
Pertempuran Kertasura dan 3 pendekar petir terjadi cukup sengit. Mereka mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk saling menekan. Walau terlihat berimbang sebenarnya Kertasura mulai terpojok dengan serangan cepat mereka.
Kemampuan 3 pendekar petir sebenarnya setingkat dibawah Kertasura, jika mereka bertarung satu lawan satu mungkin Kertasura sudah memenangkan pertempuran. Namun menghadapi serangan kombinasi 3 pendekar jelas bukan perkara mudah.
Kertasura memutar pedangnya saat memiliki kesempatan menyerang Pradipa namun tiba tiba Tusya muncul dengan pedang kembarnya dan menyergap Kertasura.
"Pedang kembar menggoncang langit". Tebasan Tusya mengenai tubuh Kertasura. Tubuhnya terdorong beberapa meter sebelum dia menancapkan pedangnya ketanah untuk menahan dorongan itu.
Kertasura mengatur nafasnya, kali ini dia benar benar terdesak. Belum selesai Kertasura mengatur nafasnya tiba tiba sesosok bayangan menyerangnya dari atas, beruntung dia sempat memutar pedang langitnya untuk menangkis serangan itu.
Maruta melompat mundur setelah serangannya tidak berhasil mengenai Kertasura.
"Ketua Iblis hitam memang hebat, bahkan serangan tiba tiba ku dapat dihindari". Maruta tersenyum dingin, dia masih merasakan getaran di tangannya akibat benturan dengan Kertasura.
Raut wajah Kertasura makin buruk, jika 3 pendekar saja dia sudah terdesak kini bertambah satu.
"Baguslah kalian berkumpul, aku bisa menghabisi kalian sekaligus". Ucap Kertasura menggertak.
"Aku sangat ingin mencoba kemampuan anda tuan namun saat ini aku banyak urusan". Maruta menyarungkan pedangnya.
"Tusya, kau bisa menahannya? mereka sudah memasuk ke Dieng, kita harus cepat". Ucap Maruta.
"Pergilah, biarkan aku bersenang senang".
"Baiklah, ayo kita pergi". Ajak Maruta pada dua pendekar petir lainnya.
"Kalian pikir bisa semudah itu pergi". Kertasura melesat cepat menyerang mereka namun Tusya kembali muncul dengan pedang kembarnya. Kertasura terpaksa mundur beberapa langkah.
"Kecepatannya terus meningkat, Aku harus cepat mengalahkannya". Gumam Kertasura sambil memutar pedang langitnya. Hitungan detik kemudian mereka kembali saling menyerang.
***
"Jadi itu sebabnya dia terkena efek malih raga?". Ucap Lingga sambil terus berlari keujung gua bersama Mentari.
Ciha yang berada dipunggung Lingga menganggukkan kepalanya. "Itulah sebabnya tuan Panca menulis pesan untuk menjauhkan pemilik tubuh 7 bintang dari tempat ini. Tubuh 7 bintang akan menolak segel pelindung secara alami, dan salah satu cara mencegah jurus Malih raga dengan menggunakan segel pelindung. Itulah kenapa hanya dia yang terkena efek jurus itu".
"Apa kau tidak mengetahui jika tempat ini diselimuti kabut malih raga?". Tanya Mentari pelan.
"Sekte bintang langit selalu menggunakan segel pelindung selama masuk Dieng, itu perjanjian kami dengan tuan Panca. Kami tidak pernah bertanya kenapa harus begitu, kami hanya melaksanakan perjanjian itu. Itulah awalnya kupikir itu hanya semacam segel kabut".
"Apakah ini artinya Sabrang keturunan Iblis petarung?". Tanya Lingga pelan, dia merasa jika apa yang dikatakan di batu tulis itu benar maka mata yang dimiliki Sabrang sama dengan milik iblis petarung.
"Aku tidak yakin, Iblis petarung mungkin dianugrahi mata bulan sejak lahir namun untuk beberapa kasus pemilik tubuh 7 bintang juga bisa membangkitkan Mata bulan, seperti tuan Panca yang berhasil membangkitkan mata bulan. Jika memang Trah dwipa adalah keturunan Iblis petarung kenapa hanya Sabrang yang bisa memiliki mata itu? Bahkan tuan Bratajaya Dwipa yang merupakan leluhurnya tidak bisa membangkitkannya sampai akhirnya dia Moksa. Sepetinya semua jawaban ini ada di Lembah merah". Ciha tersenyum kecut.
