Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pancaka Mulai Terdesak


__ADS_3

Iring iringan pasukan Arkantara yang dipimpin Saragi mulai memasuki perbatasan Trowulan, beberapa prajurit yang memegang panji kebesaran langsung mengibarkannya di udara, genderang perang mulai di tabuh seolah memberi tanda pada Malwageni jika mereka semakin dekat.


"Tak lama lagi kita sampai di perbatasan Ibukota Yang mulia, izinkan hamba membagi dua pasukan," ucap Rengga penuh percaya diri.


"Lakukan," jawab Saragi cepat, mengetahui mereka semakin dekat dengan keraton membuat kepercayaan diri Saragi kembali. Rasa khawatir yang tadi dia rasakan sudah hilang sepenuhnya.


Rengga kemudian memanggil Layana, komandan dari pasukan elit Arkantara untuk membagi dua pasukan.


"Setelah memasuki Trowulan, bawalah sebagian pasukan dan bergerak kearah selatan, kita akan bertemu di titik ini untuk memecah pasukan mereka," ucap Rengga sambil menunjukkan gambar gambar di gulungannya.


"Baik tuan," jawab Layana cepat.


"Aku tidak ingin ada kesalahan sedikitpun kali ini, pastikan pasukanmu bergerak sesuai rencana yang aku buat," ucap Rengga.


Saat Rengga sedang menjelaskan kembali rencananya untuk memastikan semua berjalan lancar itulah tiba tiba puluhan orang muncul dari balik pepohonan dan langsung menyerang rombongan yang berada di garis belakang.


"Kita di serang!!!" teriak para prajurit berteriak.


"Lalukan seusai perintahku, mundur secepatnya jika sudah terdesak," ucap Lingga sambil mengayunkan pedangnya kearah lawan.


"Baik tuan," teriak dua puluh pendekar Hibata bersamaan, mereka mencabut pedang dan masuk kedalam kerumunan pasukan Arkantara yang kocar kacir karena tidak siap serangan tiba tiba.


Wajah Saragi mulai berubah, dia menoleh kebelakang dan menemukan pasukannya sedang diserang oleh puluhan pendekar bertopeng.


"Bunuh mereka semua, arahkan busur panah kalian," teriak Saragi sambil mencabut pedangnya dan berlari kearah garis belakang.


"Tahan Yang mulia!!! panah panah itu bisa mengenai prajurit kita sendiri," Rengga berlari mengejar Saragi dan meminta pasukannya membentuk formasi Wukir Sagara Wyuha (strategi perang dengan susunan pasukan berbentuk bukit dan samudera).


"Tarian Iblis pedang," Lingga bergerak cepat dan menebas semua yang berada di sekitarnya.


Para.pendekar Hibata tak kalah cepat, mereka seolah menari diantara ratusan prajurit Arkantara yang mulai kacau. Sebagian prajurit bahkan mulai menjauh setelah melihat kehebatan mereka.


"Kepung mereka, gunakan formasi itu!" umpat Rengga kesal saat melihat pasukannya mulai kacau.


Para prajurit Arkantara mulai membentuk suatu formasi, dan di saat yang bersamaan pasukan pemanah berlari mencari pepohonan dan mulai menghujani Lingga dengan anak panah untuk menahan gerakannya.


Lingga dan para pendekar Hibata mulai sedikit tersudut, bertarung dengan ratusan prajurit dari berbagai arah yang menggunakan formasi Wukir Sagara Wyuha dan belasan anak panah yang setiap saat menyerang mereka jelas tidak mudah.


Situasi semakin sulit karena salah satu pendekar Hibata terkena panah tepat di dadanya.


"Wardhana sialan, dia tidak mengatakan jika musuh juga menguasai formasi itu," umpat Lingga sambil terus bergerak menghindari serangan bertubi tubi yang terarah padanya.


Senyum kemenangan mulai terlihat di wajah Rengga saat pasukannya mulai bisa menyudutkan lawan.


