
Sabrang keluar dari dasar sungai dengan wajah sedikit pucat, nafasnya tersenggal sambil menatap Rubah putih yang duduk dipinggir sungai.
"Belum cukup, sisi gelap alam semesta jauh lebih besar tekanannya dari air sungai itu," ucap Rubah putih sambil menggeleng pelan.
"Bisakah aku beristirahat sebentar? entah mengapa air sungai itu jauh lebih dingin dari malam biasanya," balas Sabrang pelan.
Rubah putih mengangguk pelan, dia kemudian menatap bulan dengan wajah sedikit khawatir.
"Kau juga merasakannya ya? malam ini sepertinya lebih menakutkan dari biasanya, seperti sesuatu yang besar akan segera terjadi," ucap Rubah putih.
Sabrang kemudian naik dan mengganti pakaiannya, sebelum duduk didekat Rubah putih.
"Ceritakan padaku bagaimana suasana sisi gelap alam semesta," ucap Sabrang.
Rubah putih tak menjawab pertanyaan Sabrang, dia terus menatap bulan yang bersinar di langit.
"Kakek?" Sabrang menepuk pundak Rubah putih.
"Ah, iya," balas Rubah putih terkejut.
"Apa terjadi sesuatu?" Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Tidak, aku hanya sedikit khawatir dengan suasana malam ini. Tak ada suara binatang yang biasa terdengar, mereka seolah takut pada sesuatu. Terakhir aku merasakan suasana malam seperti ini adalah saat lima orang yang tidak dikenal muncul dan membantai ribuan orang dalam satu malam," balas Rubah putih.
"Lima orang?" tanya Sabrang.
"Saat itu umurku masih belasan tahun, mereka membantai semua orang yang tidak mengikuti perintah mereka tak perduli anak anak dan perempuan. Kekuatan lima orang itu sangat tinggi, bahkan bisa dikatakan bukan kekuatan manusia.
Tak ada pendekar yang bisa menandingi mereka, bahkan pendekar terkuat saat itu sekalipun. Mereka berlima itu kemudian di kenal sebagai para pemimpin dunia Masalembo," ucap Rubah putih.
"Jadi begitu ya, apa mungkin sesuatu akan terjadi kembali malam ini?" balas Sabrang yang ikut menatap bulan.
"Semoga saja tidak," Rubah putih menoleh kearah Sabrang.
"Apa Wulan benar berada di kerajaanmu?"
Sabrang mengernyitkan dahinya, dia terlihat bingung dengan pertanyaan Rubah putih.
"Dia mengatakan begitu saat berpisah denganku di hutan lali jiwo, apa aku harus memastikannya?" tanya Sabrang.
"Tidak perlu, tugas kita masih banyak sampai dua purnama ke depan. Tubuhmu harus benar benar kuat sebelum kita masuk ke sisi gelap alam semesta. Malam ini kita hentikan dulu latihan mu, beristirahatlah, besok sebelum matahari terbit kau harus sudah kembali berlatih," ucap Rubah putih sambil bangkit dari duduknya.
"Apa kakek akan pergi?"
Rubah putih menggeleng pelan, "Udara malam ini sangat dingin, aku akan tidur di dalam gua," Rubah putih melangkah masuk kedalam gua sambil melambaikan tangannya.
"Tidur didalam gua? kau tidak pandai menyembunyikan rasa khawatir mu kek," gumam Sabrang sebelum melesat pergi keluar air terjun lembah pelangi.
"Semoga saja aku salah," Rubah putih tampak berjalan menuju ruang latihan pribadi Wulan.
Wajah rubah putih berubah seketika saat melihat rak penyimpanan milik Wulan.
"Gulungan yang diberikan Naraya hilang? dasar wanita bodoh, sudah kukatakan untuk tidak mendekati gunung Damalung," umpat Rubah putih sambil bergegas pergi.
***
"Gunung Damalung?" Adyatama mengernyitkan dahinya.
"Benar tuan, aku melihat sendiri Dewi kematian pergi bersama beberapa orang menuju gunung itu," balas seorang pendekar muda.
"Apa yang mereka cari di gunung itu?"
"Aku tidak tau tuan," jawab pendekar itu cepat.
Adyatama terlihat berfikir sejenak sebelum berbicara kembali.
"Bawa beberapa orangmu untuk mengamati gerakan mereka," perintah Adyatama
"Maaf tuan, aku tak bisa melakukannya," ucap pendekar itu pelan.
