Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Jebakan Wardhana II


__ADS_3

"Tuan patih apa yang anda lakukan?" Singgih terkejut melihat Jaladara mengarahkan pedang padanya.


"Kau tau apa hukuman bagi penghianat Saung galah?" Jaladara tersenyum sinis.


"Tapi hamba bukan penghianat tuan, Malwageni yang merencanakan ini semua" Singgih mencoba membela dirinya. Keringat dingin mulai mengucur dari tubuhnya.


"Keserakahan telah menuntunmu masuk perangkap mereka Singgih".


Raut wajah singgih seketika berubah, dia baru menyadari apa yang selama ini mengganjal dihatinya. Semua terasa begitu mudah baginya berurusan dengan salah satu ahli siasat terbaik Malwageni.


"Tuan anda telah termakan rencana mereka, aku akan membuktikannya".


Singgih bersiap menyerang Wijaya namun tubuh Jaladara tiba tiba muncul dihadapannya.


"Urusanmu kali ini denganku Singgih" Jaladara menatap tajam Singgih.


"Tuan aku tidak bersalah, semua adalah rencana mereka untuk memfitnahku".


"Kau benar benar meremehkan ku, hukuman seorang penghianat adalah Mati!". Jaladara menyerang Singgih dengan cepat namun beberapa pendekar iblis hitam menghadang dan menangkis serangannya.


"Oh kalian ingin menghalangiku?" Jaladara menyerang pendekar iblis hitam tiba tiba.


Kesempatan ini dimanfaatkan Singgih untuk melarikan diri. tidak ada yang bisa dia pertahankan lagi di Ligung, tujuannya kini hanya menyelamatkan diri.


"Kau buru buru sekali Singgih" Seseorang menghadangnya bersama beberapa pasukan dibelakangnya. dia tersenyum sinis menatap Singgih.


"Kau? bagaimana bisa kau keluar dari penjara?" Singgih menatap Wardhana yang ada dihadapannya.


"Sora kau urus yang lain, aku harus membuat perhitungan dengan manusia rakus ini" Wardhana menyerang Singgih dengan cepat.


Lembu sora bersama pasukannya berlari membantu Gundala melawan para pendekar Iblis hitam.


Tubuh Lembu sora tiba tiba terpental terkena serangan Jinggo. Dia tidak dapat menangkis serangan cepat jinggo.


"Cepat sekali" Lembu sora bangkit dan siap menyerang namun seseorang menahannya.


"Dia bagianku paman" Sabrang tiba tiba muncul bersama Mentari.


"Hamba mengerti Pangeran" Suara Lembu sora terdengar oleh Jaladara.


Jaladara menajamkan penglihatannya "Jadi dia keturunan Arya Dwipa? Kau salah jika meremehkan pendekar itu, Bagaimana mungkin mereka membiarkan Keturunan Arya Dwipa dalam bahaya".


Jaladara menoleh kearah Jinggo, dia merasakan sendiri kecepatan serangan Jinggo. Jika tidak ada Gundala mungkin dia sudah terluka terkena serangannya".


Sabrang tersenyum sesaat, dia kembali mengingat permintaan Wardhana yang disampaikan melalui Lembu sora.


"Pangeran ada satu hal yang harus hamba sampaikan lagi" Lembu sora berkata sesaat setelah Menjelaskan rencana Wardhana padanya.

__ADS_1


"Katakan paman" Sabrang menatap Lembu sora.


"Hamba mohon ampun sebelumnya Pangeran, tuan Wardhana meminta anda untuk tidak menahan kekuatan anda" Lembu sora menunduk tak berani menatap Sabrang.


Sabrang mengernyitkan dahinya "Maksud paman?".


"Untuk menekan Saung galah sekaligus Majasari tuan Wardhana ingin anda bertarung dengan kekuatan penuh. Itu bisa menjadi peringatan bagi kedua Kerajaan itu untuk tidak bermain main dengan Malwageni. Tuan Wardhana melihat sendiri kekuatan anda saat di Wanajaya. namun itu jika anda berkenan Pangeran".


"Baiklah paman, ku kabulkan permintaanmu" Tubuh Sabrang mulai diselimuti Kobaran api.


Jaladara yang merasakan tekanan tiba tiba muncul di belakangnya langsung menoleh dengan cepat.


"Anak ini?".


"Aku lawanmu" Tubuh Sabrang menghilang sesaat setelah selesai berbicara dan muncul di hadapan Jinggo.


"Tarian iblis Pedang" Tubuh Jinggo terpental terkena serangan tiba tiba Sabrang.


"Bagaimana dia bisa menggunakan jurus sekte Iblis pedang" Jinggo mencoba bangkit, darah segar mengalir dari mulutnya.


Belum sempat berfikir Sabrang kembali menyerang dengan cepat.


Jinggo segera melompat mundur, dia cukup yakin dengan ilmu meringankan tubuhnya. dalam beberapa tarikan nafas dia sudah menjauh dari area pertarungan.


"Cakar Es Utara" Sabrang kini muncul tepat di sisi kanan Jinggo dan menyerang dengan cepat.


"Kecepatannya jauh di atasku" Jinggo kembali terpental namum kali ini dia lebih siap.


