Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Demi Sebuah Masa Depan


__ADS_3

Wardhana tampak memperhatikan sebuah lubang segi lima yang terukir di sebuah batu yang sudah tertutup lumut hijau.


Lubang segi lima itu seolah ditutupi bongkahan batu besar yang jika tidak digeser maka tak akan terlihat.


Wardhana meraba lubang itu dan mulai membersihkan lumut tebal yang tumbuh didalam lubang. Suasana hutan larangan yang sulit ditembus matahari membuat lumut tumbuh subur.


"Apa ini gerbangnya?," tanya Sabrang pelan.


Wardhana mengangguk pelan, "Kemungkinan terbesar ini Yang mulia, hamba akan mencoba membukanya," Wardhana menempelkan kepingan kunci telaga khayangan api yang sudah direkatkan dan mulai memutarnya.


Saat semua memperhatikan batu yang ada dihadapan mereka, sebuah batu disisi lain mulai terbuka perlahan. Suara gesekan batu dan getaran terdengar cukup keras.


"Suaranya berasal dari sisi kiri," ucap Wardhana sambil berlari kearah suara berasal.


Batu yang terbelah disisi gunung Tidar membentuk sebuah gerbang dengan lorong masuk yang dilapisi emas.


"Jadi telaga khayangan api benar benar ada?," ucap Ciha pelan.


"Pertanyaan mu akan terjawab jika kita masuk kedalam," Wardhana melangkah masuk setelah meminta izin pada Sabrang diikuti yang lainnya.


Seluruh pasukan yang dibawa Wardhana tampak berjalan dibelakang dan mengambil jarak untuk memberi ruang pada Wardhana mengamati situasi.


Ketika sampai diujung gua, sebuah pemandangan membuat takjub yang melihatnya.


Bangunan bangunan tinggi yang jauh lebih mewah dari Wentira terlihat sepanjang mata memandang. Walau sebagian sudah terlihat hancur namun tak menutup kenyataan bahwa Telaga khayangan api atau peradaban Kumari kandam dibangun dengan ilmu pengetahuan yang sangat tinggi.


"Mereka menyembunyikan ilmu pengetahuan semaju ini, aku tak menyangka mereka bisa membangun peradaban seperti ini," gumam Wardhana.


"Lalu dari mana kita akan mulai mencari gerbang Masalembo tuan?," tanya Ciha pelan.


Telaga khayangan api memiliki luas yang cukup besar, tak mudah mencari keberadaan gerbang utama Masalembo sampai besok pagi sebelum terjadi pergantian penjaga.


"Aku harus melihat dari tempat yang tinggi untuk memperkirakan letak gerbang utama, apa kau bisa mengantarku naik?," tanya Wardhana pada Lingga.


"Biar aku saja paman," Sabrang memegang lengan Wardhana sebelum menghilang dan muncul di atas bangunan yang paling tinggi.


Wajah Wardhana pucat pasih dan merasakan dadanya sesak seperti mau meledak.


"Jurus ini melawan hukum alam, bagaimana tubuh Yang mulia bisa tahan menerima tekanan sebesar ini saat berpindah tempat," gumamnya dalam hati.


"Terima kasih Yang mulia," ucap Wardhana terbata bata.


Wardhana menatap kesekelilingnya sambil berfikir, puluhan bangunan terlihat hancur akibat sisa sisa pertempuran masa lalu.


"Berfikirlah Wardhana," gumamnya sambi terus memeras otaknya.


Cukup lama Wardhana mematung diatas bangunan itu namun belum juga menemukan sesuatu yang mencurigakan.


Ketika hari menjelang sore, pandangan matanya berhenti pada sebuah danau kecil yang tak jauh dari gedung yang hancur.


Wardhana mencoba menajamkan matanya karena sesaat tadi dia merasa melihat ada sesuatu didalam air dan di saat yang bersamaan, Ciha yang berada dibawah merasakan segel udaranya merasakan energi kecil walau samar.


"Maaf Yang mulia, bisakah anda mengantar hamba dan Ciha ke danau itu?," ucap Wardhana pelan.

