Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Tubuh Sembilan Naga


__ADS_3

"Jurus pedang pencakar langit," Sabrang mencoba menyerang lebih dulu tapi lesatan pisau dari arah lain memaksanya melompat mundur untuk menghindar.


Belum sempat Sabrang mengatur ulang kuda kudanya, tiga pendekar sudah berada didekatnya, mereka menyerang bersamaan diantara lesatan pisau terbang dari berbagai arah yang terus berputar mengarah ke tubuhnya.


"Mereka cepat sekali," Sabrang terus menangkis serangan pisau terbang sambil menghindari serangan tiga pendekar yang terus mendesaknya.


Sabrang terpaksa menggunakan mata bulannya untuk melihat dan membaca arah serangan pisau terbang itu karena cukup sulit melihat pisau pisau itu dalam gelap.


"Tarian Iblis pedang," serangan tiba tiba Sabrang berhasil mendesak dua pendekar mundur dan di saat bersamaan dia menggunakan Ajian inti lebur saketi untuk meningkatkan kecepatannya.


Dia bergerak kearah satu pendekar tersisa dan kembali melepaskan tarian iblis pedang. Saat pedang Sabrang hampir mengenai lawannya, sebuah pisau bergerak ke titik buta dan menembus tubuhnya.


"Sial," Sabrang mencoba mengambil jarak namun terlambat, dua pendar lainnya sudah bergerak menyerang.


"Tebasan pisau membelah kegelapan," dua pendekar itu terlihat memutar pisau di kedua tangannya sebelum menghantamkan ke tubuh Sabrang.


Sabrang mencoba menghindari serangan mematikan itu tapi sebuah pisau terbang mengenai kaki kanan yang membuatnya terlambat menghindar.


Tubuh Sabrang terlempar beberapa langkah, dan di saat bersamaan dua buah pisau dengan tenaga dalam besar sudah berjarak sejengkal di jantungnya.


"Jurus menghentikan waktu," Sabrang mencengkram pisau itu sebelum hancur menjadi abu.


"Jurus aneh itu lagi? dia mampu menghentikan waktu?" pemimpin ksatria pisau tumbuk lada tampak terkejut saat pisaunya berhenti tiba tiba.


"Yang mulia!" teriak Emmy saat melihat darah mulai merembes di pakaian Sabrang, kobaran api di tubuh Sabrang bercampur darah membuat warnanya semakin merah.


"Diam ditempat, mereka bukan lawan yang bisa kau hadapi," teriak Sabrang pada Emmy.


Emmy terus berusaha bergerak, tubuhnya seolah kaku saat aura hitam menyelimuti seluruh tubuhnya.


"Sebaiknya kau dengarkan ucapannya, kau bukan lawan mereka dan hanya akan menjadi beban dalam pertarungan," suara Anom terdengar dalam pikiran Emmy.


"Kau? mungkinkah keris penguasa kegelapan?"


"Aku memberimu satu kesempatan terakhir, angkat kaki dari sini dan aku akan menarik pasukanku," teriak pendekar yang tadi bicara pada Sabrang.


"Jika seperti ini terus maka kau akan terbunuh dalam beberapa serangan, ilmu kanuraganmu mungkin berada di atas mereka tapi formasi tempur dan pisau pisau terbang yang tersamarkan oleh gelap malam cepat atau lambat akan membunuhmu.


Jika kita tidak bisa menemukan cara untuk menghadapi serangan mereka secepatnya maka kau dalam masalah besar," ucap Naga Api.


"Apa kau pikir mudah menemukan cara bertarung dalam gelap? mereka seolah tau kemana aku akan bergerak," balas Sabrang kesal.


"Aku sudah katakan sejak awal jika ingin bertemu dengan tetua pertapa, jangan harap aku akan mundur selangkah pun," ucap Sabrang sambil menarik kembali pedangnya.


"Kau terlalu memaksakan diri dan tidak mengukur kemampuanmu nak, sepertinya Iblis api telah salah memilih tuannya," pendekar itu menggeleng pelan sebelum kembali menyerang.


"Aku tak akan pernah mundur dari pertarungan."


Pertarungan mereka kembali terjadi, Formasi tempur ksatria pisau tumbuk lada berhasil mendesak Sabrang kembali. Lesatan pisau terbang yang terus bergerak membuat konsentrasi Sabrang terpecah, dia terus menggunakan mata bulan yang menguras tenaga dalam dengan cepat.


