
Sabrang menoleh ke arah pohon yang ada di luar gerbang Sekte Serigala hitam, dia cukup yakin ada seseorang yang memperhatikannya.
"Mungkin hanya perasaanku saja". Dia melangkah pergi meniggalkan Sekte Serigala hitam menuju desa tempat Mentari menunggunya.
Sepanjang jalan Sabrang masih memikirkan jurus Pedang pemusnah raga. Dia merasakan semua gerakan disekitarnya melambat.
"Jurus ini sungguh luar biasa, semua terasa lambat disekitar ku saat jurus ini digunakan".
Sabrang menghentikan langkahnya, dia menoleh kearah pepohonan.
"Keluarlah, aku tau kau ada disana".
Seorang pendekar menengah muncul dari balik pepohonan. Dia menunduk memberi hormat pada Sabrang.
"Hamba mohon menghadap Pangeran, Hamba Wardana dari Merpati putih. Hamba dikirim Tuan Patih untuk menyampaikan sebuah kabar".
"Apa yang ingin kau sampaikan?".
"Tuan patih mendapat kabar jika Majasari berencana menyerang Kerajaan Saung galah. Sepertinya kali ini mereka tidak main main karena penyerangan akan langsung dipimpin Patih Tunggul umbara.Tuan patih berencana menawarkan kerjasama kepada Saung galah, kita bisa menggunakan mereka untuk menekan Majasari terus menerus. Kami membutuhkan Perintah Pangeran untuk menentukan langkah selanjutnya". Wardana masih duduk berjongkok dihadapan Sabrang.
"Apa paman yakin Saung galah akan membantu kita menekan Majasari?". Sabrang berusaha memahami situasi.
"Hamba yakin mereka akan bergerak jika kita mampu memberikan penawaran yang menarik, selain itu Raja Saung galah adalah sahabat mendiang Yang Mulia Raja".
Sabrang mengangguk pelan "Lalu apa rencana paman Wijaya?".
"Jika Pangeran setuju tuan patih akan menemui Raja Saung Galah untuk membicarakan kerjasama namun....." Wardana tidak melanjutkan perkataannya. Ada sesuatu yang membuatnya berat untuk melanjutkan perkataannya.
"Namun apa paman?" Sabrang menandang Wardhana pemasaran.
"Pangeran, ini akan menjadi perang yang sangat berbahaya karena ku dengar pasukan mereka akan dipimpin langsung oleh pati Tunggul umbara. Strategi perangnya sudah terkenal sangat mematikan, bahkan dulu Malwageni ditaklukan oleh Tunggul umbara" Wardhana menundukan Wajahnya tidak berani menatap Sabrang.
__ADS_1
Sabrang memejamkan matanya, ada amarah dalam dadanya mendengar apa yang diucapkan oleh Wardhana.
"Apa kemungkinan kita memenangkan perang ini besar?".
"Tuan patih cukup yakin dapat memukul mundur mereka jika Saung galah mau bekerja sama dengan kita".
"Kapan rencana Majasari menyerang Saung galah?".
"Menurut teliksandi yang hamba sebar mereka akan memanfaatkan perayaan ulang tahun Putri mahkota Saung galah. Sekitar tiga purnama dari sekarang".
"Baik paman, sampaikan pada paman patih untuk mencoba menjalin kerjasama dengan Saung galah. Aku juga ingin paman singgah di Sekte Kencana ungu dan temui Nilam sari, katakan padanya aku menagih janjinya". Sabrang memberi perintah pada Wardhana.
"Jalan lupa untuk meminta bantuan beberapa Sekte pendukung setia Malwageni. Aku ingin memberikan kekalahan pertama pada mereka sebagai peringatan bahwa Malwageni masih ada di setiap jengkal urat nadi Rakyat Malwageni".
"Hamba menerima Perintah" Wardhana mengangguk Pelan.
"Dan tolong kabari aku setiap perkembangan. Aku akan memimpin Langsung peperangan ini".
"Tapi Pangeran.......". Wardhana berbicara ragu.
"Laksanakan saja apa yang kuperintankan Paman, aku tau apa yang aku lakukan".
"Daulat Gusti Pangeran". Wardhana mengeluarkan keringat dingin. Dia melihat aura yang sangat kuat muncul dari tubuh Sabrang.
"Aku akan melanjutkan pengembaraanku kembali. Jika benar Majasari menyerang Saung Galah aku akan kembali dan memimpin Pasukan Malwageni".
"Baik Pangeran, hamba mohon diri". Wardhana melangkah pergi meninggalkan Sabrang.
"Ayah, ibu apakah aku Sanggup menanggung beban ini dan mengembalikan kejayaan Malwageni" Sabrang menatap kosong ke langit yang cerah.
.....................
__ADS_1
Setelah membereskan semua Sabrang dan Mentari kembali melanjutkan perjalanannya.
Selama perjalanan Sabrang terus memikirkan tentang penyerangan Majasari pada Saung galah. Dia memyadari walaupun ini peperangan antara Majasari dengan Saung galah namun secara tidak langsung akan berperngaruh terhadap nasib Malwageni kelak.
Jika Saung galah dapat memukul mundur pasukan Majasari maka Malwageni dapat meminta bantuan mereka untuk menekan Majasari.
"Apakah tuan muda sedang sakit?" Lamunan Sabrang buyar mendengar Mentari berbicara padanya.
"Ah tidak nona, aku hanya perlu istirahat dan mengisi perutku. Lebih baik kita cari penginapan dan makan sepuasnya".
Setelah berjalan agak lama mereka akhirnya melihat sebuah penginapan. Mereka berjalan cepat mendekati penginapan tersebut.
Langkah mereka terhenti sejenak melihat penginapan begitu ramai dengan orang orang yang berpakaian seperti Prajurit Kerajaan.
Mentari menoleh kearah Sabrang, dia agak ragu untuk masuk. Dia mengenali Seragam kerajaan tersebut. Wajahnya sedikit pucat mengetahui bahwa prajurit yang ada dihadapannya adalah prajurit Majasari.
Sabrang memengan tangan Mentari dan berjalan masuk penginapan. Sabrang tau Mentari sedikit takut berhadapan dengan Prajurit Majasari.
Mereka melangkah masuk dan duduk di meja yang kosong, Mereka kemudian memesan makanan pada pelayan.
"Nona aku pesan makanan untuk dua orang. Kami juga membutuhkan penginapan untuk malam ini" Sabrang berkata pelan. Pelayan tersebut mengangguk kemudian menyiapkan pesanan Sabrang.
"Bersikap lah seperti biasa, mereka tak akan mengetahui siapa kita sebenarnya". Sabrang mencoba menenangkan Mentari yang terlihat sedikit gusar.
Tiba tiba seseorang masuk menghunuskan pedangnya.
"Oh kebetulan sekali aku bertemu prajurit Majasari disini. Akan kuhancurkan kalian, Sudah saatnya Majasari hancur setelah kekejaman yang kalian lakukan selama ini".
Sabrang menarik Mentari sedikit menjauh, Sabrang tau beberapa saat lagi penginapan ini akan menjadi medan pertempuran.
"Kita sebaiknya tidak ikut campur".
__ADS_1