
"Apa kau sudah tau batas kekuatanmu nak?" Lakeswara tersenyum dingin sambil mencabut pedang pusaka raja iblis yang tertancap di perut Sabrang.
Sabrang muntah darah, dia berusaha menggerakkan tubuhnya sekuat tenaga namun tak berhasil.
Tubuh Sabrang tergeletak di tanah dengan lubang menganga di perut dan lengan kiri yang sudah putus.
Wajah Mentari berubah seketika, dia ingin berteriak dan berlari menghampiri Sabrang namun tak bisa, ada energi putih yang menahan tubuhnya.
Kondisi Rubah Putih dan Wulan sang dewi kematian tak jauh berbeda, tubuh mereka tak lagi bergerak menandakan nyawa mereka hampir terpisah dari tubuh yang sudah hancur.
Air mata mulai menetes dari mata indahnya, Mentari mengutuk dirinya sendiri yang tak mampu berbuat apa apa saat orang yang sangat dicintainya meregang nyawa.
Lakeswara menginjak kepala Sabrang yang sudah tidak berdaya dan kembali menancapkan pedang raja iblis di tubuh Sabrang.
Jeritan kesakitan Sabrang membuat tubuh Mentari bergidik dan mengeluarkan keringat dingin.
"Apa kau pikir dengan pedang dan ruh Iblis api bisa mengalahkan ku?" ucap Lakeswara sinis.
"Aku akan membunuhmu walau tubuhku harus hancur berkali kali," Sabrang mencoba menggerakkan tangan kanan dengan sisa sisa tenaga dalamnya.
"Aku sangat terkejut dengan bakat yang kau miliki, namun sangat disayangkan kau memilih jalan yang sama dengan Naraya," Lakeswara mencabut pedang dari tubuh Sabrang dan menebas lengan kanan Sabrang sampai putus.
"Angkara murka tak bisa dihentikan tanpa mengikuti kehendak alam, kobaran api akan padam tanpa kepingan terakhir dalam ramalan. Alam selalu memiliki cara untuk mempersiapkan tiga cahaya putih, tanah suci dewa akan memancarkan cahaya putih walau sekejap," terdengar suara yang memekakkan telinga Mentari.
"Aku akan mengirimu ke neraka, sampaikan pada anakku jika pilihannya salah. Tak akan ada yang mampu menghentikan ku, walau tiga cahaya putih sekalipun," Lakeswara bersiap memenggal kepala Sabrang.
"Yang mulia..." suara Mentari perlahan mulai terdengar.
"Matilah kau!" saat pedang raja Iblis hampir memenggal kepala Sabrang, tiba tiba sesosok tubuh muncul dan menangkis pedang Lakeswara.
Suara ledakan terdengar saat benturan pedang raja Iblis dengan pusaka pendekar misterius itu berbenturan.
Tubuh pendekar misterius dan Lakeswara terdorong mundur beberapa langkah secara bersamaan.
Mentari sampai memejamkan matanya karena efek ledakan yang menerbangkan semua yang ada disekitar mereka. Dia tampak bingung saat kembali membuka matanya, keadaan disekitarnya berubah dengan bangunan bangunan aneh yang berada di atas bukit.
Mentari mengernyitkan dahinya saat sedikit mengenali tempat itu.
"Bukit Cetho?" ucapnya bingung.
Lakeswara tampak terkejut, dia menatap tajam pemuda berambut putih yang berhasil memukulnya mundur. Tak lama seorang pendekar wanita muncul dengan wajah kesal.
"Hei bodoh! seenaknya saja kau meninggalkanku," bentak pendekar wanita itu.
"Jika aku tidak datang tepat waktu maka dia sudah menjadi mayat saat ini. Kau terlalu lambat, tubuh kurang makan itu mengecewakanku. Lihatlah dada kecil itu, jangan jangan kau adalah laki laki yang sedang menyamar?" ejek pemuda berambut putih.
"Kau!" sebuah pukulan berhasil merobohkan pendekar yang tadi membuat Lakeswara terdorong mundur.
"Apa yang kau lakukan hah? mau ku tebas lehermu dengan pusaka karatan ini?" bentak pria itu geram.
"Dasar pria mesum tak tau diri! tubuh kurang makan inilah yang telah memberimu seorang putra!" bentak sang wanita tak mau kalah.