__ADS_1


"Baik bersiaplah," Sabrang mengarahkan pandangan matanya pada Ciha dan menyerapnya sebelum dia menghilang.


Mereka muncul hampir bersamaan didekat danau yang cukup jernih.


Ciha yang masih bingung karena tiba tiba sudah berada di dekat danau langsung mengerti setelah Wardhana muncul didekatnya.


"Aku merasa tadi melihat sesuatu dari dalam danau ini namun aku ragu," ucap Wardhana pelan.


"Sepertinya anda tidak salah tuan, segel udara ku pun merasakan sesuatu walau aku tidak tau dari arah mana."


Sebuah tuas berbentuk lingkaran terlihat didasar danau namun sudah hancur.


"Apakah itu tuasnya?," tanya Ciha pelan.


Wardhana menggeleng pelan, "Dulu mungkin pernah digunakan namun sepertinya mereka sengaja menghancurkannya. Jarak antara gunung Tidar dan lokasi Masalembo cukup jauh, jika menggunakan pintu itu maka tidak bisa menjelaskan keterangan tuan Wijaya yang mengaku hanya beberapa menit saja menutup mata.


Sepertinya memang di danau ini gerbang utama Masalembo namun aku belum bisa mengerti perjalanan mereka yang hanya beberapa menit sedangkan jaraknya cukup jauh.


Ciha perintahkan pada Sora untuk membawa semua pasukan ke danau ini, kita akan menginap ditempat ini."


"Baik tuan."


***


Berada didalam gunung membuat Telaga khayangan api hampir mirip dengan Dieng, mereka seolah tak mengenal malam hari karena cahaya yang entah dibuat dari apa selalu menyinari sepanjang hari.


Hanya sebuah benda yang hampir mirip dengan jam pasir yang menjadi pengingat siang dan malam.


Ciha akan merasakan tenaga dalam sekecil apapun, aku ingin kau yang bertanggung jawab pada penjagaan malam ini. Pastikan tak ada yang lewat dari pengamatan mu karena menyangkut nyawa Yang mulia," ucap Wardhana pada Kertapati.


"Baik tuan," jawab Kertapati.


Setelah memastikan penjagaan di beberapa tempat, Wardhana kembali mendekati danau dan terus memandangnya. Dia cukup yakin tadi melihat sesuatu di danau ini.


"Apa yang sebenarnya tadi kulihat," gumam Wardhana dalam hati.


Ciha terlihat mendekati Wardhana untuk memintanya beristirahat karena peran Wardhana besok sangat vital sebagai pengatur strategi.


"Sebaiknya anda beristirahat tuan, biar aku menggantikan anda sementara waktu," ucap Ciha pelan.


Wardhana menggeleng pelan, "Tidak, aku harus memastikannya sendiri karena semua ku pertaruhkan untuk perang besok," balas Wardhana.


"Tapi anda butuh istirahat tuan, sudah beberapa hari anda tidak istirahat untuk memastikan rencana kita,".


Saat mereka sedang berbincang tiba tiba Tungga dewi muncul dengan jurus ruang dan waktunya.


"Hamba menghadap Yang mulia," Tungga dewi berlutut dihadapan Sabrang.


"Apa semua sudah siap?", tanya Sabrang.


Tungga dewi mengangguk pelan, "Hamba menunggu perintah anda Yang mulia," jawab Tungga dewi.


"Jurus apa yang anda gunakan nona?," tanya Wardhana tiba tiba.

__ADS_1


Tungga dewi mengernyitkan dahinya setelah mendapat pertanyaan tiba tiba dari Wardhana.


"Aura sebelum kemunculan anda tadi sangat mirip dengan yang kulihat di danau ini. Berbeda dengan jurus milik Yang mulia yang tidak ada aura apapun sebelum menghilang, apa yang anda lakukan tadi meninggalkan jejak yang sama dengan yang kulihat di danau."


Wardhana menghentikan ucapannya saat menyadari sesuatu.


