Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Persiapan masuk Dieng


__ADS_3

Lingga tengah mematung dikamarnya saat pintunya diketuk. Dia memang mengurung diri dikamar beberapa hari ini, banyak hal yang ada dalam kepalanya salah satunya mengenai Kertasura.


Walaupun kini dia bekerjasama dengan Suliwa namun hasrat menguasai dunia persilatannya masih tinggi. Dia takut jika permasalahan dengan Lembah siluman selesai akan ada perang besar kembali antara aliran hitam dan aliran putih.


Sejak mengembara bersama Sabrang dan Mentari ada sesuatu dalam dirinya yang mengatakan jika apa yang dilakukannya selama ini salah. Ditambah tiga purnama lagi gerbang Dieng akan terbuka dia takut justru akan menambah masalah.


"Tuan, anda ditunggu Ketua". Suara dari luar mengagetkan Lingga Maheswara.


"Birawa? ada perlu apa denganku?". Lingga mengernyitkan dahinya. "Aku akan segera menemuinya". Lingga melangkah keluar.


***


"Ah terima kasih sudah memenuhi undanganku tuan". Birawa menyambut Lingga di ruangannya.


"Tak perlu sungkan, apa ada masalah?". Ucap Lingga memberi hormat.


Birawa menggeleng pelan "Aku hanya ingin meminta bantuanmu sedikit tuan".


"Bantuanku?". Tanya Lingga datar.


"Anda tau jika Lembah siluman kembali bangkit, aku paling mengerti sifat Mahendra dia akan melakukan apapun untuk mencapai ambisinya termasuk mendapatkan pusaka suling raja neraka.


Tuan Sabrang adalah keturunan tuan Bratajaya dwipa, seorang pendekar pilih tanding yang membuat perjanjian dengan kami untuk menjaga Dieng. Sudah menjadi tugasnya sebagai keturunan tuan Bratajaya untuk menjaga Dieng dan kami akan membantunya sekuat tenaga namun aku takut dia akan terbebani jika menanggungnya sendiri. Kemampuan tuan Lingga sangat tinggi aku ingin tuan membantu tuan Sabrang".


Lingga mengernyitkan dahinya "Aku? anda tau aku berasal dari mana?".


Birawa mengangguk "Anda adalah salah satu tetua Iblis hitam, nama anda sudah terkenal sebagai salah satu pendekar terkuat dunia persilatan. Namun beberapa hari mengenal anda aku tau jika masih tersisa kebaikan dihati anda. Aku memberanikan diri untuk meminta bantuan anda".


Lingga Maheswara terdiam mendengar ucapan Birawa. Dia memang diminta untuk bekerja sama dengan aliran putih oleh Kertasura namun ada misi rahasia yang juga dibebankan padanya.


"Aku ingin memberikan sesuatu pada anda". Birawa mengeluarkan kotak kayu besar dan menaruhnya dimeja.


"Ini?". Lingga menunjuk kotak yang ada dihadapannya.


"Pedang merah darah, walaupun bukan pusaka terkuat namun pedang ini setingkat diatas golok Iblis abadi milik Daniswara. Pusaka ini milik tuan Bratajaya dwipa, dia menitipkannya padaku sebelum dia Moksa".


"Kenapa anda memberikan pusaka ini padaku?". Tanya Lingga heran.


"Kami tidak membutuhkan pusaka ini, kau lihat sendiri bagaimana sekte kami hampir hancur akibat ilmu kanuragan. Bintang langit sudah ditakdirkan untuk tidak berurusan dengan Ilmu kanuragan. Ku harap dengan pusaka ini anda dapat membantu Tuan Sabrang menghadapi Lembah siluman".


Lingga membuka kotak kayu dihadapannya dan memegang pedang itu. Ada aura aneh masuk ketubuhnya saat dia memegang pedang merah darah. Tak lama kemudian tenaga dalam di tubuhnya seolah meluap. Dia mengeluarkan pedang itu dari sarungnya dan memperhatikan setiap jengkal mata pedang itu.


"Aku terima pedang ini, terima kasih untuk semuanya". Lingga menyarungkan pedang itu.


"Ada air kehidupan di gerbang kedua Dieng, ku harap anda tidak menyentuhnya saat masuk kesana. Sangat menyakitkan mencoba melawan takdir dan hidup abadi. Jika aku boleh memilih aku ingin seperti tuan Bratajaya yang telah meninggalkan dunia fana ini". Birawa berkata lirih.


"Anda tenang saja, aku bukan tipe orang yang ingin hidup lama. Terlalu merepotkan jika harus terus hidup dan melihat dunia yang penuh angkara ini". Lingga bangkit dan menundukan kepalanya pada Birawa.

__ADS_1


Birawa menatap kepergian Lingga dengan senyum merekah dibibirnya.


"Aku tau di dalam lubuk hatimu kau adalah orang yang perduli pada sesama hanya saja sesuatu merubahmu menjadi dingin seperti ini".


***


Maruta terdiam sesaat di depan gedung besar yang berdiri disebuah lembah misterius. Disinilah Maruta menghabiskan masa persembunyiannya selama ratusan tahun sebelum diperbolehkan muncul kedunia persilatan oleh Mahendra.


Dia sedikit ragu ingin melaporkan sesuatu pada Mahendra. Saat dia masih mematung tiba tiba pintu ruangan terbuka, 3 orang muncul dihadapannya dengan senyum dingin.


"Tiga pendekar petir? apakah mereka telah menyelesaikan pertapaannya selama ratusan tahun?". Maruta bergumam dalam hati.