"Mereka mengabaikan ku?" gumam Lakeswara geram.
"Apa kalian datang hanya untuk bertengkar?" teriak Lakeswara.
"Diam kau tua bangka, aku sedang mendidik wanita gila ini bagaimana menjadi seorang istri. Jika kau ingin bertarung denganku maka bersabarlah," balas pendekar muda itu.
.
"Kau!" Lakeswara langsung melesat menyerang.
"Pendekar muda itu berambut putih? jangan jangan dialah yang kami tunggu?" tubuh Mentari tiba tiba bergetar hebat, pandangannya mulai memudar namun masih terlihat samar samar pertengkaran dua pendekar aneh itu.
"Angkara murka masih bisa dihentikan dengan bantuan Dewa api, Megantara dan Golok pembelah gunung," suara itu kembali terdengar sesaat sebelum Mentari membuka mata dan menemukan Sabrang yang terlihat cemas.
"Kau baik baik saja? apa Siren berusaha merasuki mu lagi?" tanya Sabrang cemas.
"Yang mulia? anda masih hidup?" tanya Mentari.
"Masih hidup? aku baik baik saja, kau tenanglah, ayahmu sudah tidak membenciku," balas Sabrang bingung.
"Apa Siren berusaha mengambil alih tubuhmu lagi?"
__ADS_1
"Tidak Yang mulia, hamba hanya bermimpi buruk," jawab Mentari pelan.
Sabrang masih tampak bingung, namun dia memutuskan untuk tidak bertanya lagi.
"Beristirahatlah, besok kita akan kembali ke keraton," ucap Sabrang sambil mengelus rambut panjang Mentari.
Mentari hanya mengangguk, dia memutuskan tidak menceritakan mimpinya.
"Aku akan mencari makanan untuk mengisi perutmu, tunggulah sebentar," ucap Sabrang sambil melangkah pergi.
Mentari menatap punggung Sabrang yang semakin menjauh dan hilang dibalik pintu.
"Apakah itu hanya mimpi atau?" Mentari menggelengkan kepalanya berkali kali. "Tidak, Yang mulia tak boleh mati," ucapnya pelan.
"Lalu siapa pendekar berambut putih yang muncul bersama wanita itu?" puluhan pertanyaan terus bermunculan di kepala Mentari.
"Darah keturunan Rakin Aryasatya memang mengerikan, kau bahkan bisa menggunakan kekuatanku walau secara tidak sengaja," suara seorang wanita terdengar di kepala Mentari.
"Kau? wanita yang bertarung dengan Naga api itu bukan?"
"Namaku Siren, aku adalah roh tongkat cahaya putih," jawab Siren sambil tersenyum.
"Lalu apa maksudmu aku menggunakan kekuatanmu secara tidak sengaja?" tanya Mentari bingung.
"Apa yang kau lihat tadi bukan mimpi, itu adalah ramalan yang kau dapatkan karena menggunakan kekuatanku. Tongkat Cahaya Putih adalah pusaka yang diciptakan oleh dewa untuk menjaga dunia.
Berbeda dengan dua pusaka lainnya, tongkat cahaya putih memiliki kelebihan meramal sesuatu yang akan terjadi walau tidak selalu benar, karena alam lah yang mengatur semuanya.
Apa yang kau dan aku lihat adalah gambaran yang mungkin akan terjadi namun sepertinya ada yang aneh. Apa yang kita lihat tadi seperti dua tempat yang berbeda," jawab Siren.
"Sepertinya? bagaimana kau tidak tau dengan ramalan mu sendiri?" tanya Mentari kesal.
"Kekuatanku hanya sebagai penyampai bisikan alam bukan menterjemahkan maksud bisikan itu, itulah mengapa dulu Rakin salah mengartikan ramalannya," jawab Siren.
Wajah Mentari menjadi buruk setelah mendengar penjelasan Siren.
"Jadi Yang mulia...," Mentari tak dapat melanjutkan ucapannya.
"Sudah kukatakan jika ramalan tongkat cahaya putih tidak selalu benar. (Angkara murka masih bisa dihentikan dengan bantuan Dewa api, Megantara dan Golok pembelah gunung).
"Dewa api? apa itu pedang Naga api?"
Siren menggeleng pelan sambil menempelkan jari telunjuk di bibirnya.
