak kuat Kertasura". Suliwa tersenyum tipis sambil menatap Kertasura yang hampir disekujur tubuhnya dipenuhi sayatan pedang, tak jauh beda dengan tubuhnya.


Mereka memang bisa dibilang beruntung dalam pertarungan tidak seimbang dengan Mahendra. Kekuatan Panca geni benar benar membuat mereka tak berdaya. Suliwa bahkan hampir percaya jika hari ini adalah akhir hidupnya sebelum tiba tiba Kertasura bisa mendominasi pertarungan. Kemenangan beruntung itu yang membuat Suliwa terlihat khawatir, semua menjadi mudah di akhir akhir pertempuran.


Suliwa kembali menggelengkan kepalanya, dia berusaha membuang jauh rasa khawatirnya karena di melihat sendiri dengan mata kepalanya jika Kertasura memenggal Mahendra.


"Apa kau tidak merasa ini terlalu mudah?". Ucap suliwa pada Keetasura saat mereka menuju gerbang kedua. Awalnya mereka ingin menemui Mahendra untuk memperingatkan kebangkitan Ajisaka namun belum keluar dari gerbang pertama Mahendra telah muncul dihadapan mereka. Setelah berhasil membunuh Mahendra mereka memutuskan menyusul Sabrang dan yang lainnya.


"Aku tau kekhawatiranmu namun kau lihat sendiri pedang langitku memenggal kepalanya bukan?".


"Aku tau, aku hanya ingin memastikan. Mahendra sudah 2 kali lolos dari maut saat dibunuh ken panca dan pendekar dalam legenda itu".


Kertasura hanya diam mendengar ucapan Suliwa, dilubuk hatinya pun dia merasakan apa yang Suliwa rasakan.


***


"Berhati hatilah, hanya ken panca yang pernah masuk gerbang ke 3. Kita tidak tau apa yang akan kita temukan disana". Madrim memperingatkan pada Sabrang dan Lingga saat dia mulai merasakan tekanan aura yang entah berasal dari mana.


Sabrang terlihat ingin bicara namun dia sedikit ragu sambil tersenyum kecil.


"Aku bingung harus memanggilmu apa, kau masih tampak muda namun umurmu sudah mencapai ratusan tahun. Tempat ini benar benar bisa membuatku gila".


"Kau cukup panggil aku senior, bagaimanapun akulah gerenari kedua pengguna Naga api walaupun aku yakin kau akan menjadi pengguna terkuat Naga api". Madrim tersenyum penuh makna.


"Sepertinya kita salah arah". Lingga tiba tiba menghentikan langkahnya saat sebuah jurang indah berhias pelangi menyambut mereka. Jurang itu seperti tak bertepi, sepanjang mata memandang mereka tak melihat ujung jurang.


"Kau pikir tempat ini luas? hanya ini satu satunya jalan". Madrim melangkah mendekati pinggir jurang dan menatap kebawah. Dia bergidik ngeri saat matanya tak melihat dasar jurang.


"Jurang ini dalam sekali". Gumamnya dalam hati.


"Sepertinya aku mulai merindukan Ciha". Sabrang tau betul hal hal seperti ini Ciha adalah ahlinya.


"Maksudmu ada jalan rahasia lagi?". Lingga mengernyitkan dahinya.


"Gerbang pertama Dieng tertimbun dibawah laut dan hanya terbuka selama 4 hari, sedangkan gerbang kedua kita harus menyelam disungai yang dingin. Kau tidak berfikir jika gerbang ketiga hanya sebuah pintu biasa dan kita hanya perlu membukanya bukan?". Ucap Sabrang sambil terkekeh.


"Kau mengejekku?". Lingga memegang pedangnya.


"Apa aku terlihat mengejek?". Api mulai membentuk pedang di tangan Sabrang.


Madrim menggelengkan kepalanya lalu mendekati mereka berdua.


"Dengarkan aku, struktur Dieng dari gerbang pertama dan kedua memiliki pola yang hampir sama. Susunan batu berundak yang berjajar rapih membentuk semacam kunci yang saling terkait. Sekarang cari batu atau apapun disekitar sini yang mencurigakan seperti bentuk tuas atau apapun, aku yakin itu kuncinya".


Setelah mendengar penjelasan Madrim, mereka mulai mencari apa yang dikatakan Madrim.


Raur wajah Lingga dan Mahendra berubah setelah beberapa jam mencari namun tidak menemukan apapun.


"Kau menemukannya?". Madrim bertanya pelan.

__ADS_1


Lingga menggeleng pelan, hampir semua tempat telah di susuri namun dia tak menemukan batu atau apapun yang mirip dengan tuas.