Setiap Sabrang berhasil menyerang balik, pisau pisau itu terus mengacaukan gerakannya, beberapa bahkan berhasil menggores tubuh Sabrang.


"Mereka seolah tau kemana aku bergerak," umpat Sabrang saat sebuah pisau hampir mengenainya kembali, dia memunculkan pedang Pengilon kembar di tangan kiri dan menangkis pisau itu di detik terakhir.


"Dia masih bisa membaca pisauku? mata itu benar benar menakutkan," ucap pendekar pisau tumbuk lada terkejut.


Rasa nyeri ditubuh memaksa Sabrang menggunakan ajian inti lebur saketi tingkat II untuk meringankan lukanya. Luapan energi yang jauh lebih besar keluar dari tubuh Sabrang membuat para pendekar pisau tumbuk lada terkejut, mereka tidak habis pikir Sabrang masih memiliki tenaga dalam sebesar itu.


Luapan energi itu juga memancing seorang pria tua yang berada di puncak gunung Sinabung turun, dia sangat mengenal energi yang menurutnya mustahil dimiliki oleh pendekar berbakat manapun.


Pria tua berhenti di salah satu pohon besar saat melihat sesosok tubuh yang diselimuti kobaran api sedang bertarung dengan sepuluh ksatria pisau Tumbuk Lada.


"Dewa api? tidak mungkin... bagaimana tubuh pemuda itu mampu menahan efek energi api, siapa sebenarnya pendekar muda itu?" pria tua itu terus mengamati pertarungan dihadapannya.


"Tarian rajawali," Sabrang kembali menyerang balik, kali ini serangannya mampu mengenai salah satu lawannya namun tubuhnya pun tak luput dari serangan pisau terbang saat dia melompat mundur.


"Tarian Rajawali? dia berasal dari sekte Rajawali emas?" pria tua itu bergumam dalam hati.


"Dia semakin cepat, bentuk ulang formasi," teriak salah satu pendekar Pisau Tumbuk Lada.


"Jadi begitu, aku benar benar bodoh," Sabrang mencabut pisau terbang yang menancap di lengan kanannya.


"Kekuatan apa yang bisa menghancurkan besi menjadi abu dalam sekejap?" para pendekar Pisau Tumbuk Lada mulai waspada, kini mereka sadar Sabrang bukan lawan yang mudah dihadapi.


"Tenaga dalam yang mampu menghancurkan sebuah pedang?" pria tua itu tampak berfikir sejenak sebelum wajahnya berubah. "Kitab Sabdo Palon? tidak mungkin, hanya dia yang bisa menguasainya."


"Naga Api beristirahatlah sejenak, aku akan menggunakan energi murniku," ucap Sabrang pelan.


"Apa yang kau rencanakan bodoh?"


"Sejak awal aku terus berfikir bagaimana mereka bisa menyerangku dengan mudah, akhirnya aku sadar jika tubuhku yang diselimuti api dalam kegelapan malam adalah sasaran empuk mereka. Bersiaplah, aku akan menggunakanmu di serangan terakhir," Sabrang kembali memasang kuda kuda jurusnya.

__ADS_1


"Apa kau akan diam saja saat tuanmu sedang terdesak?" bentak Emmy pada Anom.


"Tugasku adalah memastikanmu selamat nona, selain itu siapa sebenarnya yang mulai terdesak?" jawab Anom pelan.


"Apa maksudmu?" balas Emmy bingung.


"Kau tau nona, kenapa Naga api begitu mengagumi Sabrang sampai memilihnya menjadi tuan? anak itu bagaikan sebuah pedang yang semakin di tempa akan semakin tajam. Dia akan semakin kuat saat menghadapi lawan yang lebih kuat, jika kau ingin melihat seorang pendekar yang bisa berkembang tanpa batas maka dia orangnya," jawab Anom yakin.


"Saatnya melumpuhkan mereka," Sabrang bergerak tiba tiba dengan cepat, dia memutar pedangnya sebelum menggunakan jurus pedang pencakar langit.


"Gunakan formasi tingkat dua, aku ingin dia dilumpuhkan dengan cepat sebelum menggunakan jurus aneh lainnya yang akan menyulitkan kita."