"Aku tidak tau namun berusahalah tanpa melawan kehendak alam, jika Dewa api itu benar benar ada maka alam yang akan menunjukkan padamu mungkin melalui tongkat cahaya putih atau dengan cara lainnya.
Pertarungan yang kita lihat tadi mungkin terjadi tanpa Dewa api dan alam mencoba memperingatkan kita semua melalui dirimu. Teruslah bertambah kuat dan kita lihat apa akan ada peringatan lainnya yang akan kau dapatkan. Aku sangat menantikan perkembangan kekuatanmu," ucap Siren sesaat sebelum tubuhnya menghilang.
"Dewa api? aku yakin maksud bisikan itu adalah Naga Api namun sekilas aku tadi melihat Yang mulia bertarung bersama Naga api. Apa mungkin Naga Api yang sekarang belum kuat? atau ada sesuatu yang harus dilakukan agar Naga Api menjadi Dewa Api?" gumam Mentari dalam hati.
Kepala Mentari menjadi sakit memikirkan semuanya, belum terjawab siapa pendekar muda berambut putih yang muncul dalam penglihatannya, kini misteri ditambah dengan misteri Dewa Api.
"Benar yang dikatakan Siren, aku harus menjadi kuat agar bisa mencari petunjuk melalui tongkat cahaya putih," ucapnya dalam hati.
***
Wardhana menghentikan langkahnya di tengah hutan saat dua pendekar muncul dihadapannya.
"Jadi kau yang mengirim pesan pada kami dan meminta bertemu ketua?" tanya salah satu pendekar tiba tiba.
"Benar, aku ingin menawarkan kesepakatan dengan ketua kalian," jawab Wardhana pelan.
"Berikan pedangmu padaku, siapapun yang ingin bertemu ketua tidak boleh membawa senjata apapun," balas pendekar itu.
Wardhana terlihat berfikir sejenak sebelum menyerahkan pedangnya.
"Simpan baik baik pedangku karena itu adalah pusaka kesayanganku. Jika sampai hilang, maka aku akan membunuh kalian semua," ucap Wardhana.
"Kau!" Pendekar itu hampir menyerang Wardhana jika tidak diperingatkan temannya.
"Disekitar hutan ini aku merasakan aura yang sangat besar dari tubuh seorang pendekar, saat ini kita mencari kawan bukan lawan," bisik temannya.
Wardhana tersenyum kecil, dia memang meminta Candrakurama menemaninya dari jauh untuk menghindari hal yang tidak diinginkan saat bertemu dengan pemberontak Saung Galah.
__ADS_1
"Tutup kepalanya dan bawa dia menemui ketua," ucap pendekar itu sambil berjalan masuk hutan.
Setelah berjalan cukup lama dengan kepala ditutup kain, Wardhana mendengar suara suara benturan pedang beradu.
"Sepertinya sudah sampai," gumamnya dalam hati.
Tak lama kain penutup kepalanya dibuka, saat Wardhana membuka matanya, dia melihat seorang berbadan tegap berdiri tepat dihadapannya sambil tersenyum.
"Tak kusangka hari ini aku akan dikunjungi seorang patih Malwageni yang merupakan sekutu Saung Galah," ucap pria dihadapannya.
"Pangeran Adiwangsa, turut bersedih saat seorang pangeran dibuang hanya karena lahir dari rahim seorang selir," jawab Wardhana mengejek.
"Jaga ucapanmu!" teriak salah satu pendekar geram.
"Cukup! apa yang dikatakannya benar. Pergilah dan tinggalkan kami berdua, aku mulai tertarik dengannya," icap Adiwangsa.
Semua pengikut setia Adiwangsa terpaksa menjauh mengikuti perintah tuannya walau mereka sebenarnya khawatir dengan keselamatan pangeran Saung Galah itu.
"Apa yang kau inginkan sekutu Jaladara?" tanya Adiwangsa sinis.
"Dengar, dalam politik kerajaan tidak ada sekutu abadi, hanya kepentingan yang membuat kita bersekutu. Saung Galah telah menginjak injak harga diriku dan Malwageni, saat ini kita mempunyai tujuan yang sama bukan?
Aku datang untuk menawarkan kesepakatan denganmu, aku akan membantumu meraih tahta kerajaan dengan catatan Saung Galah harus tunduk pada Malwageni," ucap Wardhana pelan.