"Kau membangkang perintahku? apa kau lupa aku sementara mengambil alih pimpinan Masalembo?" bentak Adyatama.
"Aku benar benar tidak bisa tuan, gunung Damalung adalah area terlarang bagi pendekar Masalembo."
"Area terlarang? aku menyelamatkanmu dua kali Damar, jika saat itu adikku tidak menarikmu dalam ruang dan waktu, kau sudah tewas ditangan keturunan dwipa itu,"
Damar terdiam, dia kembali teringat sesaat sebelum tubuhnya dihantam pedang Naga api milik Sabrang, ada aura aneh yang memindahkan tubuhnya di detik terakhir.
__ADS_1
"Maaf tuan, tapi aku benar benar tidak bisa, gunung itu sangat dilarang untuk didatangi," balas Damar pelan.
"Biarkan aku yang pergi kakang," seorang pendekar muncul tiba tiba.
"Pradana? tubuh kita belum benar benar pulih, akan sangat berbahaya jika bertemu dengannya, tunggulah beberapa purnama lagi" Adyatama tampak sedikit keberatan.
"Jangan terlalu khawatir kakang, aku hanya akan mengamati dari jauh," balas Pradana meyakinkan.
Adyatama terdiam sesaat, dia menatap adik seperguruannya itu dengan wajah khawatir.
"Baik, tapi ingat kau hanya mengamati dari jauh. Dewa kumari kandam hanya tersisa tiga orang, dan aku tak ingin kehilangan satu lagi," jawab Adyatama.
"Baik kakang," balas Pradana sambil menundukkan kepalanya sebelum melangkah pergi.
***
"Tuan, semua daun telah terisi penuh," teriak Ciha saat memeriksa dedaunan yang tadj diletakkan dibawah batu.
Wardhana langsung bangkit dari duduknya, dan berlari kearah empat kenteng songo yang berada ditengah.
"Ciha, bawa semua kesini, berhati hatilah jangan sampai tumpah," teriak Wardhana.
Candrakurama dan Wulan ikut membantu tanpa diperintah, mereka perlahan mengisi penuh lubang di batu kenteng songo sampai penuh.
Namun wajah mereka yang tampak bersemangat kembali berubah kecut saat awan mendung kembali menutup langit di gunung Damalung.
"Sial sepertinya hujan akan kembali turun," umpat Wardhana pelan.
"Cari sesuatu untuk menutupi batu kenteng songo, jangan sampai air didalamnya kembali tercampur air hujan.
Candrakurama melesat kearah pepohonan dan mengambil beberapa daun yang cukup lebar untuk menutup batu kenteng songo.
"Hanya menunggu, itulah yang bisa kita lalukan saat ini," ucap Wardhana sambil tersenyum kecut saat Wulan menatapnya.
"Bagaimana jika langit tetap mendung sampai pagi?"
"Tak ada yang bisa kita lalukan kecuali menunggu malam berikutnya dan berharap hujan tidak kembali turun. Hampir semua teka teki telah kupecahkan namun itu saja tidak cukup, kita butuh restu alam untuk mengetahui apa yang tersimpan disini," balas Wardhana lirih.
"Begitu ya, jika malam ini sinar bulan tak mampu menembus awan hitam itu, artinya alam tak merestui kita?"
"Sebaiknya anda beristirahat sejenak tetua, aku akan membangunkan anda jika awan mulai menghilang," ucap Wardhana.
Wardhana tampak tersenyum ramah sambil menatap wanita cantik dihadapannya itu.
"Maaf tetua, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan. Anda tak mengenal Yang mulia sama sekali, apa yang membuat anda mengangkat Yang mulia sebagai murid? apakah hanya karena musuh kita sama?"
"Kau telalu banyak tanya seperti Rubah putih tuan, mungkin hampir sama dengan yang kau lakukan. Api perlawanan dalam diriku sempat meredup saat mendengar Rubah putih berhasil mereka kalahkan dan dikurung di dimensi ruang dan waktu. Jika pendekar sekuat dia saja kalah bagaiman denganku?
Namun api semangat itu seolah kembali berkobar saat rajamu muncul di hadapanku, dia seperti memiliki sesuatu dalam tubuhnya yang mampu membuatku kembali bersemangat. Aku hanya ingin berguna bagi yang lainnya, mungkin hampir sama dengan nasehat Arya dwipa padamu, Urip kudu urup," jawab Wulan.
