Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Daratan Swarnadwipa


__ADS_3

Sabrang terlihat sedikit ragu untuk mendekati Emmy yang duduk diatas bebatuan didekat gerbang keluar Wentira.


Dia mematung sesaat sebelum melangkah pergi, dia ingin memberi waktu Emmy yang sedang bersedih atas kematian gurunya.


"Apa hanya itu yang bisa dilakukan seorang Raja tanah Jawata?". Ejek Emmy tiba tiba.


Sabrang menghentikan langkahnya dan berjalan mendekati Emmy.


"Aku minta maaf, karena kau membantuku saat itu paman Malewa terbunuh". Ucap Sabrang pelan.


"Tak perlu meminta maaf, aku melakukannya karena ingin. Terima kasih sudah membalaskan dendam guru".


"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?". Ucap Sabrang sambil duduk disebelah Emmy.


Emmy menggeleng pelan "Aku tidak tau, dunia persilatan begitu aneh. Mereka saling bunuh hanya demi sesuatu yang semu".


"Ikutlah denganku, kami akan pergi ke daratan Suwarnadwipa bersama Arung".


"Kau melamarku?". Emmy mengernyitkan dahinya.


"Buu.. bukan begitu maksudku". Sabrang menjawab terbata bata.


"Aku tau bodoh, namun maaf aku tidak ingin meninggalkan guru sendirian disini". Emmy bangkit dari duduknya dan mendekatkan wajahnya kewajah Sabrang. "Terima kasih untuk semuanya". Emmy mencium pipi Sabrang sebelum melangkah pergi dengan wajah memerah.


Sabrang yang mendapat ciuman tiba tiba hanya mematung sambil menatap kepergian Emmy.


***


Sementara itu ditempat lain Wardhana sedang membaca gulungannya dan sesekali melihat gambar daratan yang ditemukan di ruang rahasia. Dia bersama Ciha terlihat serius sambil sesekali berdiskusi.


"Anda yakin akan menuju tempat ini?". Ciha menunjuk gambar daratan digulungan besar.


Wardhana mengangguk pelan. "Tulisan ini aku salin dari ruangan itu. (Sebuah gunung tertinggi di Suwarnadwipa, Puncak Indrapura akan menuntunmu menuju telaga api. Mahluk kecil akan menuntunmu). Jika aku mencocokan dengan gambar daratan ini maka gunung ini yang paling cocok dengan petunjuk ini namun aku masih belum mengerti apa maksud Mahluk kecil ini".


"Apa mungkin binatang atau tumbuhan asli gunung Indrapura tuan?".


"Kemungkinan seperti itu, untuk memastikannya kiya harus memeriksanya sendiri". Jawab Wardhana pelan.


Ciha menarik nafas panjang sebelum mengeluarkan pecahan kunci Telaga api. "Seperti yang anda perkirakan tuan, Dananjaya menyimpan pecahan kunci ini dikamarnya". Ciha menyerahkan kunci itu pada Wardhana.


Wardhana menyimpan pecahan kunci itu didalam sebuah bungkusan kecil dan menyimpannya dalam pakaian.


"Masih tiga kepingan kunci lagi yang harus kita kumpulkan, semoga tidak terlambat". Ucap Wardhana pelan.

__ADS_1


"Sepertinya anda terlalu khawatir tuan, aku yakin rumah para dewa tidak mudah ditemukan seperti Wentira".


"Setelah melihat Dananjaya mampu mengelabui tuan Tanwira begitu lama, aku justru semakin khawatir. Aku yakin saat ini mereka telah menyusup ke sekte sekte yang ada disemua daratan, kita harus cepat menemukan kepingan kunci lainnya sebelum terlambat".


***


Ketika pagi tiba dan matahari mulai menyapa kota emas Wentira, terlihat rombongan Tanwira mengantar kepergian Sabrang dan yang lainnya dipintu gerbang.


Tanwira menundukan kepalanya cukup lama pada Sabrang yang membuat Sabrang sedikit salah tingkah.


"Dulu, Ken Panca sangat membantuku membuat pusaka untuk para penjaga Wentira dan dia pernah berkelakar untuk membuat sebuah pusaka khusus yang akan digunakan untuk menjaga kota ini. Walaupun dia mengatakan dengan sedikit bercanda namun aku sangat mempercayainya.


Kini dia menepati janjinya, kau benar benar melindungi kota ini dari niat busuk Dananjaya. Wentira sangat berterima kasih padamu tuan". Ucap Tanwira pelan.


"Paman jangan terlalu sungkan seperti itu, aku hanya melakukan apa yang menurutku benar". Jawab Sabrang.


"Berhati hatilah tuan, jika lain waktu kembali ketanah Celebes, pintu Wentira terbuka lebar untukmu".


Sabrang mengangguk pelan "Sebelum aku pergi, aku ingin meminta bantuan paman untuk menjaga Emmy".


"Sepertinya tidak perlu tuan". Tanwira menunjuk seorang gadis yang berlari kearah mereka.


Arung tersenyum lega setelah melihat adik seperguruannya itu karena semalam Emmy masih bersikeras untuk tinggal di Celebes.


