Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Anom Sang Penguasa Kegelapan II


__ADS_3

Darya terlihat merapal suatu jurus, beberapa saat kemudian tubuhnya mengeluarkan aura biru yang berusaha menekan Sabrang. Perlahan tubuhnya kembali bugar dan beberapa luka di tubuhnya mulai pulih.


"Tak kusangka aku harus menggunakan jurus ini". Darya menatap tajam Sabrang yang masih menatapnya dari atas pohon.


"Sesaat tadi dia terlihat kehabisa tenaga dalam, bagaimana bisa kini tenaga dalam di tubuhnya kembali melimpah". Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Ajian pembakar sukma". Anom berbicara dalam pikiran Sabrang.


"Ajian pembakar Sukma?" Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Ajian pembakar sukma adalah jurus terlarang yang berasal dari Dieng. Ajian itu akan menyerap semua tenaga dalam di bawah alam sadarmu secara paksa sehingga penggunanya akan mendapatkan kekuatan besar namun sebagai gantinya tubuh penggunanya akan mengalami kerusakan parah akibat memarik paksa tenaga dalam alam bawah sadar.


Entah siapa yang mengajarinya namun setelah pertarungan ini nasipnya akan berakhir tragis, dia tidak akan bisa menggunakan ilmu kanuragannya setelah ini. Aku tidak tau bagaimana pendekar itu bisa memiliki jurus terlarang itu namun kau harus berhati hati pengguna ajian itu akan mendapatkan kekuatan dan kecepatan yang berlipat".


"Aku tak akan kalah olehmu". Tubuh Darya tiba tiba muncul dibelakang Sabrang dan menyerang dengan cepat.


Sabrang melompat sambil memutar tubuhnya menerima serangan Darya. Serangan demi serangan Darya dapat dimentahkan Sabrang dengan sempurna sambil sesekali dia menyerang balik yang cukup membuat Darya terdorong.


"Bahkan Ajian pembakar sukma dapat diimbanginya, siapa pendekar ini sebenarnya?". Darya terlihat geram setiap serangan mematikannya dapat dipatahkan.


Sabrang kembali melepaskan aura nya mencoba menekan kecepatan Darya, namun Darya terus menyerangnya tanpa henti. Amarahnya telah merasuki akal pikirannya.


Sabrang menggeleng pelan melihat serangan yang membabi buta terarah padanya.


"Ketika kau memutuskan tidak menggunakan kepalamu lagi dalam pertarungan maka seranganmu sangat mudah terbaca". Sabrang meningkatkan kecepatannya dan kembali menyerang.


Keduanya Kembali bertukar jurus namun sampai puluhan jurus belum terlihat Darya tertekan.


"Gerakannya semakin cepat". Sabrang menatap lapisan es di kedua tangannya yang mulai retak karena beradu jurus dengan Darya sesaat sebelum kembali menyerang dengan cakar es.


"Semakin kecepatannya meningkat maka semakin cepat juga tubuhnya akan hancur, Pendekar ini menghancurkan hidupnya sendiri". Anom berkata pelan.


"Cakar Es utara". Sabrang berhasil menghantam Darya dengan jurusnya membuat tubuh Darya terpental jauh namun dia bangkit dengan cepat dan kembali menyerang.


"Bagaimana bisa dia seolah tak merasakan sakit akibat seranganku". Sabrang menggeleng pelan.


"Pengguna ajian pembakar sukma tak akan merasakan sakit walaupun tubuhnya terluka. Kau hanya akan menyianyiakan tenaga dalammu jika terus menyerang seperti ini". Anom kembali berbicara pada Sabrang.


Sabrang terus memutar otaknya untuk menghentikan Darya sebelum tenaganya terkuras habis. Setiap Darya terkena serangan Sabrang dia kembali bangkit dan langsung menyerang seolah stamina dan kekuatannya tidak pernah berkurang.


"Gunakan jurus itu". Ucap anom sesaat setelah melihat Darya kembali bangkit saat tinju kilat hitam Sabrang mengenainya.

__ADS_1


"Aku belum terlalu menguasainya, aku akan mencoba membekukan tubuhnya dengan Dewa es abadi".


"Jurus itu tak akan bisa menahannya lama, setelah es mu mencair dia akan kembali menggila. Satu satunya cara selain membakarnya dengan Naga api adalah jurus yang kuajarkan beberapa waktu lalu".


"Kau selalu ingin memamerkan kekuatanmu anom". Naga api terseyum sinis pada Anom.


"Kau tak perlu mendengarkan pendapat seseorang yang sedang tersegel nak". Anom berbicara sinis menyindir Naga api.


"Kau!". Suara naga api meninggi mendengar ejekan Anom.


Sabrang hanya menggeleng pelan mendengar dua pusakanya selalu bertengkar.


Arkadewi yang mulai berhasil menekan pendekar golok setan bersama kertapati dan Wsardhana sesekali menoleh kearah Sabrang yang masih belum bisa menumbangkan lawannya.


"Serangan tuan muda selalu telak mengenainya, bagaimana bisa pendekar itu masih memiliki kekuatan sebesar itu. Benar kabar yang kudengar jika golok setan akhir akhir ini berkembang pesat. Andai tuan muda menggunakan Naga api mungkin pendekar itu telah hangus terbarar dari tadi".