Tak lama sebuah harapan muncul saat Sabrang terlihat berlari dengan wajah sumringah sambil menggenggam batu kecil ditangannya.


"Aku menemukannya! aku menemukannya". Sabrang berteriak kencang. Harapan kembali tampak diwajah mereka.


Sabrang menyerahkan batu kecil digenggamannya dengan wajah tak berdosa kepada Lingga. Seketika aura membunuh ditubuh Lingga meluap setelah melihat batu yang hanya seukuran genggaman tangannya.


"Apa batu ini terlihat seperti tuas? atau isi kepalamu yang harusnya diberi tuas?". Ucap Lingga penuh amarah. Dia benar benar tak bisa mentolerir lagi kebodohan Sabrang.


"Bukankah kita diperintahkan mencari batu?". Ucap Sabrang polos. Dia terlihat bingung kenapa Lingga begitu marah padanya.


Madrim tertawa melihat tingkah Sabrang, dia mendekati Lingga dan menepuk pundaknya. Tubuh Lingga membeku sesaat ketika ada energi aneh mengalir ditubuhnya.


"Tenaga dalamnya benar benar besar". Lingga menelan ludahnya.


"Bersabarlah, kita istirahat sebentar sambil berfikir. Ada yang ingin aku bicarakan dengan anak ini". Madrim mengajak Sabrang duduk disebuah pohon tak jauh dari pinggir jurang.


"Bagaimana pusaka Naga api bisa memilihnya, dan yang lebih menyedihkan dia adalah keturunan Raja Malwageni". Umpat Lingga dalam hati.


Madrim terlihat duduk dihadapan Sabrang "Apakah kau yang mengalahkanku di danau kehidupan?". Tanya Madrim ramah.


Sabrang mengangguk sambil tersenyum canggung. "Aku minta maaf senior, aku terpaksa mslakukannya".


"Tak usah dipikirkan, tindakanmu sudah tepat". Madrim menatap Sabrang kagum. Dia sangat percaya diri dengan ilmu kanuragannya bahkan dengan ilmunya itulah dia menghancurkan Lembah siluman seorang diri dan mengalahkan Mahendra.


"Anak ini tampak bodoh, pengalaman bertarungnya pun masih minim namun instingnya benar benar mengerikan". Gumam Madrim dalam hati.


Madrim menjadi siaga saat dia merasakan kehadiran seseorang. Dia menyambar pedangnya dan bersiap dengan jurusnya.


"Ada yang datang". Bisik Madrim pada Sabrang, namun saat Sabrang mulai mengeluarkan pusakanya Ciha muncul dari balik pepohonan dengan nafas tersenggal.


Sabrang terkejut melihat Ciha menyusulnya "Kau? bagaimana kau ada disini? bukankah tugasmu di Danau kehidupan?".


"Ada sesuatu yang harus kuselidiki terkait masa depan dunia persilatan. Aku takut ini lebih menakutkan dari lembah siluman, dan semua petunjuk di dinding gua mengarah ke Lembah merah".


"Masa depan dunia persilatan?". Lingga melangkah mendekati Ciha.


Ciha mengangguk "Ini mengenai Perjanjian Majapahit, aku tak bisa menjelaskan disini. Nanti akan kujelaskan jika kita sudah masuk ke Lembah merah. Lagipula sepertinya kalian belum menemukan gerbang ketiga".


"Perjanjian Majapahit?". Madrim mengernyitkan dahinya. Dia seperti pernah mendengar nama itu.


"Aku menemukan sesuatu yang mengejutkan di gua itu selain tentang perjanjian Majapahit, lhatlah ini". Ciha mengeluarkan gulungannya. Dia sudah menyalin beberapa gambar dari gua sebelumnya.


"Kau lihat gambar garis garis penghubung diantara gambar rumit ini?. Sepertinya suku Iblis petarung bukan hanya pembunuh berdarah dingin. Mereka juga menguasai ilmu pengetahuan yang sangat tinggi".


"Ilmu pengetahuan di jaman dulu? Apa itu mungkin?". Ucap Lingga pelan.


"Jika perkiraanku benar, ilmu pengetahuan mereka bahkan jauh lebih maju dari kita saat ini". Ciha menunjuk gambar danau kehidupan.


"Struktur Danau kehidupan dibuat sedemikian rupa untuk tujuan tertentu. Sepertinya Iblis petarung menyadari jika tempat ini dikelilingi gunung api bawah laut. Mereka membuat danau kehidupan untuk dialirkan ke kantong kantong magma gunung api agar meredam ledakan. Itulah gunanya tuas air ini, Sistem managemen air serumit ini tak akan bisa ditemui saat ini. Mereka benar benar suku yang sangat jenius". Ciha berdecak kagum.