Pertarungan menjadi lebih sengit karena kecepatan Sabrang terus meningkat, gerakan para pendekar itu juga jadi lebih hati hati karena sekali terkena tebasan kedua pedang di tangan Sabrang mereka yakin akan terluka parah.


"Sekarang," teriak salah satu pendekar saat Sabrang berada di dekatnya.


Sabrang tersenyum dingin saat beberapa pisau terbang mengarah padanya, dia menangkis pisau pisau itu sebelum kobaran api ditubuhnya menghilang seketika.


Suasana hutan yang awalnya terang akibat kobaran api tiba tiba menjadi gelap.


"Gawat, dia ingin bertarung dalam gelap...mata itu, berhati hatilah dan liat sekitar kalian, gunakan api itu!" teriak salah satu pendekar.


"Pertarungan telah selesai, aku harus menghentikan ini sebelum jatuh korban," Pria tua itu menarik pedangnya dan bergerak mendekat.


Para pendekar pisau tumbuk laga membenturkan kedua gagang pisau sampai api kecil terbentuk di kedua pisau mereka, namun semua terlambat saat aura hitam bercampur angin dingin berhembus di tubuh mereka.


Tubuh para pendekar itu menjadi kaku, mereka hanya bisa menatap pisau di kedua tangannya yang berubah menjadi abu dalam sekejap.


"Jurus apa yang digunakannya? aura hitam ini mampu menghancurkan pisau kami dalam sekejap?"


Emmy yang melihat pertarungan itu dari jauh tidak mengedipkan matanya sedetikpun, dia mencoba memahami situasi dihadapannya.


"Kau lihat, malam ini dia kembali berkembang dan akan terus menjadi kuat," ucap Anom Takjub.


"Jurus ini?" pria tua itu menancapkan pedang di tanah sebelum mengalirkan tenaga dalam. Aura putih tiba tiba keluar dari tubuh pria tua itu dan melindungi sepuluh ksatria pisau tumbuk lada dari serangan aneh Sabrang.


"Cukup!" teriak pria itu.


Mendengar teriakan itu, Sabrang menarik serangannya dengan cepat, dia mengarahkan pedangnya ke salah satu tebing sebelum menimbulkan ledakan besar yang menghancurkan tebing itu.


"Tetua Darin?" ucap pendekar Pisau Tumbuk Lada bersamaan.


"Arsenio mundur lah, kalian tak akan mampu menghadapi jurus pedang Sabdo Palon," ucap pria tua itu pelan.


"Kau ingin bertemu denganku bukan? ikuti aku, banyak hal yang ingin kutanyakan padamu," pria itu mencabut pedangnya dan melangkah pergi.


Sabrang hanya mengangguk pelan, dia masih tidak percaya pria itu bisa menangkis jurus pedang pusaran angin penghancur yang merupakan jurus tingkat pertama dalam kitab Sabdo Palon.


"Terima kasih atas petunjuknya tuan, maaf jika aku sedikit berlebihan," Sabrang menundukkan kepalanya didepan Arsenio.


"Anda benar benar kuat, izinkan aku mengantar anda ke puncak gunung," balas Arsenio sopan.


"Anom," Sabrang menarik keris yang menancap di dekat Emmy berdiri dan memberi tanda pada Emmy untuk mengikutinya.


"Anda biak baik saja Yang mulia?" tanya Emmy khawatir.


"Aku baik baik saja," Sabrang mengelus rambut Emmy lembut.


***


Setelah pertarungan di Gunung Sinabung selesai dengan baik, Sabrang sampai di puncak gunung tepat saat pagi hari. Sebuah gubuk kecil yang dikelilingi tanaman hijau menyambut mereka di puncak gunung.


"Yang mulia, lihatlah," ucap Emmy saat melihat pemandangan indah dengan latar danau raksasa di bawah gunung.


"Jadi ini sebabnya gunung Sinabung dikatakan atap Swarna Dwipa, semua tampak kecil dari atas sini," jawab Sabrang.


"Tuan mohon maaf atas tindakan kami tadi, anda sudah ditunggu tetua Darin di dalam," Arsenio menunjuk gubuk kecil yang tak jauh dari mereka.


"Jangan sungkan tuan," Sabrang membalas ucapan Arsenio sambil melangkah masuk bersama Emmy.