Sabrang tiba tiba melempar Keris penguasa kegelapan keatas sesaat setelah tinju kilat hitamnya menghantam Darya yang membuatnya terdorong jauh.


Saat keris tersebut melayang diudara dengan aura hitam yang menyelimutinya Sabrang mengangkat kedua tangannya keatas seolah sedang mencengram sesuatu sambil merapal sebuah jurus.


"Energi keris penghancur". Aura besar tiba tiba menyelimuti seluruh area hutan tempat mereka bertarung sesaat sebelum ribuan energi hitam berbentuk keris dari atas meluncur cepat kearah Darya yang sedang bergerak kearah Sabrang.


"Duarrrrr". Ledakan besar terjadi saat energi hitam itu menghantam tanah.


Arkadewi tak luput dari Efek serangan Sabrang namun dia bisa menahannya dengan mengalirkan tenaga dalamnya.


Keris penguasa kegelapan masih berputar diudara sesaat sebelum berubah menjadi aura hitam dan melesat masuk ketubuh Sabrang.


Saat kepulan debu menghilang dari tempat ledakan terlihat tubuh Darya sudah tidak bergerak.


"Kekuatanmu masih kurang nak, kau harus cepat meningkatkan tenaga dalammu". Anom menggeleng pelan.


Sabrang kemudian melangkah kearah arena pertarungan, Arkadewi dan yang lainnya mulai menekan pendekar golok setan yang tersisa.


Bahkan beberapa pendekar yang sudah hilang semangat setelah melihat Darya tewas mencoba melarikan diri.


Saat mereka merasa sudah berhasil meloloskan diri tiba tiba puluhan bongkahan es berbentuk pisau bersarang ditubuhnya. Dalam hitungan detik tubuh mereka ambruk ketanah meregang nyawa.


Wardhana berlari dengan wajah tegang kearah Sabrang setelah berhasil mengatasi musuhnya diikuti Kertapati dan Lembu sora.


Mereka berlutut dihadapan Sabrang hampir bersamaan.

__ADS_1


"Hormat pada yang mulai". Mereka menundukan kepala, tak ada satupun yang berani menatap keatas.


"Paman sudahlah, aku merasa tidak enak jika begini". Sabrang menggaruk kepalanya sambil menoleh kearah Arkadewi yang tersenyum melihatnya. Serempak seluruh pasukan angin selatan berlutut dihadapan Sabrang.


Sabrang menggeleng pelan, dia benar benar kaku menghadapi situasi itu.


***


"Jadi paman sudah mengetahui jika ada mata mata disini?". Sabrang mengernyitkan dahinya, dia benar benar tidak mengerti jalan pikiran Wardhana. Jika Wardhana bertindak dari awal seharusnya penyerangan ini dapat dihindari.


"Ampun yang mulia, ada sesuatu yang harus hamba sampaikan". Wardhana menundukan kepalanya.


"Paman..." Sabrang memejamkan matanya. Dia benar benar merasa kaku dengan panggilan itu.


"Maaf yang mulia Keris itu adalah simbol bagi raja terpilih Malwageni, hamba tidak berani".


"Lalu apa yang ingin paman sampaikan padaku?". Sabrang memilih mengalah, sepertinya Wardhana tetap ingin memanggilnya seperti itu.


Wardhana terlihat menoleh kesekitarnya sebelum mulai berbicara.


"Ada sedikit perubahan rencana Yang mulai, ada beberapa gerakan mereka yang sedikit janggal. Jika Yang mulia mengijinkan.....".


Wardhana berbisik pada Sabrang menjelaskan rencana yang dia buat. Sabrang mengangguk pelan sambil sesekali mengernyitkan dahinya mendengar penjelasan Wardhana.


"Jadi paman memintaku menggunakan topeng ini karena itu". Sabrang mengangguk mengerti.


"Maaf Yang mulia saat itu suasana sedang mendesak, hamba memberanikan diri megambil keputusan ini bersama tuan Wijaya". Wardhana menundukan kepalanya.


"Tidak apa apa paman bukankah aku sudah meminta paman yang memimpin misi kali ini". Sabrang tersenyum lembut pada Wardhana.


***


"Anda liat kekuatan Yang mulia tadi tuan?". Lembu sora berbicara pada Kertapati disebuah ruangan.


Kertapati mengangguk pelan, dia masih terkejut melihat kekuatan besar yang dimiliki Sabrang.


"Sorot matanya benar benar menghancurkan kepercayaan diri lawannya". Kertapati sempat menatap mata Sabrang sesaat dan bola mata berwarna biru muda itu seolah memerintahkan Kertapati untuk segera berlutut dihadapannya.


"Semoga Yang mulia bisa membawa kedamaian bagi rakyat Malwageni". Kertapati berbicara pelan, bulu kuduknya masih berdiri jika mengingat sorot mata itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


**Berikan Like, Vote dan tips jika teman teman menyukai Novel Pedang Naga Api ini. Akan ada bonus chapter jika rank Naga api semakin naik.


Terima kasih sekali lagi atas dukungannya dan tetap jaga kesehatan di tengah virus yang mewabah ini**.


__ADS_2