"Tunduk pada Malwageni? lalu untuk apa aku berusaha merebut tahta Saung Galah jika harus tunduk pada kalian?" Adiwangsa tertawa mengejek.
"Kau tidak memiliki pilihan lain kecuali mengikuti aku," jawab Wardhana percaya diri.
"Tak ada pilihan lain?" tanya Adiwangsa bingung.
"Malwageni akan menaklukkan Saung Galah dengan atau tanpa kalian. Jika kalian ikut denganku maka Malwageni akan memberikan salah satu daerah kekuasaannya pada kalian. Kau masih bisa menjadi raja walau berada di bawah kekuasaan Malwageni tentu dengan wilayah yang tidak seluas Saung Galah saat ini.
Jika kau menolak tawaranku, begitu Malwageni berhasil menaklukkan Saung Galah maka kalian adalah orang pertama yang akan aku tumpas.
Dengan kekuatan kalian saat ini, apa kau pikir mampu melawan Jaladara? kalian akan ditumpas bahkan sebelum kami menyerang Saung Galah," ucap Wardhana penuh percaya diri.
"Kau! jangan jangan?" Adiwangsa menatap tajam Wardhana.
"Benar, saat kalian membawaku kesini, aku sudah meminta seseorang untuk melacak tempat ini. Aku tak bisa membayangkan jika Jaladara mengetahui tempat persembunyian kalian."
"Kau mengancam ku?" tanya Adiwangsa kesal.
"Mengancam? aku tak pernah mengancam musuhku yang lemah, jangan berfikir jika kalian masuk hitunganku, karena dalam mimpi pun aku tak pernah takut pada pemberontak," jawab Wardhana tegas.
Adiwangsa terdiam, dia benar benar kagum pada Wardhana. Jika selama ini dia hanya mendengar kabar kepintaran Wardhana dalam menguasai situasi, kini dia melihatnya sendiri bagaimana kelompoknya ditekan habis tanpa bisa memilih.
"Kau terlalu banyak membual tuan, jika kalian mampu menaklukkan Saung Galah mengapa datang dan meminta bantuanku?"
"Jangan salah paham, aku tidak meminta bantuan dari kalian, saat ini aku sedang mengulurkan belas kasihan pada pemberontak yang tak akan pernah bisa merebut tahta Saung Galah.
Pertempuran selalu memiliki kesulitan tersendiri, dan aku akui jika Saung Galah pasti akan menyulitkan dengan pasukannya, tapi aku bergerak jika aku merasa akan memenangkan pertempuran.
Tanpa kalian aku tetap bisa menaklukkan Saung Galah walau mungkin sedikit memakan waktu namun jika kalian membantuku aku yakin Saung Galah akan runtuh dalam waktu cepat.
Pilihan ada ditangan kalian, dan uluran tanganku akan berakhir begitu langkah kakiku meninggalkan hutan ini," Wardhana menoleh kearah pendekar yang tadi menjemputnya dipinggir hutan.
"Berikan pedangku, aku sudah selesai bicara dengan tuanmu," pinta Wardhana.
Wardhana melangkah pergi ketika telah menerima pedangnya, namun baru beberapa langkah Adiwangsa kembali memanggilnya.
"Apa kau akan menepati ucapanmu dan membantuku menduduki tahta Saung Galah?"
"Aku tak pernah melanggar janjiku, tapi dengan catatan Saung Galah yang kau pimpin nanti adalah salah satu wilayah kekuasaan Malwageni," ucap Wardhana.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?"
Wardhana tersenyum kecil, kini semua berada dalam kendali tangannya. Hanya butuh beberapa persiapan kecil untuk memberi pelajaran pada penghinaan yang dilakukan Saung Galah sekaligus menaklukkannya, dua keuntungan dalam satu gerakan.
Perlahan namun pasti, Malwageni sedang dibawa ke puncak kejayaannya oleh sang Naga tidur dari Malwageni.
\=\=\=\=\=\=
Selamat malam mbang... terima kasih atas segala dukungannya dan maaf kali ini PNA sedikit terlambat updatenya..
__ADS_1
Sebagai gantinya besok akan ada chapter bonus, jadi silahkan berikan Vote terbaikmu.