Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pedang Pengilon Kembar


__ADS_3

Aula utama keraton Malwageni tampak hening setelah Wardhana menjelaskan resiko membangkitkan Dewa Api. Semua sadar, keputusan apapun yang diambil Sabrang memiliki resiko besar mengingat Masalembo mulai bergerak.


"Sangat beresiko jika Iblis Api harus tertidur sementara waktu, aku memang telah mengajarkan semua ajian inti lebur saketi padanya namun setelah melihat pertarungannya di hutan Lali Jiwo, Naga Api lah yang membuat Inti Lebur Saketi menjadi sangat menakutkan.


Lawan yang kita hadapi adalah pendekar terkuat dari masa lalu, keberadaan Iblis Api menjadi sangat penting saat ini," ucap Wulan pelan.


Sabrang hanya mendengarkan perdebatan mereka sambil bermeditasi tanpa bicara sedikitpun.


"Aku mengerti kekhawatiranmu Wulan, namun apakah cukup hanya mengandalkan kekuatan Naga Api saat ini? aku mungkin satu satunya orang disini yang pernah berhadapan dengan Lakeswara.


Percaya padaku, dengan kekuatanku yang dulu jauh lebih besar dari saat ini, aku kalah tak lebih dari dua puluh jurus," jawab Rubah Putih.


"Apa saat ini Rubah Putih menjadi lemah? kau seolah ingin mengatakan jika kita tak akan mampu menghadapinya," balas Wulan ketus.


"Tak pernah ada rasa takut dalam diriku, namun aku belajar dari pengalaman. Aku ingin kita semua berhitung dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Mengalahkan mereka tidak hanya butuh kekuatan namun juga rencana dan ketenangan.


Anak itu sepertinya memang dipersiapkan Arya Dwipa untuk melawan Masalembo, jika kita semua mati sia sia maka semua usaha Arya Dwipa sia sia," jawab Rubah Putih pelan.


Wardhana mengangguk pelan, dia setuju dengan ucapan Rubah Putih. Perang tanpa persiapan sama saja mengantarkan nyawa.


"Semua keputusan sepertinya ada ditangan Yang mulia," ucap Wardhana dalam hati sambil menatap Sabrang yang masih diam.


"Kenapa kau tidak pernah mengatakan padaku tentang resiko membangkitkan dewa api?" tanya Sabrang dalam pikirannya.


"Apa itu penting? saat itu aku tak memiliki keinginan sama sekali untuk membangkitkan semua kekuatanku," jawab Naga Api.


"Dan kini kau ingin membangkitkan kekuatanmu walau resikonya sangat besar?"


"Sepertinya orang yang ku pilih sebagai tuan kini mulai melemah, Anak bodoh yang dulu kukenal tak pernah sedikitpun memiliki keraguan walau lawan yang dihadapi jauh lebih kuat," sindir Naga Api.


"Ini bukan soal keraguan. Aku tak pernah menganggap kau dan Anom sebagai pusaka, kalian adalah temanku," jawab Sabrang.


Naga Api terdiam setelah mendengar jawaban Sabrang, untuk pertama kalinya dia dianggap teman oleh tuannya.


Naga Api kembali teringat ketika Sabrang pertama kali menggunakan pedang Naga Api. Saat itu pemuda yang kini menjadi pendekar terkuat di tanah Jawata itu belum memiliki tenaga dalam sebesar sekarang.


Naga Api memang terkenal sebagai pusaka yang sulit dikendalikan, dia akan terus berusaha merasuki tubuh penggunanya.


"Kau memang bodoh, mana ada manusia normal yang menganggap iblis api sepertiku teman, apa kau lupa aku pernah hampir mengambil tubuhmu?"


"Bertarung bersamamu selama ini membuatku mengerti sesuatu, kau bukan ingin menguasai tubuh penggunamu. Kau hanya ingin memastikan tak ada mendekati bukit Cetho dan menemukan sekte Bintang langit bukan?


Sekte bintang langit saat itu memiliki kunci menuju Dieng, kau ingin melindungi Dieng karena di sana ada petunjuk mengenai Gua kabut yang merupakan tempat dewa api terkurung. Kau mungkin kasar Naga api namun aku tau kau bukan Iblis jahat," jawab Sabrang pelan.


"Kau tak pernah mendengar ucapanku," umpat Naga Api yang disambut tawa oleh Sabrang.