"Mereka menggunakan jurus ruang dan waktu sebagai gerbang utama, apa yang dikatakan tuan Wijaya terjawab sudah.


Jarak Telaga khayangan api dengan daratan Masalembo sengaja dibuat untuk menyulitkan orang masuk. Jika perkiraan ku tidak salah mereka memasang jurus ruang dan waktu disekitar danau ini untuk masuk kedalam Masalembo, kita hanya perlu mencari dimana segel ruang dan waktu itu".


"Sepertinya tidak perlu paman, setiap jurus ruang dan waktu memiliki dimensi ruang dan waktu sendiri dan tidak bisa saling terhubung. Paman tidak bisa masuk ruang dan waktu milikku tanpa izin begitu juga sebaliknya, kita tidak bisa masuk ruang dan waktu mereka.


Satu satunya cara adalah menggunakan jurus ruang dan waktuku untuk masuk, mereka benar benar pintar membuat gerbang dari jurus ruang dan waktu."


"Apa itu mungkin Yang mulia?," tanya Wardhana pelan.


"Bukankah paman tadi katakan jika tuas ini digunakan untuk menuju ke Masalembo sebelum mereka menggunakan jurus ruang dan waktu?. Agak sulit jika aku menggunakan jurus ku untuk sampai ke Masalembo karena kita tidak tau letak pastinya namun aku bisa memindahkan kalian semua masuk kedalam lorong dibawah danau itu. Kita gunakan lorong itu untuk masuk ke Masalembo."


Wardhana terlihat menghitung sesuatu ditangannya.


"Butuh waktu setengah hari untuk sampai ke titik ini jadi sebaiknya kita pergi sekarang agar bertepatan dengan pergantian penjagaan. Akan merepotkan jika mereka tau kedatangan kita," balas Wardhana.


"Baik, kumpulkan semua pasukan sekarang juga," ucap Sabrang sambil menoleh kearah Tungga dewi.


"Kau bantu aku memindahkan mereka ke lorong itu," ucap Sabrang.


"Baik Yang mulia," balas Tungga dewi kemudian.


Butuh waktu setengah jam bagi Wardhana mengumpulkan pasukan gabungan pendekar dan prajurit Angin selatan.


Setelah mereka berkumpul, Wardhana meminta izin untuk berbicara.


"Apa yang kita perjuangkan selama ini akan berakhir didalam sini, banyak nyawa teman teman kita melayang karena membela apa yang menurut mereka benar. Dunia baru tak boleh terbentuk karena akan menciptakan monster monster abadi.


Jika kita mati disini mungkin tak akan ada yang mengingat kita namun anak cucu kita akan merasakan hasil perjuangan kita. Masih ada waktu untuk mundur jika ragu. Pisahkan diri kalian jika ragu ke sisi kiri dan aku akan membiarkan kalian pergi, aku beri waktu lima menit


Aku tak menjamin akan berhasil namun aku akan berusaha hingga darah ditubuh ku habis," teriak Wardhana.


Wardhana tampak menatap ratusan prajurit yang tak sedikitpun bergerak dari barisannya.


"Hamba akan ikut Yang mulia berjuang sampai akhir", teriak Wijaya keras yang diikuti teriakan ratusan pasukan Angin selatan.


"Mungkin tubuh kami sudah mulai tua namun aku yakin kami masih bisa memberi warna dalam pertarungan. Ayo pergi!," ucap Suliwa menambahkan.


"Yang mulia, sepertinya tak ada satupun yang ingin mundur. Mohon keluarkan perintah anda," Wardhana berlutut dihadapan Sabrang diikuti seluruh pasukan angin selatan.


Sabrang mengangguk pelan, "Dewi bantu aku," Mata bulan Sabrang mulai bersinar terang dan dalam hitungan detik ratusan prajurit menghilang tiba tiba.


"Hamba menerima perintah," Tungga dewi merapal jurus ruang dan waktu sebelum ikut menghilang bersama puluhan pendekar lainnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Maaf sedikit terlambat terbitnya chapter kali ini....

__ADS_1


__ADS_2