"Maaf nona, hanya tuan pendekar yang diizinkan bertemu," Arsenio mencegah Emmy masuk.


"Tidak apa apa, tunggulah di luar," jawab Sabrang yang dibalas anggukan kecil Emmy.


"Apa yang diinginkan Iblis Api dariku?" tanya Darin saat melihat Sabrang masuk gubuk.


Sabrang memberi hormat sebelum duduk dihadapan Darin.


"Maaf atas kejadian di kaki gunung tadi tetua, aku benar benar harus menemui anda karena permintaan guruku," jawab Sabrang sopan.


"Gurumu?" Darin mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Guruku bernama Wahyu Tama, aku diminta menemui anda untuk meminta petunjuk," balas Sabrang.


"Anak bodoh itu seenaknya saja, apa kau pikir aku akan mengajarimu?" tanya Darin sinis.


"Sejujurnya aku tidak terlalu memikirkan itu tetua, aku hanya ingin menjalankan apa yang guru minta. Bertemu dengan para Ksatria pisau tumbuk lada dan bertarung dengan mereka adalah pelajaran terbaik untukku," jawab Sabrang cepat.


"Andai pun aku mengajarimu, apa kau pikir tubuhmu mampu menerima efek jurus itu?" tanya Darin kembali.


Sabrang menggelengkan kepalanya, "Aku tidak berfikir sejauh itu tapi jika sebuah jurus pedang telah diciptakan bukankah itu artinya yang menciptakan jurus itu menguasainya?"


Darin tersenyum kecil sambil menggeleng pelan.


"Berikan tanganmu," Darin mengulurkan tangannya, dia memeriksa urat nadi Sabrang.


"Jurus pedang Sabdo palon bukan jurus yang bisa dikuasai dengan mudah, Pencipta jurus itu menggabungkan ilmu pedang ciptaannya dengan jurus pedang yang ada di kitab Sabdo Loji, jadi bisa dikatakan kitab Sabdo Palon adalah penyempurnaan dari seluruh ilmu pedang yang ada di dunia.


Untuk menguasai jurus itu, selain dibutuhkan tenaga dalam yang besar juga harus memiliki tubuh Istimewa karena daya rusak terhadap penggunanya juga besar," Darin menghentikan ucapannya tiba tiba saat merasakan ada yang aneh dengan tubuh Sabrang.


Darin terus memeriksa nadi Sabrang seolah tidak percaya dengan apa yang ditemukannya.


"Apa ada yang salah dengan tubuhku?" Sabrang bertanya bingung saat melihat wajah Darin berubah seketika.


"Sebaiknya hentikan niatmu untuk mempelajari kitab Sabdo Palon atau kau akan bencana bagi dunia persilatan," ucap Darin tiba tiba.


"Bencana bagi dunia persilatan?" tanya Sabrang cepat.


"Pergilah, aku tak akan pernah mengajarimu," bentak Darin kasar.


Sabrang menatap Darin bingung, dia melangkah keluar gubuk dengan gontai.


"Yang mulia?" Emmy langsung berlari saat melihat Sabrang keluar.


"Besok kita pulang ke Malwageni, tetua menolak mengajariku."


"Yang mulia, kita sudah jauh jauh datang kemari, biar aku yang membujuknya," Emmy melangkah kearah gubuk itu namun Sabrang mencegahnya.


"Jangan memaksakan kehendak, dia pasti memiliki alasan tidak ingin mengajariku. Kita kembali dulu ke keraton dan mencari cara untuk mempelajari kitab ini."


Sementara itu, tubuh Darin tampak bergetar dengan kedua tangan mengepal.


"Tidak mungkin... tidak mungkin tubuh sembilan naga ada dua di dunia ini," ucapnya gelisah.


Darin kemudian mengambil catatan kuno yang dia simpan di dalam kotak yang berada di sudut ruangan dan membukanya.


"Guru, dulu kau menciptakan kitab Sabdo Palon untuk menghentikan Mandala yang berhasil membentuk tubuh sembilan Naga karena mempelajari Sabdo Loji dan kini seorang pemuda dengan tubuh kutukan itu datang untuk mempelajari kitab Sabdo palon, apa yang harus kulakukan guru?" ucap Darin dalam hati.