Tubuhnya seperti membeku saat tatapan mereka mengarah padanya. 3 pendekar petir adalah pendekar terkuat pada jamannya sebelum dikalahkan oleh Mahendra. Setelah kalah dari Mahendra dalam pertarungan mereka menjadi pengikut setia Mahendra. Setelah Mahendra dikalahkan oleh pendekar dalam legenda mereka memutuskan bertapa untuk memperdalam ilmu kanuragan.


"Masuklah, mau sampai kapan kau berdiri disana?". Suara Mahendra membuyarkan lamunan Maruta.


"Maruta menghadap ketua". Maruta menundukan kepalanya memberi hormat.


"Apa yang ingin kau sampaikan?". Mahendra bertanya dingin.


"Lembah tengkorak telah hancur tuan". Maruta menundukan kepalanya tak berani menatap Mahendra.


"Begitu, tak kusangak mereka begitu lemah". Mahendra tersenyum sinis.


"Aku minta maaf ketua". Ucap Maruta pelan.


"Aku akan memastikan Langgeng menemukan akan itu Ketua".


"Tidak perlu, Gerbang Dieng sebentar lagi terbuka aku ingin kau mempersiapkan diri untuk mengambil air kehidupan disana. Biarkan 3 pendekar petir yang mengurus sisanya".


"Mereka akan ikut masuk ke Dieng?". Maruta mengernyitkan dahinya.


Mahendra mengangguk pelan "Bukan aku tidak mempercayaimu Maruta, kau adalah orang kepercayaanku namun kini Dieng akan sedikit ramai. Aku hanya berjaga jaga, mereka akan melindungimu selama masuk ke Dieng".


Maruta mengangguk pekan, dia juga menyadari jika kali ini akan sedikit berbahaya untuk masuk ke Dieng tidak seperti tahun tahun sebelumnya. Kebangkitan Naga api dan kemunculan kembali mereka ke dunia persilatan sudah menjadi rahasia umum didunia persilatan.


Akan banyak sekte yang berusaha masuk ke Dieng untuk menghentikan mereka termasuk Sabrang dan aliran putih lainnya. Maruta memperkirakan akan terjadi pertarungan besar di Dieng jika mereka bertemu di sana.


"Aku ingin kau membawa ini saat masuk Dieng untuk berjaga jaga Maruta". Mahendra terlihat merapal sesuatu. Sebuah trisula kembar berwarna perak tiba tiba muncul digenggamannya.


"itu?". Maruta tersentak kaget melihat pusaka yang ada ditangan Mahendra.


"Trisula perak adalah pusaka kesayanganku, pusaka ini dibuat Panca khusus untukku saat dia mengangkatku sebagai muridnya. Keistimewaan pusaka ini dapat menyerap serangan dan melepaskannya lagi kepenggunanya. Pusaka ini akan membantumu jika bertemu pengguna Naga api disana".


Setelah berkata demikian Mahendra melempar trisulanya kearah Maruta.


"Terima kasih ketua". Maruta menyimpan pusaka itu kedalam pakaiannya.

__ADS_1


***


"Apa yang kau rencanakan di Lembah merah Naga api?". Tanya Anom.


"Hanya di Lembah merah kita bisa menetralkan Mata bulannya. Dia akan bisa menggunakan mata bulannya dengan bebas jika mata itu berhasil dinetralkan". Ucap Naga api.


"Tapi kau tau sendiri jika belum pernah ada yang keluar dari sana hidup hidup. Kau pun akan terkurung dilembah itu selamanya jika tidak berhasil keluar".


"Apa kau lupa jika tubuh anak ini adalah tubuh 7 bintang? Jika kita tidak cepat menemukan solusi untuk matanya maka dia akan mati cepat atau lambat karena mata itu. Aku akan membantunya mengambil resiko masuk kesana".


"Kau telah banyak berubah sejak bersama anak ini Naga api". Anom tersenyum lembut.


***


"Anda sudah siap Tuan muda?". Mentari mengetuk pintu kamar Sabrang. Tak lama pintu kamar terbuka, Sabrang muncul dengan senyum diwajahnya sambil mengangguk.


"Kita temui tuan Birawa sebelum pergi". Ucap Sabrang.


"Baik tuan". Mentari mengangguk pelan.


Saat mereka melangkah menuju alua utama mereka bertemu Lingga maheswara yang juga sedang bersiap pergi.


"Kau sudah mau pergi?". Lingga bertanya dingin seperti biasanya.


Sabrang hanya mengangguk pelan "Bagaimana denganmu?".


"Aku harus pergi kesuatu tempat sebelum kembali ke sekte Iblis hitam. Berhati hatilah, aku akan menunggumu di kaki bukit Cetho 3 purnama lagi".


Sabang meneruskan langkahnya tanpa menjawab pertanyaan Lingga maheswara.


"Kau juga". Ucap Sabrang dalam hati.


"Setelah ini kita akan pergi kemana tuan muda?". Mentari bertanya sambil berusaha mengejar Sabrang.


"Aku akan mengunjungi kakekku dulu sebelum kita pergi menemui tetua Brajamusti di sekte Angin biru. Ada yang harus kubicarakan dengannya".


"Baik tuan muda".


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Catatan Author :


Selamat malam teman teman semua, semoga kita semua diberi kesehatan.


Sempat berfikir pengen bikin komik Pedang Naga api namun sudah lama sekali tangan ini gak pernah megang Pensil gambar. Jika nanti hasil sketsa gambar saya tidak mengecewakan mungkin saya akan saya coba terbitkan Pedang Naga api dalam versi komik dengan catatan banyak yang setuju.


Dan terakhir terima kasih untuk semua dukungannya baik dalam betuk Like, vote maupun Tips. Dukungan kalian membuat saya semangat untuk terus update setiap hari.

__ADS_1


__ADS_2