"Sepertinya tujuan kita semua kumpul disini hampir sama," Wardhana menatap Candrakurama yang duduk dihadapannya.
"Setidaknya itulah yang diajarkan Yang mulia padaku," balas Candrakurama.
Wardhana mengernyitkan dahinya, dia menatap sinar bulan yang ada di atas dedaunan yang digunakan untuk menutupi batu kenteng songo.
Wardhana kemudian menoleh keatas dan melihat langit mulai kembali cerah.
"Sepertinya alam memberikan restunya," Wardhana menarik semua dedaunan yang menutupi batu kenteng songo.
Wulan dan Candrakurama saling menatap, tubuh mereka sedikit bergetar dan detak jantung memacu cepat. Mereka semua tampak menahan nafas, tak lama lagi mungkin rahasia terbesar atau apapun yang disembunyikan didalam gunung Damalung akan terungkap.
Sinar bulan yang memantul dari batu pemantul tampak menyinari batu kenteng songo, sinar itu kemudian memantul diantara empat batu kenteng songo sebelum memantul kembali ke salah satu batu besar di sisi kiri jurang yang tadi digunakan untuk menampung embun.
Cukup lama mereka memperhatikan batu itu sambil menahan nafas, namun tak ada yang terjadi sama sekali setelah sekian lama.
"Apa ada yang salah?" tanya Wulan pelan.
"Seharusnya tidak," Mata Wardhana mengikuti sinar bulan yang memantul dari awal batu pemantul sampai berakhir disalah satu batu penampung embun.
"Apa ada yang kurang?" gumamnya dalam hati. Wardhana kemudian mencoba menutup jalur pantulan menuju batu terakhir dengan tangannya, terlihat sinar bulan menyinari telapak tangannya.
"Sinarnya terlalu redup!" ucap Wardhana sambil menatap batu pemantul.
"Batu pemantulan nya terlalu kering membuat sinar bulan menyebar ke segala arah, sinar yang dipantulkannya terlalu redup. Ciha, bawa sisa air embun itu dan siramkan ke batu pemantul tepat dimana sinar bulan jatuh," perintah Wardhana.
"Baik tuan," Ciha bergegas menuju matu pemantul dan menyiramkan sesuai dengan perintah Wardhana.
__ADS_1
Tak lama, cahaya sinar bulan mulai fokus di satu titik dan mengantarkan ke batu kenteng songo sebelum kembali memantul.
Sebuah tulisan tampak tergambar dari pantulan sinar itu.
"Ternyata sinar bulan hanya sebagai pengantar untuk memunculkan tulisan yang terukir di empat batu kenteng songo," ucap Wardhana pelan.
"Putar mengikuti arah matahari, batu kehidupan akan menuntun kedalam cahaya kehidupan," Wulan kembali membaca tulisan itu. Bersamaan dengan selesainya Wulan membaca tulisan itu, langit kembali mendung dan hujan mulai turun.
"Syukurlah kita tidak terlambat, atau kita harus mengulang kembali besok," ucap Wardhana lega.
Wardhana kemudian memeriksa sisi batu itu dan menemukan semacam lekukan batu didekat tanah.
"Putar mengikuti arah matahari? Candrakurama, bantu aku memutar batu ini kearah kanan, ada lekukan kecil yang bisa digunakan sebagai pegangan," ucap Wardhana pelan.
Wardhana dan Candrakurama mulai memutar batu itu perlahan, agak sedikit sulit untuk memutar batu itu mengingat tanah disekitarnya mulai memadat.
"Sial, batu ini berat sekali," umpat Candrakurama saat mereka hanya mampu menggeser sedikit batu itu walau sudah mendorong dengan sekuat tenaga.
"Wajar jika sulit, sepertinya batu ini sudah sangat lama tidak digeser. Tanah disekitarnya terus memadat dan mungkin dudukan batu didalamnya sudah berlumut atau termakan tanah," jawab Wardhana pelan.
"Boleh aku mencobanya?" Wulan menawarkan bantuan.
"Sebaiknya jangan tetua, batu ini terlihat sedikit rapuh, kita tidak bisa memaksanya dengan sekuat tenaga atau dudukan batu akan hancur dan batu ini tidak dapat berfungsi lagi," jawab Wardhana sopan.
Wardhana tampak berfikir sejenak, beberapa kali dia terlihat kembali mencoba memutar batu itu namun tak berhasil.