"Berhenti". Lingga menghentikan langkahnya saat dihadapannya terbentang hutan yang begitu rimbun.
"Kita sudah sampai di ujung gua, tak jauh setelah melewati bukit itu ada sebuah sungai yang cukup besar. Di sanalah gerbang kedua Dieng berada". Ucap Ciha sambil terbatuk, rasa sakit akibat tusukan keris penguasa kegelapan masih terasa ditubuhnya.
__ADS_1
"Mulai dari sini sebaiknya berhati-hati, kita tidak tau anak itu akan menyerang dari arah mana". Ucap Lingga waspada.
Mereka mulai berjalan menyusuri hutan menuju gerbang ke dua. Ciha merapal jurus segel kabut untuk menyamarkan keberadaan mereka.
Sepanjang perjalanan, hutan itu terasa sunyi dan mencekam, tidak ada suara hewan satupun yang terdengar.
"Kami biasa menyebutnya hutan kesunyian karena sepanjang aku masuk Dieng bersama ketua, aku belum pernah mendengar ada suara hewan di hutan ini". Ciha mencoba memecah keheningan selama perjalanan.
Setelah masuk hutan, Lingga dan Mentari memang seperti larut dalam pikirannya masing masing. Keheningan mereka menambah suasana sunyi hutan itu semakin mencekam seolah menyembunyikan bahaya besar yang mengintai mereka.
"Kau masih belum mau mengatakannya?". Lingga seperti tidak tertarik dengan bahasan Ciha dan lebih memilih menanyakan sesuatu yang disembunyikan Ciha.
"Mengatakan apa? apa maksudmu?". Ciha mengernyitkan dahinya.
"Aku tau tidak semua tulisan yang ada di kolam itu kau baca keras. Aku menyadari saat raut wajahmu beberapa kali berubah setelah membaca tulisan itu. Mungkin kau bisa membohongi orang lain namun tidak dengan instingku". Ucap Lingga tegas.
"Kau menyadarinya ya, kadang aku merasa takut padamu". Ciha tersenyum kecut.
"Kenapa kau tidak mengatakan semuanya? Apa ini menyangkut trah Dwipa?".
"Aku tidak mengatakannya karena aku merasa ini bukan hal penting, bukankah tujuan kita kemari mencari air kehidupan dan keberadaan lembah siluman?". Ciha masih berusaha menyembunyikan apa yang dia ketahui dari batu tulis itu.
"Kurasa dalam situasi seperti ini semua informasi sangat penting. Tanpa kita sadari hari ini kita telah melepaskan Iblis yang bisa membahayakan dunia persilatan dan kau masih menyembunyikan sesuatu dariku?". Suara Lingga sedikit meninggi.
Ciha menarik nafas panjang "Ini semua mengenai pembantaian yang terjadi di Dieng". Ucap Ciha lirih, Suaranya bahkan hampir tidak terdengar oleh Lingga.
Namun tiba tiba percakapan mereka berhenti saat melihat seorang pemuda berdiri membelakangi mereka di pinggir sungai sambil memegang keris.
"Tuan muda". Mentari berusaha mendekari Sabrang namun Lingga menahannya.
"Buka gerbangnya". Suara berat Sabrang terdengar menekan.
"Dia bukan temanmu lagi". Lingga menggeleng pelan. Lingga menurunkan tubuh Ciha dan melangkah mendekati Sabrang.
"Kau pikir aku akan menuruti perintahmu?". Lingga menggenggam erat gagang pedangnya. Dia sadar hanya dengan bertarung dia bisa menyelamatkan Sabrang walaupun dia tau jika kemungkinan untuk menang sangat kecil.
Sabrang terlihat menggeleng pelan sesaat sebelum tubuhnya menghilang dan muncul tepat dihadapan Lingga. Ketika Lingga hendak mencabut pedangnya, lengan Sabrang sudah mencengram lehernya dan melemparnya keudara.
"Tuan muda". Mentari berusaha mendekati Sabrang namun tubuh Sabrang sudah berpindah tempat di udara dan menyabetkan keris penguasa kegelapan ketubuh Lingga yang masih melayang diudara.