"Apa yang dikatakan Naga Api benar nak, kau menjadi kuat karena tak ada keraguan dalam dirimu. Orang yang akan kita hadapi tidak akan bisa dilawan dengan keraguan dalam dirimu.

__ADS_1


Ayahmu adalah raja sekaligus pendekar yang hebat nak, dia menempatkan kepentingan dunia di atas kepentingan pribadinya. Ada saatnya pengorbanan dibutuhkan untuk merubah dunia menjadi lebih baik.


Seribu tahun bukan waktu yang lama untuk pendekar yang telah meminum air kehidupan sepertimu, Naga Api akan bangkit kembali dan membuatmu menjadi legenda kelak," ucap Anom menimpali.


Sabrang menggeleng pelan, dia masih keras pada pendiriannya untuk melawan Lakeswara dengan kekuatannya saat ini.


"Jika kau mampu bangkit kembali lalu apa yang berubah? bukankah kau bilang tak ada pusaka yang mampu menahan kekuatanmu? kekuatanmu tanpa pusaka tak akan terlalu membantu."


"Pusaka Pengilon kembar," jawab Naga Api pelan.


"Pengilon kembar?" Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Saat Ken Panca mengetahui kekuatanku yang sebenarnya, dia memutuskan membuat sepasang pedang kembar yang terbuat dari batu langit. Dia sadar seberapa besar kekuatanku dan tak mungkin disalurkan hanya dengan satu pusaka.


Itulah kenapa dia akhirnya memutuskan membuat sepasang pedang kembar yang diberi nama Pengilon Kembar.


Pengilon kembar memiliki arti pusaka kembar yang identik satu sama lain, kau bagai melihat sebuah pedang yang dipantulkan oleh air yang sangat jernih. Dengan pusaka itu aku yakin kau mampu menggunakan kekuatanku kelak," jawab Naga Api.


"Ken Panca membuat pusaka kembar itu? aku bahkan tak pernah mendengar nama Pengilon Kembar," tanya Sabrang bingung.


"Ken Panca memutuskan untuk mengubur pusaka itu, saat ini Penilong Kembar hanya sebuah pedang biasa tanpa kekuatanku. Aku akan menunjukkan padamu dimana pusaka itu berada, simpan dan gunakan saat aku bangkit nanti.


Saat Suliwa memberikan Pedang Naga Api padamu, aku menertawai keputusan bodohnya. Jika Madrim sang pendekar dalam legenda saja tak mampu menaklukkan ku, lalu apa yang bisa diperbuat anak bodoh sepertimu.


Namun perlahan kau menyadarkan aku jika kekuatan bukan segalanya. Kau mungkin memiliki tubuh istimewa khas Dwipa namun kau harus tau bukan tubuh itu yang membuatmu kuat.


Tekad dan semangat pantang menyerah yang kau miliki itulah yang membuatmu berhasil menaklukanku. Dengar bodoh, saat ini mungkin hanya dirimu yang bisa mengalahkan Lakeswara Dwipa, bangkitkan kekuatanku tanpa keraguan, aku akan menunggumu seribu tahun lagi. Jangan pernah menjadi lemah atau aku akan membakarmu habis!" ucap Naga Api dengan suara meninggi.


"Kalian benar benar gila," ucap Sabrang sesaat sebelum membuka matanya.


Sabrang tersenyum saat melihat perdebatan masih terjadi antara Wulan, Rubah Putih dan Wardhana.


"Aku akan membangkitkan Dewa Api," ucap Sabrang tiba tiba.


Semua terdiam seketika, mereka serentak menoleh kearah Sabrang.


"Aku sudah memutuskannya, aku akan membangkitkan Dewa Api," Sabrang kembali mengulangi perkataannya.


"Lalu bagaimana jika Masalembo bergerak saat Iblis Api tertidur?" tanya Wulan.


"Aku memiliki dua guru terbaik, Rubah Putih dan dewi kematian. Aku juga memiliki Naga tidur dari Malwageni, aku yakin kalian akan membantuku selama Naga Api tertidur," jawab Sabrang yakin.


Wulan terdiam sebelum tertawa terbahak bahak, dia benar benar tidak habis pikir dari mana Sabrang memperoleh kepercayaan yang begitu tinggi saat sudah mengetahui lawan yang dihadapinya adalah pendekar terkuat.


"Kau dan Rubah Putih ternyata tidak hanya memiliki rambut yang sama, kalian juga sama sama gila," ucap Wulan sambil melangkah pergi.