Darin membaca kembali gulungan catatan yang dulu diberikan gurunya sebelum kematiannya.


"Darin muridku, kau adalah pendekar yang sangat berbakat dan akan menjadi lebih kuat dariku suatu saat nanti. Ketahuilah, dunia sedang menuju kehancuran saat Mandala mencuri kitab itu di danau Sidihoni. Sebagai keturunan pertama ksatria penjaga Sidihoni, aku mengetahui dengan jelas betapa mengerikannya kitab itu.


Ajian Sembilan Naga adalah jurus paling mengerikan dari kitab itu, karena jika bisa menguasainya selain memiliki tubuh yang hampir abadi, penggunanya juga akan memiliki tubuh kutukan yang mampu menyerap kekuatan sebesar apapun. Sabdo Loji menyebutnya tubuh Sembilan Naga.


Aku sudah melihat sendiri bagaimana Mandala begitu kuat setelah menguasai tubuh itu, jika muridnya tidak membunuhnya dengan jurus yang ada di dalam kitab Sabdo Loji saat dia tertidur mungkin Mandala tidak akan bisa dihentikan.


Efek tubuh sembilan naga tak kalah mengerikan, perlahan perangai penggunanya akan berubah dan haus darah seiring dengan kekuatan jahat yang membentuk tubuh sembilan naga semakin kuat dan tak akan bisa di cegah karena aura jahat tubuh sembilan Naga bukan mengambil alih tubuh penggunanya tapi merubah sifatnya perlahan dan tanpa disadari. Itulah sebabnya aku menyebutnya sebagai tubuh kutukan.


Gunung Sinabung adalah pusat kekuatan bersama danau Sidihoni, menetap lah di gunung itu dan pelajari kitab Sabdo Palon, aku takut suatu saat Mandala akan bangkit dan jangan pernah menyentuh Sabdo Loji."


"Anak itu masih begitu muda, dan aku yakin dia tidak mempelajari kitab Sabdo Loji karena jurus yang dia gunakan saat melawan ksatria Pisau Tumbuk Lada adalah jurus biasa, lalu dari mana dia bisa mendapatkan tubuh sembilan naga?" Darin membenamkan wajahnya di atas meja, dia benar benar tidak mengerti dengan tubuh Sabrang.


Darin sudah memeriksa Sabrang berkali kali tadi karena takut dia salah tapi belasan kali dia memeriksa, semua ciri khusus yang ada di tubuh Sabrang mengarah pada tubuh sembilan naga.


"Bakat anak ini lebih besar dari Mandala, apa dia adalah pemuda dalam ramalan Sabdo Loji yang akan menghancurkan dunia persilatan?" Darin tidak bisa membayangkan seberapa besar kekuatan pemilik tubuh sembilan Naga jika berhasil menguasai jurus kitab pedang tertinggi itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Okee kali ini saya coba panjangkan lagi chapter menjadi 2400 kata yang mungkin sebenarnya bisa saja jadikan 2 chapter tabungan untuk besok tapi karena permintaan reader setia PNA saya luncurkan semua.


Kalo masih kependekan saya gak tau lagi wkwkwkwkwkw


Untuk chapter bonus, seperti biasa akan saya berikan jika PNA tembus 7 besar, bukan berniat hitung hitungan tapi jika berada di posisi itu saya bisa mendapatkan sedikit uang lebih yang bisa saya gunakan untuk keperluan Kuota, kopi, rokok saat begadang dan menghidupi delapan istri (Kalo yang terakhir ini hoax).


mohon dipahami karena saya kerja serabutan di dunia nyata jadi harus berbagi waktu mblo.


Kitab Tuna Asmara akan update malam minggu depan, tanggal Empat belas November 2020. Mengapa saya pilih tanggal Empat belas? karena ada sebuah pantun yang berbunyi


Tujuh tambah tujuh sama dengan empat belas,


setuju tidak setuju, malam minggu jomblo harus di libasss


ikuti IG author @rickyferdianwicaksono karena minggu depan saya berniat membuat kaos sekte tuna asmara dengan kata kata nyeleneh (Seperti kaus kata kata legend Joger), siapa tau tertarik membeli.

__ADS_1


Tetap jaga kesehatan ditengah pandemi dan semoga kita semua selalu diberi kesehatan.


__ADS_2