"Jadi maksudmu tempat ini dibangun dengan ilmu pengetahuan semaju itu?". Tanya Madrim.


"Benar, dan aku yakin gerbang ketiga ada didekat kita, hanya gerbang itu ditutupi sesuatu saat ini". Ciha mengamati jurang yang membentang dihadapannya.


"Jurang ini seperti tidak memiliki ujung, Mungkin lebih dalam dari jurang tanpa dasar Bintang langit". Gumam Ciha dalam hati.


"Apa kalian tidak menemukan sesuatu sama sekali?". Tanya Ciha singkat.

__ADS_1


"Anak itu menemukan batu pusaka". Ejek Lingga sambil menunjuk batu yang ada digenggaman Sabrang.


Sabrang hanya mengumpat dalam hati sambil melempar baru ditangannya kedalam jurang.


"Jika ada kesempatan akan kubunuh dia". Gumam Sabrang dalam hati sambil menatap tajam Lingga.


Ciha tiba tiba menoleh kearah Sabrang ketika mendengar suara batu jatuh yang dilempar Sabrang kejurang itu.


"Kau melempar batu itu kejurang?". Tanya Ciha.


Sabrang hanya mengangguk bingung "Apa ada yang salah?".


Ciha mengambil batu kecil yang ada dikakinya kemudian melemparnya kejurang. Tak lama terdengar suara batu terjatuh.


"Kalian mendengarnya? bagaimana jurang yang dalam ini bisa memantulkan suara batu sekecil ini?". Ucap Ciha bersemangat.


"Gerbang ketiga ada dihadapan kita". Ciha melanjutkan.


"Maksudmu jurang ini?". Madrim masih belum mengerti ucapan Ciha.


"Aku tidak yakin namun jika tebakanku tidak salah harusnya memang ini gerbangnya". Ciha kembali membuka gulungan catatan yang dibawanya.


"Segel ilusi". Ciha menunjuk catatan mengenai segel ilusi.


"Kau yakin?". Madrim sedikit ragu. Dia memang pernah mendengar mengenai segel ilusi. Berbeda dari segel kabut, segel ilusi tidak dapat dibatalkan jika sudah digunakan. Jadi efek segel ilusi adalah permanen.


"Kita tidak tau jika tidak mencobanya". Ciha mendekati jurang sambil menahan nafas.


"Sepertinya aku sudah gila". Ciha mengumpat dalam hati. Dia menelan ludahnya saat menatap jurang yang seperti tidak ada dasarnya.


"Tuan Birawa Maafkan aku". Ciha melompat kedalam jurang itu. Lingga dan yang lainnya tersentak kaget melihat Ciha melompat tiba tiba.


"Apa yang dilakukan sibodoh itu". Lingga berteriak keras.


Saat mereka semua panik tiba tiba suara Ciha mengagetkan mereka.


"Lompat lah, jurang ini hanya ilusi". Suara Ciha terdengar dari dalam jurang.


Mereka bertiga saling pandang sebelum mengumpat dalam hati masing masing.


"Tempat ini benar benar gila". Lingga melompat turun diikuti Madrim dan Sabrang.


Wajah mereka berubah lega ketika kakinya menyentuh tanah.


"Bukalah mata kalian, bagaimana mungkin para pendekar terkuat dunia persilatan ketakutan seperti itu". Ciha tertawa mengejek.


"Sabrang dan yang lainnya membuka matanya perlahan. Mereka tersentak kaget ketika melihat hamparan padang rumput hijau dihadapannya. Padang rumput itu sangat indah, ditambah hiasan hiasan sungai kecil yang sepertinya sengaja dibuat untuk mempercantik tempat itu.


"Ada tempat seindah ini didasar laut?". Madrim terus berdecak kagum.


"Inilah gerbang ketiga Dieng, kita hanya perlu mencari dimana lembah merah berada". Ciha mendekati batu tulis didekat sungai kecil. Sebuah tulisan mengganggu pikirannya.


"Negeri buah maja itu akan bangkit ketika Sapdo palon muncul". Ciha mengernyitkan dahinya.


"Sabdo palon? Negeri Majapahit?. Apa maksud semua ini". Ciha menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hei ayo kita pergi, waktu kita tidak banyak". Suara Sabrang membuyarkan lamunan Ciha.


"Ah Baiklah". Ciha melangkah mengikuti Sabrang sambil terus berfikir tentang tulisan dibatu itu.

__ADS_1


__ADS_2