"Bukankah kau mengatakan tidak akan ikut dan ingin menetap di Wentira?". Tanya Sabrang heran.


"Aku berubah pikiran, harus ada yang menjaga sibodoh itu untuk tidak berbuat ceroboh". Emmy menundukan kepalanya pada Tanwira sebelum melangkah keluar gerbang. "Ayo kita pergi". Ucapnya pelan.


"Dia ternyata sangat memperhatikanmu". Ucap Sabrang pada Arung.


Arung hampir tersedak melihat kepolosan pendekar terkuat itu, dia menggelengkan kepalanya berkali kali.


"Sepertinya kau akan selalu terlibat masalah". Ucap Arung sedikit kesal sambil berjalan menyusul Emmy.


"Apa aku salah bicara paman?". Tanya Sabrang pada Wardhana.


Wardhana menggeleng pelan, dia tentu tidak akan berani mengatakan Rajanya itu terlalu polos dalam menghadapi wanita.


"Sifat anda sangat berbeda dengan Yang mulia Arya Dwipa yang sedikit flamboyan". Gumam Wardhana dalam hati.


***


(Kaki gunung Indrapura, Swarnadwipa)

__ADS_1


Disebuah hutan belantara yang masih sangat terjaga kealamian nya terlihat dua sosok berukuran kecil berlari diantara rimbunnya pepohonan.


Sesekali mereka melepaskan jebakan jebakan yang memang dibuat untuk keadaan darurat seperti ini. Mereka berharap jebakan itu dapat memperlambat para pendekar yang mengejar.


Mereka adalah suku Hutan dalam yang sudah sangat lama mendiami Gunung Kerinci atau pucak Indrapura.


"Apa mereka masih mengejar?". Tanya salah satu orang pada temannya sambil memutuskan tali disebuah pohon dengan pedang kecilnya untuk melepaskan jebakan berikutnya.


Temannya menggeleng pelan "Sepertinya mereka telah kehilangan jejak kita".


Parbo menghentikan langkahnya sambil mengatur nafas, mereka sudah berlari cukup lama karena menghindari kejaran para pendekar dunia persilatan.


"Mereka adalah para pendekar dari Sekte Gunung batu, aku mengenali pakaian yang mereka gunakan. Apa yang sebenarnya mereka cari di hutan terpencil seperti ini?".


"Apalagi kalau bukan gua emas yang ada didasar danau embun". Jawab Tatha yang merupakan salah satu pendekar suku Hutan dalam.


"Bagaimana mereka bisa mengetahui tempat itu?". Tanya Parbo heran, selama ini mereka selalu menjaga tempat rahasia itu dengan ketat. Lokasinya yang sangat sulit dijangkau membuat dia yakin tempat itu akan tersembunyi selamanya.


"Aku tidak tau namun kita tidak akan bisa menyembunyikan tempat itu selamanya. Gua emas sepertinya dibangun oleh orang yang mempunyai ilmu pengetahuan tinggi dan aku yakin semua orang didunia persilatan mencari tempat itu. Kita harus melaporkan pada ketua tentang masalah ini".


Mereka kembali berlari sampai menemukan sebuah air terjun yang sangat indah.


Parbo dan Tatha berjalan kearah air terjun dan terlihat memasuki gua yang tersembunyi dibalik air terjun.


Empat orang penjaga terlihat menghadang mereka sebelum mempersilahkan masuk.


Parbo memasuki sebuah ruangan yang cukup besar bersama Tatha, mereka menundukan kepalanya saat seorang wanita menyapa mereka dari atas kursi emasnya.


Wanita itu terlihat seperti manusia pada umumnya dan sangat berbeda dari para pengukutnya yang berukuran kecil. Wajah cantik khas daratan Suwarnadwipa semakin membuatnya berwibawa.


"Ada apa Parbo? kalian seperti baru saja dikejar sesuatu?". Wanita itu mengernyitkan dahinya.


"Maaf ketua, para pendekar dari sekte Gunung batu mulai memasuki lereng gunung Indrapura".


Leny darrow, Ketua dari suku Hutan dalam sedikit terkejut setelah mendengar laporan dua orang kepercayaannya.


Dia menarik nafasnya sambil memejamkan matanya. "Sepertinya keberadaan gua emas dipuncak Indrapura sudah tersebar didunia persilatan. Kita harus bersiap menghadapi sutuasi yang paling buruk". Ucapnya Pelan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Gunung Kerinci atau dikenal juga Puncak Indrapura adalah gunung tertinggi di Sumatra, gunung berapi tertinggi di Indonesia, dan puncak tertinggi di Indonesia di luar Papua. Gunung Kerinci terletak di Provinsi Jambi, di Pegunungan Bukit Barisan


Penduduk setempat yakin akan keberadaan Suku Kerdil atau lebih dikenal Uhang pandak walau sampai saat ini keberadaannya tidak pernah ditemukan.

__ADS_1


Terinspirasi dari cerita legenda inilah PNA menghadirkan suku Hutan dalam sebagai bagian dari cerita. Suku hutan dalam hanya karangan Author ya Mbang.


__ADS_2