Lingga terjatuh dengan keras membentur tanah.
"Matanya bisa melihat gerakan yang baru akan kulakukan". Ucap Lingga kesal sambil mencoba bangkit, dia merasakan beberapa tulangnya patah.
"Buka gerbangnya". Sabrang berjalan mendekati Ciha yang sedang terluka. Mentari berusaha menghentikan Sabrang namun gerakan Sabrang lebih cepat, tubuhnya berputar ketika serangan Mentari hampir mengenainya. Yang dirasakan Mentari berikutnya hanya rasa sakit akibat terkena tinju kilat hitam. Tubuhnya terpental dan membentur salah satu pohon besar di pinggir sungai.
"Kau pikir bisa bertindak sesukamu". Lingga kembali muncul dihadapan Sabrang dan menyerang dengan cepat. Sabrang melompat mundur sebelum bergerak maju menyambut serangan Lingga.
__ADS_1
Serangan Lingga semakin cepat dan bervariasi namun Sabang dapat menghindari dengan sempurna seolah bisa membaca arah gerakan pedang Lingga. Namun gerakan pedang Lingga berubah seketika saat dia memutar tubuhnya, lengan kirinya terlihat memegang punggung pedang.
"Pedang Tunggal terbang kelangit Tingkat II". Dia mengayunkan pedangnya sekuat tenaga kearah Sabrang namun tinju kilat hitam lebih dulu menghantam perut Lingga.
Lingga terlempar ke pinggir sungai dan terseret hingga masuk kedalam sungai.
Sabrang menyeringai menatap Ciha, aura hitam meluap dari tubuhnya.
"Akan kubuat lubang ditubuhmu semakin membesar". Sabrang melesat dengan kecepatan tinggi.
Saat keris penguasa kegelapan hampir mengenai Ciha tiba tiba Mentari muncul dihadapannya menyambut keris itu dengan tubuhnya.
"Jika anda ingin membunuh seseorang maka bunuhlah aku". Mentari memejamkan matanya pasrah.
Sabrang terlihat terkejut melihat sikap Mentari, dia berusaha menarik serangannya namun sudah tidak sempat. Aura hitam makin meluap dari tubuhnya sesaat sebelum keris itu menghilang dari tangannya tepat saat menyentuh tubuh Mentari.
"Kerisnya menghilang? dia berusaha mengambil kembali kesadarannya karena tidak ingin membunuh nona ini". Gumam Ciha dalam hati.
"Tuan muda sadarlah...". Ucap Menari lirih.
"Pedang Tunggal terbang kelangit Tingkat II". Serangan tiba tiba Lingga tepat mengenai Sabrang yang terlihat tidak siap akibat menarik serangan pertamanya.
Tubuh Sabrang membentur sebuah batu dipinggir sungai. Lingga tidak menyianyiakan kesempatan untuk kembali menyerang.
"Hentikan". Ciha berteriak keras sesaat sebelum Lingga bergerak.
"Apa yang kau pikirkan? kau liat dia sangat berbahaya bukan? aku harus membunuhnya". Lingga terlihat tidak senang dengan sikap Ciha.
"Dia sedang berusaha merebut kembali kesadarannya, tubuhnya bereaksi terhadap nona ini. Apa kau tidak melihat dia menarik keris itu saat hampir mengenai tubuhnya?".
Mentari yang telah menguasai rasa terkejutnya menatap perutnya yang tadi hampir tertusuk keris itu.
"Tuan muda". Mentari berlari kearah Sabrang yang tidak sadarkan diri akibat benturan itu.
"Tuan muda bangunlah... tuan". Mentari menjerit sekeras kerasnya. Suaranya seolah menggema diseluruh hutan itu.
Lingga mematung tak percaya menatap tubuh Sabrang. "Dia berusaha melawan malih rupa demi nona ini?".
Semua terdiam, hanya jeritan pilu Mentari yang terus menggema.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Selamat malam semua.... Semoga kita semua dalam lindungannya dan selalu diberi kesehatan.
Author mau mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang melaksanakannya. Tetap jaga kesehatan di bulan Ramadhan.
Dan terima kasih kembali atas segala dukungannya pada novel PNA.
__ADS_1
Kalian yang terbaik