Salah satu pendekar Hibata tiba tiba keluar dari pertempuran sambil membawa tubuh temannya namun belum sempat dia pergi jauh sebuah anak panah mengenai punggungnya membuat mereka berdua roboh ke tanah.


Formasi Hibata mulai kacau, kehilangan dua orang mereka merubah formasi dengan cepat namun lesatan anak panah yang terus berdatangan dari segala arah membuat gerakan mereka tertahan.


Lingga yang menyadari posisi mereka mulai terjepit meminta Hibata bergerak mundur perlahan sambil terus bertarung untuk memisahkan pasukan di garis belakang dengan pasukan utama.


"Ingin menghentikan aku? tidak semudah itu," bola bola api kecil mulai muncul disekitar Lingga bersamaan dengan kecepatannya yang terus meningkat.


Para prajurit yang menyerangnya tersentak kaget ketika Lingga bergerak semakin cepat, belasan prajurit pemanah bahkan kesulitan membidiknya.


Para pendekat Hibata mulai bergerak mundur sesuai perintah Lingga, dan sepertinya rencana Lingga berhasil, puluhan prajurit garis belakang tanpa sadar mulai memisahkan diri dari rombongan karena mengejar pendekar Hibata.

__ADS_1


"Tarian Iblis pedang," Lingga mengamuk di medan perang, belasan prajurit meregang nyawa. Energi Kemamang yang meluap dari tubuhnya menekan sekitarnya, perlahan namun pasti formasi Wukir Sagara Wyuha mulai goyah walau harus dibayar dengan luka yang tidak sedikit, dua anak panah bahkan menancap di punggung Lingga.


"Dia kuat sekali," ucap salah satu prajurit Arkantara dalam hati.


Layana dan Rengga pun tak kalah takjub, dengan formasi Wukir Sagara Wyuha seharusnya pendekar sekuat apapun tak akan mampu bertahan lama. Serangan terus menerus seperti gelombang di samudera ditambah lesatan anak panah yang siap mengincar mereka kapanpun akan menahan gerakan lawan.


"Tuan biar aku yang mengatasi mereka, anda sebaiknya pergi karena jika terus seperti ini kita akan terlambat sampai ibukota. Aku akan bergerak dari selatan sesuai rencana setelah membunuh mereka semua," Layana langsung bergerak kearah pertarungan.


Lingga yang sedang disibukkan dengan serangan formasi Wukir Sagara Wyuha langsung melompat mundur saat Layana menyerangnya.


Lingga tampak terkejut setelah lengannya bergetar karena menangkis serangan pedang Layana.


"Jadi kau memiliki ilmu kanuragan tinggi ya?" ucap Lingga sambil tersenyum kecut.


"Kau akan mendapatkan balasannya. Pertahankan terus formasi, sekuat apapun dia staminanya tetap terbatas," teriak Layana sambil bergerak menyerang.


"Baik, majulah semua agar aku lebih mudah membunuh kalian semua," Lingga merubah gerakannya, dia terlihat bergerak mundur namun satu detik kemudian kembali menyerang.


"Kalian pertahankan terus formasi ini, jika sudah benar benar terdesak, lari dan cari bantuan," ucap salah seorang pendekar Hibata sebelum bergerak kearah Lingga untuk membantunya.


Ratusan prajurit terus mengepung Lingga dengan formasi yang berubah setiap waktu, mereka seolah tidak perduli belasan temannya tergeletak di tanah akibat serangan Lingga.


Rengga akhirnya terpaksa memecah pasukan lebih cepat, dia tidak ingin terlambat sampai ibukota sesuai rencana.


"Yang mulia kita harus pergi, pasukan Layana belum pernah kalah dalam peperangan selama ini, percayakan saja padanya," ucap Rengga pelan.


"Pergi? bagaimana jika kita menemukan serangan seperti ini lagi didepan? kita hancurkan mereka terlebih dahulu sebelum bergerak bersama," jawab Saragi cepat.


"Tidak Yang mulia, ini saat yang tepat untuk menyerang. Melihat gerakannya, aku yakin mereka bukan prajurit Malwageni dan mungkin para pendekar sewaan dari dunia persilatan dan itu artinya mereka menumpuk pasukan di Ibukota karena sudah tidak memiliki pilihan lain.