"Batu ini sudah tua dan kemungkinan sudah sangat lama tidak digunakan, bantu aku menggali tanah di sisi batu untuk mengurangi tekanan, lakukan dengan perlahan dan jangan terlalu dalam, aku tidak ingin ada sistem putarnya yang rusak," pinta Wardhana pada Candrakurama.
Mereka mulai menggali sisi batu perlahan dibawah guyuran hujan yang semakin lebat dan dentuman suara petir yang seolah ingin menyambar mereka.
"Buat jalur air agar masuk kedalam galian itu, air akan membuat tanah kembali gembur," perintah Wardhana.
Setelah dirasa cukup dan air hujan mulai memenuhi galian yang mereka buat, Wardhana memberi tanda untuk mencoba memutar kembali.
"Ayo kita coba lagi," Wardhana dan Candrakurama kembali memutar batu itu perlahan.
Rencana Wardhana kali ini berhasil, batu penampung embun itu perlahan mulai bergerak, setelah hampir setengah putaran, tiba tiba terdengar bunyi "Krak", batu itu seolah menyentuh sesuatu.
Wardhana dan Candrakurama saling berpandangan untuk sesaat sebelum suara batu bergeser terdengar dari batu lainnya yang berada tak jauh dari mereka.
Semua serentak menoleh kearah asal suara, tampak batu penampung embun yang berada didekat batu pemantul berputar kebawah. Sisi batu yang selama ini terkubur di dalam tanah bergerak keatas menggantikan sisi atas yang kini terkubur tanah.
Mereka berjalan mendekati batu itu dengan wajah tegang, terlihat sebuah cekungan di batu itu berbentuk segi empat.
"Apa cekungan itu harus di isi air lagi?" Wulan tampak bingung, dia berfikir setelah batu pertama diputar akan ada sebuah pintu yang terbuka.
Wardhana menyentuh cekungan batu itu sambil mulutnya terus bergumam.
"Putar mengikuti arah matahari, batu kehidupan akan menuntun kedalam cahaya kehidupan."
"Batu kehidupan! cekungan ini kemungkinan tempat untuk meletakkan batu kehidupan, (batu kehidupan akan menuntun kedalam cahaya kehidupan), dengan kata lain pantulan sinar bulan itu hanya untuk menunjukkan dimana kita harus meletakkan batu kehidupan. Jadi kunci utama untuk membuka tabir rahasia yang selama ini terpendam adalah batu kehidupan," ucap Wardhana pelan.
"Lalu dimana kita mendapatkan batu itu?" tanya Ciha bingung.
"Aku belum tau," jawab Wardhana cepat sambil menoleh kearah Wulan.
"Apa Naraya hanya memberikan gulungan itu?"
Wulan mengangguk pelan, "Hanya gulungan itu," jawab Wulan.
"Lalu dimana kita mendapatkan batu kehidupan itu?" wajah Ciha kembali lesu.
"Jangan menampakkan wajah seperti itu dulu Ciha," balas Wardhana pelan.
"Maksud anda? jika batu kehidupan saat ini berada ditangan para pemimpin dunia, bukankah menjadi sia sia perjalanan kita kepuncak gunung ini," jawab Ciha.
"Aku yakin batu itu ada disekitar sini," jawab Wardhana.
"Bagaimana kau bisa sangat yakin tuan?" tanya Wulan.
"Aku tidak tau siapa yang membuat sistem misteri ini namun yang pasti ada campur tangan ilmu pengetahuan yang sangat tinggi saat membuat semua ini.
Tak mudah membuat sistem dudukan untuk batu berputar itu, dan yang paling menakjubkan adalah perhitungan mereka tentang batu pemantul itu, menghitung sisi tebing dan arah pantulan bulan adalah hal yang paling rumit, belum lagi perhitungan tentang letak batu lainnya yang digunakan sebagai pemantul selanjutnya, salah sedikit saja maka jalur pantulan akan kacau dan pesan tulisan itu tak akan tersampaikan.
Anda pikir mereka tidak akan menyiapkan "Kunci" cadangan jika batu kehidupan hilang? aku yakin dengan sistem sebaik ini, mereka telah menyiapkan segala kemungkinan termasuk kunci cadangan andai batu kehidupan hilang. Kita hanya perlu mencari petunjuk yang mungkin disiapkan pembuat sistem ini untuk menemukan batu kehidupan lainnya," jawab Wardhana pelan.
"Anda selalu bisa membuatku terkejut," balas Wulan sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=
VOTE