"Hei, kita sedang membicarakan tentang Dewa Api dan kau pergi begitu saja?" tanya Rubah Putih.

__ADS_1


"Apa lagi yang bisa aku perbuat? kalian sudah memutuskannya bukan? aku akan mengangkat seorang murid wanita agar lain kali tidak kalah saat mengambil keputusan," balas Wulan.


"Wanita itu tak pernah berubah, dia selalu berbuat seenaknya sendiri," umpat Rubah Putih.


Tanpa Rubah Putih sadari, Wulan keluar ruangan dengan senyum merekah di bibir kecilnya.


"Kau memiliki anak yang sangat menarik Arya Dwipa, perlahan namun pasti aku mulai mengagumi anakmu. Sabrang Damar ya? Pelangi yang menerangi dengan keadilan. Sepertinya nama itu cocok dengan dia," gumam Wulan dalam hati sambil melangkah menuju paviliun Mentari.


***


Sepuluh mayat para pendekar dunia persilatan yang berhasil dibunuh oleh Bima tiba tiba membuka matanya perlahan. Mereka tampak bingung saat menatap sekelilingnya.


"Selamat datang kembali di dunia ini Pendekar Bunga Darah Masalembo, kalian tentu ingin membalas dendam pada Rubah Putih yang telah membunuh kalian bukan?" sapa Bima pelan.


"Komandan Bima?" mereka semua langsung bangkit dan berlutut dihadapan Bima.


"Kalian beruntung sempat menggunakan segel keabadian disaat terakhir hidup kalian," ucap Bima sambil tersenyum.


Sepuluh pendekar itu tampak memeriksa tubuh baru mereka, sesekali mereka mencoba menggerakkan tubuh baru itu.


Setiap pendekar kelas tinggi Masalembo memang menguasai ajian segel keabadian. Mereka biasanya menggunakan segel keabadian sesaat sebelum kematiannya.


Segel keabadian akan menyimpan ruh mereka di dimensi ruang dan waktu sehingga dapat dihidupkan kembali dengan tubuh barunya.


Ajian yang hampir mirip dengan ilmu milik Ajisaka dan Mahendra bernama Rogo sukmo ini hanya bisa digunakan jika pemiliknya tidak terbunuh oleh jurus pedang jiwa.


Jurus Pedang Jiwa yang diciptakan oleh Naraya ini akan menghancurkan ruh lawannya sehingga tak akan bisa dibangkitkan kembali.


"Terima kasih komandan," ucap Anca, pemimpin Bunga Darah Masalembo.


"Perintah Yang mulia sudah keluar, saatnya merubah semua tatanan dunia yang telah hancur dengan segala ambisi.


Masih banyak yang akan kita bangkitkan kembali, kalian berlima bantu aku menggunakan ajian segel keabadian dan kau Anca, bawa separuh pendekar bunga darah dan pergi kearah selatan.


Ada sebuah kerajaan bernama Malwageni, aku ingin kau membunuh mereka semua terutama rajanya yang merupakan keturunan Naraya dan jika kalian beruntung, kalian akan bertemu Rubah Putih.


Yang mulia memerintahkan membawa kepala keturunan Naraya itu kehadapan nya, pastikan jangan sampai gagal," perintah Bima.


"Yang mulia sudah bangkit? apa itu artinya dia telah meminum ramuan itu?" tanya Anca bingung.


Bima mengangguk pelan, "Ceritanya panjang, saat ini Yang mulia sedang membangkitkan kembali empat pemimpin tertinggi Masalembo lainnya. Semua sedang mempersiapkan rencana yang sempat tertunda, tugasmu adalah memastikan kematian keturunan Naraya itu," jawab Bima.


"Baik komandan, hamba akan membawa kepalanya sebagai hadiah kebangkitan Yang mulia," jawab Anca cepat.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Pengilon Kembar memiliki Arti Cermin kembar yang saling memantulkan dua sisi yang berbeda. Dalam dunia PNA atau bahasa kerennya PNA Universe (Ceile), Pusaka Pengilon kembar menjadi sangat spesial karena akan ada kejutan besar dari pusaka terakhir yang diciptakan Ken Panca ini.

__ADS_1


Ada yang menantang untuk membentuk Universe sendiri versi PNA, saya tidak menjanjikan namun akan saya usahakan...


Terakhir Vote PNA jika menurut kalian semakin menarik.


__ADS_2