"Tujuan Malwageni mengirim para pendekar itu untuk menghambat gerakan kita, jika kita bisa sampai ibukota lebih cepat maka akan mengejutkan mereka dan kita bisa menaklukkan Malwageni dengan cepat, Yang mulia," ucap Rengga pelan.


"Hancurkan mereka secepatnya!" ucap Saragi geram.


"Anda tidak perlu khawatir Yang mulia, serangan ini telah menunjukkan kelemahan mereka dan aku akan menghancurkan mereka tanpa sisa," jawab Rengga cepat.


***


"Tak lama lagi kita sampai di ibukota dan merebut kerajaan yang seharusnya menjadi milik anda, lalu apa lagi yang sedang anda khawatirkan Yang mulia?" ucap Agam tiba tiba saat melihat Pancaka melamun di dalam tenda.


"Ah, tuan... tidak, aku hanya merasa semua seperti mimpi karena tak lama lagi Malwageni akan jatuh ketanganku," jawab Pancaka sambil mempersilahkan Agam duduk.


"Wajah anda tidak bisa berbohong Yang mulia, apa anda masih memikirkan serangan dia tempo hari?" tanya Agam pelan.


Pancaka terdiam sesaat sebelum menganggukkan kepalanya.


"Ilmu kanuragan kakang Sabrang sangat tinggi, bahkan puluhan pasukan terbaik Topeng Galah tak bisa menghentikannya. Sampai saat ini aku tidak tau kabar paman Mandaka, beruntung aku bisa melarikan diri," jawab Pancaka.


"Jangan terlalu khawatir Yang mulia. Hamba akui dengan ruh Naga Api dia memang sangat kuat tapi kekuatan sebesar apapun tak akan berarti jika berhadapan dengan puluhan ribu prajurit.


"Saat ini puluhan ribu prajurit Arkantara sudah mendekat ke ibukota bahkan mungkin sudah berada di Ibukota, begitu keraton jatuh ke tangan kita dia tidak akan bisa berbuat banyak. Andai dia muncul dihadapan kita saat ini, hamba cukup yakin mampu menghadapinya," ucap Agam menenangkan.


"Begitu ya...tapi tetap saja aku sedikit khawatir jika teringat nama Wardhana. Saat menaklukan Saung Galah aku ikut berperang dan menyaksikan sendiri seberapa mengerikannya taktik perang yang dia gunakan sampai Jaladara tak mampu berkutik," balas Pancaka.


"Wardhana ya... kau tau kenapa dia bisa berada di Kuil Khayangan dan terpisah dari pasukannya? semua karena siasat Rengga, orang kepercayaan hamba. Kami bisa begitu mudah menipu dan menjauhkannya dari keraton. Mungkin saat ini dia sudah menyadari dan bergerak kearah keraton tapi itu sudah membuktikan jika dia juga manusia biasa yang bisa terkecoh.

__ADS_1


"Jika Malwageni sesumbar memiliki Naga tidur maka kami memiliki sang Naga yang sesungguhnya dan akan hamba buktikan dengan menghancurkan dia," ucap Agam penuh percaya diri.


"Naga yang sesungguhnya?" Pancaka mengernyitkan dahinya.


"Sejak Yang mulia Saragi mengambil alih tahta dari ayahnya, Arkantara menjelma menjadi kekuatan baru yang sangat ditakuti dan itu bukan kebetulan. Kekuatan kami bukan hanya terletak di pasukan tempur tapi juga siasat perang yang mampu membuat lawan tak berdaya.


"Bagi yang belum mengenal kami mungkin akan menganggap kecil Rengga yang bahkan tidak bisa ilmu kanuragan sedikitpun tapi jika sudah mengenalnya, anda tak akan membantah jika ambisinya ingin menguasai Nuswantoro. Percayalah pada hamba, kali ini Malwageni dan Wardhana akan takluk," balas Agam pelan.


