Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Lembah Siluman Mulai Bergerak


__ADS_3

"Ketua, tuan Bongkel dari Iblis hitam meminta menghadap". Sakuta menunduk dihadapan Waranggana ketua dari Sekte Lembah tengkorak.


"Bongkel? tidak biasanya Kertasura mengirim pendekar terbaiknya untuk mengantarkan pesan, Apa mereka mulai menyadarinya" Waranggana tersenyum kecil.


"Biarkan dia masuk".


"Baik ketua". Sakuta melangkah pergi dari ruangan.


"Kau pikir Lembah tengkorak akan selalu berada di bawah bayanganmu? Kau terlalu congkak Kertasura". Waranggana bergumam dalam hati.


Tak lama Bongkel melangkah masuk dan memberi hormat pada Waranggana.


"Selamat datang tuan" Waranggana menundukan kepalanya memberi hormat pada Bongkel dan memperisahkannya duduk.


"Apakah terjadi sesuatu sampai tetua mengutus anda langsung datang kemari". Waranggana berkata pelan. Raut wajahnya datar seolah terganggu dengan kedatangan Bongkel.


"Ah ketua menitipkan salam untuk anda". Bongkel menyadari sambutan yang diterimanya kurang bersahabat sehingga berusaha mencairkan suasana. Namun sepertinya Waranggana sudah tidak tertarik lagi berbicara dengannya sehingga Bongkel memutuskan untuk langsung menyampaikan pesan dari Kertasura.


"Ketua ingin mengetahui alasan ketidakhadiran Lembah tengkorak dalam beberapa kali pertemuan aliansi tuan".


"Apakah aku harus memberikan alasan atas kebijakan Lembah tengkorak pada Iblis hitam?" Waranggana tertawa mengejek.


"Maksud anda?" Bongkel sedikit tersinggung dengan sikap Waranggana namun dia berusaha menahannya.


"Kau lupa jika Iblis hitam dan Lembah tengkorak adalah dua sekte berbeda, dan kami tidak berada dibawah kekuasaan Iblis hitam. Tak ada satupun alasan bagiku untuk memberikan alasan atas apa yang aku putuskan". Wajah Waranggana berubah serius.


"Maaf tetua sepertinya anda salah paham, aku tidak mempertanyakan apapun mengenai permasalahan di tubuh Lembah tengkorak namun kita terikat pada aliansi yang kita bentuk dan kebetulan Ketua kami menjadi pemimpin aliansi".


"Aliansi ya?" Waranggana terkekeh sebelum melanjutkan perkataannya. "Aliansi itu hanya menguntungkan Iblis hitam, kalian pikir aku bodoh tidak mengetahui seberapa besar keuntungan yang kalian dapatkan dari Majasari?".


"Tetua, sepertinya kata kata anda sudah menghina Iblis hitam". Kali ini Bongkel tidak dapat menahan lagi.


"Lalu kau mau apa jika aku menghina Iblis hitam?". Aura hitam pekat tiba tiba menyelimuti tubuh Waranggana dan menekan Bongkel.


"Aura ini? dari mana dia menguasai ilmu sehebat ini?". Keringat dingin keluar dari tubuhnya.


Tak lama kemudian Waranggana tersenyum sinis menatap Bongkel.


"Pergilah dan sampaikan pada Kertasura jika Lembah tengkorak memutuskan mundur dari aliansi".


"Tetua anda benar benar.....". Belum sempat Dongkel menyelesaikan perkataannya tiba tiba Waranggana telah berada dihadapannya dan mencengkram lehernya.

__ADS_1


"Kecepatannya?" Raut Wajah Bongkel berubah seketika melihat ilmu aneh yang digunakan Waranggana.


"Aku bisa membunuhmu sekarang juga dengan mudah namun aku masih memandang Kertasura. Pergilah!" Waranggala melempar tubuh Dongkel keluar pintu.


"Suruh dia pergi". Suara Waranggana meninggi memerintahkan anak buahnya membawa Dongke keluar.


"Kurang ajar kau Waranggana, akan kubalas kau!". Ki Dongkel bangkit dan berjalan pergi meninggalkan Sekte Lembah tengkorak.


"Kau memang kejam Waranggana" Maruta muncul dari balik pintu dengan senyum mengerikan.


"Aku sudah muak berada dibawah bayang bayang Kertasura". Waranggana memberi hormat pada Maruta.


"Bagaimana kehebatan Ajian Segoro macan milik Lembah siluman?".


"Sungguh luar biasa tuan, bahkan Dongkel tak berkutik di hadapanku". Waranggana tersenyum puas.


"Jika kau bergabung dengan Lembah siluman, aku akan memberikan beberapa kitab kanuragan dari Tanah para dewa yang tak kalah hebat dari Segoro macan".


"Apapun akan kulakukan untuk menjadi pendekar hebat dan mengalahkan Kertasura". Waranggana menunduk dihadapan Maruta.


"Kau pernah mendengar Kitab Segel kehidupan?".