"Bagaimana kekuatan Pangeran bisa meningkat pesat dalam waktu yang singkat".


Sabrang berjalan pelan mendekati Jinggo yang sedang mengatur nafasnya.


"Kau telah salah memilih berurusan dengan Malwageni"


Kini kobaran api ditubuhnya perlahan menghilang dan berganti menjadi butiran es yang beterbangan disekitarnya.


Sabrang kembali menyarungkan Pedang naga api, tak lama bongkahan es berbentuk pisau muncul dari kedua tangannya.


"Dia meremehkan aku dengan tidak menggunakan pedangnya" Jinggo menatap tajam Sabrang dengan penuh amarah.


"Kau akan menyesal kali ini" Jinggo melesat cepat menyerang Sabrang namun semua serangannya tidak dapat menembus perisai es.


"Sudah cukup bermainnya" Sabrang meningkatkan kecepatannya membuat Jinggo tak dapat mengimbangi gerakannya.


Dalam beberapa tarikan nafas Sabrang telah mencengkram leher Jinggo. Lapisan es mulai menyelimuti tubuh Jinggo.


"Sampaikan salamku untuk Iblis pencabut nyawa di neraka" tangan kiri Sabrang menghantam tubuh Jinggo membuat tubuhnya hancur layaknya serpihan es.

__ADS_1


Semua mematung tak berani bergerak menatap kehebatan Sabrang. Bahkan Mahapatih Jaladara menatap dengan ngeri kearah Sabrang.


"Dia bahkan tidak menggunakan pedangnya untuk mengalahkan pendekar itu".


Tiba tiba perisai es yang melindungi Sabrang berubah menjadi puluhan Pisau es yang melayang disekitar tubuhnya.


"Jangan pernah mencari masalah dengan Malwageni, Camkan itu".


Puluhan pisau es melesat menyerang pendekar dari Iblis Hitam. Dalam hitungan detik Para pendekar tersebut tumbang ke tanah dengan bongkahan es menancap di tubuhnya.


Lembu sora hanya bisa mematung melihat pembantaian di depan matanya. Tubuhnya begidig mengingat pernah bertarung dengan Sabrang beberapa hari lalu.


Sabrang menoleh ke arah Singgih dengan tatapan tajam.


Singgih menjatuhkan pedangnya dan berlutut di depan Wardhana.


"Aku telah kehilangan segalanya".


Jaladara menoleh ke arah Wijaya yang sedang mengatur nafasnya. kembali dia teringat saat Wijaya menemuinya di Keraton Saung Galah sebelum keberangkatannya ke Kadipaten Ligung.


"Kau mengancamku?" Jaladara menatap tajam Wijaya yang duduk dihadapannya.


"Sepertinya tuan patih salah paham, aku hanya ingin membantu kali ini, namun tentu semua tidak ada yang cuma cuma".


"Kau berani mengajakku bernegosiasi di Keraton Saung Galah?" Suara Jaladara meninggi.


"Gerakan Majasari begitu masif akhir akhir ini, aku mempunyai beberapa informasi tentang Kadipaten di wilayah anda yang telah berkhianat. Aku akan membantu anda menemukan penghianat itu dengan beberapa syarat".


"Anda bisa mencari sendiri penghianat itu namun akan memakan waktu yang tidak sebentar, dan pada saat itu Saung galah telah melemah karena dihancurkan dari dalam".


"Apa yang membuatmu yakin aku akan menerima permintaanmu?" Wajah Jaladara mengeras menahan amarahnya.


"Kami memiliki semua informasi yang anda butuhkan terkait penghianatan di beberapa kadipaten, Jika anda bersedia bekerja sama dengan senang hati aku akan membantu anda karena musuh kita sama, namun jika anda menolak aku akan menghancurkan siapapun yang menghalangi kami merebut kembali Malwageni"


"Kau sedang membual? dengan kekuatanmu saat ini kau mengancamku? bahkan Majasari masih berfikit ribuan kali untuk menyerang Saung galah"


"Anda lupa dua hal tuan, Aku memiliki Naga yang sedang tertidur dan seorang Monster yang tak akan segan menghancurkan siapapun yang menghalangi jalannya, ku rasa itu akan sedikit merepotkan anda ditengah konflik dengan Majasari".


Jaladara berfikir sejenak "Lalu syarat apa yang kau minta dariku?".


"Aku ingin Saung galah mendukung penuh kami walaupun tidak secara terbuka. Salah satunya dengan memberikan tempat latihan bagi prajurit kami di salah satu Kadipaten yang ada di Saung Galah sekaligus tempat kami bersembunyi sementara waktu sambil menghimpun kekuatan, jika anda setuju aku akan membantu Saung galah menekan Majasari dengan seluruh kekuatan yang kami miliki".


"Jadi ini yang kau maksud dengan monster yang akan menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya?"


***Sekali lagi saya mengharapkan dukungan teman teman semua baik dalam bentuk like maupun Vote 🙏


Kunjungi juga novel ke dua Saya berjudul

__ADS_1


"Tentang kita (Komedi Romantis)"


Terima kasih dan semoga sukses selalu untuk kita semua***


__ADS_2