"Menaklukan Nus..." Belum selesai Pancaka bicara, sebuah anak panah melesat cepat kearah Agam.


Agam bergerak cepat, dia bangkit dari duduknya dan menangkap anak panah itu.


"Ada yang menyerang," Agan bangkit dari duduknya dan melesat keluar.


Dia menoleh ke sekitarnya dan menemukan sesosok tubuh menatapnya tajam sebelum melesat pergi.


"Kau pikir bisa lolos dariku setelah apa yang kau lakukan," Agam bergerak mengejar pendekar itu dengan sekuat tenaga.


"Tuan... sepertinya ini jebakan," teriak Pancaka namun Agam sudah terlalu jauh dan tidak mendengar suaranya. Emosinya tersulut karena selama ini tidak ada yang berani mengarahkan senjata padanya.


"Ah sial," Pancaka langsung memerintahkan pasukannya untuk memperketat penjagaan, dia takut serangan panah itu hanya untuk menjauhkan Agam dari pasukan.


"Perketat penjagaan di setiap sudut, jangan biarkan siapapun masuk..."


"Lama tidak berjumpa Yang mulia ah tidak Pancaka," ucap Andini yang muncul bersama Candrakurama.


"Andini, bagaimana kau bisa keluar?" Pancaka tampak terkejut melihat kemunculan Andini.


"Kau pikir bisa terus mengurungku di Saung Galah?" balas Andini sinis.


Wajah Pancaka mulai berubah, apa yang tadi ditakutkan seolah benar benar terjadi. Munculnya Andini dan Candrakurama yang bertepatan dengan perginya Agam jelas bukan suatu kebetulan.


"Tangkap dia!" teriak Pancaka panik, dia ingin segera membunuh Andini dan pergi dari tempat itu secepatnya.


"Aku akan berfikir ribuan kali untuk menyerang putri Andini jika menjadi kalian, selain karena dia adalah Putri mahkota Saung Galah, saat ini Malwageni telah menunjuk putri Andini sebagai ratu di Saung Galah menggantikan Pancaka dan menyerangnya sama saja menantang Malwageni," teriak Candrakurama.


"Aku adalah ratu Saung Galah yang baru, letakkan senjata kalian dan tangkap pengkhianat itu maka aku akan mengampuni semua yang pernah kalian lakukan padaku," sahut Andini pelan.


Para prajurit Suang Galah terdiam, mereka bingung perintah mana yang harus diikuti. Pancaka adalah raja sah yang ditunjuk langsung oleh Wardhana walau pada akhirnya berkhianat namun gadis dihadapan mereka adalah keturunan langsung raja Saung Galah.


"Jangan dengar ucapannya! tangkap dia atau aku akan membunuh kalian semua," teriak Pancaka kembali.


Andini menggeleng pelan sambil mengeluarkan sebuah lempengan kecil bertuliskan Malwageni dan menunjukkan pada mereka.


"Yang mulia sudah menurunkan titahnya dan menunjukku sebagai ratu yang baru, apa kalian masih berani menentang aku?"


"Sialan kau Andini, aku bersumpah akan membunuhmu," Pancaka mencabut pedangnya tiba tiba dan langsung bergerak kearah Andini namun belum sempat serangannya mengenai tubuh gadis itu, Candrakurama sudah menghadang dan menghantam tubuh Pancaka sekuat tenaga.


"Cakar Dewa Bumi," tubuh Pancaka terlempar cukup jauh sebelum membentur sebuah pohon yang berada didekat tenda.


"Cepat sekali," umpat Pancaka sambil berusaha berdiri.


"Apa kalian masih diam saat ratu Saung Galah di serang?" teriak Candrakurama.


"Lindungi Gusti ratu!" komandan pasukan Topeng galah akhirnya bersuara dan memutuskan berpihak pada Andini.

__ADS_1


Candrakurama tersenyum kecil sambil melangkah kearah Pancaka.


"Sekarang waktunya meringkus anda Pangeran," luapan aura besar keluar dari tubuh Candrakurama dan menekan semua yang ada disekitarnya.


__ADS_2