Waranggana mengeleng pelan "Aku tidak yakin tuan namun yang pernah kudengar ada sebuah ilmu yang dapat membuat tubuh kita abadi".


"Air kehidupan?, apakah air itu benar benar ada?". Waranggana mengernyitkan dahinya.


"Ada kalanya kau tidak bertanya sesuatu yang seharusnya kau tidak boleh tau demi kebaikanmu". Raut wajah Maruta berubah menyeramkan.


"Ma...maafkan aku tuan". Waranggana menundukan kepalanya.


"Kitab Segel kehidupan dulu dimiliki oleh Sekte Suket ireng dari gunung Lalakon namun sejak sekte tersebut hancur beberapa ratus tahun lalu kitab itu ikut raib entah kemana. Kabar yang kudengar di sebuah hutan di ujung Nusantara ada seorang lelaki setengah baya menguasai jurus yang hampir mirip dengan Segel kehidupan.


Aku ingin kau mengirim beberapa pendekar tinggi kesana untuk mencari kebenaran berita ini dan membawa kakek itu kehadapanku. Ketua akan memberimu imbalan yang sangat besar jika kau bisa menemukannya".


Waranggana terdiam sejenak, dia memang pernah mendengar ada sebuah hutan yang sama menakutkannya dengan hutan kematian di ujung nusantara.


"Baik tuan aku akan mengirim beberapa pendekar Lembah tengkorak untuk pergi ke hutan itu".


Maruta mengangguk pelan kemudian dia merapal sebuah jurus. Dia mengangkat tangannya keatas dan sesaat kemudian kabut putih menyelimuti tangannya.


Tiba tiba sebuah cahaya merah melesat kearah tangannya membuat Waranggana terkejut. Setelah kabut putih menghilang terlihat sebuah Keris berwarna hitam pekat berada di tangan Maruta.

__ADS_1


Maruta kemudian memberikan keris tersebut pada Waranggana.


"Keris siluman merah ini akan meningkatkan kekuatan ajian segoro macan milikmu. Gunakan hanya saat kau terdesak karena kekuatan keris ini akan memakan jiwamu jika semakin sering digunakan".


Wajah Waranggana berbinar menerima keris pusaka Siluman merah. Dia sudah sering mendengar kabar jika kekuatan keris ini hanya satu tingkat dibawah Pedang Naga api, Pedang pusaran angin dan Pedang langit, tiga pedang pusaka terbaik di tanah nusantara.


"Aku tidak akan mengecewakan Lembah siluman". Waranggana menunduk memberi hormat pada Maruta.


***


"Hamba menghadap pangeran" Restu berlutut dihadapan Sabrang yang sedang berbicara dengan Wardhana.


"Ada apa paman?" Sabrang menoleh kearah Restu.


"Hamba ingin melaporkan sesuatu Pangeran, apa yang dikatakan tuan Wardhana benar. Aku baru mendapat kabar jika empat pendekar Iblis hitam terlihat meninggalkan kadipaten Majasari".


Wardhana terlihat tersenyum mendapat laporan dari Restu.


"Tak kusangka kau benar benar menepati janjimu Lingga, andai saja kau tidak mengambil jalan yang salah mungkin kita bisa berteman baik".


"Lalu kapan kita akan bergerak tuan?".


Wardhana menoleh kearah Sabrang yang kemudian dibalas anggukan oleh Sabrang.


"Besok sebelum matahari terbit kita bergerak. Aku akan masuk Kadipaten Sukasari bersama pangeran untuk menyelamatkan tuan Kertapati dan tugasmu seperti yang aku katakan kemarin membuka jalan pelarian.


Ingat jika bertemu dengan pendekar Iblis hitam dan kau merasa tidak mampu menghadapinya lebih baik kau hindari. Aku tidak ingin ada korban jiwa dalam misi kali ini".


"Baik tuan". Restu menundukan kepalanya.


***


"Coba katakan sekali lagi?" Kertasura menggebrak meja yang ada dihadapannya. Wajahnya mengeras menahan amarah.


"Maaf ketua.....". Bongkel menunduk tak berani menatap Kertasura.


"Aku sudah memperkirakan jika si tua bangka itu akan berkhianat padaku suatu saat namun bergabung bersama Lembah siluman adalah pilihan bodoh!".


"Maksud anda?" Lingga mengernyitkan dahinya.


"Aku telah lama mencurigainya berhubungan dengan beberapa pendekar misterius dan dengan jurus aneh yang gunakannya saat menyerang Bongkel, aku yakin Lembah siluman berada dibalik ini semua".

__ADS_1


"Apakah kita akan bertindak?" Lingga kembali bertanya pada Kertasura.


"Akan sangat berbahaya jika saat ini kita menyerang mereka, Lembah siluman tidak akan tinggal diam budaknya diserang. Kirim utusan ke keraton Majasari dan katakan tentang pengkhianatan yang dilakukan Lembah tengkorak. Akan kubersihkan Lembah tengkorak dari aliansi kita". Kertasura mengepal tangannya menahan amarah.


__ADS_2